
"Ya udah kalo gitu kita liat keadaan Marcell, " sahut Dinda.
"Jangan bilang lu lupa lagi sama suami sendiri, " sahut Rara.
"Alah mak gue lupa, suami gue tadi abis jatoh ke selokan.. Marcell!!" teriak Nanda berlari ke arah UKS.
"Astagfirullah.. kenapa tuhan kasih gue teman kayak gini.. " gumam Rara.
"Udah biasa gue liat dia kayak gini.. " sahut Putri.
"Udah kebal, " sahut Dinda.
"Yoi, " sahut Putri.
"Udah yuk susul, " sahut Rara.
Nanda dkk berjalan menyusuri koridor yang penuh dengan manusia-manusia. Untungnya Nanda tak terlambat ke sekolah.
"Marcell!!" teriak Nanda.
"Marcell!!" teriak Nanda lagi.
"Tuh anak kenapa sih? berasa ada dosa dia sama Marcell?" tanya Rara.
"Bisa jadi.. " sahut Putri tersenyum.
"Tumben.. " sahut Rara.
"Ndakk.. lu kangen sama Marcell yah?" tanya Dinda.
"Atau lu mau minta maaf sama Marcell?" tanya Putri.
"Kagak.. siapa juga yang mau minta maaf, dia sendiri yang salah kok, gue mau minta duit mau jajan di kantin.. laper.. " sahut Nanda.
"Geblek.. gue salah perkiraan, " gumam Rara.
"Haha.. haha.. haha.. menyangkal mulu kalo salah lu, " sahut Dinda.
"Kagak.. gue kalo punya salah yah minta maaf.. " sahut Nanda.
"Kan Marcell kecelakaan gara-gara elu ndakk.. " sahut Putri.
"Bukan salah gue, dia sendiri yang salah.. siapa suruh dia jatuh ke selokan, " sahut Nanda.
"Nj*rr.... ada yang bisa jelasin ke Nanda Nusyrandi kalo dia yang salah?!" teriak Putri kesal.
"Sabar sabar.. orang sabar sahabat setan, " sahut Rara.
"Orang sabar di sayang tuhan bukan sahabat setan, " sahut Dinda.
"Sahabat setan, auto gue bakar nih sekolahan gara-gara kesel sama satu manusia itu.." sahut Putri.
"Yang sabar broo.. nanti dia bakal dapet azab.. " sahut Rara.
"Yah tapi kan.. yawloh gue kesel nya sama tuh anak bener-bener ngeluarin tenaga.. " sahut Putri.
"Sabar sabarr tapi untungnya tuh anak gak budekk.. " sahut Dinda.
Nanda berbalik melihat ketiga sahabat nya yang terus ngobrol, "Kalian lagi ngobrol apaan sih?" tanya Nanda hanya mendengar suara keributan.
Seketika mereka bertiga terdiam. Putri mulai memelas dengan wajah sedihnya. "Astagfirullah... yawloh tolong lah hamba mu ini dari manusia titisan dajjal itu.... " sahut Putri berdoa.
Rara dan Dinda hanya tertawa, sedangkan Nanda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Putri dan yang lain.
Nanda berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga yang membuat nya malu di liatin siswa-siswi lain.
"Mohon untuk di maklumin lah dia.. " sahut Rara.
"Bangun bangun.. malu-maluin lu, " sahut Dinda.
"Bodoamat... tuh kan ninggalin.. ndakk lu jalan sendirian kayak gak butuh gue lagi lu.. Aaaahhh!!" teriak Putri melempar sepatu nya.
Siswa-siswa yang melihat hanya numpang ngakak saja melihat kelakuan kakak kelas nya yang satu ini.
"Setan kau.. " teriak Putri.
"Lu iblis, " sahut Dinda.
"Kalian berdua dajjal.. " sahut Rara.
"Lu titisan neraka, " teriak Dinda, Putri barengan.
"Iihh nj*rr.. " gumam Rara terkekeh pelan.
Putri berjalan menuju sepatunya yang agak jauh, dan memakainya dengan santai setelah itu Putri segera berjalan pergi menyusul Nanda.
"Eehh putt tungguin.. " teriak Dinda segera berlari menyusul Putri dan meninggalkan Rara.
"Eehh kalean berduaan.. tungguin gue!" teriak Rara.
Rara sempat berbalik dan melihat banyak orang yang menatap nya, bahkan ada yang tertawa melihat Rara. Dikarenakan banyak yang lihat, Rara menjadi salting.
