My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Boneka monyet



"Yah kalo menurut sama mah, kira-kira kurang lebih lima sampai enam tahunan lah, boneka monyet, " jawab Pak wawat.


Mendengar kata-kata itu Marcell tersedak saat meminum teh nya itu. "Ohok.. ohok.. ohok.. "


"Lah lu kenapa?" tanya Nanda kaget tiba-tiba Marcell batuk.


"Gak, gak papa, " sahut Marcell.


Boneka monyet? apa jangan-jangann... - batin Marcell.


Pak wawat kembali manjat pohon untuk menjatuhkan boneka yang tersangkut di atas pohon itu.


Kok tiba-tiba perasan gue mendadak aneh ya? nanti gimana kalo ada pertumpahan darah? wahh bayaha ini, - batin Marcell.


Brukk..


Nanda, Marcell, dan Bi Sri kaget tiba-tiba ada yang jatuh di depan mereka. Nanda yang kaget langsung merangkul Marcell yang masih duduk santai itu. Sedangkan bi Sri langsung memukul pohon.


"Nah, ini non, den... boneka nya, " ucap pak wawat turun dari pohon.


"Iihhh.. boneka apa ini? jijik banget Iuhh... kotor pulaa, buang aja pak, saya gak suka, " sahut Nanda merasa jijik melihat boneka monyet yang kotor, banyak sarang laba-laba, plus sudah tak bagus warna nya.


Marcell kemudian berdiri dan melihat boneka itu lebih dekat lagi. "Ihh... cell lu apa-apaan sih? kok malah di pegang-pegang gituuu... buang!" sahut Nanda menarik tangan Marcell menjauh dari boneka buduk itu.


"Buang aja pak, " sahut Nanda.


"Iya siap non, saya bawa ke depan yah dan langsung masukin ke tempat sampah, " sahut pak wawat.


"Iya pak, " sahut Nanda.


Pak wawat kemudian membawa boneka monyet itu ke depan dan menyimpan dia dekat tempat sampah. Setelah itu Nanda pergi entah kemana. Dan Marcell merasa bersalah, tapi boong... dia malah senang kalau Nanda tak ingat kalau boneka itu adalah boneka kesanga nya.


"Makan tuh supri... makanya jangan suka ngambil posisi tengah-tengah... untung aja istri gue gak inget, " sahut Marcell.


"Ngomong sama siapa sih cell?" tanya Nanda balik lagi.


"Hah? apa? engga kok, "


"Tadi gue dengar lu kayak tadi ngomong sesuatu, "


"Hah? ini.. gue ngomong sama pohon.. sakit apa engga, soalnya tadi kan gak sengaja ke gores, " sahut Marcell memegang pohon mangga.


"Ohh, btw.. mana hape gue?" tanya Nanda.


"Hape? oh itu, " sahut Marcell menunjuk ke arah meja.


"Oh iya, makasih, " sahut Nanda dan pergi lagi.


Setelah melihat Nanda masuk ke dalam rumah. Marcell berusaha menenangkan jantung nya yang sedari tadi degdegan.


"Huuhh.. untung aja tuh anak telinga nya kurang pinggir kalo engga wah bisa-bisa ada tauran di rumah ini, " gumam Marcell.


"Tapi gue masih seneng... Nanda gak inget sama si supri, boneka monyet budukk, " gumam Marcell tersenyum lebar.


.


.


.


.


.


Di sisi lain. Nanda yang sudah masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu hanya bermain ponsel.


"Gue kayak tau yah, tuh boneka... kayak familiar gituu, tapi.... ah masa bodo, gue lupa, " gumam Nanda.


Tak lama kemudian, Bunda lewat depan Nanda yang sedang duduk. "Eh, bunda habis dari mana?" tanya Nanda kepada Bunda.


Bunda berhenti berjalan dan menghadap ke arah Nanda, "Eh, Nanda... bunda habis dari depan, tadi ada paket... " sahut Bunda ikut duduk di samping menantunya itu.


"Oh gitu.. eh bun... bunda pernah liat boneka monyet gak? soal nya tadi aku berasa familiar banget sama boneka monyet yang di temuin sama pak wawat di atas pohon, " tanya Nanda.


"Boneka monyet? dulu bunda berasa pernah liat, tapi dimana.. " sahut Bunda berusaha mengingat.


"Nah kan... apa lagi aku... " sahut Nanda ikut mengingat.


Setelah lama berpikir. "Oh, mungkin boneka monyet warna pink yang kamu bawa ke sini waktu pertama nikah... " sahut Bunda.


"Pink? bukan... itu sih masih ada si kamar, ini warna nya coklat, sama ada pita merah di lehernya, " sahut Nanda.


"Ohh... mungkin hadiah dari Marcell... kan kalian pernah tuh pergi ke mall... buat beli tapi couple, terus kamu mau boneka monyet... kalo gak salah kamu namain boneka nya itu... Supri.. " sahut Bunda.


"Supri?" gumam Nanda masih bingung.


Tiba-tiba mata Nanda melotot dan berdiri tanpa basa-basi Nanda langsung berlari ke luar rumah.


"Eh, Nanda mau kemana?" tanya Bunda.


"Mau keluar dulu bun, sebentar, " teriak Nanda.


"Mau apa keluar? ah ya udah lah " gumam Bunda.


