My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Ngemil tross



"Eh itu Ihsan, Lukman, Angga kalian lagi liatian apaan sih? serius amat, " tanya Putri.


"Ndak, gue minta parsel buah ini yak, " sahut Lukman.


"Kalo gue minta parsel coklat ini, " sahut Ihsan.


"Gue mah gak serakah, gue minta cemilan ringan aja, " sahut Angga.


"Yawloh, bukannya seserahan sama orang sakit, malah minta parsel, " sahut Dinda.


"Ambil aja ambil, " sahut Nanda.


"Yess... " sahut Angga, Ihsan, Lukman barengan.


"Wahh boleh di ambil, kalo gitu gue ambil yang ini aja... " sahut Agung.


"Anak d*jj*l kalian semua.. " gumam Rara.


"Nj*rr jangan serakah kau, " sahut Angga.


"Gue biasa aja, dari pada elu semua cemilan Nanda di ambil, " sahut Agung.


Angga yang melihat tangannya yang penuh dengan makanan ringan, hanya tersenyum lebar.


"Ini buah dari siapa?" tanya Marcell mengambil parsel itu dari tangan Lukman.


"Oh itu dari Bagas, " jawab Nanda.


"Kapan dia datang?" tanya Marcell.


"Mm... lupa, " sahut Nanda lupa.


"Heuuh... kalo coklat sana makanan ringan lainnya dari siapa?" tanya Marcell.


"Dari bunda, mamah, ayah endi, ayah budi, sama para asisten lain yang datang buat ngejenguk, " sahut Nanda.


"Waahh banyak juga yah yang sayang sama Nanda kali ini.. lebih dari taun kemaren, " sahut Dinda.


"Iya, alhamdulillah, " sahut Nanda tertawa.


"Banyak yang sayang sama Nanda taun ini cell, kayanya elu kurang kasih sayang deh, " sahut Angga sambil makan.


Marcell melihat tangan Angga yang penuh dengan cemilan, hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ehh, btw lu di sini di rawat dengan baik apa engga?" tanya Putri.


"Di sini gue di rawat baik-baik, tapi tetep aja lebih enak di rawat sama suami sendiri dari pada sama perawat di sini... " sahut Nanda.


"Wehh malah lebih enak di rawat di sini... dari pada di rumah... " sahut Dinda.


"Lah kok bisa?" tanya Rara.


"Kan disini ada perawat guanteng... " sahut Dinda.


"Ehem, napa sih ngomongin cogan mulu, gak liat disini ada pacar, " sahut Angga masih serius makan.


"Tau nih, " sahut Lukman makan coklat.


"Lu dari tadi nyomot coklat gue mulu... " sahut Ihsan menjauh.


"Napa sih... gue juga mau kale, " sahut Lukman.


"Makan tuh buah, parsel yang lu pilih, " sahut Agung.


"Elu yang ngambil buah-buahan gue dari tadi, gue cuma di sisain dua, " sahut Lukman.


"Oh iya lupa, " sahut Agung tertawa.


"Amit-amit insomnia nya.. " gumam Rara.


"Gue keluar dulu sebentar, " sahut Marcell berdiri.


"Gue ikut cell, " sahut Agung.


"Ngekor mulu lu, " sahut Marcell jengkel.


"Napa sii, orang mau cerita sesuatu, " sahut Agung.


"Jangan suka bisik-bisik tetangga, nanti gue kepo, " sahut Lukman.


"Apalagi gue.. " sahut Ihsan.


"Kalo mau ngomong disini bareng-bareng, " sahut Angga.


Marcell dan Agung tak memedulikan ucapan mereka bertiga, mereka berdua segara keluar dari kamar Nanda mencari udara segar.


"Kita para ciwi mau ngomongin soal sesuatu, para cowok silahkan keluar, " sahut Nanda.


"Mau ngomong apa?" tanya Ihsan.


"Males keluar mending langsung ajalah, " sahut Lukman.


"Gue juga males keluar, lagi enak nih, " sahut Angga terus makan.


"Oh yak udah kalo gitu, " sahut Nanda.


