
"Najis.. Dasar cewek murahan, " sahut Ihsan.
"Hoeekk.... Kuat banget yah di Dwi hadepin kakaknya, " sahut Agung.
"Pacarin aja Lukman kasian Dwi, " sahut Angga.
"Mm.. Iya juga yah, nanti santai gue pdkt, " sahut Lukman.
"Sip sip.. " sahut Ihsan.
"Hayoo balik, " sahut Marcell.
"Joomm, " sahut Angga.
Marcell dkk segera kembali ke kantin setelah menemukan Ihsan yang hilang. Sampai di kantin, tidak ada Nanda, atau siapa pun, bahkan meja yang mereka duduki sudah di tempati oleh orang lain.
"Lah, kemana Dinda? Yayank gue kemana?" tanya Angga celingak-celinguk.
"Mungkin dah balik ke kamar, " sahut Marcell.
"Oh yak udah kalo gitu.. Hayu gas balik, " sahut Agung.
"Mana katanya bidadari gue kangen tapi kok gak ada?" tanya Ihsan melihat ke sekeliling.
"Telat, ciwi-ciwi dah balek ke kamar, " sahut Angga.
"Trus kemana wahyu?" tanya Ihsan.
"Katanya harus balek ke ruangan, gak tau harus ngapain, " sahut Agung.
"Tapi kalo gini sih seruu... Lagian udah lama juga kita jarang reunian, " sahut Lukman.
"Hem, iya juga yah.. Eehh gue harus ketemu sama bebeb gue.. " teriak Angga.
"Berisik.. " sahut Agung menutup mulut Angga dengan tangannya.
"Jangan bikin keributan di pagi harii.. " sahut Marcell.
"Udah, mending sekarang balek ke kamar, " sahut Ihsan jalan duluan.
"Kalem napa, " sahut Angga.
"Udah gak sabar pengen cepet-cepet ketemu bidadari, " sahut Lukman.
"Apa sih.. Kalo iya emang kenapa?" tanya Ihsan.
"Nggak papa sih, sekalian gue mau pamer dapet nomor ciwi cantik, " sahut Lukman.
"Pamer aja terus, nanti perasaan gak di terima nangisss.. " sahut Angga.
"Anj*rr... Yah jangan di do'ain kayak gitu.. Nanti jadi kenyataan, " sahut Lukman dengan wajah sedihnya.
"Oooo iyaiya... Gak akan kok sayang, mamah bakal ngedoain semoga berhasil, " sahut Agung.
"Setreess.. " sahut Marcell, Ihsan barengan.
Marcell, Ihsan, dan Angga segera berjalan pergi duluan meninggalkan Agung dan Lukman yang masih bercanda di belakang.
"Ehh bentar tungguin, " sahut Lukman.
Lukman dan Agung pun ikut pergi menyusul mereka yang sudah ada di depan.
.
.
.
.
.
Setelah menyusuri lorong yang panjang dan ramai akan banyak orang, akhirnya mereka sampai di kamar yang dituju.
Cklekk..
"Assalamualaikum, " ucap Marcell dkk.
"Waalaikumsalam, " jawab Nanda dkk.
"Lho, kalian mau kemana?" tanya Ihsan melihat Nanda dkk sedang membereskan baju-baju.
"Yah pulang lah, mau ngapain juga nginep lama-lama di sini.. Males banget, " sahut Ihsan.
"Sini buat gue bantuin, " sahut Marcell mendatangi Nanda.
"Iya, makasih, eh btw kalian kok lama benget? Habis dari mana?" tanya Nanda.
"Lu pikir nyari anak orang ilang itu gampang?" tanya Marcell.
"Yah engga.. Terus gimana udah ketemu sama anak orang yang ilang itu?"
"Udah, tuh lagi duduk sama Putri di sofa, " sahut Marcell.
"Mm, " Nanda hanya bergumam menanggapi perkataan Marcell.
"Tadi di toilet kita di godain cewek lain, " sahut Lukman.
"Apa?!" teriak Nanda, tiba-tiba menaikan kepala dan kejedot hidung Marcell.
Duukk
"Aarrgghh.. "
"Aduuhh pala gue.. Sakit... " sahut Nanda memegang kepalanya yang sakit.