"Ehh.. maaf yah tadi ada keributan sedikit.. maklum lah, kakak kelas nya lagi agak gesrek dikit.. " ucap Rara.
"Iya kak gak papa kok, "
"Malah kita terhibur kak, "
Mendengar nya, Rara semakin malu, "Kalo gitu kakak pergi dulu yah.. " sahut Rara segera berbalik dan berjalan pergi. Jalannya pun agak di percepat.
Sementara itu Nanda di UKS.
Brakk..
"Marcell quu sayang!!" teriak Nanda.
Karena teriakan suara Nanda yang cempreng dan juga suara pintu yang di tendang dari luar berhasil membuat tersentak kaget.
"Astagfirullah... mamih gak bisa santuy yah mih?" tanya Lukman kaget.
"Aahh.. g*bl*kk sakit.. " teriak Marcell kesakitan karena ulah Lukman.
"Jangan salahin gue, tuh salahin istri lu.. " sahut Lukman mengoleskan kembali obat luka itu ke tangan dan kening Marcell.
"Marcell.. lu gak papa kan?" tanya Nanda menghampiri Marcell.
"Iya gak papa.. lu ke sini mau minta maaf sama gue atau mau minta duit?" tanya Marcell langsung ke inti.
"Hehehe tau aja lu.. minta duit dong gue laper.. " sahut Nanda.
"Ambil tuh di kantong gue, ambil 50.000 jangan di ambil semua.. awas lu.. " sahut Marcell.
"Okey, " sahut Nanda.
Nanda segera mengambil kantong Marcell dan mengambil dompet nya untuk mengambil uang 50.000.
Mamahh itu biru-biruu semuaaa... - batin Nanda.
Setelah mengambil uang Nanda segera pergi keluar UKS. Tepat di depan pintu Nanda berpapasan dengan Putri.
"Heh, nak dajjal! lu gak butuh gue lagi? sampe lu tega ninggalin gue?!" tanya Putri.
"Oh lu ketinggalan? sorry hilaf.. " sahut Nanda melewati Putri begitu saja dan berlari ke arah kantin.
"Eehh lu mau kemana?!" tanya Putri sedikit berteriak.
"Kantin.. " teriak Nanda.
"Sabar banget lu hadepin istri kayak dia itu, " sahut Putri berjalan masuk UKS.
"Mau gimana lagi, yang di otak nya itu cuma duit dan duit.. " sahut Marcell.
"Masih mending cewek mandang harta dari pada mandang fisik.. kena mental lu, " sahut Dinda berjalan masuk.
"Hemm.. pinter.. " sahut Angga.
"Good.. " sahut Ihsan.
"Iya udah gak papa, thanks udah obatin luka-luka gue, " sahut Marcell pada Lukman
"Iya sama-sama broo.. nanti pas pulang lu mau bareng sama gue apa engga?" tanya Lukman.
"Kagak usah, gue di bonceng sama Nanda, " sahut Marcell.
"Emang motor lu aman man?" tanya Agung.
"Eeehhh.. meremehkan anak Sultan ke dua selain Marcell lu.. " sahut Lukman.
"Masa.. " sahut Dinda.
"Dia gak bawa motor vespa jelek itu lagi dia bawa motor sport... " sahut Ihsan.
"Eh nj*rr itu motor antik bukan motor jelekk.. " sahut Lukman.
"Motor jaman dulu.. " sahut Rara.
"Dari mana lu?" tanya Agung.
"Dari langit.. " sahut Rara.
"Ohh malaikat mau apa kesini?" tanya Agung mulai gila.
"Saya ke sini mau mencabut nyawa seseorang yang bernamaaa... "
Agung dan yang lain melotot seperti nonton film indosiar. "Apaan sih.. gak jelas kalian semua.. " sahut Marcell.
"Eeuuhh.. ganggu aja lu.. "
"Ganggu aja lu.. "
"Biar ada degdegan gitu.. jadi penasaran siapa yang mau di ambil nyawa nya sama si malaikat titisan setan itu.. " sahut Ihsan.
"Ck.. aneh-aneh aja.. " sahut Marcell.
"Berisik kau titisan orang maksiat.. diamm!!" sahut Rara melotot ke arah Dinda.
"Apa lu?! nyari mati lu sama gue?!" tanya Dinda.
Rara mulai menciut. "Enggak kok teteh jagoo.. bercanda.. " sahut Rara.
Semua orang tertawa melihat Rara. "Tadi lu sok-soan jago di depan kita, di tanya sama Dinda apa lu malah menciut.. " sahut Agung tertawa.
