
Pagi hari yang dingin, tak ada cahaya yang menerangi bumi di saat itu. Awan-awan pun tampak gelap ditambah dengan angin yang kencang. Pagi ini Marcell pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nanda yang sendirian di sana.
Tok... tok.. tok...
"Masuk, "
Marcell membuka pintu dengan perlahan, dan melihat seorang gadis yang masih tertidur di tempat nya.
Marcell tersenyum, "Pagi... " ucap Nanda.
"Iya pagi, " sahut Nanda tersenyum dipaksa.
Marcell duduk di kursi di dekat ranjang Nanda, "Gimana kabar lu disini? nyaman?" tanya Marcell.
"Nggak, gue mau pulang, " sahut Nanda.
"Sabar, mungkin besok lu udah bisa pulang, " sahut Marcell.
"Hah besok? Gue mau nya sekarang, " rengek Nanda.
"Besok, "
"Sekarang, "
"Besok, "
"Sekarang, "
"Besok, "
"Sekarang, "
"Permisi... " sahut seorang suter yang berjalan masuk sambil membawa beberapa barang.
Seketika mereka berdua diam, saat suster itu berjalan masuk ke arah mereka. Bahkan suster itu merasa bingung, bukannya mereka tadi berdebat dan sekarang tiba-tiba diam.
"Maaf, permisi... saya kesini mau periksa Nanda, " sahut suster itu.
"Oh iya silahkan, " sahut Marcell.
Suster itu mulai memeriksa Nanda mulai dari jantung dan sebagainya. "Nanda sudah boleh pulang sekarang, " sahut suster itu.
"Yes, tuh kan gue bilang apa, gue mau pulang sekarang cell, " teriak Nanda senang.
"Gak salah periksa sus?" tanya Marcell.
"Astagfirullah... dasar suami gak ada akhlak, ngedoain biar istri nya gak sembuh-sembuh, " sahut Nanda.
"Nggak gitu... maksud gue, takutnya lu trauma lagi pas nyampe di rumah, " sahut Marcell.
"Halah alasan, bilang aja lu lebih suka kan kalo gue gak pulang, lu bisa menguasai semua kamar, " sahut Nanda.
"Kalo iya kenapa?"
"Tuh kan, " teriak Nanda.
Suster hanya terkekeh kecil mendengar nya. Nanda dan Marcell berhenti berdebat kemudian diam.
"Aahh.. maaf, saya tidak bermaksud... "
"Gak papa kok sus, tuh anak emang gila, bukannya senang istri nya sembuh boleh pulang, ini malah sebaliknya, " sahut Nanda.
"Gimana gue dong, kok lu yang ngatur, " sahut Marcell.
"Gue gak ngatur, emang lu itu suami teraneh yang pernah ada, " sahut Nanda.
"Emm.. maaf saya harus segera pergi, permisi sekarang sudah hampir jam set tujuh, " sahut suster berjalan keluar.
"Hah?! setengah tujuh?! Gue telat!!" sahut Marcell kaget dan segera berlari keluar.
"Eehh!! cell... gue gimana pulang nya?!!" teriak Nanda.
"Nanti gue coba pikirin lagi, " teriak Marcell.
"Jangan lama-lama mikirnya.. nanti koslet, " sahut Nanda.
Nanda hanya bisa melihat punggung Marcell yang semakin kecil dan menghilang. Kamar yang tadinya ramai mulai sepi, Nanda kembali melihat keluar jendela untuk melihat pemandangan.
Tok... tok... tok..
Tak lama setelah itu ada yang mengetuk pintu, dan masuklah seorang lelaki sambil membawa parsel berisi buah-buahan.
"Hai Nanda... apa kabar?" tanya Bagas.
"Oh Hai, gue baik, " sahut Nanda tersenyum.
"Nih gue bawain buah buat lu, biar gak terlalu bosen, " sahut Bagas meletakkan parsel itu di atas meja.
"Lu gak sekolah?" tanya Nanda.
"Gue izin, " sahut Bagas duduk di kursi.
"Emang lu sakit? atau ada acara keluarga?" tanya Nanda penasaran.
"Engga kok, cuma gue sengaja aja izin, biar bisa ketemu sama elu doang, " sahut Bagas.
"Hooh, izin berapa hari?" tanya Nanda.
"Cuma dua sampai tiga hari doang, " sahut Bagas.
