My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Nyari Hadiah



Nanda dan yang lain sedang berjalan di lorong menuju kelas mereka.


"Ndak, lu punya hadiah apa buat Marcell besok?" tanya Dinda.


"Gue kan pemandu sorak yak itu kale hadiah nya, " jawab Nanda.


"Itu doang, gak ada yang lain?" tanya Rara.


"Iya emang nya kenapa?" tanya Nanda.


"Harusnya lu punya hadiah lain selain pemandu sorak, " sahut Dinda.


"Gue gak punya ide buat hadiah yang lain, " sahut Nanda.


"Kapan bonyok lu pulang?" tanya Rara.


"Besok, " jawab Nanda.


"Marcell tau?" tanya Dinda.


Nanda menggeleng pelan, "Ayah yang ngasih tau, " sahut Nanda.


"Itu adalah hadiah Ayah, kalo bunda ngasih hadiah apaan?" tanya Rara.


"Kalo Bunda ngasih sepatu, " sahut Nanda.


"Terus lu cuma ngasih semangat doang? Nggak seru banget lu sebagai istri, " sahut Rara.


"Enak aja, "


"Gimana kalo nanti malem kita ke mall, " sahut Dinda.


"Nah boleh juga tuh, udah lama kita gak ke mall bertiga, "sahut Rara setuju.


"Kalo soal pergi yak hayuu, tapi nanti kan gue harus izin ke Marcel dulu, nanti ketahuan gimana?" tanya Nanda.


"Bilang aja lu mau ke butik emak gue, " jawab Rara.


"Nah iya bener, Bunda juga kan tau kalo butik emak Rara, " sahut Dinda.


"Yak udah kalo gitu, " sahut Nanda setuju.


"Tapi ke mall nya naek mobil yah, " sahut Rara.


"Kenapa gak naik motor aja sih?" tanya Dinda.


"Yee gue mau pake rok, gak mau pake levis, " sahut Rara.


"Gue juga ahh, udah lama juga gue gak pake rok, " sahut Nanda.


"Heuuhh yak udah gue ikut kalian aja, " sahut Dinda.


"Nah gitu dong, kali-kali ikutan, " sahut Nanda.


"Iya, gak kayak waktu itu, kita berdua pake rok lu sendiri pake levis, " sahut Rara.


"Pake rok nya mau kapel apa engga?" tanya Dinda.


"Gak usah lah, kayak anak alay banget, masa sampe rok-rok pun harus kapel, " sahut Rara.


"Yak udah, ketemuan di butik emak Rara yak, " sahut Nanda.


Dinda dan Rara hanya mengangguk menanggapi perkataan Nanda.


.


.


.


.


.


Sesuai dengan janji Nanda segera mengganti baju dan menggunakan rok.


"Ini rambut ganti modelnya apa engga yah?" gumam Nanda.


Kalo diganti bagus juga sih, tapi nanti kalo di tanya sama Marcell kan malu gue, - batin Nanda.


"Ahh bodoamat mau di bilang aneh mau bilang jelek juga bodoamat, gue ganti aja model rambut, " gumam Nanda.


Akhirnya Nanda mengganti model rambut nya da mewarnai nya.Nanda segera turun ke bawah takutnya Marcell keburu pulang dan nanti ada beribu pertanyaan yang harus Nanda jawab jujur.


"Bun, aku mau ke butik mamahnya Rara yak, " sahut Nanda pergi


"Gak sekalian bawa Marcell?" tanya Ayah.


"Aku ke sana Main sama Rara, Dinda, " teriak Nanda dari garasi.


Bunda sama Ayah hanya mengangguk dan mengizinkan Nanda pergi.


"Kenapa Marcell gak di ajak kalo pergi ke bukti?" tanya Ayah.


"Udah paling Nanda sama temen-temen nya mau nyari hadiah buat Marcell, " sahut Bunda benar.


Nanda menggunaan mobil Marcell, Nanda pergi bersama pak supir pribadi Marcell.


Cell gue pinjem mobil sama supir pribadi lu yak, nanti aja pertanyaan nya, - batin Nanda takut kalo nanti Marcell marah besar padanya.


"Pak emangnya gak papa, kalo kita gak izin dulu ke Marcell?" tanya Nanda.


"Gak papa kok Non, waktu itu aden Marcell bilang, milik dia itu milik non Nanda juga katanya, jadi kalo non mau kemana-mana pake aja semaunya, " jelas pak Hidayat.


"Oh yak udah kalo gitu, " sahut Nanda merasa tenang.


