My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Pergi main



19.00


"Cell, cepetan lu lagi ngapain sih di kamar mandi lama amat?" tanya Nanda menggedor-gedor pintu.


"Sabar kek neng, gue lagi bab, " jawab Marcell.


"Makan apa sih elu? lama amat, " tanya Nanda.


"Kan gue tadi makan batagor... ku masukin sambel 2 bungkus sekali gus... " sahut Marcell.


"Yak maaf, udah cepetan, " sahut Nanda.


"Iya iya... "


Nanda berjalan menuju meja belajar Marcell, terdapat banyak sekali buku-buku berwarna-warni dan juga sesuai dengan abjad A-Z.


"Banyak dah nih buku... kalo gue pinjem sebentar boleh apa engga yak?" gumam Nanda.


Nanda mengambil satu buku yang berjudul "I'm Oke". "Kayaknya nih buku menarik juga... pinjem bentar ahh... " gumam Nanda.


"Lu lagi ngapain?"


Suara serak itu berhasil membuat Nanda terkejut. Nanda menengok ke belakang ternyata itu Marcell yang habis keluar dari kamar mandi dan masih memegang perut nya sakit.


"Udah selesai?" tanya Nanda.


"Menurut lu? Lu lagi ngapain?" tanya Marcell.


"Cell, gue pinjem buku yang ini yak... gue penasaran, " sahut Nanda menunjukkan buku itu ke depan wajah Marcell.


"Yak silahkan aja, kalo kurang ambil sana di perpustakaan pribadi gue, ada banyak buku.., " sahut Marcell.


"Oke... nanti lu anter gue ke sana yak... " sahut Nanda.


"Jadi gak ini kita main?" tanya Marcell.


"Jadi dong... " sahut Nanda menyimpan buku itu dan segera memakai jaketnya.


"Gue tunggu di bawah... " sahut Marcell keluar.


"Iya.. " sahut Nanda yang masih siap-siap.


Setelah selesai, Nanda segera turun ke bawah menyusul Marcell yang sudah menunggunya.


"Cell ayoo berangkat... " sahut Nanda menuruni tangga.


Marcell berjalan ke arah pintu, tapi Bunda dan Ayah menghalangi mereka berdua.


"Kalian mau kemana?" tanya Ayah.


"Kita mau pergi main, " sahut Marcell.


"Malem-malen gini pergi main... cell bukannya besok kamu ada ulangan, sana belajar, " sahut Ayah.


"Ayah, tapi kan ini Nanda yang ajak, " sahut Marcell.


Ayah dan Bunda terdiam, dan mempersilahkan Marcell untuk pergi main bersama Nanda istri nya.


"Oh yak udah kalo gitu... silahkan, " sahut Ayah.


"Mana Nanda?" tanya Bunda.


"Tuh... masih pake sepatu, " tunjuk Marcell.


Ayah dan Bunda melihat Nanda yang sudah cantik dan sedang memakai sepatu di sana.


"Oh, hati-hati jangan suka ngebut... " sahut Ayah.


"Iya Yah siap... ayooo lama... " sahut Nanda.


"Iya iya sabar... " sahut Marcell.


"Bunda Ayah... Kami pergi mau dulu yakk.. Assalamu'alaikum.. " pamit Nanda.


"Assalamu'alaikum... " pamit Marcell.


"Waalaikumsalam... " jawab Ayah dan Bunda.


"Hati-hati cell... " sahut Bunda.


"Iya siap Bunda... " sahut Marcell menaiki motornya.


Nanda segera naik motor dan memeluk pinggang Marcell dengan erat. Takut jatuh.


"Emang di sana udah ada siapa aja?" tanya Marcell.


"Baru ada Agung sama Rara... Putri sama Ihsan lagi di jalan, " jawab Nanda.


"Oke... mau ngebut?" tanya Marcell.


"Gasss... " sahut Nanda.


Marcell melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sampai Nanda harus berpegang erat ke pinggang Marcell.


Sampai di sana, sudah terlihat motor Agung dan Ihsan baru saja sampai. Marcell segera memikirkan motor di dekat motor Ihsan, dan masuk bersama dengan Nanda ke beskem.


"Hello gays.. " teriak Nanda.


"Wwoooo.... datang juga nih anak... lama kalian... " sahut Rara.


"Ini nih yang lama... " sahut Nanda.


"Kan salah elu, siapa suruh lu masukin sambel 2 bungkus sekali gus, " sahut Marcell.


"Oh iya... btw mana Dinda sama Angga?" tanya Nanda.


"Mereka belum datang, kalo Lukman lagi otwe, " sahut Putri.


"Tumben lu bareng sama Ihsan, " sahut Nanda duduk di samping Rara.


"Soalnya kalo gak ada yang nyamper, gue gak di bolehin sama nyokap, " jawab Putri.


"Mm... terus lu di sogok pake apa, sampe si Ihsan mau ngejemput lu?" tanya Marcell.


"Yak gue bilang, nanti kalo udah beres kumpulan kita makan di cafe, biar gue yang traktir, " sahut Putri.


"Pantesan aja mau di ajak kumpul, " sahut Marcell tak aneh lagi.


"Lu yakin Dinda bakal datang ke sini?" tanya Putri.


"Kalo kata gue sih, dia bakal datang... siapa juga yang gak mau kelewatan soal Nanda sama Marcell... " sahut Rara.


"Kalian malah ngedukung Dinda di banding gue... " sahut Nanda.


"Kali-kali.. " sahut Rara tertawa.


Brum... brum... brum..