"Semua waktu itu lu sia-siain cuma buat ketemu gue doang?" tanya Nanda.
Bagas terdiam, "Bukan cuma ketemu lu doang ndak, gue ada urusan, " sahut Bagas.
"Urusan apa?"
"Lu bakal tau kalau udah waktunya, gue permisi dulu yah, rumah gak ada yang jaga, " sahut Bagas berdiri.
"Ehh, kok main cabut aja, "
"Ohh jadi lu mau gue temenin sampai Marcell pulang sekolah? boleh, " sahut Bagas kembali duduk.
"Ehh engga engga maksud gue.. "
"Haha... gue bercanda kok, udah yah gue pulang dulu, jangan lupa makan buahnya.. biar cepet sembuh, " sahut Bagas berjalan keluar.
"Iya makasih, " sahut Nanda.
Gue mau lu temenin gue sampe Marcell pulang, dia kan masih sekolah.. - batin Nanda terus memikirkan Marcell.
"Ehh.. apaan sih gue... astagfirullah... " gumam Nanda memukul-mukul kepalanya sendiri.
.
.
.
.
.
Sementara itu di sekolah.
Marcell yang sedang membaca buku di dalam kelas tiba-tiba ada yang mendobrak pintu sangat keras, dan itu berhasil membuat Marcell terkejut.
Brakk...
"Marcell.. " teriak seorang gadis yang berjalan menghampirinya.
"Cell.. lu jahat banget lu jadi orang, " sahut Rara mendorong-dorong tubuh Marcell.
"Tau nih, kasih tau kek kalo Nanda sakit... "
"Iya kan kita juga sahabatnya... walaupun elu itu suaminya tetep aja... "
"Iiihh Marcell licik sendiri... "
"Iya nih.. gue aja sampe kaget waktu denger kalau Nanda sakit... "
Angga yang baru kembali dari kantin bersama Agung bingung melihat banyak ciwi-ciwi yang sedang berkumpul di meja Marcell.
"Why why why... stop... " sahut Angga.
"Kalem napa, gak usah teriak, " sahut Angga kaget sendiri.
"Lagian kamu sih yank, ganggu aja, " sahut Dinda.
"Oh ada apa malaikat cantik ku yang jatuh dari surga dan berakhir di pelukan yayank Angga ini
.. " sahut Angga sambil membenarkan rambut nya.
"Hoeeekk... "
"Cuuhh.. najis... "
"Apa sih?" tanya Angga memandang Rara dan Putri.
"Gak papa, " sahut Putri.
"Mohon untuk tidak menyebar ke-uwuan di dalam kelas IPA 2 , karena sebagian besar jomblo, " sahut Agung.
"Bacot... " sahut Putri.
"Emang lu gak jomblo put?" tanya Rara.
"Jomblo sih... tapi gue mah adalah peluang buat dapetin Ihsan, " sahut Putri.
"Anj*yy udah mulai buka hati... " sahut Dinda.
"Jangan terlalu lebar nanti sakit, " sahut Rara.
"Oh iya dongs, gak boleh nanti di jatuh... sakit.. " sahut Putri.
"Mm.. cerdas cerdas... " sahut Dinda.
"Belajar dari mana lu tentang cinta?" tanya Angga.
"Dari mantan pawang buaya lah... " jawab Putri menunjuk ke arah Rara yang duduk di atas meja.
"Yuhuu... " sahut Rara.
"Sopan kali anda, " sahut Marcell.
"Iya atuh harus... gue kan belajar dari istri lu itu, " sahut Rara.
"Sejak kapan Nanda duduk di meja?" tanya Marcell.
"Lah, elu suaminya sendiri masa gak tau kelakuan Nanda kayak gimana... " sahut Rara.
"Aneh lu, lu udah nikah sama Nanda sekitar dua bulanan, masa gak tau kelakuan istri sendiri, " sahut Putri.
"Yak mana gue tau kelakuan nya di sekolah, kan gue beda kelas sama dia, " sahut Marcell.
Semua orang menganggu paham, kecuali Agung yang sedari tadi diam. Rara melihat kearah Agung.
"Woy, napa lu? mingkem mulu... " sahut Rara menepuk pundak Agung pelan.
Kayaknya Rara udah move on deh.. - batin Agung.
"Nggak papa, " sahut Agung menarik napas panjang.
