My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Nerima



Pagi ini Rara bangun lebih padi dari biasanya. Entah kenapa dia berpikir untuk berangkat pagi-pagi sekali.


"Bang, gue berangkat yah, " sahut Rara berjalan keluar rumah.


"Hah?! Ini seriusan elu Ra? Yang bener saja, " sahut Bang Thorik tak percaya.


"Apa sih?" tanya Rara.


"Gak papa, tumben banget aja lu udah idup di jam 4 pagi, terus lu mau berangkat sekolah jam set 6 ... " sahut Bang Thorik.


"Iya iya terserah lu mau ngatain gue apa aja, gue lagi males denger semua bacotan lu Bang, gue mau berangkat sekarang, Assalamu'alaikum, " sahut Rara.


"Waalaikumsalam, " jawab Bang Thorik.


Jalanan masih sangat sepi, matahari masih belum menampakkan sinarnya ke bumi. Awan-awan masih terlihat gelap. Biasanya Rara sering mengunjungi Nanda di rumah nya, karena satu komplek, tapi sekarang beda.


Nanti gue harus bilang apa sama Agung? - batin Rara bertanya.


Rara terus berjalan santai menyusuri trotoar jalan. Bukannya tidak ada angkot, hanya saja Rara memilih untuk jalan kaki sambil berpikir.


Rara menarik napas panjang, "Haaaahhh... gak ada cara lain, gue juga suka sama Agung, yak udah deh gue pake kalung yang satunya lagi, " gumam Rara mengambil keputusan.


Akhirnya Rara berhenti di warung dan memasang kalung pemberian dari Agung. Setelah selesai, Rara berjalan kembali.


Tak lama berjalan, akhirnya Rara sampai di sekolah, saat akan bejalan menuju kelasnya, dia harus melewati lapangan yang di penuhi oleh anak basket.


"Rara... " panggil seseorang. Rara pun menengok dengan malas, ternyata itu Agung.


"Apa?" tanya Rara malas.


"Lu beneran ngasih kotak itu ke Salsa?" tangan Agung serius.


"Iya, " jawab Rara.


"Oh yak udah, ka--" seketika mata Agung salfok pada leher Rara yang terdapat kalung yang ada di leher Rara, dan itu persis apa yang ia berikan+warna emas bukan perak.


Kayak kenal itu kalung... - batin Agung.


"Udah yak, kalo gak ada pembicaraan lagi, gue harus balik ke kelas, piket, " sahut Rara pergi.


"Eh.. Ra.. bentar.. " sahut Agung.


Tapi sayangnya Rara tak peduli, dan terus berjalan menuju kelas nya.


Gue tau itu pasti kalung yang gue kasih kan.. lu boongin gue, awas lu.. - batin Agung senang.


Agung kembali ke lapangan dengan perasaan bahagia, para anak basket yang melihat, bingung dengan tingkah Agung yang berubah-ubah.


"Gung, lu sehat?"


"Iya gue sehat, " sahut Agung.


"Btw, Marcell kok telat yah?"


"Iya bener, tumben banget.. "


"Ah paling lagi di amuk massal sama pacarnya.. " tebak Agung.


"Emang Marcell punya pacar?"


"Punya lah, " jawab Agung.


"Masa iya? gue sama sekali gak percaya kalo dia punya pacar, sumpah... "


"Yak udah kalo gak percaya gue juga bodoamat, "


"Kalo lu punya pacar gak gung?"


"Punya, "


"Siapa?"


"Ada aja... "


"Mm, pantesan lu senyum-senyum sendiri, "


.


.


.


.


.


Sedangkan Rara.


"Aaah... gue pengen piket, tapi gue pewe banget, " gumam Rara.


Cklekk..


"Rara?!"


Rara sedikit menengok dan ternyata itu Nanda yang baru datang.


"Ini beneran elu? Tumben banget lu datang pagi, " sahut Nanda.


"Iya, gue lagi pengen aja, " sahut Rara.


