My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Berpegang tangan



Sang matahari mulai menampakan sinar nya ke seluruh dunia dan di tambah suara kicauan burung dari balik jendela kamar, gorden berterbangan karena tertiup angin.


Cahaya matahari itu mulai menembus jendela kamar, diiringi kicauan lagu dari burung-burung. Gadis itu mulai membuka matanya perlahan-lahan sambil mengumpulkan nyawa.


Dia mulai berjalan menyusuri setiap sudut kamar nya dengan langkah yang lembut. Dia masuk ke kamar mandi membuka semua pakaian nya karena akan menyentuh sesuatu yang sangat dingin yang sudah tersedia. Air.


Dengan langkah yang santainya, dia berjalan menuruni tangga. Di meja makan dia sudah ditunggu oleh keluarga nya yang sudah siap untuk sarapan. Setelah selesai sarapan dengan keluarga tercinta.


Pagi ini Nanda sedang berjalan menuju sekolah, dia sengaja tak menggunakan motornya atau sepeda. Walau jarak rumah dan sekolah sedikit jauh, kali ini Nanda bangun lebih awal untuk menikmati pagi yang cerah ini.


Dia menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan seperti beban yang kita tampung sudah ikut menghilang bersamaan.


"Nandaa!!"


"Nandaa!!"


Suara itu membuat telinga Nanda sakit, dengan perlahan dia berhenti dan berbalik ternyata yang memanggilnya adalah Rara sahabat Nanda.


Rara dengan cepat berlari menghampiri Nanda dan berjalan bersamaan menuju sekolah. Di tengah jalan dia melihat seorang laki-laki yang sedang duduk menikmati secangkir kopi yang tersedia di depan nya sambil membaca buku.


Tak memedulikan nya Nanda hanya fokus pada jalanan yang ada didepannya. Dia melirik Rara yang terus saja tersenyum sedari tadi. Nanda ingin sekali bertanya tapi dia masih ingin menikmati pagi.


Laki-laki itu melihat Nanda yang sedang berjalan bersama seseorang. Dia ingin menghampiri tapi kopi yang hangat ini sayang untuk di tinggal begitu saja. Laki-laki itu kembali fokus ke dunia nya sendiri.


Sesampainya mereka di sekolah, mereka melihat Dinda dan Angga yang baru saja turun dari motor. Mereka berdua pun melihat Nanda n Rara dan berjalan berdampingan bersama.


"Lu kenapa ndak?" tanya Rara.


"Gak papa kok, gue biasa-biasa aja, " jawab Nanda.


"Lu beda banget kayaknya hari ini, " sahut Dinda.


"Iya beda banget, ada acara apa kemarin?" tanya Rara.


"Oh iya ndak, kapan tanggal pernikahan lu?" tanya Dinda.


"Kemarin malah baru di bicarain soal tanggal pernikahan gue sama Marcell, " jawab Nanda.


"Tanggal berapa?" tanya Rara.


"Tanggal 14/15 mungkin, " sahut Nanda.


"Kok mungkin?" tanya Dinda.


"Gue gak terlalu merhatiin, males, " jawab Nanda jalan duluan.


Sampai di kelas dia disambut meriah oleh seluruh siswa-siswi yang ada di dalam kelas. Nanda berjalan menuju mejanya dan mulai membaca buku, semua orang yang sudah mengenal Nanda tau, jika Nanda sudah memegang buku dia tidak mau di ganggu.


Dengan tenang dan perasaan yang tak campur aduk menambah kebahagiaan Nanda di dalam dirinya.


"Anak-anak kelas IPS 3 sekarang ada ulangan Fisika kalian baca buku dari halaman 145-167!!" teriak Mike wakil ketua kelas.


Dengan cepat semua murid membuka buku mereka dan membaca, kelas IPS 3 memang rajin membaca makanya kelas kita selalu di sebut kelas kutu buku.


Tak heran jika banyak murid lain memanggil kita kutu buku, karena memang benar kita semua kutu buku, kecuali...


"Kalo gue males baca gimana?" teriak Salsa.


"Itu sih terserah kalian, mau nilai kecil yah silahkan, kalo gak mau nilai kecil yak baca buku, " sahut Mike.


Mike memang pantas di sebut sebagai wakil ketua kelas karena dia santai, kutu buku, kadang tegas, dan dia adalah ketua paskibra.


Kenapa Mike gak jadi ketua kelas aja? Karena saat pemilihan gak ada yang mau ke depan karena malu katanya, jadi yah udah Nanda saja yang jadi ketua kelas dan wakil nya adalah Mike.


.


.


.


.


.


Tak terasa jam berjalan dengan cepat, kini sudah jam istirahat pertama.


Nanda dkk berjalan menuju kantin, dan terkadang dia sering di sapa oleh adik kelas karena Nanda dkk terkenal dan sering di sebut sebagai badgirl padahal aslinya mereka bertiga bobrok.


Di tengah perjalanan mereka melihat Marcell dkk seperti sedang menuju kantin sama seperti mereka sekarang. Dinda menghampiri Angga karena mereka memang sudah pacaran.


Marcell berbalik dan mengulurkan tangannya ke Nanda, tanpa basa basi Nanda meraih tangan Marcell. Sekarang mereka berjalan bersama menuju kantin sambil berpegangan tangan.


Dinda dan Angga juga sama seperi mereka berdua sekarang, tapi kalau kalian melihat ke belakang Dinda sama Angga akan terlihat dua makhluk yang saling membenci satu sama lain, gak pernah akur, sering adu bacot dan sebagainya.


"Tumben lu menghampiri gue?" tanya Agung.


