My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Ngapain lu di sini?



"Gue liat tadi itu jam setengah tujuh, gue pikir itu beneran, tau-taunya baru jam enam lebih, " sahut Nanda.


"Udah udah, sekarang gimana ini Marcell? masa iya kita angkat dia?" tanya Rara.


"Berat.. " sahut Putri.


"Bentar gue telpon Agung atau siapa yang ada di sekolah, " sahut Nanda.


Nanda segera menelpon seseorang yang ada di lingkungan sekolah, walau banyak anak siswa yang lewat tapi Marcell gengsi jika di bantu oleh teman lain. Apalagi kalo anggota OSIS.


Tak butuh waktu lama, Agung, Angga, Ihsan, Lukman dan Dinda datang ke tempat dimana Marcell dkk berada.


"Bapak Budi bagaimana kah keadaan anda saat ini?" tanya Lukman berlari ke arah Marcell.


"Alhamdulillah tidak baik-baik saja bapak Suharto, " sahut Marcell.


"Nj*rr bapak gue.. " sahut Lukman tertawa.


"Yang sabar bro, " sahut Ihsan.


"Bapak Kurnia tolong bantu pak Budi ini ke UKS, " sahut Angga.


"G*bl*k kenapa gue juga yang kena.. " sahut Ihsan.


Nanda dkk dan Marcell dkk tertawa bersama. "Udah udah, cepetan bantuin suami gue.. " sahut Nanda.


"Oh iya siap nyonya Alfarizky.. " sahut Angga dkk horman kepada Nanda.


Putri, Rara dan Dinda hanya melihat saja, begitupun dengan Nanda yang bodoamat. Angga dkk membantu Marcell masuk ke dalam lingkungan sekolah.


Anggota OSIS yang melihat kaget sekaligus panik melihat ketos mereka luka. Terutama bagi anggota OSIS perempuan.


"Ya ampun.. kak Marcell gak papa kan?"


"Kak Marcell kok bisa sampe kayak gini?"


"Iihh keningnya lecet sama ada sedikit darah.. " sahut perempuan itu menyentuh kening Marcell menyeka darah itu.


Nanda pun panas membara tak terkendali. "Oy lu gak panas liat tuh cewek itu berani-berani megang kepala Marcell selain elu, " bisik Rara.


"Bodoamat, " sahut Nanda kesal.


Marcell menepis tangan perempuan itu dengan tangan nya, "Sorry, tapi cewek gue gak suka liat tangan orang nyasar ke kening gue, apalagi kalo lu cewek, bisa abis lu sama dia, " sahut Marcell.


"Ohh maaf kak Marcell aku gak bermaksud, "


"Marcell kamu gak papa kan?" tanya seorang gadis dari belakang dan memegang wajah Marcell.


Nanda dkk yang sangat hafal dengan suara cewek itu segera berbalik dan benar saja itu Mila Jesika Ryan.


"Woy, lepasin gak tangan lu.. jangan suka nyentuh-nyentuh muka pacar orang lu!!" sahut Nanda.


"Oh sorry, gue kira Marcell masih jomblo tau nya ada istri nya di sini.. " sahut Mila.


"Berisik lu, mau gue bungkam tuh mulut sampe lu gak bisa ngomong!!" ancam Nanda semakin kesal.


"Ngapain lu di sini?" tanya Marcell.


Mila segera berbalik ke arah Marcell, "Emang kenapa? kamu kangen yah sama aku?" tanya Mila genit.


"Amit-amit tujuh turunan kangen sama anak kayak elu, " sahut Nanda memutar bola mata malasnya.


"Ck.. ngompor mulu lu, " sahut Mila kesal.


"Bodoamat, " sahut Nanda.


"Waah mulai lagi nih, " sahut Rara.


"Pastinya.. perang Dunia ke dua antara Mila sama Nanda, " sahut Dinda.


"Ndakk kita ke UKS dulu yah, kasian Marcell kesakitan kaki nya.. " sahut Agung.


"Oh iya, sama maaf tolong jaga dia sebentar, gue ada urusan yang harus gue selesain di sini.. " sahut Nanda.


"Okey, " sahut Agung.


Agung dkk segera membawa Marcell pergi ke UKS dan merawat nya. Sedangkan Rara dkk diam menemani Nanda, bahkan para anggota OSIS sial untuk membantu Nanda dan Mila agar tak terjadi keributan apa lagi sekarang masih pagi.


"Bukannya kita sepakat kalo kita bakal jadi teman, " sahut Mila.


Berpapasan dengan kedatangan Caca dan Melodi Nanda mulai angkat bicara. "Heh, temen dari mana nya.. buat apa lu jadi temen gue kalo lu cuma memanfaatin gue doang, " sahut Nanda.


Mila pun terdiam, Caca dan Melodi yang mendengar nya hanya bisa memutar bola mata malas mereka.


"Gimana Mel, lu mau samperin Mila apa engga?" tanya Caca kepada Melodi.


"Apa boleh buat, kita udah sepakat sama Bagas, " sahut Caca.


Dengan berat hati Caca menghampiri Mila di sana, tak ada yang berpihak dengan Mila di sana, bahkan sekarang Caca dan Melodi pun sudah tak mau berteman atau pun bertemu dengan Mila lagi.


"Lu udah berani banget sama gue!!" teriak Mila. Mila sudah siap untuk menampar Nanda, tapi Caca berhasil menghentikan tamparan Mila itu.


"Berhenti.. gue lagi gak mood buat masalah kayak gini.. dan elu mil jangan sok berlaga lu adalah korban, " sahut Caca.