Bunda kemudian berjalan ke kamar nya dan merebahkan diri karena capek.


Masih dengan mencari, tanpa sengaja Nanda mendengar suara truk sampah yang mendekati rumah nya itu. Tanpa berpikir panjang, lagi Nanda langsung pergi ke depan rumah untuk mengambil boneka nya itu.


Saat gerbang rumah terbuka lebar. Nanda menemukan pak wawat dan Bi Sri yang sedang mengobrol.


"Pak wawat!!" teriak Nanda.


Pak wawat dan Bi Sri yang kaget langsung melihat ke arah Nanda yang kecapekan. "Eh iya non?" tanya pak wawat.


"Dimana boneka monyet yang tadi?" tanya Nanda.


Bi Sri segera menghampiri Nanda dan memegang tubuh nya agar tak jatuh pingsan.


"Oh, ada non.. ini... sebentar lagi truk sampah nya datang, " sahut pak wawat.


"Jangan di buang... bawa masuk lagi tolong, " sahut Nanda.


"Oh iya siap, " sahut pak wawat tanpa basa-basi.


Pak wawat pun kembali membawa boneka monyet itu ke dalam, Nanda dan Bi Sri menyusul di belakang. Saat Pak wawat meletakkan boneka itu di dekat selang air, yang biasa di gunakan untuk mencuci mobil.


Tak sengaja Marcell melihat Pak wawat. Marcell pun berjalan ke arah pak wawat. "Pak, ini kenapa boneka nya di bawa masuk lagi?" tanya Marcell.


"Tadi si suruh sama non Nanda, " jawab pak wawat.


"Bi, maaf bisa tolong bersihin boneka nya, "


"Iya siap non, saya ambil dulu sabun sama sikat nya, "


"Iya bi, "


Setelah mengobrol dengan bi Sri. Nanda menghampiri Marcell dan pak wawat yang hanya diam.


"Ndak, kenapa boneka nya di bawa masuk lagi?" tanya Marcell.


"Gue baru inget, ini namanya Supri, boneka gue yang dulu lho, masa iya lu lupa sih, kan elu yang beliin boneka ini ke gue, " sahut Nanda.


"Ahaha, oh iya gue lupa, " sahut Marcell pura-pura tertawa. Marcell sebenarnya ingat hanya pura-pura tidak ingat aja.


"Mm.. tapi aneh nya kenapa supri ada di atas pohon? yekan cell? lu juga pasti penasaran kan?" tanya Nanda.


"Hah? oh iya, gue juga aneh, " sahut Marcell.


"Aneh lho, " sahut Nanda.


Tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil berwarna hitam, masuk ke dalam. Itu adalah mobil Ayah Budi yang habis pulang dari kantor, membagikan gaji kepada karyawan nya.


"Hei anak-anak? ada apa? tumben kumpul, " tanya Ayah Budi.


"Ini yah... boneka, " sahut Nanda.


"Mm? bukannya ini boneka yang di kasih sama Marcell ya? kalo gak salah, " sahut Ayah.


"Iya yah, " jawab Nanda.


"Permisi pak, ada berkas yang harus di periksa lagi dari perusahaan, " ucap pak supir.


"Eh pak Toni?" tunjuk Nanda tersenyum lebar.


".... Hai non, apa kabar?" tanya pak Toni.


"alhamdulillah saya baik, pak Toni sekarang jadi supri pribadi nya Ayah ya?"


"Iya non, karna aden Marcell jarang keluar, jadi saya jadi supir pribadi nya Pak Budi, " jawab Pak Toni.


"Oh gitu.. "


Pak Toni hanya mengangguk, saat pak Toni berbalik ke arah boneka dia merasa familiar. Saat Ayah Budi pergi untuk mengangkat telpon. Pak Toni akhirnya ingat tentang boneka itu.


"Bukannya ini boneka monyet yang di suruh saya simpen di pohon mangga ya?" tanya Pak Toni.


"Hah? apa? coba ulang lagi, " sahut Nanda.


"Iya jadii.. dulu aden Marcell pernah nguruh saya buat buang aja boneka ini... tapi karena ada Bunda sama Ayah yang liat jadi saya di suruh simpen aja di pohon mangga, " jelas Pak Toni.


"Bukannya di dekat kebun itu suka banyak asisten yang bulak balik?" tanya pak wawat.


"Nah itu aneh nya... seketika di kebun tiba-tiba sepi, " jawab Pak Toni.


Marcell yang kaget karna pak Toni tak bisa menjaga rahasia dia hanya mengedipkan salah satu matang memberi kode.


"Jadi yang di nyuruh kalian ini... Marcell?" tanya Nanda.


"I--eh den kenapa mata nya?" tanya pak Toni melihat mata Marcell yang terus mengedipkan mata.


Nanda melihat ke arah Marcell. "Iihhh.... Marcell!!" teriak Nanda marah kepada Marcell dan berjalan pergi menjauhi Marcell.


"Ndak bukan gitu maksud gur... dengerin dulu.. " sahut Marcell berlari menyusul Nanda yang masuk ke dalam rumah.


Sebelum Marcell benar-benar masuk ke dalam rumah dia melihat sekilas ke arah pak wawat dan pak Toni yang sedang mengobrol.


Setelah itu dia berlari kembali menyusul Nanda. Untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.