"Gue bukannya ngehampiri lu, gue gak mau aja liat sahabat-sahabat gue menderita itu aja, " jawab Rara.


Nanda berbalik, "Bukan itu, lu gak kasian liat dia ngejomblo terus gung?" sahut Nanda.


"Dia jomblo? Tumben, " sahut Agung sambil menunjuk ke arah Rara.


"Emang lu gak jomblo?" tanya Rara.


"Gue juga jomblo, " sahut Agung tersenyum.


Rara hanya berdecak mendengar nya, dan melanjutkan jalan bersama yang lain. Dan tak sengaja melihat Lukman dan Ihsan sedang duduk di kursi.


"Woy, kalian semua mau kemana?" tanya Lukman menghampiri mereka.


"Kita mau pergi ke kantin, mau ikut?" tanya Dinda.


"Mau dong, yuk san, " ajak Lukman.


Dan sekarang mereka berenam di tambah Lukman sama Ihsan jadi delapan yah, pergi ke kantin bersama.


Saat sampai di kantin, banyak anak-anak, tak ada meja yang tersisa satu pun, tapi Rara dan Agung memiliki banyak ide untuk mendapatkan meja.


"WOYY, SEMUA ADA STEFAN WILIAM DI GERBANG!!" Teriak Agung.


Kami pikir mereka akan cuek, atau berkata 'pasti bohong' tapi kenyataan nya semua anak langsung berlarian menuju gerbang.


Kami semua mengekor saja, karena takut di salahin atau di omelin sana anak-anak yang berhasil Agung tipu.


"Bi aku pesen baso sama es teh manis nya... " teriak Agung.


Agung melihat Rara yang tak memesan apa-apa dia terus saja memainkan ponsel nya tanpa henti. Agung mencolek tangan Rara, dia menoleh ke Agung.


"Lu mau apa Ra?" tanya Agung pada Rara.


"Gue males pesen, samain aja dah, " sahut Rara lanjut memainkan ponsel nya.


"Baso nya dua bi... sama es teh manis nya juga duaa.. " teriak Agung lagi.


"Iya siaap... jangan teriak-teriak kan deket... " sahut Bi Ira kesal.


Makanan pun datang dan kami semua mulai memakannya dengan lahap, terutama Lukman sama Ihsan yang terus makan tanpa henti.


"Lu berdua bisa pelan-pelan gak makannya?" tanya Dinda kesal.


"Engga, gue udah lama gak makan, " jawab Lukman


"Ngejawab lagi, di kasih tau... " ucap Dinda kesal.


"Sabar... " sahut Angga mengelus pundak Dinda.


Dinda pun melanjutkan makannya.


"Ndak, cell kalian tanggal berapa nikah?" tanya Ihsan.


"Tanggal 14/15 mungkin, " jawab Marcell.


"Engga Nanda engga Marcell semua pasti 'mungkin' , " sahut Rara kesal.


"Napa sih elu?" tanya Agung menyenggol tangan Rara.


"Gak papa, gue cuma pengen kepoin aja tanggal berapa mereka nikah, kan gue juga mau ikut ke pernikahan mereka berdua, " jelas Rara.


"Hooh iya juga yah, " sahut Agung.


"Emang lu mau kasih gue hadiah apaa?" tanya Nanda.


"Ada deh... rahasia... " sahut Rara.


"Gue sama Dinda mau kapel ke pernikahan lu, " sahut Angga.


"Emang iya Din?" tanya Rara.


Dinda hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan mie. Biasalah kalo lagi makan tiba-tiba di tanya mending ngangguk aja.


"Ndak... ngomong-ngomong Putri kapan pulang ke Indonesia?" tanya Rara.


"Putri siapa?" tanya balik Nanda.


"Masa lu lupa sih sama sahabat kita yang di Jerman, " sahut Dinda.


"Oh Putri Chayani... " sahut Nanda ingat.


"Iya... menurut lu kapan dia pulang?" tanya Rara.


"Gak tau, " jawab Nanda singkat.


"Lu ngasih tau dia, kalo lu bakal nikah?" tanya Dinda.


"Engga... " jawab Nanda menggeleng.


"Dasar anak tak tau diri... sampe lupa sama sahabat sendiri, " sahut Rara kesal.


"Lagian percuma kalo gue ngasih tau, dia nya kan sibuk di Jerman belajar, " sahut Nanda.


"Iya... jug--, "


"Gue kangen sama Putri... " sahut Ihsan menyela.


"Emang Putri suka sama elu?" tanya Rara.


"Pasti lah, kan gue ini ganteng, blasteran orang Jepang gitu loh... " sahut Ihsan.


"Idieee... "


"Idieee blasteran orang utan lu... " sahut Rara.


"Dari pada elu blasteran anak monyet, " sahut Agung.


"Lu blasteran anak baby, " sahut Rara.


"Lu aja yang blasteran gue mah ogah, " sahut Agung.


"Apalagi gue... " sahut Rara.


"Kalian berdua, lama-lama gue kawinin juga, " sahut Dinda.


"Gue kawin kalo udah ada jodoh nya... " sahut Rara.


"Kan jodoh lu ada di samping, " sahut Marcell.


Rara menoleh ke samping nya hanya ada Agung di samping kanan nya dan di sebelah kirinya hanya ada tembok.


"Sama anak baby?!! engga amit-amit... " sahut Rara.


"Amit-amit... " sahut Agung.


"Amin-amin.... " sahut Lukman.


"Amit-amit beg0 bukan amin... " sahut Rara.


"Pak amin dong, " sahut Marcell.


"Iya bener guru BK, " sahut Dinda.


Mereka semua tertawa bersama sampai jam istirahat selesai dan kembali ke kelas masing-masing sampai bel pulang.