"Ma-maksud apa sih ca? lu udah gak berpihak sama gue lagi?" tanya Mila mulai panik.


"Kita bicarain masalah pihak memihak nanti aja, sekarang mending lu pergi aja dari sini, gak ada yang memihak lu.. " sahut Caca.


Mila melihat Nanda dengan tatapan tajam, tak kalah dengan tatapan Mila itu Nanda pun menatap Mila dengan tatapan membunuh.


Mila pun berjalan meninggal kan mereka semua yang masih melongo tak percaya dengan ucapan Caca barusan.


"Udah gila tuh anak, " sahut Nanda.


"Stress.. " teriak Nanda.


"Lu gak papa kan ndakk? sorry tadi gue telat datang, " sahut Caca.


"Iya gak papa kok, btw kalian udah ada perjanjian yah sama Bagas? buat ngelindungi gue dari Mila?" tanya Nanda.


"Heh, kayak lu udah tau semuanya, okey kalau gitu do'akan aja Bagas semoga dia berhasil menjalankan tugasnya di Garut, " sahut Caca menepuk pundak Nanda dan berjalan.


"Heh, pastinya, " sahut Nanda tersenyum.


Setelah masalah tadi terselesaikan atas kedatangan Caca dan Melodi mereka semua segera kembali beraktivitas normal.


"Bagas emang kemana?" tanya Rara.


"Bukannya Bagas itu udah keluar dari sekolah yah? padahal bentar lagi lulus, " sahut Putri.


"Iya bener, tinggal beberapa minggu lagi kan, " sahut Dinda.


"Dua minggu lagi, " sahut Rara.


"Entahlah, gue juga gak pasti yang penting dia bisa berhasil, " sahut Nanda melihat ke atas.


"Ya udah kalo gitu kita liat keadaan Marcell, " sahut Dinda.


"Jangan bilang lu lupa lagi sama suami sendiri, " sahut Rara.


"Alah mak gue lupa, suami gue tadi abis jatoh ke selokan.. Marcell!!" teriak Nanda berlari ke arah UKS.


"Astagfirullah.. kenapa tuhan kasih gue teman kayak gini.. " gumam Rara.


"Udah biasa gue liat dia kayak gini.. " sahut Putri.


"Udah kebal, " sahut Dinda.


"Yoi, " sahut Putri.


"Udah yuk susul, " sahut Rara.


.


.


.


.


.


Sementara itu Bagas dan Pak Endi sedang mempersiapkan berkas-berkas untuk pengadilan Pak Herman.


Bahkan bodyguard Bagas telah berhasil menangkap Pak Herman yang hampir kabur ke luar negeri, kini Pak Herman sedang berada di gudang di jaga oleh beberapa bodyguard Bagas.


"Lepasinn saya!!" teriak Pak Herman.


"Kalian siapa? beraninya kalian menangkap saya.. " sahut PaK Herman.


Pak Herman tak bisa lepas, karena kaki dan tangannya di ikat kencang di kursi, dan matanya di tutupi kain agar tak bisa melihat apa-apa.


"Bagaimana keadaan Pak Herman saat ini?" tanya Bagas kepada bodyguard.


"Aman bos, "


"Bagus, " sahut Bagas.


"Bos, dari tadi pak Herman terus berteriak apa boleh kita bungkam mulutnya dengan kain?"


"Kalau kalian merasa terganggu.. yah silahkan saja.. " sahut Bagas.


Cklekk..


Bagas masuk ke dalam untuk melihat keadaan Pak Herman, "Pak, gimana? suka sama keadaan yang sekarang?" tanya Bagas.


"Siapa kamu? lepasin saya!! kamu gak akan bisa selamat.. " teriak Pak Herman.


"Oh ya, harusnya bapak lah yang gak akan selamat, karena sebentar lagi bapak akan melihat keadilan di depan mata, " sahut Bagas.


"Siapa kamu?!"


"Tolong!! tolong!! siapa pun tolong!!" teriak Pak Herman.


"Teriak aja terus pak teriak.. gak akan ada yang mendengar nya karena ini gudang... tak akan ada yang akan menolong bapak saat ini.. " sahut Bagas.


Mendengar nya Pak Herman terdiam dan mulai merasa ketakutan. "Siapa kamu sebenarnya? lepasin kain hitam ini!!" teriak Pak Herman menggoyang-goyangkan kepalanya.


"Oh tentu boleh, nanti saat bapak menghadap keadilan bapak akan melihat kebenaran yang sudah bapak kubur selama bertahun-tahun.. " sahut Bagas.


Pak Herman semakin takut karena sebentar lagi kejahatan nya akan terbongkar. "Tenang saja Pak, setelah kebenaran itu.. bapak tak akan melihat cahaya atau pun dunia luar, " sahut Bagas.


"Tolong!! tolong!! tolong!!"


"Tolong!! tolong!!"


Bagas keluar dari gudang itu dengan perasaan tenang, sedangkan pikirannya terus memikirkan Nanda.


Nanda.. gimana keadaan lu? Caca sama Melodi ngelindungin elu kan? gue jarak begitu.. - batin Bagas.


"Siang bos, " sahut supir Bagas.


"Siang, "


"Bos bagaimana dengan Mila? apa kita biarkan nona Caca dan nona Melodi yang mengatasinya?" tanya supir Bagas.


"Masalah itu biarkan mereka yang atasi, kita hanya perlu fokus sana masalah yang kita hadapi sekarang, " sahut Bagas.


"Iya bos, "