
Setelah menelpon Rara dan mengajak yang lain juga, tak perlu butuh waktu lama, mereka semua datang dengan motor masing-masing kecuali... Dinda dan Angga -_-
"Assalamu'alaikum... " teriak Lukman.
"Pelan-pelan mereka juga denger kale, " sahut Putri.
"Mana mungkin, mereka kalo udah diem berduaan berasa dunia ini milik mereka berdua.. " sahut Lukman.
"Kayak yang gak tau aja lu put.. mereka paling lagi uwu-uwu di kamar.. xixixi.. " sahut Rara.
"Geblek.. makin parah.. " sahut Agung.
Cklekk..
"Waalaikumsalam.. " sahut Nanda dan Marcell barengan.
"Ciee.. keluar nya barengan.. sama jawab salam nya.. ciee... " sahut Ihsan.
krikk.. krikk.. krikk... krikk..
"Apa sih lu.. " sahut Nanda.
"Gak nyambung nj*rr.. " sahut Rara.
"Lupakan, " sahut Ihsan.
"Okey, kalian pasutri ada apa kalian manggil kita semua?" tanya Rara.
"Kita pesta daging Korea...Marcell yang traktir... yeee... " teriak Nanda.
"Yeeee.. udah lama juga gue gak makan gading Korea.. " sahut Rara mengangkat tangan nya ke atas.
"Baik banget sih lu punya suami ndakk... kayak nya gue rela deh jadi anak lu.. " sahut Putri.
"Mm.. bener.. " sahut Dinda.
"Gue lagiii yang kenaa.. " gumam Marcell.
"Gue tebak lu kesepian kan?" tebak Angga.
"Iyalah.. gue kesepian gak ada kalean wahai sahabat-sahabat gue.. yang tersegalanya.. " sahut Nanda.
"Uuuuuhhh cayang.. " sahut Rara memeluk Nanda.
"Iya sayang.. iihh udah gue gelay, " sahut Nanda melepaskan pelukan Rara itu.
"Kenapa harus sepi.. kan ada Marcell, lu cuma diem aja, biar Marcell yang kerja.. " sahut Lukman.
"Maksud?" tanya Nanda tak paham.
Angga sedikit bersender di bahu Lukman. "Maksudnya gini.. lu tinggal diem di atas kasur, biar Marcell yang kerja.. biasaa main kuda-kuda.. " sahut Angga.
Buukk...
Buukk..
Angga dan Lukman diam tak berdaya karena sudah di tonjok oleh Nanda tepat di pipi kanan mereka berdua.
"Hiks.. hiks.. pipi gue sakit.. " sahut Lukman dengan muka sedihnya sambil memegang pipi nya.
"Samaaa.. hiks.. hiks.. hikss.. " sahut Angga.
"Terimakasih.. Nanda.. " sahut Dinda.
"Sama-sama, " sahut Nanda.
"Pacar lu aneh, bukannya marah malah terimakasih sama Nanda, " sahut Lukman.
"Au ahh.. " sahut Angga.
Nanda dkk dan juga Marcell dkk masuk ke dalam kecuali Angga dan Lukman. Nanda sedikit berbalik kebelakang. "Kalian mau masuk apa engga?" tanya Nanda.
"I-iya mau.. " sahut Lukman masuk kedalam dengan keadaan masih memegang pipi nya yang sakit.
Angga dan Lukman masuk ke dalam bersamaan. "Btw berasa ada perubahan yah sama rumah lu ndakk, " sahut Dinda.
"Iya yah berasa ada yang berubah gitu.. " sahut Rara.
"Iya emang ada yang berubah sih.. " sahut Nanda.
"Oh ya, apa itu?" tanya Rara.
"Ini.. lukisan ini.. " sahut Nanda.
"Itu lukisan.. lu beli?" tanya Dinda.
"Bukan.. ini lukisan awal nya ada di kamar Firza sekarang di pindahin ke sini.. " sahut Nanda.
"Hemm.. gue kira beli, " sahut Putri.
"Emang beli kok, Firza yang beli.. " sahut Nanda.
"Hahaha.. biasalah kakak selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.. awokawok.. " sahut Rara tertawa.
Nanda, Putri dan Dinda pun ikut tertawa. "Btw, kita mau makan di sama?" tanya Dinda.
"Di halaman aja, " sahut Nanda.
"Oohh oke, " sahut Dinda.
"Okey gays.. mana uang uang.. patungan buat beli daging, " sahut Rara.
"Lah bukannya di traktir sama Marcell yah?" tanya Angga.
"Oh iya gue lupa, gak jadi gak jadi, " sahut Rara.
"Marcell lu pergi beli daging Korea, terus sisa nya siapin bakaran di halaman.. kita para cewek mau bikin bumbu nya.. " sahut Putri.
"Oke, " sahut Marcell dkk.
Marcell menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar nya untuk mengambil kunci motor nya dan juga jaket nya.
"Gung lu ikut gue beli daging.. gue gak bisa naik motor, " sahut Marcell.
"Oke siap cell.. " sahut Agung segera beranjak dari duduk nya.
"Lho, Agung juga ikut?" tanya Putri.
"Iya.. gue kasian sama nih anak, kan tadi pagi dia habis kena karma yang sangat luar biasa, " sahut Agung.
"Udah udah, sana beli yang banyakkk.. " sahut Nanda.
Agung dan Marcell segera pergi untuk membeli daging Korea seperti yang diinginkan Nanda, kalau saja bukan Nanda yang ingin, mungkin Marcell tak akan melakukan semua ini.
Sementara itu Angga dkk sedang mempersiapkan bakaran untuk daging Korea. "Mana ini bumbu nya?" tanya Angga.