"Motor siapa tuh?" tanya Ihsan berdiri.


"Itu bukan si? Motor nya Angga?" tanya Putri.


Ihsan pergi ke luar untuk memeriksa ternyata itu Lukman yang baru saja sampai. Ihsan mengajak Lukman masuk ke dalam.


"Weeeyysss... yang datang ternyata Lukman... gue kira Angga sama Dinda... " sahut Rara.


"Kalo gue emang nye kenapa? Gak seneng lu?" tanya Lukman.


"Bukan gak seneng... cuma gue udah terbiasa liat muka lu, " sahut Rara.


Lukman hanya geleng-geleng kepala, dan beralih ke Marcell dkk yang sedang duduk santai.


"Woyy... apa kabar bro?" tanya Lukman ikut duduk.


"Alhamdulillah baik,, lu sendiri gimana? udah dapet ciwi belum?" tanya Agung.


"Alhamdulillah gue baik, kalo masalah ciwi kita bisa dapet di jalan, " sahut Lukman.


"Wooeeeyy... " sahut Agung salut sambil tepuk tangan.


"Bisa gila gue, deket-deket sama kalian, " sahut Marcell sedikit menjauh.


"Sabar cell... cewek lu aja sans, " sahut Ihsan.


Marcell melihat Nanda yang terus mengobrol dan tertawa bersama sahabat-sahabatnya.


Tak lama mereka mendengar suara motor lagi di luar. Kini Agung yang memeriksa nya.


"Datang juga kalian... "


"Yoi, "


"Masuk, "


Nanda melihat Agung masuk dan di ikuti dari belakang oleh Angga dan Dinda.


"Yoo... ndak lu kalah... " sahut Dinda.


"Yaaaa.a.. a.. " teriak Rara dan Putri sambil menunjuk ke arah Nanda.


"Aaaahh... anj*rrr... " teriak Nanda sambil mengisap wajahnya.


"Kalah apaan?" tanya Angga.


"Yak mana gue tau... " sahut Ihsan tak tau apa-apa.


"Mungkin kalah taruhan, " sahut Lukman.


"Mm... masa iya Nanda kalah mulu, baru pertama kali gue denger, " sahut Marcell tak percaya.


"Yak bisalah, itu buktinya... " sahut Angga.


"Woy, ciwi-ciwi gas ke cafe, " teriak Ihsan.


"Hayuu... " sahut Nanda dkk berteriak.


"Gue baru nyampe... " sahut Angga.


"Oke nanti nanti jangan sekarang, kasian anak orang baru nyampe... " sahut Lukman duduk kembali.


Angga ikut duduk dan mengobrol dengan yang lain.


"Jadi sekarang nih gue cium Marcell nya?" tanya Nanda.


"Jangan jangan... jangan sekarang, nanti di cafe... " sahut Rara.


"G*bl*k, gue malu... mending sekarang aja lah... " sahut Nanda berdiri.


"Jangan sekarang, " sahut Dinda manarik tangan Nanda suruh duduk.


"Gue malu kalo di cafe... " sahut Nanda.


"Dari pada di tengah jalan lu ciuman sama Marcell, " sahut Putri.


"Engga bukan ciuman, itu terlalu beresiko, " sahut Dinda.


"Oh iya lu cium pipi Marcell, " sahut Putri baru ingat.


"Nah kalo itu baru bener... " sahut Rara.


"Hayuu... " sahut Agung.


Dan semua segera berdiri dan berjalan menuju motor masing-masing, dan berangkat menuju cafe 24 jam, milik Marcell.


Brum... brum... brum..


Mereka melajukan motor dengan kecepatan sedang. Di lampu merah Putri dkk terus menggoda Nanda yang sedang memeluk pinggang Marcell. Nanda hanya bisa sabar, ini ujian bagi yang kalah taruhan.


Sampai nya mereka di cafe.


"Kok sepi?" tanya Nanda.


"Katanya ini cafe 24 jam, tapi kok sepi kayak yang udah tutup aja, " sahut Nanda.


"Lu masih belum tau, ini kan cafe puny--" Angga belum menyelesaikan perkataan nya, tapi Marcell sudah menepuk pundak Angga.


"Jangan di kasih tau, gue mau ngasih dia suprise... " sahut Marcell.


"Oh oke... " sahut Angga menggandeng tangan Dinda masuk ke dalam.


"Mm.. uwuuwu mulu... gak bosen, " sahut Putri.


"Iri? Bilang bos... " sahut Dinda.


"Minta di hajar tuh anak, " sahut Rara.


"Lu kan udah punya pacar, kenapa gak gandengan tangan aja, " sahut Nanda.


"Gue gak suka, terlalu alay, " sahut Rara.


"Masuk aja pake gandeng tangan, emangnya dia bakal tersesat, " sahut Agung di samping Rara.


"Tinggal lurus ke depan, gak usah belok-belok, " sahut Lukman berjalan lebih dulu.


"Ayo, lu mau masuk apa diem di sana sama orang gila?" tanya Marcell sudah membuka pintu.


Nanda segara masuk ke dalam bersama Marcell dan duduk di meja panjang yang sudah disiapkan.


"Nah, Nanda silahkan di mulai... " sahut Dinda.


"Awas lu din... " sahut Nanda malu.


"Jangan malu-malu kan suami sendiri, udah sah.. " sahut Rara.


"Oke jangan dulu deh, mending biar lebih seru, kita bikin permainan... " sahut Rara.


"Nah iya ide bagus... " sahut Putri setuju.


"Kita bakal main... "