
"Kenapa pada liatin gue sih? Apa karna gue cantik ya? Hihihi... " ucap Nanda pada Marcell.
"PD anj*r gue mah udah biasa kayak gini, " sahut Marcell.
"Sombong amat dah... Gue berasa artis kalo kayak gini terus setiap hari nya... Hahaha.. " sahut Nanda yang langsung masuk ke dalam kelasnya.
"Oh iya cell, jangan lupa nanti istirahat makan bareng loh yaakk.. " ucap Nanda mengingat kan.
"Iya... Iya..." sahut Marcell dan berjalan pergi ke kelasnya.
.
.
.
.
.
Setelah Marcell masuk ke kelasnya, banyak siswa-siswi yang berkumpul untuk mengajukan pertanyaan.
"Ada apa ini?" tanya Marcell cuek.
"Cell kamu jahat banget yak, kamu selingkuhin aku!!" sahut salah satu siswa dengan adegan ala indosiar
"Kamu selingkuhin aku demi seorang wanita yang bentar lagi mau jadi istri kamuu..." sahutnya lagi, yang selalu membuat Marcell jengkel dengan kelakuannya, siapa lagi kalo bukan Angga dan Agung.
Seketika mata Marcell langsung melotot dan membungkam mulut angga dan agung dengan tangannya, dan menggusur mereka ke bangku Marcell.
"Apa-apaan sih kalian berdua... " ucap Marcell dengan tatapan membunuh.
"Lempammsinn (lepasin), " ucap agung mulutnya masih dibungkam oleh Marcell.
Marcell melepaskan tangannya dan mengelap kan nya ke baju Angga.
"Ihh lu jorok cell... " sahut angga bergidik jijik.
"Kan emang bener, kalo kalian berdua bentar lagi suami istri yak kan?!" ucap agung sedikit berteriak.
Untung aja kelas sedang dalam keadaan sepi, eh bukan sepi hanya ada 2-3 orang aja ditambah mereka.
"Nggak kata siapa?" tanya Marcell pura-pura.
"Gue tau dari Agung... Kenapa?" tanya angga.
"Gung lu tau dari mana?" tanya Marcell pada agung yang sedang memakai parfum, kebiasaan.
"Gue sama kakak gue lagi pengen beli jajanan di perumahan sukamulya, terus gue liat elu sama ortu lu datang ke rumah Nanda, sampe berpakaian rapih, terus gue ambil ajah intinya, " jelas Agung berjalan keluar.
"Inti nya apaan?" tanya Marcell.
"Lu mau lamar Nanda... " jawab agung singkat.
Tanpa berpikir panjang Marcell langsung menarik kerah baju Agung dan menarik tangan angga menjauh dari kerumunan.
"Inget yak kalian berdua, ini rahasia kita berempat ngertii... " ucap Marcell.
"Siapa satu lagi?" tanya angga.
"Bukan empat kale tapi enam.. " Tiba-tiba ada suara dari belakang Marcell.
Dan mereka melihat ke arah belakang, ternyata itu Nanda dan teman bobroknya.
"Maksut lu--"
"Mereka ngancam gue anj*r... " jawab Nanda dengan cepat.
.
.
.
.
.
Flashback ke kelas Nanda.
Brakk....
Pintu terbuka seperti biasanya ada yang suka membuat kaget di kelas IPS siapa lagi kalo buka Nanda Nusyrandi.
"Neng kalo bisa jangan terlalu kuat neng buka pintu nya... " ucap Mike.
"Hehehe... Iya iya nanti gue usahain pelan-pelan.. " sahut Nanda dan berjalan ke arah mejanya.
Saat Nanda akan duduk dia melihat dua makhluk yang sedang berbisik-bisik di mejanya.
"Kalian berdua lagi ngapain?" tanya Nanda penasaran.
Dinda dan Rara tak menghiraukan Nanda, mereka melanjutkan bisik-bisik nya.
"Kalian itu yah gue nanya malah dikira angin perkataan gue, jahat banget sii, " ucap Nanda dengan akting ala Indosiar.
Mereka tak menghiraukan Nanda yang mulai jengkel.
"Kalian bisik-bisik kayak gini nanti ada syaiton looh... " ucap Nanda lagi dengan nada kesal.
Dinda dan Rara langsung pindah meja ke meja Mike yang disamping meja Nanda, dan melanjutkan bisik-bisik nya.
"Ehh, tetep aja bisik-bisik, cuma pindah meja doang.... Hadeh... " ucap Nanda dan menaruh tasnya di meja dengan kasar.
Nanda terus saja melihat ke arah dinda dan Rara yang terus sibuk bisik-bisik tetangga.
Karna Nanda sudah mulai jengkel dia menghampiri mereka bedua.
Brakk...
"Kalian berdua lagi ngebisikin siapa sih?" tanya Nanda kesal.
"Cieee kena prank... " ucap Dinda dan Rara barengan.
Krikk.... krikk... krikk..
"Garing b*ngs*t... " sahut Nanda.