"Idung gue.. " sahut Marcell.
"Sakitt... " sahut Nanda sambil menatap sinis kepada Marcell.
"Apa? Lu yang salah, " sahut Marcell.
"Siapa cewek itu?" tanya Dinda.
"Namanya lerry, " jawab Angga.
Dinda dan Nanda berdiri, "Dimana kamar nya?" tanya Dinda.
"Eehh beb.. Santai santai, dia gak ngegodain aku kok, cuma ngegoda Marcell aja, " sahut Angga.
"Sama aja ege... Siapa yang punya nomor hapenya?" tanya Dinda.
"Gue punya nomor hape adiknya bukan punya lerry, " sahut Lukman.
"Kirim nomor nya ke gue.. " sahut Nanda.
"Eh eh kalian berdua kenapa sih? Kalo Dinda gue udah biasa, ini Nanda kok ikut-ikutan?" tanya Putri.
"Dia ngegoda suami orang, gue istri nya.. Mana bisa gue diem aja, " sahut Nanda.
"Sabar sabar.. Lagian elu megang hapenya gue kan? Jadi lu gak usah curiga, " sahut Marcell memegang pundak Nanda suruh duduk di kasur.
"Mana bisa cell seorang istri tenang kalo suaminya sendiri di goda sama cewek lain, " sahut Nanda kesal.
"Sabar ibu bos sabar.. " sahut Ihsan.
"Mana bisa.. " sahut Nanda semakin kesal. Rasanya ingin sekali menghajar perempuan itu yang telah berani menggoda cowok orang, apalagi sekarang Marcell adalah suami Nanda.
"Udah, mendung pulang yuk, udah mulai siang juga, nanti bunda sama Ayah makin khawatir lagi, " sahut Marcell.
"Nggak.. Gue mau ketemu sama cewek itu sekarang titik, " sahut Nanda.
"Udahlah nanti juga ketemu di parkiran, " sahut Lukman.
"Maksud lu?" tanya Dinda.
"Udah mulai chatan lu?" tanya Agung.
"Iyalah, gue mah friendly sama siapa aja, " sahut Lukman.
"Halah bacot, kayak gimana sih orang nya?" tanya Dinda.
"Dia orang nya cantik, seksi, penampilan nya menawan, terus.. "
"Udah diem, Nanda sama Dinda tuh semakin panas, " sahut Rara.
"Ooh sorry, itu ciri-ciri Lerry yah bukan dwi, " sahut Lukman.
"Lerry itu kakaknya?" tanya Putri.
"Iya, " jawab Lukman.
"Oh okeh, " sahut Putri.
"Ini nasihat gue buat Angga sama Marcell nih yee... Nanti kalo udah sampe parkiran tolong gendong pasangan nya masing-masing, kalo gak mau ada keributan, " sahut Rara.
"Gue sih iya aja, tapi nanti kalo mereka memberontak gimana? Pas di gendong? " tanya Angga.
"Yah lu pikirlah sendiri, masa iya gue lagi yang harus ngasih tau sana sini nya?" tanya Rara.
"Dah dah, mending sekarang kita langsung aja ke parkiran, semoga aja gak ketemu sama dwi sama lerry, " sahut Putri.
"Nah gue setuju, " sahut Ihsan.
"Setuju mulu lu, kalo Putri ngomong, " sahut Agung.
"Apa sih, " sahut Ihsan.
"Jadi ini siapa aja nih yang bawa kendaraan?" tanya Putri.
"Semua cowok bawa motor kecuali Marcell bawa mobil, " sahut Angga.
"Ooh, oke, siapa yang sedia ngebonceng gue sampe rumah?" teriak Putri.
"Gue bersedia, " sahut Ihsan sambil mengcungkan tangan ke atas.
"Oke gue sama Ihsan, kalo Rara lu sama siapa?" tanya Putri.
"Gue sama siapa aja juga Oke, " sahut Rara.
"Jangan sama gue, gue mah bakal lama, gue mau nungguin calon bidadari, " sahut Lukman.
"Berarti tinggal Agung aja yah sendiri? Oke Rara lu sama Agung aja, " sahut Putri.
"Ddiihh... Enggak" sahut Rara menolak.
"Lah katanya sama siapa aja Oke, yak udah sama Agung, " sahut Putri.