"Heh, lu pikir gue takut sama Dinda?" tanya Rara.
"Emang lu gak takut?" tanya Ihsan.
"Yah takut lah masa engga, " sahut Rara berjalan menghampiri Putri yang sedari tadi main hape.
"Gayss.. nyanyi yookk.. " teriak Putri.
"Nyanyi apaan?" tanya Ihsan.
"Nyanyi perfect, " jawab Putri.
"Gimana nyanyi nya?" tanya Lukman.
"Gini nih.. Ifound a love for me, " sahut Putri bernyanyi.
"Bagus juga tuh suara, " sahut Dinda. u
"Woyy.. suara siapa itu yang membuat telinga gue berasa mau pecah?!" tanya Nanda diam di depan pintu UKS.
"Dari mana aja neng?" tanya Marcell.
"Sorry kelamaan, kantin penuh.. " sahut Nanda.
"Kenapa gak makan di kantin aja sih? malah di bawa ke UKS, " sahut Dinda.
"Gimana gue dong, gue kan ketua PMR jadi gimana gue.. " sahut Nanda duduk di atas kasur di samping Marcell.
"Beli apa aja lu?" tanya Marcell.
"Beli roti sama air putih, " jawab Nanda.
"Itu doang?" tanya Marcell.
"Iya, nih buat lu gue beliin juga lu pasti laper juga kan, tadi pagi belum sarapan, sama tadi pagi gue minta maaf, karena udah bangunin lu pagi-pagi, " sahut Nanda.
Seketika UKS menjadi sepi karena kaget akan omongan Nanda barusan bahkan Marcell pun terdiam mendengar kata 'maaf' langsung dari mulut nya.
"Lu beneran minta maaf?" tanya Angga.
"Iyalah, gue yang salah jugaa, " sahut Nanda.
"Yawlohh terimakasih, akhirnya Nanda bisa sadar kalo dia salahh.. " sahut Putri.
"Alhamdulillah, " sahut Ihsan.
"Apaan sih? gak jelas kalian, " sahut Nanda.
"Maaf menganggu sarapan kalian, itu di kresek item itu apa?" tanya Rara.
"Mm? Oh iya ini buat kalian, makasih udah banyu Marcell ke UKS sama makasih juga udah obatin luka-luka nya.. " sahut Nanda memberikan kresek hitam itu ke Agung yang di dekat nya.
"Ini beneran Nanda kan?" tanya Rara.
"Iya ini gue kenapa? kalian kaget liat gue bilang maaf sama bilang makasih iya?" tanya Nanda.
"Iyalah masa engga kaget.. ini pertama kali nya gue denger lu bilang maaf sama bilang makasih secara langsung sama mulut lu itu, " sahut Putri.
"Gila saking Nanda gak pernah bilang maaf sama makasih sampek kalian kaget kayak gitu.. " sahut Agung.
"Gue udah temenan sama Nanda bertahun-tahun.. ini pertama kali nya gue denger.. sumpah.. " sahut Dinda.
"Iya bener.. " sahut Rara.
"Oh darling, just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet, " sahut Putri lanjut nyanyi.
"Berisik nj*rr.. kaget gue.. " sahut Rara.
"Lama-lama gue tampol tuh mulut pake pohon bambu kalo gak berenti-berenti juga, " sahut Nanda.
"Tau suara kayak burung kakak tua yang kehilangan sayap aja lu.. " sahut Dinda.
"Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was, "
"Kelewatan woy, Oh, I never knew you were the someone waiting for me, nah udah itu baru, Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was, " sahut Nanda.
"Oh gitu yah, " sahut Putri.
"Iya, makanya kalo lo gak apal lagunya mending diem deh, malu, " sahut Nanda.
"Lah kan gue yang nyanyi kok malah elu yang malu, sangat membingungkan, " sahut Putri dan lanjut menyanyikan lagi perfect.
"Au ahh.. " sahut Nanda merasa bodoamat.
"Gelap.. " sahut Rara.
"Terang.. gak liat lu banyak cahaya sang mentari yang menyinari kamar UKS ini.. " sahut Nanda.
"Gelap bestieh itu mah gelap.. " sahut Dinda.
"Iya-in ajalah.. capek gue debat.. " sahut Nanda.
Sementara itu di sisi lain Marcell tak peduli dengan kebisingan di dalam UKS itu dia terus makan roti sampai kenyang, bahkan bagian Nanga pun dia makan tanpa sepengetahuan Nanda.