
"Mm.. gue berangkat yah bang.. assalamu'alaikum, " pamit Rara.
"Wa'alaikumussalam, " sahut bang Thoriq.
Rara pun naik ke dalam taksi dan pergi bersamaan dengan bang Thoriq yang pergi baik motor milik Rara.
Di dalam taksi.
Awal nya Rara ingin memberitahu Agung kalo dia akan ke rumah nya tapi kalo di pikir-pikir bagus nya nggak ngasih tau apa-apa.
Rara pun mematikan ponsel nya dan memasukan nya ke dalam tas yang dia bawa. Sesekali Rara melihat kotak di samping nya.
Emang nya Tante sella suka sama coklat? mana kue nya berlapis-lapis lagi, - gumam Rara.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Rara sampai di depan rumah Agung. Dari luar sudah seperti rumah kosong, tak ada yang keluar masuk atau pun pintu terbuka, bahkan gerbang nya pun masih di kunci rapat.
"Ini rumah atau rumah kosong sih? sepi amat.. kayak kagak ada orang sama sekali, " gumam Rara.
Taksi yang Rara tumpangi sudah pergi. Tak ada pilihan lain sekali Rara menekan bel rumah.
Ting.. tong.. ting.. tong..
Sudah beberapa kali Rara menekan-nekan bel tapi tak ada yang keluar atau membuka pintu sama sekali. "Kayaknya nih rumah udah gak berpenghuni lagi deh.. au ah.. capek, pulang aja dah, " gumam Rara.
Saat Rara membalikan badan untuk pulang, tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang seperti habis dari warung.
Rara kaget dan tak sengaja menjatuhkan tas milik nya, untungnya bukan kue nya. "Aduuhh maaf, saya bikin kaget.. eh bentar, kamu Rara yah? anak nya bu Ikne?" tanya wanita itu.
"I-Iya Tante.. tante kok kenal sama Bunda saya?" tanya Rara.
"Oh, maaf saya belum memperkenalkan diri.. nama saya Sella, ibu Agung, " sahut wanita itu.
Whatt?! ibunya Agung?! - gumam Rara kaget.
"Kamu mau ketemu sama Agung?" tanya Tante Sella.
"I-Iya Tante sama ini.. Bunda ngasih kue ini buat Tante sama Agung, " sahut Rara menunjukan kue yang dia bawa.
"Oh iya, terimakasih, yuk masuk, biar Tante panggilin Agung nya.. " sahut Tante Sella mengambil kotak kue dari tangan Rara dan membuka kunci gerbang satu persatu.
"Kenapa di kunci semua Tante?" tanya Rara.
"Tante juga gak tau, tadi waktu Tante ke warung, nih gerbang gak di kunci.. tapi pas Tante balik ehh... gerbang nya dah di kunci rapat kayak gini.. " sahut Tante Sella.
"Oohh, gitu, "
Ini pasti kerjaan si makhluk astral itu.. dasar lu anak baby, awas lu!! - gumam Rara geram.
Setelah semua kunci terbuka, mereka berdua masuk ke dalam. Tante Sella mempersilahkan Rara duduk di kursi ruang tamu sambil menunggu Agung turun dari kamar nya.
"Agung.. "
"Agung.. cepet turun, ada yang nyariin kamu tuh di depan, "
Suara Tante Sella terdengar sampai ke ruang tamu tempat Rara berada sekarang. Tapi Rara tak memperdulikan nya, Rara hanya melihat ke sekeliling rumah besar dan mewah itu. Dari luar sampai dalam tak ada orang sama sekali, hanya mereka berdua saja yang tinggal di sini?
Tak lama suara langkah kaki yang menuruni tangga itu pun terdengar jelas di telinga Rara. Rara sudah siap mendengar suara anak baby yang sudah lama tak dia dengar setelah lulus sekolah.
"Di mana mah?"
"Di ruang tamu.. ajak dia ke ruang keluarga kita makan kue, "
Langkah kaki itu semakin terdengar jelas dan semakin dekat. Jreng... Terlihat lah seorang lelaki yang berdiri di depan Rara. Dia mengenakan baju kaos berwarna abu-abu dengan celana panjang warna hitam, rambut acak-acakkan.
"Rara? ngapain lu ke sini?" tanya Agung.
"Minta sumbangan, " sahut Rara jual mahal.
"Meni hemm.. " sahut Agung duduk di sebelah Rara.
"Iihh ngapain lu duduk di deket gue? lama masih banyak itu kursi lain, " sahut Rara.
"Kalo gue mau di deket lu emang gak boleh?" tanya Agung.
"Yah, enggak gitu juga sih.. Ya udah deh serah lu, " sahut Rara.
Agung hanya memandangi ponsel nya sedari tadi, tak memfokuskan diri nya kepada alam sekitar atau pun melirik Rara sama sekali.
"Heh! lu masih berduka atas ibu tiri lu itu?" tanya Rara.
"Mm.. yah gitu deh. gue gak tau harus gimana lagi, gue udah coba mengikhlaskan mama Sofi.. " jawab Agung.
"Oh gitu.. lu tinggal berdua aja sama Tante Sella?"
"Iya, besok para asisten rumah tangga mau datang sama sopir juga, jadi nih rumah kagak terlalu sepi amat, "
"Orang di ajak ngobrol lu malah main epep.. udahan dulu napa sih.. " sahut Rara kesal.
"Gimana gue lah, bukan urusan lu juga, " sahut Agung.
