
Sebuah cincin yang di lapisi dengan permata biru langit yang begitu sangat indah dan cantik.
"Nah, Nanda.. bunda mau ngasih ini ke kamu, " sahut Bunda mengambil cincin itu dan memandang nya.
"A-apa? tapi bun.. ini kan cincin Bunda, aku gak bisa asal terima lho bun.. " sahut Nanda menolak dengan sopan.
"Ini bukan cincin Bunda kok sayang, tapi ini cincin milik mertua Bunda, yaitu nyonya besar Alfarizky, dia ngasih ini ke Bunda sebagai bukti bahwa Bunda sudah menjadi bagian dari keluarga Alfarizky, " jelas Bunda.
Nanda hanya mengangguk paham. "Nah sekarang, Bunda mau ngasih ini ke kamu, sebagai bukti bahwa kamu udah jadi bagian keluarga Alfarizky juga, terima yah sayang, " sahut Bunda memberikan cincin itu ke Nanda.
Nanda masih ragu menerima pemberian cincin itu. Nanda melihat mata Bunda, terlihat di sana sebuah harapan kalau Nanda akan menerima cincin ini dengan sepenuh hati.
"Bun, bukan aku gak mau, cuma aku takut nanti ilang, " sahut Nanda.
"Jadiin kalung yah sayang, gak akan ilang kok, ini Bunda juga punya kalung buat kamu, dan cincin ini sebagai liontin, " sahut Bunda.
"Mm... ya udah deh, aku terima, makasih yah bun, " sahut Nanda memeluk Bunda.
"Iyaa sayang sama-sama, " sahut Bunda membalas pelukan Nanda.
Bunda mengeluarkan kalung emas dari kotak yang sama, dan menyatukan cincin itu sebagai liontin.
"Sini, biar Bunda pasang kalung nya, " sahut Bunda.
Nanda pun mengangguk, dia mengangkat rambut nya ke atas sambil menunduk sedikit. Bunda dengan perlahan memasangkan kalung itu ke leher Nanda.
"Udah, kamu cantik Nanda, " sahut Bunda mengelus rambut Nanda lembut.
"Makasi Bunda.. ini hadiah terbaik yang Bunda kasih buat aku, " sahut Nanda.
Bunda hanya tersenyum melihat menantunya menyukai cincin warisan itu.
"Kamu simpan baik-baik yah, kalau kalung nya gak di lepas, maka cincinnya juga gak akan ilang, " sahut Bunda.
"Iya, Bunda, " sahut Nanda.
"Semoga kamu sama Marcell bisa melahirkan anak perempuan yah sayang, karna sejak dulu keluarga Alfarizky tidak pernah melahirkan seorang anak perempuan, maka dari itu.. Bunda mohon jangan di tunda terlalu lama untuk memiliki seorang anak, " sahut Bunda.
Nanda merasa bersalah melihat Bunda dan Ayah nya berharap kalau Nanda dan Marcell memiliki anak perempuan.
"Ayah selalu berdoa setiap kali dia solat, untuk meminta seorang cucu perempuan, Bunda pun berharap yang sama, " sahut Bunda.
Nanda hanya mengambil napas panjang. Rasanya ingin sekali menangis melihat sebuah harapan besar yang di berikan semua orang untuk seseorang.
"Bunda, jangan nangis, aku sama Marcell akan berusaha memberikan cucu, lagi pula sekarang aku udah mulai berani sih, "
"Berani?"
"Eehh, bukan apa-apa.. Heheh, "
"Mm, "
Gue harap trauma gue gak kambuh lagi nanti, - batin Nanda berharap.
"Udah sana kamu kembali ke kamar, mungkin Marcell sekarang lagi nunguin kamu, biar nanti malem mau 'itu' "
"Iihh bunda apaan sih.. Siapa juga yang mau itu itu.. Enggak, nanti aja, " sahut Nanda.
"Ahahaha.. Bunda bercanda kok, " sahut Bunda tertawa bahagia.
"Udah sana, " sahut Bunda.
"Ya udah kalo gitu Bunda.. aku balek ke kamar yah, "
"Iyah, "
Blam..
Setelah urusan dengan Bunda selesai Nanda awalnya berniat kembali ke kamar, tapi setelah melihat jam baru jam delapan malam. Nanda pun memutuskan untuk jalan-jalan malam sebentar sambil menikmati angin sejuk.
"Sepiii.. tapi tenang.. " gumam Nanda tersenyum.
Nanda berjalan ke arah pintu utama. "Jeng jeng.. ehh? Marcell?!" sahut Nanda kaget melihat Marcell yanga fa di luar sambil memakai jaket hitam.
"Nanda?!!!"
Marcell yang tak kalah kaget nya dengan Nanda hanya bisa terdiam. Dan akhirnya mereka jalan-jalan mengelilingi sekitar rumah berdua.
"Lu ngapain di luar malem-malem gini?" tanya Nanda.
