
"Lu gak papa kan?" tanya Dinda.
"Iya gue gak papa, kata lu gue kecepatan gak nerima Agung?" tanya Rara.
"Kalo menurut gue sih iya, " sahut Dinda.
"Lu cuma Pdkt sama Agung singkat banget, terus langsung main terima aja, " lanjut Dinda.
"Iya gue tau... Gue memang bodo banget kalo soal cinta, " sahut Rara.
"Lu mau putus sama Agung?" tanya Dinda.
"........ "
Cklekk...
"Woyy.. Kalian berdua... " teriak seseorang.
Teriakan itu membuat Rara dan Dinda tersentak kaget, dan segera menengok, ternyata itu Nanda.
"Gak Dinda gak elu.. Bisa nya bikin kaget mulu, " sahut Rara.
"Yak maaf, lagian kalian berdua ninggalin gue, " sahut Nanda.
"Ini nih gue nyusul anak ini... " sahut Dinda.
"Lu kenapa Ra?" tanya Nanda.
"Gue bingung, " sahut Rara.
"Emang kenapa?" tanya Nanda.
Tapi Rara tak menjawab pertanyaan Nanda sedari tadi. Nanda semakin bingung, sebenarnya kenapa dengan Rara? Dan Dinda tidak mau menceritakan semuanya.
Keheningan selama mereka di toilet mulai datang. Rara masih memandang dirinya sendiri di cermin, sedangkan Nanda dan Dinda foto-foto di toilet.
Rara melihat ke arah Nanda dan Dinda yang sibuk selfie sedari tadi.
"Emang gak ada akhlak lu bedua, foto-foto di toilet, tau-tau nanti ada setan yang ikut foto, " sahut Rara.
"Amit-amit... Yuk keluar gue takut, " ajak Nanda berjalan keluar toilet.
"Dasar... " gumam Rara.
"Eh, ndak tungguin, gue juga takut ketemu sama setan kamar mandi, " sahut Dinda berlari kecil keluar toilet.
Sesekali Rara tersenyum melihat tingkah sahabat nya itu. Rara pun ikut keluar dan berjalan berdua bersama Nanda.
Nanda melihat Rara, wajahnya cemberut, Nanda semakin tidak tega melihat nya.
Lu sebenarnya kenapa sih Ra? - batin Nanda.
Sampai di kelas.
Rara berjalan masuk dengan langkah kasarnya, Dinda dan Nanda hanya mengikuti dari belakang.
"Wow wow wow... Kalem... "
"Ngapa tuh?"
"Kalo gue ramal kayak nya tuh anak habis berantem sama pacarnya... "
"Ngaco... " sahut Nanda.
"Gak ndak... Itu bener, " sahut Dinda menepuk pundak Nanda.
"Hah?! Asli? Nyata? Nggak ngadi-ngadi kan?" tanya Nanda.
"Iya eneng, " sahut Dinda.
"Bersumpah lah demi nyawa lu, " sahut Nanda.
"...... Lu pikir ini abad pertengahan, " sahut Dinda.
"Kalo iya kenapa?" tanya Nanda mengambil pulpen dan menunjuk nya ke leher Dinda.
"Lu mau bunuh gue?" tanya Dinda sambil berteriak.
"Kalo engga kenapa?"
"Anak siapa sih ini?"
"Anak pungut... "
"Ehh, sorry gue anak emak bapak yak... " sahut Nanda.
"Mm, lahir lewat mana?"
"Lewat--, "
Nanda berbalik dan memukul meja sambil menatap seorang lelaki yang bernama Rian teman sebangku Mike.
Brakk...
"Lu udah bosen idup?" tanya Nanda sambil menatap sinis.
"Eng-enggak... Maksud gue... Itu anu... " sahut Rian gelagapan.
"Anu apa?" tanya Nanda.
"Udah woy, kasian anak orang, " sahut Mike.
"Iya juga yah... Kalo lu anak gue.. Udah gue gantung lu, " sahut Nanda berjalan pergi menuju mejanya.
"Sadis amat di emak, keseringan gaul sama Marcell, "
"Masa bodo, " sahut Nanda.
Dinda duduk di mejanya dan masih memandang Rara yang ada di depannya itu.
"Syuut.... Syuut... "
Dinda yang mulai kesal berbalik dan meladeni nya. "Apa Nanda ku sayang?" tanya Dinda menahan marah.
"Rara kenapaa?" tanya Nanda.
"Mamy gak tau, udah jangan banyak bacot yah... Mamy mau baca novel dulu, " sahut Dinda.
"Oh oke, " sahut Nanda.
Dinda membuka bukunya, dan tak lama ada yang meniup lehernya dan itu membuat Dinda kegelian. Lalu berbalik lagi menghadap wajah Nanda.
"Apa?" tanya Dinda dengan senyum terpaksa.
"Lu baca novel apa?" tanya Nanda.
"Baca The Coldenst Boyfriend, " jawab Dinda.
"Oh, yak udah sana lu boleh baca lagi, gue gak akan ganggu, " sahut Nanda.
"Iyah terimakasih atas perhatian nya... " sahut Dinda berbalik dan mulai membaca dengan tenang. Tapi....
"Ehh... Masa sih?"
"Iya, coba deh lu bicara sama dia... "
"Ogah banget gue... "
"Dia orang dingin banget, lebih dari Marcell, "
"Kalo Marcell mah biasa aja dinginnya... "
"Iya bener... "
"Lu percaya gak tuh orang, udah absen selama satu minggu lebih tanpa izin, "
"Omg, gue kira tuh orang anak baik-baik, "
"Iya gue juga sama, sama sekali gak nyangka kita bisa seangkatan sama dia, "
"Apalagi gue... Yang seeskul sama dia... Dia gak pernah ngomong gak pernah ngapa-ngapain, "
"Widiww terus mau apa sekolah...
