My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Habis nyari cogan



"Ini, nama kamu Rara Farisya, cantik namanya sama kayak orang nya, " sahut dokter sambil membenarkan rambut nya.


Beeehhh damagenya... - batin Rara.


Mamah ganteng... - batin Putri.


Ini gue ada di dongeng mana sih? perasaan gak ada deh dongeng yang damagenya mantep gini... - batin Nanda.


Astagfirullah... asupan pagi... - batin Putri.


Nanda dkk segera pergi dari hadapan dokter itu dengan perlahan. Dokter itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka.


"Sumpah bett itu damagenya gak ngotak... " sahut Putri.


"Mantep anj*rr... bener kan kata gue.. " sahut Rara.


"Iya iya... bagi nomor nya dong... jan pelit lu, " sahut Nanda.


"Bentar tuh gue udah ngirim kontaknya ke elu, " sahut Rara sambil menunjukkan ponselnya ke wajah Nanda.


"Gue gak rabun anj*rr gak usah deket-deket napa, " sahut Nanda menjauhkan ponsel dadi matanya.


"Ya kirain, " sahut Rara.


"Ra, kirim juga ke gue, " sahut Putri.


"Iya, ini otwe, " sahut Rara.


"Gue juga, " sahut Dinda.


"Nih udah... " sahut Rara mematikan ponselnya.


Saat mereka berjalan di lorong yang akan masuk ke kantin, mereka melihat Lukman dan Ihsan yang sedang mengobrol sambil memakan gorengan.


"Cuy cuy... balik cuy balik, " sahut Rara menahan teman-temannya.


"Kenapa sih?" tanya Dinda saat melihat ke depan Dinda kaget sendiri dan berjalan mundur perlahan bersamaan dengan yang lain.


"Mundur mundur mundur... cepetan... " sahut Rara.


"Sabar b*ngke, " bisik Putri.


Mereka berhasil menjauh walau hanya beberapa meter, tiba-tiba..


Bruukk....


Dinda menabrak seseorang, sampai Dinda, Putri terjatuh ke lantai, Nanda dan Rara kaget dan segera menengok kebelakang.


"Kenapa kalian?" tanya Nanda berusaha membangunkan Dinda.


"Adduuh kenapa harus sampe jatuh segala sih... " sahut Rara kesal dengan suara pelan.


"Kalian kok di sini?" tanya seorang lelaki yang di tubruk Dinda.


Nanda dkk menengok ke atas, seketika mereka kaget dengan lelaki itu, ternyata dia adalah dokter yang habis periksa Nanda barusan. Dokter Wahyu Saputra.


"D-d-dokter kok di sini?" tanya Rara gagap ples kaget.


"Mm? kan ini rumah sakit, jadi saya selalu ada di mana-mana, kalo kalian berempat mau kemana?" tanya dokter wahyu.


"Ki-kitaa mau ke kantin tapi gak jadi, " sahut Putri.


"Oh gitu... " sahut dokter wahyu, saat dokter wahyu melihat ada Lukman dan Ihsan dia tau mereka sedang menjauhi anak-anak gila yang ada di depan.


"Kalian kenapa gak istirahat, kan Nanda lagi sakit, " teriak dokter wahyu.


Nanda dkk semakin panik dan tak tau harus bagaimana lagi. Lukman dan Ihsan yang sedang anteng menikmati makanan mereka melihat ke kanan, banyak ciwi-ciwi sedang kumpul dengan dokter di sana.


Dengan cepat Lukman dan Ihsan segera menghampiri mereka berlima. Marcell dkk yang baru kembali sambil membawa beberapa makanan ringan, melihat mereka berdua berjalan entah kemana.


"Kemana tuh dua anak bocah nakal itu?" tanya Angga.


"Mana gue tau, mending susulin dah, " sahut Agung berjalan menyusul Lukman, dan Ihsan.


"Eehh tungguin gue.. ayo cell, " sahut Angga mengajak Marcell.


Marcell dkk menghampiri Lukman dan Ihsan di depan, dan sekarang mereka melihat ada beberapa orang yang sedang mengobrol.


"Oi, Nanda... " teriak Lukman menepuk pundak Nanda pelan.


Nanda tersentak kaget begitupun dengan yang lain, "Eeehh ada Lukman ganteng... " sahut Nanda tersenyum di paksa.


"Iya... kalian lagi ngapain di sini?" tanya Lukman.


"Kita lagi jalan-jalan... " sahut Putri.


"Mau ke kantin gak?" tanya Ihsan.


Gila nih anak, ngajak berantem kalo gue sampe ketemu sama Marcell auto di marahin gue, - batin Nanda.


"Enggak usah, kita ajak Nanda jalan karena kaki Nanda harus bergerak... " sahut Rara menolak dengan baik, dan sopan.


Hahaha bohong... - batin dokter wahyu.


"Ooohhh gitu... " sahut Lukman mencomot bala-bala Ihsan.


"Anj*rr udah dong, abis nanti gorengan gue.. " sahut Ihsan.


"Napa sih, itu gorengan masih banyak juga, " sahut Lukman.


"Pala lu, cuma ada pisang goreng dong, bala-bala nya lu abisin, " sahut Ihsan.


