
Kemarin adalah hari pelepasan kami terhadap seorang wanita yang bernama Sofi Ayuhira. Wanita cantik, idaman para kaum adam. Tapi kenapa, kenapa dia tiada di saat dia masih punya harapan?
Sofi Ayuhira semoga kau tenang di sana dan semoga kau bertemu dengan Ayah mu. Setelah sekian lama mencari siapa penyebab kematian Ayah mu akhirnya kau menemukan nya, Herman Johannes.
•
•
•
Herman Johannes pria keturunan Indonesia-belanda, dia tampan, dingin, cuek dan tidak peduli dengan siapa pun dan dia akan melakukan apa pun demi membuat dirinya senang. Dia pernah menjadi sekertaris di perusahaan terbesar di Jakarta, dan berteman dekat dengan pemilik perusahaan Budi Alfarizky.
Pria yang begitu sangat di idamkan oleh para kaum hawa, menurut kalian dia memang lah sangat tampak dan berkepribadian baik. Tapi tak begitu di mata Ryan Murphy, dan Sella Asusila.
Dia adalah pria kejam yang telah merenggut semuanya terutama Sella Asusila. "Pria itu telah merenggut nyawa suami ku dan menculik anak ku.. aku tak akan pernah membiarkannya hidup, "
•
•
•
Ryan Murphy, wanita baik hati, murah senyum, dan dia juga termasuk idaman para kaum adam. Wanita pertama yang berhasil mengambil hati pria dingin itu dan berhasil menjadi istri yang sangat di cinta dan di sayangi.
Apa itu yang kalian lihat? salah! Hidup Ryan di mulai di saat keluarga Johannes meminta keturunan. "Saya akan berusaha memberikan keturunan yang cantik, "
"Saya juga harap begitu, " gumam Herman. Waktu terus berjalan, pernikahan mereka sudah beranjak 8 bulan. Herman yang semakin kesal dan ingin mencari wanita lain mulai melakukan kejahatan.
• menghancurkan usaha Ryan, restoran terkenal di seluruh dunia.
• kejahatan pembunuhan suami Sella Asusila, Irfan Haryadi.
• penculikan anak.
• menganiaya istri, Sofi Ayuhira
• pencurian uang perusahaan terbesar di seluruh dunia.
• kejahatan pembunuhan istri, Sofi Ayuhira
Ini adalah enam kejahatan Herman Johannes. Dan bukan hanya itu Herman Johannes akan di penjara seumur hidup untuk membayar seluruh kejahatan nya.
.
.
.
.
.
Setelah kejadian yang menyeramkan itu berakhir, mereka semua beserta tersangka kembali ke Jakarta dan melanjutkan pengadilan nya yang sudah beberapa hari di tunda.
Kalo ini Pak Herman tak dapat melakukan apa pun karena Bagas telah berhasil menembak kaki kanan nya.
Tok.. tok.. tok..
Palu pun di pukul oleh hakim dan pengadilan ini berakhir dengan akhir yang bahagia. Tidak... tidak semua pengadilan ini berbahagia.
Semua orang yang terlibat dalam pengadilan ini mulai bubar dari tempat duduk mereka. Pak Endi, Pak Budi dan Bagas berjabat tangan dengan Pak Andre dan yang lain.
"Terimakasih Pak, telah membantu, "
"Iya sama-sama, saya senang dapat membantu sampai selesai, "
Senyuman kemenangan mulai terlukis di wajah mereka, tapi tidak dengan Sella dan Ryan. Mereka yang masih tak percaya kalau Sofi telah tiada masih tidak bisa memaafkan diri mereka sendiri.
Bu Patmi, Bu Shera dan Bu Ikne sudah berusaha menenangkan dan menyabarkan mereka untuk menerimanya kenyataan ini.
Para tim medis yang datang ke pulau karimunjawa sudah berusaha sekuat tenaga, namun takdir tak bisa di ubah. Mereka yang merasa kehilangan harus menerima kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Selama pemakaman Sofi berlanjut, tangisan air mata yang merasa kehilangan terus turun tanpa bisa di bendung kembali. Tempat kejadian di mana Sofi tiada itu sudah membuat Sella dan Ryan trauma dan mereka tak ingin kembali ke sini. Karena banyak kenangan bersama Sofi di pulau itu.