"Gue juga gak tau... "
Brakk...
Dinda sudah kesal dengan Nanda dan juga temen gosip nya.
"Kalian bertiga bisa diem gak sih... Gue mencoba untuk membaca buku... " teriak Dinda.
"Yak maaf, " sahut Jilan.
"Kalian lagi gosipin apaan sih? Sampe serius gitu?" tanya Dinda.
"Bagas, " jawab Jilan, Nanda, Salsa barengan.
"Bagas? Gue gak kenal sama dia... Kalian diem atau nyari tempat buat gosip sepuasnya, "
"Kalo bisa lu bawa juga anak kelas lain buat gosip, " lanjut Dinda.
"Nah ide bagus itu, "
"Gue bawa Caca sama Melodi aja... "
"Jangan lupa bawa kelas IPS 4 juga... Mereka paling suka gosip sama gibah, "
"Nah ide bagus itu... "
Dinda hanya melongo mendengar semua percakapan mereka yang setuju dengan ucapan Dinda barusan.
Gak sesuai harapan, hancur semua ekspetasi yang gue bangun, - batin Dinda.
Nanda, Jilan dan Salsa sudah sepakat dan keluar kelas untuk bergosip. Dinda hanya terdiam dan duduk perlahan.
"Kenapa gue dapet temen yang kayak mereka?" gumam Dinda sambil memegang kepalanya, pusing.
Ting...
Ponsel Rara berbunyi dan ada sebuah pesan dari seseorang. Rara pun segera mengambil ponselnya dan mengecek pesan.
**Agung♡
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Agung♡**
Ra bisa ketemu sekarang?
^^^Rara^^^
^^^Ada apa?^^^
Agung♡
Nanti bicara nya.. kita ketemu sekarang
^^^Rara^^^
^^^Okeh, dimana? ^^^
Agung♡
Di tempat biasa...
^^^Rara^^^
Iya, gue otwe sekarang, lu udah ada di sana?
Agung♡
Iya, gue tunggu lu sebelum jam pel ke-3
^^^Rara^^^
^^^Iya... ^^^
^^^Read by Agung^^^
Lu mau ngebicarain apa Gung? - batin Rara.
Hati nya mulai sakit padahal dia belum bertemu dengan Agung bahkan belum beranjak dari kursi. Rara menghapus air matanya dan berjalan keluar kelas.
"Ra... lu mau kemana?" tanya Dinda.
"Gue ada urusan, gak akan lama kok, " sahut Rara.
"Oh oke, " sahut Dinda kembali membaca buku.
Di perjalanan Rara melihat Agung yang sedang menunggunya di bawah pohon. Rara segara menghampiri Agung walau hatinya sedang rapuh.
"Datang juga lu.. "
"iya... mau ngomongin apaan sih lu?" tanya Rara kesal.
"Gue.. cuma mau bilang... "
.
.
.
.
.
Dinda yang khawatir dengan keadaan Rara saat ini. Masih menunggu Nanda kembali. Beberapa menit kemudian, Nanda kembali dengan tawa terbahak-bahak.
Dinda menghampiri Nanda dan menyeretnya keluar kelas.
"Adduuhh... apaan sih di... kita mau kemana?" tanya Nanda.
"Ndak... Rara... "
"Hah? Rara kenapa?" tanya Nanda.
"Gue khawatir sama dia.. dia bilang ada urusan tapi tadi gue liat dia nangis, " sahut Dinda.
"Kenapa lagi sih? Yak udah kita susul dia, selamat dia ada dimana?" tanya Nanda.
"Paling ke tempat biasa Agung sama Rara ketemuan, " tebak Dinda.
"Yak udah ayok... " sahut Nanda menarik tangan Dinda.
Setelah beberapa lama mencari keberadaan Rara, akhirnya Nanda dan Dinda menemukan Rara dan Agung yang sedang mengobrol di bawah pohon.
"Lu bisa denger gak? mereka ngomong apaan?" tanya Nanda.
"Kedengaran, " sahut Dinda.
Mereka berdua menguping pembicaraan Rara dan Agung.
"Mau bilang apa? cepetan nanti keburu bel, "
"Ra... pertama-tama, gue pengen nanya sama lu... lu suka sama gue apa engga?" tanya Agung.
"Kalo gue gak suka sama lu, buat apa gue nerima lu waktu itu, "
"Lu sayang sama gue?"
"Nggak, "
"Sudah ku duga, dia gak mau ngaku, " sahut Nanda tak aneh.
"Dia mah jual mahal, " sahut Dinda yang masih bersembunyi untuk terus menguping pembicaraan mereka.
Rara hanya bercanda dengan perkataan nya, pasti semua lelaki akan mengira kalo itu hanya bercanda tapi lain bagi Agung.
"Lu beneran gak sayang sama gue?" tanya Agung.
"Iya, emang kenapa?" tanya Rara yang masih tersenyum.
"Kalo itu perkataan lu... "
"Mm?"
Rara masih bingung dengan ucapan Agung barusan, apa maksud nya 'kalo itu perkataan lu?'
"Kok berasa bakal ada masalah besar, " sahut Nanda yang mulai tidak enak.
"Gue juga sama, " sahut Dinda memegang leher belakang nya.
"Mending kita... "