"Nanti kita beli lagi, " sahut Lukman.


"Traktir lu, nyomot gorengan gue mulu, " sahut Ihsan.


"Iya iya santuy, minta lagi dong, " sahut Lukman.


"Nih satu... udah... " sahut Ihsan.


"Kita pergi dulu yah... " sahut Putri tertawa sambil menarik tangan Rara dan Dinda.


"Oh iya.. " sahut Ihsan.


"Nanda Nusyrandi, berhenti... kalian lagi ngapain di sini?"


Sahut seseorang dari belakang mereka, di telinga Nanda suara ini sudah sangat familiar. Nanda dkk segera berbalik dan terlihat lah Marcell dkk sedang berjalan ke arah mereka.


"Apa? gue ke sini olahraga kaki, " sahut Nanda kesal.


"Bilang dulu kek, " sahut Marcell.


"Mana bisa gue bilang, hape gue kan di kame, lagian gue ke sini di ajak sama Rara sama yang lain, "


"Harusnya lu tolak, nanti aja.. gimana kalo nanti lu pingsan di jalan, mana mereka semua ini perempuan lagi, mana kuat mereka angkat lu, "


"Kan banyak orang yang lewat tinggal minta bantuan itu doang, kenapa? lu khawatir sama gue?" tanya Nanda sedikit berteriak


"Yah khawatir lah, elu itu istri gue, lu tanggungjawab gue sekarang, "


"Kalo lu itu suami yang baik, lu gak usah teriak-teriak, " sahut Nanda teriak.


"Lu yang duluan teriak, "


"Gue ngomong dengan suara biasa, kalo elu kayak marahin anak ama bini, "


"Kan elu itu bini guee.. " sahut Marcell.


Terjadi lah adu bacot antara Marcell sang suami dan Nanda sang istri. Rara dkk bahkan dokter wahyu menyimak bacotan mereka berdua dengan santai.


"Berantem lagi... " sahut Rara tak heran dengan mereka berdua.


"Biasalah... " sahut Agung.


"Eehh minta kripik dong... " sahut Rara kepada Agung yang ada di samping nya.


Agung memberikan beberapa cemilan kepada Rara, "Thanks.. " sahut Rara.


"Mm, " sahut Agung hanya bergumam.


Angga berjalan menghampiri Dinda yang sedang melihat Nanda dan Marcell berantem, adu bacot.


"Habis dari mana yank?" tanya Angga.


"Habis nyari cogan, " sahut Dinda.


"Ngapain nyari cogan jauh-jauh, kan di dekat kamu banyak, " sahut Angga.


"Mana mana?" tanya Dinda.


"Liat ke sekeliling kamu, " sahut Angga.


"Males muter kepala, " sahut Dinda sambil mencomot kripik milik Angga.


Angga hanya pasrah dengan tangan Dinda yang terus mengambil kripik nya dengan santai dan tanpa bersalah sedikit pun.


"Enak juga nih kripik, ada lagi gak?" tanya Dinda.


"Udah ngambil banyak, minta tambah lagi, untung gue sayang sama elu, " sahut Angga membawa Dinda ke kantin.


Ihsan kini ada di samping Putri, "Mau gorengan?" tanya Ihsan.


"Maulah masa engga, " sahut Putri mengambil satu pisang goreng.


"Siapa cogannya? emang ganteng banget?" tanya Ihsan.


"Tuh, dokter itu, " sahut Putri.


"Oh wahyu, " sahut Ihsan.


"Lah kenal?" tanya Putri.


"Kenal lah, dia itu temen bapaknya Marcell, " sahut Ihsan.


"Bodo aahh, ke kantin yok, gue pengen jajan, " sahut Putri.


Ihsan mengangguk dan berjalan bersama Putri ke arah kantin. Kini hanya yang setia menyimak bacotan mereka adalah dokter Wahyu, Lukman, Agung dan Rara.


Mereka berhenti berbicara dan terdiam. "Lah kok udahan sih berantem nya? lagi seruu tau, " sahut Rara.


"Diem lu, mending anter gue ke kantin, gue haus, " sahut Nanda.


"Iyak udah ayoo, " sahut Rara.


Nanda dan Rara pergi ke kantin berdua, sedangkan Marcell, Lukman, Agung dan dokter Wahyu sedang mengobrol.


"Lagi ngapain mereka?" tanya Lukman.


"Minta nomor gue, " jawab Wahyu.


"Lu kasih?" tanya Marcell.


"Iyalah, masa engga, kan meraka cantik-cantik apalagi istri nya Marcell, " sahut Wahyu.


"Dasar beg0 nanti kalo Nanda fokus sama elu gimana? nanti dia gak fokus sama pelajaran nya, " sahut Marcell.


"Banyak alasan, bilang aja lu cemburu kan?" tanya Wahyu.


"Diem lu, " sahut Marcell berjalan menyusul Nanda dkk.


"Lah lah, suami nya cemburu... eh woi jangan ngambek nanti cepet tua lho, " sahut Wahyu.


"Udah ayo kantin, " sahut Lukman.


"Gass lah, " sahut Wahyu.