
"Emang lu mau jadi pacar gue?" tanya Marcell dingin.
"Mau... " jawab Nanda santai.
Marcell seketika melotot kepada Nanda tak percaya. Sedangkan Nanda hanya mengedipkan satu matanya ke arah Marcell.
"Udah ini, kita ke masjid, "
"Ngapain ke masjid kan sekolah, " sahut Nanda.
"Gue mau panggil semua ustadz yang ada, buat ngerukiah lu, " sahut Marcell.
"Aauu sosweet.... " sahut Nanda tersenyum sambil menggoyang tubuhnya yang membuat Marcell merasa jijik.
Kayaknya bener deh gue harus ngerukiah dia... Semakin kesini semakin gila bukan semakin waras, - batin Marcell.
"Lu sayang gak sama gue?" tanya Nanda.
"Nggak, " jawab Marcell dingin.
"Jangan dingin-dingin cell, nanti anak lu nurun, " sahut Nanda.
"Jangan ngebicarain soal anak, gue masih marah sama yang lu lakuin kemarin, " sahut Marcell.
"Diiih ngambek... " sahut Nanda.
"Mm.. "
Nanda ingin terus mengerjai Marcell tapi makanan yang mereka pesan sudah datang. Jadi Nanda berencana untuk mengerjai Marcell lagi nanti.
Mereka makan dengan lahap di tambah dengan keramaian pada pembeli.
"Ramai juga ni warung, " ucap Marcell melihat ke sekeliling banyak pembeli.
Nanda hanya melirik Marcell singkat dan kembali melanjutkan makannya. Setelah beberapa menit, setelah mereka selesain makan, Marcell membayar dan kembali ke mobil menyusul Nanda yang sudah ada di dalam mobil.
"Yuk sekolah, " ucap Nanda melihat Marcell.
Marcell yang merasa ada yang terus memperhatikan mulai menoleh ke arah Nanda.
"Apa?" tanya Nanda masih melihat Marcell.
"Ngapain lu liatin gue kayak gitu?" tanya Marcell.
"Kenapa emang, gak boleh yah istri liatin suaminya?" tanya Nanda.
"Yah gak gitu juga kale liatinnya.. " sahut Marcell.
"Kenapa emang, lu malu yah diliatin sama gue... " sahut Nanda tertawa.
"Idiiee sape lu..., " sahut Marcell.
"Uullulu, jangan sok deh.. Gue tau lu pasti malu kan kalo gue liatin, " sahut Nanda semakin menjadi.
Marcell hanya memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.
"Tuh kan.. Lu malingin wajah lu.. Itu karena gue ini cantik... " sahut Nanda memuji dirinya sendiri.
"Hmm... Ngaca.. " sahut Marcell.
Nanda melihat kaca spion mobil seketika batin nya ingin terus mengerjai Marcell habis-habisan.
"Emang kenapa sama muka gue? Gue cantik yah?" tanya Nanda yang masih melihat dirinya di kaca.
"Iya cantik banget... Saking cantiknya gue jadi pengen nabok muka lu, " sahut Marcell.
"Aaauuu sosweet banget siihh.. " sahut Nanda mencolek tangan Marcell.
Marcell yang sudah muak dan mereka jijik dengan tingkah Nanda mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi agar secepatnya sampai di sekolah.
Astagfirullah... Kenapa gue dapet istri yang kayak gini sih? Siapa yang milihin? - batin Marcell.
"Yayank Ndak jangan ngebut.. " sahut Nanda.
Tapi Marcell tak peduli dengan apa yang dikatakan Nanda barusan, dia terus melaju tanpa henti.
Sampai nya mereka di sekolah. Marcell turun seperti biasa tapi Nanda tiba-tiba loncat-loncat tidak jelas dan merangkul tangan Marcell.
"Lu kenapa?" tanya Marcell semakin bingung.
"Gak papa, sumpah kagak ngapa-ngapa, " sahut Nanda
Marcell berusaha melepaskan tangannya tapi pegangan Nanda semakin erat. Marcell melihat ada dua orang gadis yang baru masuk ke area sekolahan.
"Rara... Putri... " panggil Marcell.
Rara dan Putri pun mencari asal suara itu dan melihat Marcell yang melambaikan tangan kepada mereka berdua, langsung saja Rara dan Putri menghampiri Marcell dan Nanda yang masih memegang tangan Marcell.
"Apa cell?" tangan Putri.
"Lah ngapa nih bocah?" tanya Rara ketika melihat Nanda.
"Dia setres... Tolong.. Lu lepasin tangan gue.. " sahut Marcell meminta bantuan.
Rara menarik tubuh Nanda sedangkan Putri berusaha melepaskan tangan Nanda dari tangan Marcell.
"Gak mau... Gak suka gelay, " sahut Nanda menolak.
"Lu kenapa?" tanya Putri.
"Lu apain Nanda sampe dia kayak gini?" tanya Rara pada Marcell.
"Yak mana gue tau... " sahut Marcell.
"Udah Nanda... Lepasin malu diliat sama orang, " sahut Rara terus menarik tubuh Nanda.
Marcell terus menggoyang-goyangkan tangannya agar terlepas dari Nanda.
"Gak mau... Aku mau sama Marcell... " sahut Nanda.
Putri melepaskan jari-jari tangan Nanda. Dan Rara terus menarik sampai Nanda mau melepaskan Marcell.