Nanda melihat leher Rara yang terdapat kalung.


"Aaaaa... " teriak Nanda.


"Kenapa lu?" tanya Rara kaget.


"Gak papa, lu nerima Agung yah... " tebak Nanda, benar.


"Ap-apa maksud lu? gue gak ngerti, " sahut Rara.


"Aahh masa siii... " sahut Nanda mencolek dagu Rara.


"Iya.. iya, gue jujur, gue sama Agung udah pacaran, " sahut Rara.


"Agung udah tau?" tanya Dinda baru datang dan langsung ikut nimbrung.


"Aahhh... monyet monyet... " teriak Rara terkejut.


"Lu sama Angga sama-sama ngeselin, " sahut Nanda.


"Hehe.. yak maaf, gue lupa belum salam, " sahut Dinda.


"Ye... " sahut Rara singkat.


"Udah mungkin, soalnya tadi gue ketemu dia di lapangan... terus matanya liat kalung ini, " sahut Rara.


"Eaa.. pj nya mana?" tanya Nanda sambil tertawa.


"Oh iya, pj nya... " sahut Dinda.


"Pja pje pja pje, lu sendiri gak ngasih gue pje din, sampe sekarang, " sahut Rara.


"Nah kan, gue doble pje yee... haha.. " sahut Nanda.


"Nanti lagi, kalo udah sebulan, baru gue kasih, " sahut Dinda.


"Awas lu kalo boong, atau sampe lupa, " sahut Rara.


"Gue pasti bakal dapet pje soalnya ada Marcell, " sahut Nanda.


"Mm, gimana hari-hari lu yang di lewati bersama?" tanya Dinda.


"Yak begitulah, kayaknya gue udah mulai suka sama tuh anak, " sahut Nanda.


"Kapan gue di kasih ponakan?" tanya Rara.


"Nanti aja yah, mommy sama Deddy belum kepikiran punya anak, " sahut Nanda.


Rara dan Dinda hanya tertawa mendengar nya.


"Jangan lama-lama, gue pengen cepet-cepet di panggil Tante sama anak lu ndak.. " sahut Rara tertawa.


"Iyah... sabar.... nanti punya anak nya umur 23 tahun atau 26 tahun, " sahut Nanda.


"17 .. " sahut Nanda.


"Kelamaan, mending sana lu Hannymon, " sahut Dinda.


"Kemana?" tanya Nanda.


"Pake nanya, yah kemana kek ke luar negeri kan Marcell itu kayak anak Sultan, jangan di bilang miskin dia mah, " sahut Dinda.


"Iya bener kata orang maksiat, lu mau ini tinggal kasih uang gak usah mikir sana sini, walau barang yang lu beli itu gan ada guna, " sahut Rara.


"Nah iya bener tumben lu pinter titisan setan, " sahut Dinda kagum.


"Iyalah, kalo masalah yang kayak beginian mah kecil, " sahut Rara.


"Mm.. "


.


.


.


.


.


Jam istirahat ke 2


Sejak jam istirahat ke 1 Rara dkk belum melihat Agung sama sekali. Bahkan Marcell dan Angga pun tak tau Agung pergi kemana.


Hari ini dengan senang hati, Nanda datang ke kelas Marcell bersama yang lain.


"Marcell... " teriak Nanda dari luar kelas.


"Belum nyampe neng, lu udah teriak-teriak gak jelas, " sahut Dinda.


"Tau nih, malu gue bawa dia.. " sahut Rara tertawa


Saat sampai di kelas Marcell, Nanda langsung masuk tanpa memberi salam. Tetapi Dinda dan Rara dengan sopan nya langsung duduk di atas meja.


"Waduuh, cell ayank lu datang tuh, " sahut Angga.


Marcell menengok ke arah Nanda yang sedang berjalan ke arahnya.


"Sopan banget dah pacar gue, " sahut Angga.


"Iya dong, harus.. " sahut Dinda.


"Mana Agung?" tanya Rara.


