
Sekarang mereka bertiga sudah ada di atas gedung. Tidak ada apa-apa di atas sana, hanya ada mereka bertiga. Ayah Endi semakin waspada kepada Bagas yang entah akan melakukan apa.
"Sekarang kita udah ada di sini... Beritahu kami berdua, apa yang kamu rencanakan?" tanya Pak Budi.
"Pertama, pak anda kenal dengan orang yang bernama pak Herman?" tanya Bagas mulai serius.
"Iya kenal, dia adalah karyawan saya yang saya percayai, emang ada apa?" tanya Pak Budi.
"Karyawan sangat dipercaya,tapi di belakang dia mengambil uang perusahaan sekitar 50M , sedangkan bapak tidak tau?"
Pak Budi yang mendengar nya kaget dah geleng-geleng kepada tak percaya, "kalo dia emang mengambil uang sebesar 50M , mana buktinya?"
Bagas menepuk tangan dan datanglah dua orang lelaki sambil memegang beberapa berkas di tangannya, lalu menyerahkan nya ke pak Budi.
"Silahkan dibaca, " sahut Bagas.
Pak Budi membuka berkas itu dan melihat semua uang yang dikeluarkan oleh pak Herman ternyata untuk...
Dengan cepat pak Budi menelpon asisten nya untuk memeriksa keuangan perusahaan. Dan ternyata benar saja uang sebesar 50M tiba-tiba lenyap tanpa sepengetahuan Pak Budi.
"Pak Budi ini termasuk lima perusahaan terbesar di jakarta, jika anda tidak mengetahui tentang masalah sebesar ini, bagaimana dengan nasib anda dan keluarga, "
"Selanjutnya pak Endi.. Anda adalah seorang Jaksa yang adil bukan?"
"Iya tentu saja, saya akan melakukan apapun asalkan itu demi kebaikan, " sahut pak Endi.
"Dulunya bapak berusaha menyelidiki hilangnya seorang anak berusia satu tahun yang hilang secara misterius bukan?"
"Bagaimana kamu... "
"Bagaimana saya tau? Anda tidak perlu tau, sekarang anak itu sudah berusia 18 tahun, dia adalah anak dari ibu sella, suaminya telah meninggal dunia tanpa diketahui oleh siapa pun, termasuk istrinya sendiri, "
"Suami bu sella ini adalah salah satu karyawan yang dulunya bekerja di perusahaan pak Budi, "
Pak Budi dan pak Endi hanya terdiam dan terus mendengarkan.
"Nama suami bu sella adalah pak Irfan, mereka telah mempunyai seorang putra yang bernama sulaiman zamzami, setelah sulaiman berusia satu tahun dia tiba-tiba menghilang dan pak Irfan meninggal dunia di rumah yang sedang menjaga putra nya itu, "
Pak Endi mulai ingat kejadian itu dan terus mendengarkan dengan seksama tidak melewatkan satu pun.
"Setelah beberapa menit bu sella kembali dari pasar swalayan dan dia terkejut melihat suami yang penuh dengan darah dan juga putra nya telah hilang. Bu sella syok berat dan masuk rumah sakit, setelah beberapa hari, pak Herman datang dan bicara tentang warisan dari pak Irfan, "
"Pak Herman memberitahukan kalo dia punya seorang putra berusia satu tahun tapi dia tidak punya ibu, dan mereka pun menikah selama 4 tahun, lalu mereka bercerai dengan resmi, "
"Tunggu dulu, bagaimana kamu tahu soal kisah pak Herman?" tanya pak Budi.
"Sudah saya bilang, ini adalah sebuah rahasia, kalian akan tau saat sudah saatnya, boleh saya lanjut kan?"
"Iya silahkan, "
"Tolong jelaskan lebih rinci, "
"Itu bisa di atur, tolong berikan kepada mereka berkas berwarna merah, " sahut Bagas kepada orang-orang nya.
Mereka berdua segera memberikan berkas yang diminta kepada pak Endi dan pak Budi.
"Simpan berkas itu, kalian akan tau kelanjutan dari cerita saya setelah ini, " sahut Bagas.
"Selama 4 tahun terakhir, bu sella percaya kalo Agung adalah sulaiman anak kandung nya.. "
"Agung?" tanya pak Endi terkejut.
"Iya benar, Agung anak dari pak Herman dan bu sofi, sebenarnya mereka bukanlah keluarga, pak Herman menikah dengan bu sofi secara sirih, "
"Jadi maksud kamu, agung adalah anak dari sella, "
"Iya benar, Agung sebenarnya adalah anak dari bu sella dan juga pak Irfan, bukan anak kandung dari pak Herman, "
"Apa tujuan dari pak Herman?"
"Kalian tau, kalo bu sofi adalah penerus satu satunya keluarga terkaya dari Thailand, "
"Ini semua demi harta maksud kamu?"
"Iya benar demi harta, "
"Siapa istri pertama pak Herman?" tanya pak Budi.