Dinda tak mengubris perkataan Rara, karena terlalu garing.
"Mike tadi lucu yaahh.... Haha... Haha... " ucap Rara pada Mike.
Mike melihat dengan wajah datarnya.
Krikk... krikk... krikk...
"Anj*rr... Bner aja ini mah garing... " ucap Rara baru ngeh.
"Dari tadi kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Nanda pada Dinda.
"Gak tau, gue mah denger aja, dia bisik-bisik... pesstt... pesstt... Gitu doang, makanya gue jengkel.. " jelas Dinda.
"Eh Nanda sini deh... " ucap Rara dan menarik tangan Nanda ke mejanya.
"Apaan?!" tanya Nanda.
"Eh, lu bentar lagi mau nikah yah?" tanya Dinda to the poin.
Nanda melotot dan memalingkan wajahnya.
"Nggak kata siapa?" tanya Nanda mengelak.
"Jangan pura-pura ndak, wajah lu itu merah, " sahut Dinda.
"Gue gak ngadi-ngadi... " jawab Nanda malu.
Rara dan Dinda berdiam menatap Nanda tanpa ekspresi.
"Kenapa kalian berdua ngeliatin gue kayak gini? Gue cantik yakk... Udah deh gue sering di bilang cantik kok sama semua orang jadi udah biasa... " sahut Nanda.
"Diih, PD... " sahut Dinda.
"Jawab jujur aja lah Nanda, " ucap Rara.
"Iya nda, gue kan kepoo... Gue janji kita gak akan ngebocorin ke semua orang kok... " sahut Dinda.
"Gue.... Gak bohong, siapa juga sih yang mau nikah sama ketos si balok es itu... " sahut Nanda yang masih mengelak.
"Jawab jujur atau gue terpaksa harus ngasih tau emak lu... " sahut Rara dengan nada ancaman.
"Ngasih tau apa?" tanya Nanda yang tak takut.
"Ngasih tau emak lu, kalo elu selalu bolos di pelajaran MTK sama Fisika... Hmm, Gue jadi kepo gimana sih rekasi emak lu kalo tau soal ini... "Ancam Rara.
"Gue bakal kasih tau ayah lu tentang uang yang suka dia kasih ke elu, cuma buat heppy-heppy dengan alasan buat pelajaran, padahal buat isi bensin motor sport lu, " ancam Dinda yang tak mau kalah.
"Okeoke, tapi kalian harus janji dulu jangan kasih tau siapa-siapa... " ucap Nanda yang mulai takut.
"Iya kita janji... " jawab Rara dan Dinda yang menunjukkan jari kelingking nya.
Dan mereka pun udah berjanji.
"Iya, gue bakal nikah sama Marcell tapi nanti 5 bulan lagii, bukan sekarang... " bisik Nanda.
"kenapa 5 bulan lagi nikah gak sekarang ajah? " bisik Rara.
"Gue sengaja... Nunggu adik-adik gue datang ke indo dulu baru deh ngelakuin pernikahan.. " jawab Nanda yang masih bisik-bisik.
Bel berbunyi.
Semua anak murid mulai belarian ke lapangan untuk berkumpul melaksanakan pembiasaan di lapangan sebelum mulai belajar.
Nanda mulai berjalan menuju pintu keluar.
"Yuuk gaes kita baris ke lapangan, " ucap Dinda sambil menarik tangan kedua temanya itu.
Saat Nanda dan yang laen keluar, mereka melihat Marcell yang sedang berbicara di pojok bersama Angga dan Agung. Mereka menghampiri dan menjawab pertanyaan Marcell.
.
.
.
.
.
"Mau-mau aja lu diancam sama mereka, " ucap Marcell.
Nanda mengalihkan wajahnya malu.
"Emang mereka ngancem kayak gimana?" tanya Marcell. Nanda tampak bingung harus jawab apa.
"Kenapa diem?" lanjut Marcell yang berhasil membuat Nanda tersentak.
"Nggak papa, oh iya kita kan harus ke lapangan ngapain kita masih disini?" ucap Nanda.
"Oh iya, cepett!!!" Marcell terburu-buru ke lapangan agar tak ketinggalan.
Dilapangan.
Seperti biasa Marcell baris di samping Nanda yang berbaris di depan.
Rara dan Agung berinisiatif menggoda mereka berdua.
"Selamat yah, buat kalian yang bentar lagi mau jadi pasangan pasutri... " bisik Rara lembut di telinga Nanda dan Marcell.
Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan dari depan ke samping kanan dan kiri.
"Hihihih... Jangan lupa undangan ya... " sahut Agung berbisik.
"Kalian berdua bisa diem gak jangan banyak tingkah... " ucap Marcell tegas.
"tau nih, lu juga Ra kenapa ikut-ikutan lagii... " sahut Nanda kesal.
"Yah maaf dong mak... Gak sengaja kita... Hihihi... " sahut Rara.
"Bapak ama Emak jangan marah yahh... " lanjut Agung yang tak mau kalah.
Kini Agung dan Rara tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda Nanda dan Marcell.