
"Lu pikir pernikahan itu enak? tuh bukti udah ada di depan mata, "
"Jangan ngedoain yang jelek-jelek napa, " sahut Angga.
"haha, kita cuma bercanda kok, "
"Gue dukung lu Angga, "
"Jangan lupa ceritain gimana malam pertama, "
"Kenapa gak nanya aja sana yang udah nikah? malah nanya gue, gue kan belum nikah, " sahut Angga.
"Yang itu gak mau cerita, katanya ini urusan pribadi, " sahut Agung.
"Hooh, okeylah, "
Sementara itu Marcell sedang membaca buku bersama Nanda sedari tadi, sampai pagi.
"Lu dari tadi gak tidur-tidur, " sahut Marcell.
"Udah gak bisa tidur, lanjut baca dong, buku lain, " sahut Nanda.
"Buku ini aja belum beres, udah mau ganti buku lain, gak ada gue cuma bawa buku ini doang, " sahut Marcell.
"Iisshh gak seruu tau, " sahut Nanda manyun bebek.
Gemesh banget sih tuu muka... - batin Marcell greget.
Nanda melirik Marcell yang sedang melihatnya sedari tadi, Nanda yang melihatnya menjadi salah tingkah.
"E-elu ngapain liatin gue mulu?" tanya Nanda.
"Kenapa? lu kan cantik, " sahut Marcell.
Blush...
"Aaahh... hahha... panas, " sahut Nanda mengipas-ngipas wajahnya yang merah.
Marcell hanya tersenyum tipis melihat Nanda yang salting akan ucapan nya.
"Bentar lagi subuh, lu bisa solat kan?" tanya Marcell melihat jam.
"Bisa sih, cuma gak kuat berdiri jadi harus duduk, " jawab Nanda.
"Ya udah hayu, bisa wudhu gak?" tanya Marcell.
"Bisaa... lu mau nuntun gue?"
"Percuma gue anter lu kalo lu mau wudhu batal lagi, " sahut Marcell.
"Ya terus gimana?"
"Minta anter sana... tuh ke Putri, " sahut Marcell melihat Putri yang baru bangun.
"Hoaam... jam berapa sekarang?" gumam Putri.
"Bangun bangun bentar lagi subuh, solat solat, " sahut Nanda menepuk bokong Dinda.
"Aaahh diem, gue mimpi nikah sama yayank, " sahut Dinda.
Angga yang terbangun karena terdengar suara ayanknya menyuap dan melihat Dinda. "Ada apa ada apa?" tanya Angga yang baru bangun dan sekarang sedang mengumpulkan nyawa.
"Tuh ayank lu katanya lagi mimpi nikah, " sahut Nanda.
"Anj*yy... " sahut Angga tersenyum lebar dan menghampiri Dinda.
"Eett jangan deket deket bukan muhrim, " sahut Nanda.
"Apa sih, gue cuma disini kok, gue gak akan megang Dinda ini... " sahut Angga.
"Bukan, 'bukan muhrim' tapi belum muhrim, " sahut Putri.
"Masa, " sahut Nanda.
"Mereka udah tunangan, " sahut Marcell.
"Hah, masa sih? lu gak undang gue sama Marcell, jahat banget lu, " sahut Nanda menepuk pundak Angga.
"Baru tunangan antar keluarga, nanti kalo udah lulus sekolah baru gue bikin acara pertunangan gue sama Dinda, " sahut Angga.
"Hoaamm.. woi berisik gue yang abis mimpi indah seketika hancur berkeping-keping, " sahut Agung melempar bantal ke sembarangan arah dan kembali tidur.
Buukk..
"Aduh b*ngs*t sakit ... " teriak Rara melemparkan kembali bantal itu ke arah Agung.
"Aaarrgghh woi diem!!" teriak Agung kesal.
"Berisik!!" teriak Rara.
"Lah ngapain dua bocah itu?" tanya Putri.
"Biasalah setress, " sahut Nanda.
"Siapa dulu nih yang mau ke air duluan? gue mau mandi, " sahut Putri.
"Gue dulu, gue mau bab, " sahut Ihsan bangun dan segera berlari ke toilet.
"Cepetan, " sahut Angga.
"Aduhhh lama... " teriak Putri.
"Gue baru masuk, " sahut Ihsan.
Putri tertawa, "San cepetan udah 30 menit, lama amat lu di air, " sahut Putri.
"Sabar ege, gue baru buka celana, " sahut Ihsan.
Sementara itu Angga yang sedang mengusap lembut tangan Dinda, tiba-tiba di tendang jauh ke belakang.
Bruukk..
Marcell yang sedang membantu Nanda berjalan kaget dengan keadaan Angga sekarang.
Nanda hanya tertawa, "Ngapain lu di situ, kurang kerjaan?" tanya Nanda sambil tertawa.
Angga sendiri kaget dan hanya tertawa, "Gue juga gak tau, tiba-tiba gue di tendang sama Dinda, " sahut Angga bingung sendiri sambil tertawa.
"Ngigau tuh bocah, " sahut Putri tertawa terbahak-bahak.
Buk... buk.. buk...
"Bangun gempa... " teriak Angga.
"Astagfirullah gempa!! gempa!!" teriak Dinda memeluk selimut.
"Nanda gempa!! kabur kabur!!" teriak Dinda menarik tangan Nanda, tapi sayang Marcell mencegah nya.