"Kalem napa, ini masih di bikin, lu pikir gampang apa bikin bumbu nya, " sahut Rara.
"Ohh.. " sahut Angga.
"Kompor nya keluarin cuy.. " sahut Ihsan.
Nanda melihat semua nya berkerja, saat Nanda akan membawakan minum untuk Ihsan dan Angga, Nanda melihat Lukman yang duduk santai.
"Eh elu anak setan.. bukannya bantuin malah main hape mulu.. " sahut Nanda kesal melihat Lukman yang duduk santai di sofa, sedangkan yang lain sibuk memindahkan ini itu.
"Bentar.. ini gue lagi chatan sama dwi.. " sahut Lukman.
"Dwi dwi mulu di otak lu.. sana lu bantuin.. " sahut Nanda.
"Iya iya.. " sahut Lukman.
Lukman membantu membawakan minuman itu ke halaman rumah Nanda, di sana Angga dan Ihsan sudah capek memindahkan barang.
"Nah datang juga nih anak.. " sahut Angga melihat Lukman.
"Dari mana aja lu?" tanya Ihsan.
"Tau, kita udah capek bawa sana sini.. udah hampir beres lu baru datang, " sahut Angga.
"Udah biasa.. gue mau males kerja.. " sahut Lukman.
"Jadi pengangguran aja lu, kalo udah lulus sekolah, " sahut Angga.
"Gak akan lah.. gue bakal jadi bos di salah satu perusahaan, " sahut Lukman.
"Jadi bos apanya kalo lu males kerja, " sahut Ihsan.
"Yang ada tuh perusahaan hancur, " sahut Ihsan.
Tiit.. tiitt..
"Nah datang juga tuh.. " sahut Angga berdiri.
Nanda dkk keluar dari rumah sambil membawa beberapa bahan dah bumbu yang diperlukan untuk memasak daging Korea itu.
Agung turun dari motor setelah memikirkan motor itu di garasi. "Mau makan di luar?" tanya Marcell.
"Yoi, " sahut Lukman.
"Tuh istri lu yang minta, " sahut Ihsan.
"Oh, " sahut Marcell.
Marcell dkk sudah duduk mengelilingi kompor, Lukman yang ingin segera menyantap makanan itu mulai menyalakan api di kompor.
Buusshh..
Mendengar suara itu Lukman segera mematikan kompor karena kaget.
"Nj*rr.. kaget bambang, " sahut Ihsan.
"Ehh, kenapa gini?" tanya Lukman.
"Salah pasang ini.. " sahut Marcell.
Tak berselang lama Nanda dkk datang membawa beberapa piring dan juga sumpit untuk mereka makan bersama.
"Nah datang.. yuk merapat merapat, " sahut Agung.
"Geser geserr.. " sahut Rara duduk di samping Agung.
"Nih piringnya.. satu satu.. " sahut Nanda membagikan piring dan sumpit.
"Mari gays merapat merapat.. " sahut Lukman tak sabar lagi.
"Gue yang masukin daging nya.. " sahut Angga.
"Gue yang masak nya.. " sahut Marcell.
Nanda melihat ke arah Marcell yang ada di samping nya dia seperti chef yang profesional dengan tangan yang begitu lincah membolak-balikan daging itu.
"Yang ini udah mateng, siapa yang mau ambil?" tanya Marcell.
"Gue dulu gue dulu, " sahut Ihsan Mencondongkan piring nya ke Marcell.
Marcell pun segera memindahkan daging itu ke piring Ihsan. Dengan waktu memasak daging yang cukup sebentar mereka menikmati daging itu dengan lahap karena enak dan juga bumbunya tak terlalu menyengat.
"Daging nya enak.. pas banget, huuhh huuh.. " sahut Rara meniup daging miliknya.
"Bumbunya juga enakk.. " sahut Angga.
"Masak lagi.. " sahut Ihsan.
"Biar gue yang masak kali ini.. kalian harus liat betapa indah nya daging yang di masak oleh Lukman Ferdiansyah yang ganteng ini.. asyiikk.. " sahut Lukman.
"Asiikk.. " sahut Agung.
"Mantap mantapp.. " sahut Angga.
"Bentar bentar.. poto dulu.. " sahut Lukman.
"Jangan poto-poto lah nanti gosong Begimane!" tanya Dinda.
"Kagak akan.. " sahut Lukman.
Nanda yang menunggu lama daging itu pun mulai mencomot sedikit deki sedikit.
"Tarr dulu ntarr dulu.. " sahut Lukman menjauhkan tangan Nanda.
Ckrekk..
Nanda mengambil beberapa sayur dan memakannya. Kini giliran Rara dan Agung yang mencomot daging itu karena lama.
"Astagaa.. dasar kanibal.. bener-bener gak ada sabar nya.. " sahut Lukman.
"Kelamaan lu.. tuh liat udah mulai ada asap nya.. " sahut Rara.
"Masa iya.. astagaa.. nj***.. " sahut Lukman kaget karena lupa membalikan daging itu.
"Nah kan gosong.. " sahut Angga.
"Cuma dikit.. masii bisa di makan.. " sahut Lukman.
"Lu aja makan sendiri, gue mau masak yang lain, " sahut Dinda.
Mereka bergiliran memasak daging sampai daging itu benar-benar bersih. "Ehh mana liat poto yang lu ambil tadi?" tanya Putri.
Lukman hanya memberikan ponsel nya kepada Putri dan lanjut makan.
"Bagus sih poto nya.. tapi ini ada tangan lu.. " sahut Putri.
"Mana mana.. oh iya tangan lu menghalangi pemandangan aja, " sahut Nanda.
"Ini lagi.. tangan siapa yang nyomot daging?" tanya Putri melihat ke arah Nanda.
"Hehehe.. dikit.. " sahut Nanda.