"Harusnya gue yang nanya itu sama lu, ngapain lu keluar malem, bukannya langsung ke kamar aja, "
"Yah, gue mau cari udara seger, bosen gue di rumah mulu, kali-kali kek, " sahut Nanda.
"Mm, iya gue juga sama, " sahut Marcell.
"Huuhh, "
"Lu gak kedinginan?" tanya Marcell.
Marcell melepaskan jaket nya dan menaruh nya di pundak Nanda. "Nih pake, walau gak terlalu tebak sama hangat.. tapi bisa bikin ku agak hangat gitu, " sahut Marcell.
"Trus lu gimana?"
"Gak papa, gue udah kebal sama angin malam, "
"Nj*rr kata-kata gue di ulang lagi, berani-berani nya lu, " sahut Nanda.
"Hahaha, canda kok sayang, "
Tanpa sadar Marcell memanggil Nanda dengan sebutan sayang. Tapi Nanda dengar dengan jelas bahwa Marcell barusan memanggilnya dengan sebutan sayang.
Nanda berganti melangkah dan melihat Marcell dengan mata hitam indahnya. Marcell pun ikut berhenti dan melihat Nanda.
Melihat Nanda yang begitu cantik di hadapan nya kali ini, ingin rasanya Marcell memeluk dan mencium kening Nanda sekarang, di waktu saat ini.
Tatapan mata mereka seperti menciptakan dunia kedua, hanya mata mereka yang saling berbicara dan saling memandang. Seperti sedang mengucapkan sebuah kata.
'Aku sayang sana kamu Nanda'
'Aku sayang banget sama kamu Marcell, i love you'
Kata-kata yang tak bisa mereka ucapkan dengan jelas di mulut mereka. Hanya bisa diucapkan dengan sebuah tatapan hangat di antara mereka berdua.
Gubrakk..
Mendengar suara ada yang jatuh, mereka membuang mata satu sama lain dan beralih ke suara tersebut.
"Aduhh.. Ayah, kenapa pake acara jatuh segala sih?! bikin Bunda hampir jantungan aja, "
"Ya, lagian Bunda dorong-dorong, "
"Ayah Bunda? kalian ngapain?" tanya Marcell.
Ternyata yang jatuh itu adalah Ayah dan Bunda yang hendak memvideokan Marcell dan Nanda yang akan berpelukan tapi gagal gara-gara dua orang kuno yang gak pernah liat ke-uwuan anak muda.
"Eehh, hehe.. Marcell Nanda.. " sahut cengengesan sambil berusaha berdiri.
"Bunda sama Ayah lagi ngapain di luar?" tanya Nanda.
"Iisshh.. kita lagi olahraga malam ya bunda ya?" sahut Ayah meregang kan tangannya ke atas.
"Iyaaa.. Udah sana kalian berdua.... jangan hirauin kita udah kalian lanjut aja lanjut, " sahut Bunda.
"Oohh, kita berdua udahan kok bun, aku sama Nanda mau masuk lagi, angin nya makin kenceng, nanti Nanda sakit lagi, " sahut Marcell.
"Yahh kok udahan sih? gak seruu tau, bunda belum dapet video kalian yang mau pelukan, eehh, " sahut Bunda keceplosan.
"Nahh kan.. ketahuan, " sahut Nanda Marcell barengan.
"Eh, maksud bunda.. "
"Udah bun, udah ketahuan, mereka bukan lagi anak-anak tapi mereka udah remaja, " sahut Ayah.
"Oh ya udah deh, " sahut Bunda pasrah dan hanya senyum-senyum ke arah Nanda dan Marcell.
Ehehehe.. Bunda ngapain sih liatin gue kayak gitu? - batin Nanda.
Kok perasaan gue jadi gak enak yah? Entah itu karena Bunda yang liatin atau Nanda yang semakin sini makin nempel? - batin Marcell.
"Oh iya, udah ini kalian mau kemana?" tanya Bunda.
"Kita mau ke kamar bun, udah malem, " jawab Marcell.
"Oohh, " sahut Bunda manyun bebek.
"Kalian di kamar mau ngapain? Hayoo, " goda Ayah sambil tunjuk-tunjuk.
"Mau bikin anak.. Ehh.. Maksudnya mau tidur udah malem, " sahut Marcell keceplosan.
Nanda dengan sembunyi-sembunyi memukul kaki Marcell dengan tangan nya.
"Iya kita mau tidur, " sahut Nanda ikut bicara.
Bunda dan Ayah saling memandang. Nanda semakin ke sini makin nempel dengan Marcell.
"Syuutt.. cell, kok perasaan gue jadi gak enak yah, liat mereka saling liat gitu, " bisik Nanda.
"Sama gue juga, kayak ada yang mau mereka minta ini mah, " bisik Marcell.
"Bikin anak nya.. Anak perempuan yah, " sahut Bunda.
Udah gue duga, - batin Marcell.
"Jangan lupa, nanti kalo udah lahir kasih belakang nya nama Alfarizky, " sahut Ayah.
Belum juga bikin udah ngomongin nama, - batin Nanda.