Dan kali ini Dinda teriak-teriak dan loncat-loncat mencari perlindungan seperti orang gila. Putri yang sedang memainkan ponselnya mengambil alih dan memvideokan Dinda yang sedang berlarian ke sana kemari tanpa tujuan.
"Awas din... ada rak yang mau nimpa lu... " teriak Putri tertawa.
"Aaaaa!!" teriak Dinda berjongkok sambil melindungi kepalanya.
Agung dan Rara terbangun dan melihat Dinda yang kesurupan, mulai tertawa terbahak-bahak. Ihsan yang sudah selesai dari toilet melihat semua orang tertawa, saat berjalan Ihsan melihat Dinda yang sedang berjongkok sambil teriak.
"Woy, lu ngapain?" tanya Ihsan.
"Gempa gempa... ehh.. " teriak Dinda, saat Dinda membuka matanya melihat semua orang sedang tertawa di sekeliling nya.
Saat melihat Angga yang guling-guling di sofa tertawa melihat kelakuan pacarnya.
"Haha.. itu pacar siapa?" tanya Agung.
"Bukan pacar gue sorry, " sahut Lukman.
"Bukan pacar gue juga, " sahut Ihsan.
"Bukan gue, gue udah punya istri, " sahut Marcell mendudukkan Nanda di kursi roda.
Putri berhenti memvideo Dinda dan menyimpan video itu. Nanda yang sedari tadi melihat Putri yang terus memainkan ponselnya, "Put, video tadi kirim ke gue, " sahut Nanda.
"Iya siap, " sahut Putri singkat.
"Dasar pacar b*ngs*t... " teriak Dinda geram menghampiri Angga yang masih guling-guling.
"Lagian elu ngapain hah? nendang gue tanpa alasan, " sahut Angga masih tertawa.
"Sejak kapan, gue nendang elu... " sahut Dinda mencekik leher Angga pelan.
"Aakh aakhh iya iya... maaf maaf, " sahut Angga.
Dinda melepaskan cekikan nya dan kembali ke posisi duduk. Saat Angga bangun tiba-tiba Dinda mencubit tangan dan kaki Angga dengan geram.
"Aaa... sakit beb!!" teriak Angga elus-elus tangan nya.
Dinda hanya memutar bola mata malasnya, "Bodo, " sahut Dinda kesal.
"Udah, bentar lagi azan, sana put duluan mandi, " sahut Marcell.
"Iya, ehh, btw lu mau dibawa kemana tuh Nanda?" tanya Putri.
"Katanya dia gak bisa berdiri kalo lagi solat, jadi solat sambil duduk aja, " sahut Lukman.
"Ooh, lu mau gue bantuin wudhu gak? udah Putri gue mau langsung wudhu, mandi nanti aja di rumah, " sahut Rara.
"Boleh, " sahut Nanda.
"Gue duluan yah, " sahut Putri berjalan masuk ke dalam toilet.
"Iya, " sahut semua orang.
Marcell yang sedang sibuk membereskan baju-baju Nanda ke dalam koper, sedangkan Angga, Lukman, dan Ihsan sibuk memasukan makanan yang tersisa ke dalam kantung plastik.
"Kalian kayak kekurangan makanan aja di rumah, " sahut Rara.
"Gue mah selalu kurang, " sahut Lukman.
"Kalo elu sih gue gak herman lagi, tapi ini Agung sama Ihsan kenapa ikut-ikutan?" tanya Rara.
"Gue laper, " sahut Ihsan.
"Bapak gue lu sebut-sebut, izin dulu kek, " sahut Agung.
"Oh nama bapak lu herman? baru tau gue.. " sahut Rara.
"Makanya gaul dong sama cowok sama fans-fans gue.. " sahut Agung.
"Najis, " sahut Rara.
"Ra, lu mandi di rumah?" tanya Dinda.
"Iya, kalo mandi di sini, gak enak, " sahut Rara.
"Oh oke, " sahut Dinda.
"Iiihh apaan niihhh... " teriak Putri dari dalam toilet.
"Kenapa?" tanya Rara segera berlari menghampiri Putri.
Putri bergegas keluar dari toilet menggunakan handuk kimono, "Ihsan lu kenapa gak siram yang bener sih?!! jijik tau, " sahut Putri.
"Astagfirullah... " gumam Agung segera menutup mata.
"Oh tidak mata ku.. " teriak Lukman menutup mata, lalu melihat sedikit ke arah Putri lalu menutup kembali matanya.
Wajah Ihsan seketika merah seperti tomat rebus, "A-a-apa sih?" tanya Ihsan gagap.
"Pake yang bener handuknya, " sahut Nanda.
Nanda melihat ke arah Marcell yang terus melihat tubuh Putri yang telanjang hanya saja tertutupi handuk kimono.
"Tutup mata g*bl*k, " teriak Nanda menutupi mata Marcell.
"Apa sih? gue kan udah pernah liat lu kaya gitu... " sahut Marcell.
"Itu kan gue, istri lu sedang Putri itu orang lain, " sahut Nanda.
Dinda melihat Nanda yang marah-marah kepada Marcell karena tak menjaga mata, saat itu juga Dinda sadar kalo Angga melotot melihat paha Putri yang putih dan mulus terpampang nyata di depan mata.
"Anak b*ngs*t... jaga mata... " teriak Dinda menutupi mata Angga dengan bantal.
"Adduuh, "
Angga hanya bisa pasrah dengan keadaan. Sedangkan itu Putri masih marah-marah kepada Ihsan, yang lain hanya menyimak.