Setelah beberapa menit, mobil parkir di sebrang butik, Nanda keluar dari mobil dan berjalan menuju teman-temannya.


"Nah datang juga lu ndak, " teriak Rara yang sudah menunggu lama bersama Dinda.


Nanda berjalan santai menuju Rara dan Dinda yang sedang duduk.


Jujur saja Nanda merasa tak nyaman menggunakan rok secara terbuka seperti ini, apa mungkin dia sudah terbiasa menggunakan levis ke mana-mana ya?


Karena di butik Rara banyak orang, Nanda sedikit menundukkan kepalanya karena malu menggunakan rok yang terlalu pendek.



"Lu lama amat, " sahut Rara.


"Ra, gue malu, " bisik Nanda.


"Gak papa kale gue sendiri juga pake rok, gak malu, " sahut Rara.


"Lu udah terbiasa, lah gue kan sama Nanda gak biasa pake rok, " sahut Dinda.


"Kalian mau diem di situ atau mau bantuin Tante?" tanya mamah Rara.


"Kita mau berangkat mak, " sahut Rara mendorong kedua sahabat nya untuk segera naik ke mobil.


"Pelan-pelan napa si, " sahut Dinda.


"Udah jangan banyak bacot cepetan kalian masuk ke mobil, dan elu ndak, lu bisa nyetir?" tanya Rara.


"Gue ada supir, " sahut Nanda.


"Oh yak udah kalo gitu, " sahut Rara membuka pintu.


Mereka masuk ke dalam, Rara ada di belakang bersama Dinda dan Nanda ada di depan bersama pak supir.


"Non, kita mau kemana?" tanya pak supir.


"Kita ke mall pak, " jawab Nanda.


Setelah mereka sampai di mall, Rara segera keluar dan menggunakan jaket dan menggunakan stoking hitam



"Napa pake stoking?" tanya Rara.


"Gue gak mau terlalu terbuka kayak kalian berdua, " sahut Dinda.


"Iya sih harusnya bawa stoking juga, " sahut Nanda.


"Noo.... Kalian udah pas bangett... Jangan pake stoking-stoking lah ndak, " sahut Rara.


"Lah emangnya kenapaa?" tanya Nanda.


"Emang apa yang berubah?" tanya Nanda.


"Emangnya kita gak tau, lu ganti model rambut kan, " sahut Rara.


"Awalnya lu ada poni, tapi sekarang poni lu kemana ndak?" tanya Dinda.


"Ada, disatuin sama rambut belakang, " jawab Nanda.


Mereka berjalan masuk, banyak orang nya yang memperhatikan mereka karena mereka bertiga sangat cantik.


"Mamah siapa kakak-kakak itu?" tanya seorang anak kecil.


"Mungkin model atau artis, "


"Nj*rr di liatin gini gue jadi makin gak pde, " bisik Nanda pada Dinda.


Kebetulan Rara mendengar nya, Rara berhenti dan berbalik, "Kalian harus pd dong ini kan timegirl, jangan dirusak, " sahut Rara.


"Okeyy, " sahut Dinda dan Nanda.


"Lu tau kesukaan Marcell apa ndak?" tanya Rara.


"Gue cuma tau kalo dia suka warna hitam putih, " sahut Nanda.


"Kalo baju?" tanya Dinda.


"Suka tapi, kalo mau beliin baju harus sesuai sama seleranya, " sahut Nanda.


"Trus bunda beli baju selalu bawa Marcell gitu?" tanya Rara.


"Iya, mungkin, " jawab Nanda


"Wah kayaknya bakal pusing nih kita nyari hadiah, " sahut Rara.


"Iya, apalagi gue, gue mau ngasih sesuatu buat Angga, " sahut Dinda.


"Ciee... mau di kasih hadiah?" tanya Nanda.


"Lu udah mulai buka-bukaan tentang hubungan lu din?" tanya Rara.


"Iya gue mau ngasih hadiah ke dia, gue gak pacaran, gue cuma mau ngasih sebagai bestfriend, " jawab Dinda.


"Hooh gue kira lu pacaran, " sahut Nanda.


"Engga lah, kalo dia berani, lamar gue secara langsung, " sahut Dinda.


"Mm... " gumam Rara.


"Kita mau kemana dulu?" tanya Nanda.


"Gimana kalo kita nyari hadiah buat Angga dulu deh, kali-kali ada yang cocok buat Marcell juga, " sahut Rara.


"Nah bener tuh, lu mau kasih hadiah apaan ke Angga?" tanya Nanda ke Dinda.


"Gue mau liat dulu sepatu, " sahut Dinda.