Mereka semua sudah keluar dari gedung dan kini mereka sedang ada di tempat parkir. Sella dan Ryan masih menutup diri untuk mengambil kenyataan ini. Mereka berdua sudah tak bisa lagi bebas seperti burung yang terbang di langit, walau kasus ini sudah terselesaikan dengan baik. Walau ada beberapa kejadian di pulau karimunjawa, Sella hampir kehilangan kendali, tapi sudah bisa di kendalikan dengan baik.
"Haahh.. selesai juga masalah nya, " sahut Bh Patmi.
"Iya, walau ada beberapa kejadian yang gak boleh di ceritakan, haha, " sahut Bu Shera.
"Ya maaf aja, soal nya tuh bapak-bapak berkumis tipis itu gak mau ngalah.. " sahut Ryan.
"Nah datang juga nih, orang yang tadi hampir menggulingkan meja di tengah-tengah situasi mepet, " sahut Ikne melihat Ryan.
"Hehehe.. maaf, " sahut Ryan.
"Udah, sekarang mending kita rayain keberhasilan kita dengan pulang ke rumah, " sahut Ikne.
"Oh iya, lima hari lagi kelulusan anak-anak, " sahut Patmi baru ingat.
"Oh iya, aku hampir lupa, " sahut Shera.
"Hemm.. kalau begitu kalian pulang saja dulu, saya sama istri saya harus mencarikan mereka rumah, " sahut Pak Budi merangkul bahu istri nya itu.
"Oh iya, kita berdua janji saat mereka lulus mereka akan dapat hadiah, " sahut Shera.
"Mm.. jangan bilang kalau hadiah nya itu rumah, " tebak Patmi.
"Eehh.. udah ketahuan, " sahut Shera.
"Kalau gitu, saya juga gak kalah deh, saya mau hadiahi mereka berdua mobil mahal, " sahut Pak Endi.
"Yaahh.. kalian berdua ribut aja di rumah yah, saya sama Bu Sella mau membicarakan soal perjodohan anak kami, " sahut Ikne.
"Oh iya, jangan lupa undangan nya jeng, " sahut Shera.
"Tenang aja, " sahut Sella.
"Gimana sama kami Ryan?" tanya Sella.
"Aku mau merayakan kelulusan putri aku dengan sederhana, karna selama ini dia kurang mendapatkan perhatian aku selama ini, " sahut Ryan.
"Mila itu anak nya baik, cantik, sama kayak ibu nya, karna kurang kasih sayang dari seorang Ayah, dia jadi seperti itu, " sahut Sella.
"Iya, " sahut Ryan.
"Kalau Agung bagaimana, dia mau di kasih tau kapan?" tanya Patmi.
"Saya akan berusaha menjelaskan kepada Agung, dan kami akan tinggal di rumah itu.. tempat Agung sekarang tinggal, " sahut Sella.
"Gak akan di Garut?" tanya Patmi.
"Kalau di garut, kasian dong Rara.. " sahut Ikne.
"Oh iya, Rara mabuk darat, " sahut Shera.
Bagas berjalan ke arah mereka semua. "Om, Tante.. saya juga harus segera pulang, " sahut Bagas.
"Oh kamu mau pulang sekarang Bagas? gak akan ke rumah Tante dulu, ketemu sama Nanda, Marcell, " sahut Patmi.
"Gak usah Tante, aku harus pulang sekarang, karna pesawat nya tiga jam lagi mau berangkat, " sahut Bagas.
"Oh ya sudah kalau begitu.. Hati-hati di jalan yah Bagas, " sahut Patmi memeluk Bagas.
"Iyah, terimakasih Tante, " sahut Bagas.
"Salam buat ayah sama ibu kamu di Australia, " sahut Pak Endi.
"Iya om, terimakasih, " sahut Bagas.
"Bos, mobil dan koper nya sudah ada di mobil, "
"Iya, terimakasih, saya pergi sekarang yah Om Tante, assalamu'alaikum.. " pamit Bagas.
"Waalaikumsalam, " jawab semua orang di sana.
Bagas pun berlalu. Semoga Bagas bisa menyelesaikan masalahnya dengan Ayah nya di sana. Dan berakhir bahagia sama seperti mereka saat ini.
Mereka semua masuk ke dalam mobil dan pergi dari lingkungan gedung agama itu. Mobil Pak Budi dan Bu Shera berlawanan arah dari mobil Pak Endi dan Bu Patmi. Karena mereka katanya mau mencari rumah Nanda dan Marcell.