"Ck. heh, denger yah, lu itu bakal jadi suami orang nanti nya.. masa iya cuma masalah kecil aja lu udah kayak gini.. "
"Suami orang? bukannya gue itu bakal jadi suami lu yah?"
"Jadi lu udah tau?"
"Ya tau lah, orang gue udah tau dari dulu.. sebelum ketemu sama lu itu, gue udah tau, "
"Trus kenapa lu kagak bilang apa-apa sama gue?"
"Sengaja, "
"Iisshh.. "
Rara semakin kesal sedari Agung hanya menatap ponsel di tangan nya. Dengan paksa Rara merebut ponsel Agung.
"Kalo orang ngajak ngobrol tuh, tolong di liat mukanya, kali-kali kontak mata kek! bukannya liat hape mulu!" teriak Rara.
Agung hanya melihat Rara dengan wajah datarnya. "Apa lu liat-liat?" tanya Rara kesal.
Lu cantik Ra.. - gumam Agung.
"Enggak, " sahut Agung mengalihkan pandangan nya keluar.
Rara hanya memutar bola mata malas nya. "Siniin hape gue.. " pinta Agung.
"Kagak mau.. " sahut Rara.
"Serah lu dah, " sahut Agung.
Nih anak jadi dingin banget kenapa sih.. gak kayak biasanya, ceria, banyak omong, happy, ketawa-ketawa gak jelas, lah ini kebalikan nya.. berasa gue ketemu sama kembaran nya si balok es... - gumam Rara.
Author : Yang di maksud nya itu Marcell
"Anak-anak nih... kue nya.. " sahut Tante Sella menaruh piring berisi kue lengkap dengan pisau nya.
"Nih buat lu, " sahut Agung.
"Iya, makasih, " sahut Rara.
Setelah itu, Agung malah meminta untuk hape nya di kembalikan, tapi Rara menolaknya. "Mana hape gue?" minta Agung.
"Mau apa lu? makan kue sana, buat apa lu megang hape sambil makan, " sahut Rara.
"Lu lagi bicarain diri sendiri?"
"Kagak, gue itu ngasih tau elu bukan ngebicarain diri sendiri, "
"Meni hemm.. ngomong aja iya.. " sahut Agung menyuapkan garpu berisi kue itu ke mulut nya.
"Kagak.. diem lu anak baby, " sahut Rara.
"Anak monyet dasar, "
"Anak baby, "
"Anak monyet.. "
"Baby, "
"Monyet, "
"Baby, "
"Monyet, "
"Baby, "
"Monyet, "
"Weesstt... syuutt... jangan ribut, belum juga nikah udah main berantem-berantem aja, " sahut Tante Sella menengahi.
"Itu tuh mah Rara nya. " sahut Agung.
"Enak aja.. bukan Tante.. itu Agung nya tuh nyari masalah.. "
"Elu yang nyari masalah sama gue, "
"Elu, "
"Elu, "
"Lu, "
"Lu, "
"Lu, "
"Wess.. wess.. yowes terserah kalian mau siapa aja yang salah.. jangan di sini, malu kedenger sama tetangga, udah yah Tante mau ke dapur dulu, kamu juga Agung jangan main hape terus, ajak ngobrol Rara nya.. lagian kalian juga bakal nikah, " sahut Tante pergi.
"Iya mah, "
"Tuh dengerin.. gak bosen lu mingkem mulu di dalem kamar? kalo gue sih enggak bosen, "
"Serah lu, capek gue ngomong sama anak monyet.. kagak ada ujung-ujungnya.. " sahut Agung.
"Eehh... sembarangan aee lu kalo ngomong, anak baby, "
"Apa? lu monyet?"
"Ya apa lu baby?"
"Dasar lu anak monyet, "
"Anak baby lu, "
Mereka terus adu bacot sampai akhir nya mereka capek sendiri dan melanjutkan makan kue bersama.
"Aahh, gue gabut.. eh, lu ada acara lain gak habis ini?" tanya Agung.
"Kagak ada, "
"Ke cafe yuk, makan, berdua, " ajak Agung.
"Hah? gue gak salah denger nih, makan di cafe berdua sama lu?"
"Kenapa? lu gak mau?"
"Bukan gak mau sih, kebetulan gue juga laper, tapi masa iya berdua aee.. kagak ada orang ketiga gituh.. biar seruu... " sahut Rara.
"Trus mau ajak siapa?"
"Siapa aja, asalkan bisa jadi orang ke tiga, "
"Setan, "
"Iya, sekalian bawa iblis juga yah, biar mereka jadi nyamuk, "
"Okee, nanti kalo makan, kagak usah pake bismilah, biar mereka datang, " sahut Agung.
"Siipp.. "
"Oke, gue ke atas dulu, ganti baju, lu tunggu di sini, jangan ikut, " sahut Agung.
"Idihh, siapa juga yang mau ikut lu ke atas, lu pikir gue ini cewek apaan, " sahut Rara.
"Hemm.. "
"Naik mobil?" tanya Rara.
"Naik becak, " jawab Agung.
"Iihh gak mau panass, "
"Trus mau naek apa, mobil apa motor?"
"Motor aja dah, panas, "
Agung menatap Rara tanpa ekspresi, Agung duduk di pinggiran kursi, "Ini gue yang beg0 dengerin lu ngomong atau lu yang salah ngomong?" tanya Agung.
Rara hanya tersenyum, "Au ahh.. udah sanah cepetan, gue udah laper nih, " sahut Rara.
Beehh.. senyuman nya ituu.. ngajak di halalin, - gumam Agung.
Agung pun pergi dan berlari menaiki tangga dengan penuh semangat.