"Ayooo gass... " sahut Rara.


Mereka naik eskalator ke lantai atas, Dinda segera menyambar semua sepatu pria dan memilih yang bagus dan pas sesuai dengan gaya Angga.


Sedangkan Nanda dan Rara bukannya ikut nyari hadiah malah sibuk sendiri nyari sepatu yang pas untuk diri mereka sendiri.


Pada akhirnya Dinda memberikan sepatu basket dan sepatu sneker berwarna hitam.


"Nanda... udah ketemu belum?" tanya Dinda.


"Gue sibuk milih sepatu sendiri, sampe lupa buat nyari hadiah buat Marcell, " sahut Nanda.


"Tenang tutup mall kan sampe jam sembilan, ini masih jam enam, " sahut Dinda.


"Iya, kita cari ke toko baju aja, " sahut Nanda.


"Ngomong-ngomong soal toko baju, mana Rara?" tanya Dinda.


"Dia lagi bungkus sepatu, gak tau buat siapa, " sahut Nanda.


"Lu tau apa yang ada si pikiran gua?" tanya Dinda tersenyum.


Nanda ikut tersenyum, "Gue tau... " sahut Nanda.


"Pasti Agung, " bisik Dinda.


"Itu tau, kenapa pake curiga segala yak kan, " sahut Nanda.


"Yoi, mau di samperin aja tub si Rara?" tanya Dinda.


"Nggak nanti malah ngamuk, mending langsung aja ke toko baju, " sahut Nanda.


"Mm... Iya juga sih, yak udah ayok, " Dinda menarik tangan Nanda.


Mereka turun ke bawah untuk melihat-lihat baju, sedangkan Rara entah kemana.


"Ndak, Marcell suka gaya kayak gimana?" tanya Nanda.


"Mana gue tau, " jawab Nanda.


"Ya ampun, terus lu mau ambil ngasal aja gitu?"


"Yups, gue pusing kalo disuruh milih baju cowo, "


"Iya juga sih, lu tau ukuran baju Marcell?"


Nanda menggeleng pelan, dan sibuk mencari baju untuk Marcell.


"Lah gimana sih, nanti kalo kekecilan gimana? kalo kegedean gimana?" tanya Dinda khawatir.


"Ke khawatiran elu berlebihan, " sahut Nanda jengkel.


"Lu tau kan sikap gue kayak gimana, jangan di bawa pusing kalo gue ngomong kayak gini, " sahut Dinda.


Nanda memilih baju asal yang penting Marcell suka dan hadiah buat Marcell besok ada.


"Gue udah milih baju, udah bayar juga, sekarang kita cari Rara, " sahut Nanda.


"Hayuu, " sahut Dinda.


Mereka mencari Rara kemana-mana tapi sayangnya Rara tidak ada di mana pun.


"Mau cari kemana lagi?" tanya Nanda yang sudah kecapean.


"Cari ke tempat sepatu lagi, " sahut Dinda.


"Kita udah kesana empat kali loh, tapi gak ada, " sahut Nanda.


"Trus mau gimana?"


"Kita simpen dulu aja barang-barang gue capek, " sahut Nanda.


"Yak udah kita balek aja dulu ke mobil, udah itu kita cari Rara lagi, " sahut Dinda.


Mereka segera pergi ke parkiran untuk menyimpan barang belanjaan mereka di mobil.


Saat Nanda membuka pintu mobil belakang untuk mengambil minum, dia melihat seorang gadis yang sedang duduk mau handphone.


"Elu di sini Ra dari tadi?" teriak Nanda


"Iya kenapa? gue nyari kalian ke mana-mana gak ada yak udah gue balek duluan aja ke mobil, " sahut Rara.


"Berasa gak ada dosa lu, " sahut Dinda datang.


"Gue kan capek, kalian udah belum belanja nya?" tanya Rara.


"Iya udah, mah balek sekarang aja?" tanya Nanda.


"Iya gue mau tidur, lagian udah malem juga, " sahut Dinda.


Mereka segera naik ke mobil dan berjalan pulang, pertama ke butik Rara, Dinda ikut turun katanya mau dijemput sama seseorang.


Sekarang hanya Nanda yang masih ada di dalam mobil bersama pak supir.


"Non gimana belanja nya seru gak?" tanya pak supir.


Tapi Nanda sudah tertidur pulas di dalam mobil, dan tak mendengar pak supir berbicara. Pak Hidayat hanya tersenyum melihatnya.


Aden pantas mendapat istri kayak non Nanda, saya dukung den... - batin pak Hidayat.