"Biarin kali Ra, jarang-jarang lu di bonceng sama mantan, " sahut Nanda.
"Nah bener itu, kali aja mau combek, " sahut Putri tersenyum.
"Amit-amit.. " sahut Rara.
"Gue masih sama yayank gue kan?" tanya Dinda.
"Iyahh masih.. " sahut semua orang.
Dinda tersenyum, "Iyaiya kalian memang temen-temen gue.. " sahut Dinda.
"Udah cup belum?" tanya Putri.
"Udah deh kayaknya... Gue sama Marcell, Dinda Angga, Rara Agung, Putri Ihsan, terus Lukman sendiri, " sahut Nanda.
"Hahaha.. Masih ngejomblo, " sahut Agung tertawa.
"Gak papa gue di sebut masih jomblo, tapi nanti gak akan, " sahut Lukman.
"Iyah gue do'ain moga lu dapet pacar selambat mungkin, " sahut Rara.
"Secepat mungkin Ra.. Kasian dong, nanti kita udah nikah dia belum, " sahut Putri.
"Oh iya, nanti kita udah punya anak, dia masih jomblo, atau baru mau repsesi pernikahan, " sahut Dinda.
"Iya juga yah kasian.. " sahut Rara, Putri barengan.
Marcell dan Nanda sudah selesai beres-beres kini mereka tinggal pergi ke parkiran dan siap untuk pulang ke rumah.
"Udah yuk pulang, " sahut Angga.
Mereka berjalan keluar kamar, Marcell membawa semua koper dan tas Nanda sedangkan dia sendiri membawa boneka hello kitty punya sendiri, dan yang lain membawa beberapa parsel makanan.
"Emang bener-bener gak adil yah kalian, masa iya suami gue yang bawa semua barang gue... Kalian malah bawa parsel makanan, " sahut Nanda.
"Eehh satu parsel aja berat, dari pada elu cuma bawa boneka satu.. " sahut Angga.
"Eh eh eh beratt.. " sahut Nanda pura-pura terjatuh.
Semua hanya melihat Nanda tanpa ekspresi, sedangkan Nanda hanya tersenyum manis kepada mereka semua.
"Gak usah lebay, " sahut Rara.
"Jadi gue antrin lu sampe mana?" tanya Agung.
"Sampe lubang idung, " sahut Lukman.
"Masa, " sahut Agung.
"Yah sampe rumah lah, lu pikir Rara ini apa? Barang? Pake nanya mau dianterin sampe mana, " sahut Lukman.
"Iya iya.. Gue anterin sampe warung, " sahut Agung.
"Nggak, lu anterin gue sampe depan rumah, " sahut Rara.
"Waahh Rara ini mendatangkan bahaya bagi Agung, jangan mau gung sampe warung aja udah, " sahut Angga.
"Jangan mau sampe gerbang rumah nya Rara gung, udah sampe warung aja, " sahut Marcell.
"Tenang aja kale, abang gue udah pundah ke kosan yang deket sama kuliahan nya, " sahut Rara.
"Oohh aman bro aman, " sahut Angga melihat Marcell.
Marcell hanya mengangguk, "Untung untung, " sahut Marcell.
"Angga mau ke rumah gue lagi?" tanya Rara.
"Gak makasih rumah lu bagaikan neraka bagi hidup gue, " sahut Angga.
Semua tertawa mendengar ucapan Angga barusan. "Gue takut di suntik, " sahut Angga.
"Cemen lu bro.. Masa sama suntikan kecil aja takut, " sahut Ihsan.
"Ini buka suntikan biasa bro, suntikan nya pake obeng, " sahut Angga.
"Waahhh jebol dong tangan lu?" tanya Lukman tertawa.
"Iyalah masa engga, " sahut Angga.
"Dia sampe sekarang masih trauma sama obeng, gara-gara abangnya Rara, " sahut Dinda.
"Tau nih abang lu sakit jiwa?" tanya Angga.
"Apa lu bilang?" tanya Rara berbalik dan menatap Angga sinis.
"Engga maksud gue.. Itu anu... " sahut Angga tak tau harus ngomong apa.
"Udah santuy teteh jago.. Santuy, " sahut Agung menarik tubuh Rara menjauh dari Angga.