"Lu udah menstruasi bulan ini?" tanya Rara.


"Belum, gue tanggal dualima kayaknya.. " jawab Nanda.


"Mm.. waktu hari minggu gue hampir bocor waktu di pernikahan om gue, " sahut Putri.


"Terus gimana?" tanya Nanda, Rara, Dinda, barengan.


"Yah gitu deh, tapi untung nya sodara gue langsung bawa gue toilet, jadi gak ada yang sadar, kecuali sodara gue itu, " jelas Dinda.


"Bentar sodara lu yang rambut nya di kuncir tiga?" tanya Putri.


"Iya, " jawab Dinda.


"Lah, emang dia udah mens?" tanya Rara.


"Kata mamahnya sih udah, tapi gak tau kalo kata gue, " sahut Dinda.


"Gila, masih kecil udah mens aja tuh bocah, " sahut Rara.


"Ehem.. gue sama yang lain keluar dulu, " sahut Angga malu.


"Gue mendengar hal yang tak boleh gue denger selama ini, " sahut Lukman berjalan keluar duluan.


"Makanya kalo kita bilang keluar yah keluar, nah sekarang kalian baru mau keluar, " sahut Putri.


"Yak maaf, " sahut Ihsan menyusul Lukman.


Sekarang hanya ada Nanda, Rara, Dinda dan juga Putri di dalam kamar itu. Mereka berempat akhirnya bisa bebas melakukan apa saja, tanpa ada yang ganggu.


"Aaahhh... akhirnya mereka keluar juga.. " teriak Rara sambil menghempaskan dirinya di sofa.


"Gue juga mau kale makan buah, coklat sama cemilan yang lain, masa enak mereka doang, " sahut Dinda langsung menyambar semua makanan yang ada di meja.


"Gue pengen duduk dadi tadi, capek, " sahut Putri segera duduk dan makan coklat silverqueen.


"Ndak gue bawa pulang ini ya, " sahut Rara mengambil coklat dari dalam parsel tiga buah.


"Ambil aja lah, terserah kalian, " sahut Nanda.


"Ehh, bantuin gue berdiri dong, gue pengen ke air, " sahut Nanda.


"Widiww ada kacang, " sahut Putri membuka sebuah kaleng yang masih terbungkus plastik.


"Nj*rr kacang, minta dong, " sahut Dinda.


"Ambil aja, " sahut Putri.


"Ini baru namanya hidup, bisa rebahan, bisa ngemil itu ini, gak ada yang ngatur, " sahut Dinda.


"Ngemil tross.. " sahut Rara yang baru keluar dari toilet bersama Nanda.


"Sini ndak, lu jangan rebahan mulu duduk kek kali-kali, " sahut Dinda menepuk sofa.


"Iya iya ini gue duduk sama kalian, " sahut Nanda ikut duduk di samping Dinda.


"Btw, kalian gak pulang dulu?" tanya Nanda.


"Nggak, kita langsung ke sini habis pulang sekolah, " jawab Putri yang sibuk makan kacang.


"Terus nanti pulang nya gimana?" tanya Nanda.


"Gue mah gampang, ada Angga, " sahut Dinda.


"Gue sama Rara tinggal naik taksi kalo Marcell gak mau nganter, " sahut Putri.


"Kalo Lukman sama Ihsan gak tau, salah satu dari mereka ikut Agung, " sahut Rara yang sedia mengupas buah apel untuk mereka berempat.


Nanda hanya mengangguk menanggapi semua percakapan barusan. Putri dan Dinda yang terus bercanda membuat Nanda tersebut. Senyuman itu kembali terlukis di wajah cantik Nanda yang sudah lama tidak terlihat.


"Oh iya, ndak lu tau kan si Bagas anak IPS 5 itu?" tanya Rara.


"Iya kenapa?" tanya Nanda.


"Dia gak masuk sekolah lho hari ini, waktu itu gue di suruh ambil absen di kelas IPS 5, " sahut Rara.


"Iya gue tau kok, " sahut Nanda.