"Jadi anda sudah tau kalo pak Herman punya seorang istri, "
"Iya, tolong jelaskan, " pinta pak Budi.
"Nama istri pak Herman adalah Ryan, pak Herman cerai dengan istri pertama nya lalu menikah dengan sella karena harta, karena sebelum pak Irfan meninggal dia telah meninggalkan warisan kepada istri dan juga anaknya, "
"Sekarang aku mengerti... Apa yang rencana mu sekarang Bagas?" tanya pak Budi.
"Jangan banyak basa basi, sekarang saja tolong beritahu intinya, " sahut Pak Endi.
"Kalo kalian memaksa yak sudahlah... Begini... "
Bagas memberitahu rencana nya secera detail kepada pak Endi dan Pak Budi.
"Bagaimana apa kalian siap menanggung nya?" tanya Bagas.
"Okeh, saya setuju... Sebagai jaksa saya berjanji akan membebaskan anda dari penjara setelah semua ini selesai, " sahut pak Endi.
"Iya terimakasih, dan untuk pak Budi saya akan meminjamkan beberapa bodyguard untuk anda, " sahut Bagas.
"Iya terimakasih, " sahut pak Budi.
"Tolong rahasiakan ini dari Nanda dan juga Marcell, biarkan mereka tau setelah semua nya berakhir, " sahut Bagas.
"Baiklah, " sahut pak endi pak Budi barengan.
"Terimakasih atas perhatian kalian dan terimakasih juga telah menyetujui rencana saya, kalian boleh pergi, " sahut Bagas.
"Tunggu, dimana bu sella tinggal saat ini?" tanya pak Endi.
"Di garut, pak Endi boleh pergi ke sana kapan saja, " sahut Bagas.
"...... "
"Saya akan memberikan alamat bu sella lewat pos atas nama pak Endi, " lanjut Bagas.
"Baiklah kalau begitu, penyelidikan selanjutnya serahkan saja pada saya, " sahut pak Endi.
"Iya terimakasih pak Endi atas kerja sama nya, " sahut Bagas.
"Iya sama-sama Bagas, semoga kamu juga mendapatkan petunjuk lainnya, " sahut Pak Budi mengulurkan tangan.
Bagas menyahut tangan pak Budi, bersalaman. "Saya harap juga begitu, " sahut Bagas.
"Kalau begitu Bagas, kami akan kembali ke bawa untuk memeriksa keadaan Nanda, kamu mau ikut kami atau tidak?" tanya Pak Budi.
"Tidak pak terimakasih, saya harus tetap di pihak lain untuk mendapatkan petunjuk yang jelas, " sahut Bagas.
"Oh yak sudah kalo begitu, ayok pak, " sahut Pak Budi.
"Mari.. " sahut pak Endi.
Pak Endi dan Pak Budi telah pergi, kini hanya ada Bagas dan dua pengawalnya.
"Pak apakah saya harus tetap memata-matai Mila?"
"Iya, jangan sampai dia tau kalo kamu sedang memata-matai nya.. Walau kamu tertangkap tetap tidak boleh memberitahu siapa yang menyuruhmu melakukan ini, kamu paham?" ucap Bagas sedikit tegas.
"Iya pak saya paham, saya permisi, "
"Iya, "
Bagas memandang langit dengan kedua matanya, "Kamu cari tau dimana pak Herman berada sekarang, " sahut Bagas.
"Siap pak, "
"Jangan lupa kirim bodyguard untuk menjaga bu sofi dari jarak aman, " sahut Bagas.
"Baik, saya akan menelpon nya sekarang, "
Bagas tersenyum, "Pak Herman kamu gak akan bisa lolos kali ini... Kamu akan dalam genggaman ku mulai sekarang, " gumam Bagas.
"Selanjutnya gue harus minta bantuan ayah ibu Putri di Jerman dan juga Ihsan, Lukman buat jaga-jaga kalo rencana ini gagal, " gumam Bagas.
Bagas berjalan ke sama kemari memikirkan sesuatu, "Siapa yang orang-tua nya hakim?" tanya nya sendiri.
"Kalo gak salah.... Melodi sama Caca orang-tua mereka hakim, minta bantuan mereka, gue harus cari bukti kalo Mila cuma memanfaatin mereka doang, susah... " gumam Bagas menggaruk kepala nya yang tak gatal.
Sambil memikirkan cara agar Melodi dan Caca membantu, Bagas segera kembali ke mobil yang terparkir di depan rumah sakit.
"Gimana den, rencana aden berhasil?" tanya supir Bagas.
kalo gak salah ini supir pemberian Mila, heh, dia mau ngawasin gue pake cara kuno, pinter dikit napa sih mil, - batin Bagas.
"Nggak pak, mereka gak mau membantu, jadi saya harus cari bukti lain, " sahut Bagas berbohong.
"Oh gitu yah den... Sekarang kita mau kemana?"
"Kita ke rumah Caca, " sahut Bagas memainkan ponselnya.
"Iyah siap den, "