Dan akhirnya Nanda mengalah, dia melepaskan Marcell. Dengan cepat Marcell berjalan pergi.
Sedangkan Nanda hanya bisa melihat punggung Marcell yang semakin mengecil dan menghilang.
"Lu sehat kan ndak?" tanya Putri.
"Gue sehat, cuma gue lagi pengen ngerjain Marcell doang, " sahut Nanda membenarkan seragam nya yang kusut.
"Jangan kayak gitu jailnya... Lu pura-pura hamil aja, " sahut Rara.
"Udah kemarin, " sahut Nanda berjalan.
"Masa? Bilang dong sama gue kan gue bakal bantu lu, " sahut Rara.
"Gak usah bantu-bantu, mendung lu pikirin lu hubungan lu sama Agung, " sahut Nanda.
"Napa nyambung ke Agung sih, " sahut Rara kesal.
"Jangan bahas Agung sekarang, dia lagi marahan sama Agung, " sahut Putri..
"Ada masalah apa lu sama Agung, perasaan hampir setiap hari lu berantem mulu sama dia, " sahut Nanda.
"Dia yang salah, malah nyalahin gue, " sahut Rara.
"Emang lu yang salah, " sahut Agung yang baru datang dan langsung ikut nimbrung.
Sontak itu membuat ketiga gadis itu tersentak kaget saat mendengar suara Agung.
Rara berbalik badan dan menghadap Agung.
"Kenapa malah gue yang salah?" tanya Rara berteriak.
"Telinga gue sakit... " sahut Agung membungkam mulut Rara dengan tangan nya.
Rara melepaskan tangan Agung dari mulut nya, "Tangan lu bau... " sahut Rara mengelap mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Bau apa?" tanya Agung mencium tangannya.
"Bau bunga, " sahut Rara.
"Enak dong wangi, " sahut Putri.
"Iya sih bunga emang wangi, cuma ini bunga kuburan, " sahut Rara tertawa.
Agung merangkul pundak Rara dan mulai mengacak-acak rambut nya.
"Aaaaa... Lepasin... " teriak Rara.
Agung melepaskan rangkulan nya dan mulai berlari. Rara pun bertekad untuk membalas Agung.
"Awas lu gung, gue bales lu.., " sahut Rara sambil menunjuk.
"Kalo bisa yah silahkan.... Mweee... " ejek Agung.
Rara mulai berlari mengejar Agung, dan Agung segera berlari secepatnya menghindari Rara.
"Katanya berantem... Kok udah baikan?" gumam Nanda.
"Lucu juga sih... Pacaran kayak mereka, " sahut Putri.
Nanda hanya melirik Putri singkat dan berjalan bersama menuju kelas.
Saat berada di lorong dia bertemu dengan Mila dan Bagas yang sedang mengobrol serius. Nanda hanya numpang lewat saja dengan Putri, tapi Mila menghalangi langkah Nanda.
"Stop... Stop... My friend... " ucap Mila.
"Mau apa lu?" tanya Putri.
"Lah kok galak, biasa aja kali, " sahut Mila memutar bola mata malasnya.
"Ndak nanti ke kantin bareng gue yak, " sahut Mila.
Nanda masih terdiam mendengar ucapan Mila.
"Nanti sama gue di kasih lipstik, bedak, parfum, pokonya semua yang lu mau, gimana?" sahut Mila berusaha.
"Kalo lu mau bareng sama Nanda yak silahkan aja, gak usah ngasih barang sana sini... " sahut Putri.
"Diem lu... Gue bicara sama Nanda bukan sama lu anak pindahan, " sahut Mila.
"Biarlah saya ini anak pindahan kek, anak baru, anak orang kaya, kalo lu bilang mau bareng sama Nanda yah silahkan gak ada yang ngelarang lu, " sahut Putri.
Mila semakin geram dengan ucapan Putri barusan, dia ingin sekali menghajar Putri habis-habisan, tapi karena disini masih ada Nanda, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena takut rencana nya gagal.
"Okeh, kalo gitu, ndak nanti gue samperin lu kelas, kita makan bareng di kantin... Yeeeyy.. " sahut Mila tersenyum paksa.
"Terserah, " sahut Nanda berjalan pergi.
Mila membiarkan Nanda pergi, namun pandangan masih terkunci pada seorang gadis yang berada di belakang Nanda. Mila terus menatap Putri sinis, dan Putri tak kalah kesalnya, dia pun menatap Mila dengan tatapan membunuh.
Liat aja, seberapa lama lu ngeliatin gur kayak gitu? Gue bakal bikin lu nyesel, - batin Mila.
Gue yakin pasti Mila punya rencana sama Bagas, gue harus hati-hati sama gerak gerik nya.. - batin Putri.
"Mila... Sampe ketemu di kantin yah... " sahut Putri tersenyum.
"Haha... Iya... " sahut Mila ikut tersenyum.
Putri pun berlalu bersamaan dengan Nanda.
Mila berbalik ke arah Bagas yang masih mematung. "Sana, tugas lu cuma deketin Nanda dan bikin Marcell cemburu, jangan lupa istirahat kita mulai rencana nya.. " sahut Mila kepada Bagas.
Bagas hanya mengangguk dan berjalan pergi.
Rencana lu akan gagal... - batin Bagas