"Hah? lu tau kemana Bagas?" tanya Putri.


"Kalo soal itu gak usah di tanya, " sahut Nanda sambil makan kripik kentang di meja.


"Jadi lu tau?" tanya Dinda.


"Engga, " jawab Nanda.


"Kalo lu gak tau, kenapa ekspresi lu kaya tau gitu, " sahut Dinda.


"Masa sih?" tanya Nanda.


"Dahlah, " sahut Putri.


"Disini ada perawat cowoknya gak ndak?" tanya Rara.


"Gak ada, " jawab Nanda.


"Yah gak seru nih rumah sakit, masa gak ada perawat cowok nya sih gak seru... kan kalo ada anak muda kayak kita gini auto betah, " sahut Rara.


"Auto nyelakain diri sendiri, " sahut Putri.


"Nah iya, " sahut Rara.


"Otwe ganti pacar, " sahut Dinda.


"Haha.. udah bosen lu sama Angga?" tanya Rara.


"Nggak sih gak bosen, belum, " sahut Dinda.


"Parah nih anak, " sahut Nanda.


"Angga tuh orang nya kayak gimana sih Din? Kok lu mau-maunya sama Angga?" tanya Putri penasaran.


"Iya gue juga sama, apa sih yang lu suka sama tuh anak?" tanya Rara.


"Kalian gak akan paham, mau gue bilang kalo Angga itu pinter lah apa lah, cuma gue yang bisa ngerti diri Angga yang sebenarnya, " jelas Dinda.


"Anj*rr... anak ini belajar dari siapa sih ngomong kayak gitu, " sahut Rara.


"Wooww, " teriak Nanda sambil tepuk tangan.


"Lu udah punya rencana buat deketin Ihsan put?" tanya Rara.


"Itu.. gue masih pikir-pikir, takutnya dia gak suka lagi sama sikap gue, " sahut Putri.


"Jangan berpikiran kayak gitu... pikirkan hal yang baik-baik sama hubungan lu yang sekarang, " sahut Nanda.


"Iya juga sih, tapi.. banyak cewek cakep-cakep yang deketin dia, " sahut Putri.


"Lu malah lebih cakep put, " sahut Dinda.


"Lu jangan nyerah dong, masa iya anak gue nyerah soal cinta, " sahut Rara.


"Anak lu? kapan lu lahirin dia?" tanya Nanda.


"Sebelum dia lahir juga udah ada gue, " sahut Rara.


"Perasaan yang duluan lahir Putri deh bukan elu, " sahut Dinda.


"Lu sama Putri beda empat bulan, " sahut Nanda.


"Gak udah di perjelas napa, kalo udah tau kenapa nanya, " sahut Rara.


"Yeeuu... nih anak di kasih tau juga, " sahut Dinda.


"Iya iya, " sahut Rara.


Dinda berhenti makan dan langsung berlari ke arah toilet.


"Lah napa tuh bocah?" tanya Putri kaget.


"Mules kali, " sahut Rara mengambil ponselnya.


"Kebanyakan makan kacang lu jadi mules kan jadinya, " sahut Nanda.


"Kalo udah beres jangan lupa siram pake pewangi, gue juga sakit perut, " sahut Putri.


"Anak ini juga sama, " sahut Nanda.


"Gue sakit perut banget, kebanyakan makan kacang, " sahut Putri.


"Perasaan nih kacang biasa aja, " sahut Nanda.


"Kata elu biasa aja, kata gue sama Dinda mah enak, gurih, " sahut Putri.


"Serah lu dah, " sahut Nanda berdiri dan berusaha berjalan sendiri menuju kasur.


"Mau gue bantu gak?" tanya Rara menyimpan kembali ponselnya ke atas meja.


"Nggak, gak usah, gue mau coba sendiri, "sahut Nanda.


"Oh yak udah, hati-hati, " sahut Rara.


"Iya, " sahut Nanda.


Akhirnya setelah menahan sakit yang menggelegar di sekujur kakinya, Nanda berhasil mencapai kasur dan mengistirahatkan kakinya.