"Tuh mojok, " tunjuk Angga.


Rara segera menghampiri Agung dan duduk di atas kursi.


"Lu lagi ngapain disini?" tanya Rara.


"Apa?" tanya Agung menengok ke arah Rara.


"Lu lagi ngapain disini?" tanya Rara sekali lagi.


"Ngehalu, " sahut Agung.


"Ngehalu apaan lu, bagi-bagi dong, " sahut Rara.


"Lu kesini sama siapa?"


"Tuh sama Nanda sana Dinda, "


"Gak sama Putri?"


"Putri langsung ke kelas Ihsan Lukman, nanyain tugas, "


"Hooh pantesan.. "


Sedangkan Nanda, Dinda dan Marcell, Angga.


"Ngapain lu kesini, bukannya malem lu marah sama gue, terus lu gak mau bicara sama gue, " sahut Marcell.


"Yayank ndak jangan marah.. " rengek Nanda dengan wajah imutnya.


Astagfirullah... itu muka... - gumam Marcell gemesh.


"Terus lu mau nya apa? cepetan jangan lama-lama... " sahut Marcell.


"Yayank jangan marah, Ndak cuma bercanda doang.... " teriak Nanda semakin keras.


Dinda dan Angga hanya tertawa melihat wajah Marcell yang bingung sekaligus ingin tertawa.


"Iya iya gak marah, mau lu apa sekarang?" tanya Marcell.


"Ndak cuma mau ayank ikutin kemauan Ndak sehariii aja... " sahut Nanda memeluk Marcell.


"Lu kenapa ndak?" tanya Marcell bingung.


"Ndak gak kenapa-kenapa kok, " sahut Nanda masih terus memeluk Marcell. Sedangkan Marcell berusaha melepaskan pelukan Nanda.


"Mau sayang malu, banyak orang di sini... " sahut Dinda sambil menarik tangan Nanda.


"Gak mau, gak suka gelay, " sahut Nanda dengan menirukan suara nissa sabyan.


Rara yang sudah tak tahan melihat kelakuan Nanda pada Marcell ikut tertawa.


"Ra... ikut gue sebentar, " sahut Agung menarik tangan Rara keluar kelas.


"Eh.. kita mau kemana?" tanya Rara.


"Udah ikut aja, " sahut Agung mempercepat langkahnya.


Nanda yang masih ribut dengan Marcell tak menyadari kalo Rara pergi bersama Agung keluar kelas. Begitupun dengan Dinda dan Agung yang terlalu asik tertawa.


"Kita mau kemana sih gung? Jangan cepet-cepet jalannya... " sahut Rara.


Setelah sampai di lapangan.


"Lu mau gak jadi pacar gue?" tanya Agung.


Lah bukannya udah di jawab sama kalung yang dia kasih? kenapa malah nanya? - batin Rara bertanya.


Rara mengeluarkan kalung itu dan memperlihatkan kepada Agung yang masih penasaran.


Agung yang melihat nya mulai tersenyum.


"Ehem, berarti lu nerima gue?" tanya Agung.


"Nerima apa? gue gak ngerti, " sahut Rara mengelak.


"Terus itu kalung, berian siapa?" tanya Agung.


"Gak tau gue nemu di sebuah kotak berwarna coklat, " sahut Rara.


Bisa aja ini anak... - batin Agung semakin gemes.


"Kalo gitu, kita pacaran?" tanya Agung.


"Engga.. kita musuh, "


"Yang bener neng, "


".... Iya.. "


"Yes.. " gumam Agung.


"Udah ngobrol nya, kalo udah gas ke kelas, " sahut Rara berjalan pergi.


Agung masih terdiam dan terus tersenyum.


"Dari pada lu senyum-senyum gak jelas mending ikut gue balik ke kelas, gue gak mau ngurus orang yang sakit jiwa kayak elu, " sahut Rara berbalik.


"Iya.. " sahut Agung menyusul.


Dan mereka segera kembali ke kelas dengan penuh kebahagiaan.