"Cabut yok, otwe kantin.. " sahut Putri mulai bosan.
"Gas, sekarang giliran gue yang traktir kalian, " sahut Rara.
"Banyak duit lu?" tanya Dinda.
Rara mengeluarkan uang merah dari sakunya dan mengipas dirinya dengan uang itu.
"Anj*r.. tumben lu banyak duit, mau bayar utang yah di kantin?" tanya Putri tertawa.
"Haha.. oh iya utang lu sama gue belum dibayar lho, mumpung banyak duit bayar dong... " sahut Dinda.
"Utang ke elu nanti bayarnya.. gue mau lunasin utang ke ibu kantin dulu... malu gue, " sahut Rara berjalan keluar kelas.
"Tumben malu, biasanya malu-maluin " sahut Putri.
"Capek gue... ehh sekalian nyari cogan kuy, " sahut Rara.
"Elu aja, gue gak mau.. " sahut Putri.
"Kalo gue sih ayok aja, tapi kan.. gue udah punya Angga.. " sahut Dinda.
"Yah gak seru kalean bedua... kalo ada Nanda pasti seru... walau dah punya suami tetep nyari cogan, " sahut Rara.
Saat para gadis itu mulai menjauh Angga mulai membicarakan tentang ciwi-ciwi yang dia temui di lapangan.
"Eh, cuy gue liat ciwi lho di lapangan... " sahut Angga.
"Terus?" sahut Marcell tak peduli.
"Mereka lagi main basket.. gile cuy cantik bener, body nya baguss.. " sahut Angga terus melanjutkan.
Tapi tanpa Angga tau Dinda kembali ke kelas untuk meminta Marcell membawanya ke rumah sakit.
"Ohh jadi gitu... "
Suara itu merasa sudah tak asing lagi di telinga Angga. Saat Angga akan menengok kebelakang, telinga nya sudah di jewer terlebih dahulu oleh Dinda.
"Aduh addduuhh.. sakit sakit... "
"Mana ciwi yang body nya bagus? mana?" tanya Dinda.
"Mampus.. " sahut Rara dan Putri barengan.
"Makanya jangan suka nyari ciwi lain di belakang pacar... " sahut Putri.
"Masih untung yah gue nurut sama omongan lu, jangan nyari cogan, jangan nyari cogan, tapi lu sendiri... " sahut Dinda semakin greget.
"Adduuh beb.. jangan kenceng-kenceng sakit.. " sahut Angga.
"Biarin.. " sahut Dinda.
"Yang sabar bro... ini akibatnya... " sahut Agung tertawa.
"Ketawa mulu lu.. pepsodent mahal, " sahut Angga.
"Kalo lu masih mau nyari ciwi di belakang gue, gue juga mau kayak gitu... Ra.. "
"Yes?"
"Kita nyari cogan, " sahut Dinda.
"Gaskeun, " sahut Rara, Putri barengan.
"Kalo kalian liat ciwi yang mont*k... kasih tau gue.. " sahut Agung.
"Ahsiaapp... " sahut Rara.
"Mont*k.. " gumam Putri tertawa.
"Eh, Cell kita bertiga ikut yah ke mobil lu.. sekalian ke rumah sakit, jenguk Nanda.. " sahut Dinda.
"Gak gue males bulak balik terus ke rumah sakit, kalian aja, " sahut Marcell males.
"Suami gila.. " gumam Rara.
"Bodoamat Ra bodo, " sahut Marcell.
"Gak mikir lu, nanti kalo Nanda berharap pulang gimana, berharap kalo dia pengen ketemu sama suaminya gimana, , " sahut Dinda.
"Gimana kalo Nanda sakitnya tambah parah, " sahut Rara.
"Iya gimana kalo.. " sahut Putri.
"Oke oke, jangan do'ain yang aneh-aneh napa, gue gak mau jadi duda muda, " potong Marcell.
"Nah gitu dong.. nanti pulang sekolah kita ikut mobil lu.. " sahut Putri.
"Iya, " sahut singkat Marcell.
"Okey kalo gitu.. kita balek ke kelas yek, " sahut Dinda.
Mereka bertiga segera kembali kelas, tapi sebelum Dinda berbalik untuk menyusul Rara dan Putri, Dinda menginjak kaki Angga, dan lelaki itu meringis kesakitan.