My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Gaun Pengantin



Bel pulang sudah berbunyi.


Murid-murid yang ingin segera rebahan di rumah bubar dari sekolahan. Begitupun dengan Nanda dkk, dia melihat Marcell dkk sudah menunggu di parkiran.


Marcell langsung saja membuka pintu mobil untuk Nanda, Angga sudah bersiap untuk berangkat tinggal menunggu Dinda naik saja. Agung cuek dengan Rara padahal mereka akan pulang bareng.


"Masuk, kita langsung ke butik, " ucap Marcell.


Tanpa bertanya Nanda langsung saja masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Dengan santai nya Marcell pun ikut masuk ke dalam dan melajukan nya.


"Di sana masih ada Mamah sama Tante Shera?" tanya Nanda.


"Gak ada, mereka semua udah pulang, " jawab Marcell.


Nanda hanya menarik napas panjang. Nanda melihat Marcell tanpa sedikitpun rasa gugup untuk di hati H.


"Kok lu santai bangett?" tanya Nanda.


"Maksud lu?"


"Yah... lu gak degdegan buat nanti, kan bentar lagi hari H, "


"Kalo masalah degdegan nanti lagi, ini dulu gaun pengantin, "


"Hooh oke... "


Dan percakapan pun berakhir, kini di dalam mobil hanya ada keheningan di antara mereka berdua.


Sampai di butik bu Ikne/Bunda Rara.


"Hallo tante... " sapa Nanda.


Bu Ikne sedang membereskan semua pakaian yang bertumpuk di meja. Dia berbalik dan tersenyum.


"Hallo Nanda syantiikkk... " sahut Bu Ikne memeluk Nanda.


"Iyah Tante... " sahut Nanda.


"Ini calon suami kamu?" tanya bu Ikne.


"I-Iya tante, kok bisa tau?" tanya Nanda.


"Iyah lah masa Tante gak tau, kan mamah kamu sama Bunda nya Marcell datang ke sini... " jawab bu Ikne.


"Tante kenal sama Bunda?" tanya Marcell.


"Kenal dong cell, Bunda kamu dulunya satu sekolah sama Tante sewaktu SMA, " jelas Bu Ikne.


"Hooh, " sahut Nanda tersenyum, Marcell hanya mengangguk.


"Ayo sini, mamah sama Bunda kalian udah milih gaun yang bagus-bagus, tinggal kalian aja yang pilih mau yang mana, " sahut Bu Ikne membawa mereka masuk ke ruangan.


Nanda melihat gaun yang sangat indah di sana berwarna putih.



"Nah kalo ini pilihan Bunda Marcell, " tunjuk Bu Ikne.


Nanda melihat keseliling, memang bagus hanya saja bawahnya terlalu pendek, Nanda ingin berkomentar tapi malu.


"Gaun bawahnya terlalu pendek, " ucap Marcell.


Et dah, tau aja apa yang gue pikirin, - batin Nanda.


"Oh yah, masa sih?!" tanya Bu Ikne kaget sambil melihat ke bawah.


Tuh kan kesinggung, - batin Nanda.


"Kalo pilihan Tante Patmi?" tanya Marcell.


"Kalo pilihan mamah Nanda, ada di ruangan sini... " sahut Bu Ikne menunjuk ke ruangan selanjutnya.


Sebelum masuk ke ruangan selanjutnya, Nanda melihat di ruangan lain ada sebuah gaun yang sangat indah dan dia suka.


"Nah kalo ini gaun pilihan mamah Nanda, " sahut Bu Ikne membuat Nanda terkejut.


"Lu suka sama gaun yang ini atau yang tadi?" tanya Marcell.


"Gue mah terserah lu, " jawab Nanda.


"Kok gue, kan elu yang mah jadi pengantin perempuan nya kenapa gue yang harus milih?" tanya Marcell.


"Iya Nanda, pengantin laki-laki cuma ngikutin gaun perempuan, " sahut Bu Ikne.


"I-iya deh iya... " sahut Nanda malu.


"Kalo menurut lu ini gaun gimana?" tanya Nanda.


"Udah bagus sih, cumaa... "


"Cuma apa?"


"Tangannya panjang, nanti panas, lu gak akan kuat kan pernikahan nya juga di gedung, " sahut Marcell.


"Awalnya Tante juga berpikir kayak gitu, tapi mamah Nanda keukeuh mau gaun ini, " sahut bu Ikne.



"Mm, mendingan pilih sendiri deh Tante, " sahut Marcell.


"Nah iya bener, takutnya ada gaun yang Nanda pengen di sini... ayok Nanda silahkan di pilih, " sahut bu Ikne bersemangat.


Nanda melirik Marcell, dan Marcell melihat nya.


"Kenapa lu ngeliatin gue?" tanya Marcell.


"Gak papa, oh iya tante itu di ruangan lain... " tunjuk Nanda ke ruang sebelum nya.


"Oh kalo di ruangan ini... " ucap Bu Ikne berjalan menuju ruangan sebelumnya.


"Ini gaun rancangan baru, belum ada yang pakai, kalo kamu suka boleh di coba... " sahut Bu Ikne.


"Lu suka sama gaun ini?" tanya Marcell.


"Lumayan suka sih, kalo menurut lu?" tanya balik Nanda.


"Gue juga suka, gak terlalu pendek sama tangannya gak panjang, lu suka sana cobain, " sahut Marcell.



Nanda berjalan ikut Tante Ikne untuk memakai gaun yang Nanda pilih sendiri.


"Gak usah Tante, nanti juga dia liat, " sahut Nanda melepaskan gaun tersebut.


Nanda keluar dari ruang ganti, menggunakan seragam sekolah.


"Udah di pake nya?" tanya Marcell.


"Kenapa lu, ngarep gue nunjukkin ke elu, nanti juga di pernikahan lu liat, " sahut Nanda.


"Yak udah kalo gitu, Tante kita permisi dulu yah, " sahut Marcell pamit pulang.


"Iya hati-hati yah... " sahut Tante Ikne.


Mereka sudah berada di mobil menuju rumah Nanda untuk mengantar dia pulang ke rumah.


"Cell berhenti dulu di tukang batagor, " ucap Nanda.


"Ngidam lu?" tanya Marcell dengan nada mengejek.


"Bukan ngidam, ini mamah nitip batagor, jadi gue harus beliin, " sahut Nanda menunjukkan ponselnya.


Mamah my love


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mamah my love


Ndak kalo udan pulang dari butik, sekalian beliin batagor yah...


^^^Nanda^^^


^^^Iya mah, kalo Marcell mau di ajak beli batagor^^^


Mamah my love


Pokonya harus mau...


Marcell melihat ponsel Nanda, dia mengernyit dahinya.


"Kenapa lu bilang 'Kalo Marcell nya mau di ajak beli batagor' ?" tanya Marcell.


"Biarin... " sahut Nanda.


Marcell melihat tukang batagor di pinggir jalan, dia berhenti.


"Sana katanya mau beli batagor kan, yak udah sana, " sahut Marcell.


Nanda membuka pintu dan segera membeli batagor sesuai dengan permintaan mamah tercinta nya. Marcell hanya melihat Nanda dari kaca mobil depan, sambil memainkan ponselnya sebentar.


Marcell melihat ada seorang laki-laki yang menghampiri Nanda secara diam-diam dan mengobrol dengan nya.


"Hey, kamu Nanda kan?" tanya laki-laki itu.


"Iya kamu siapa yah?" tanya balik Nanda.


"Ini aku bagas, " sahut Bagus.


"Bagas mana, maaf saya gak kenal, " sahut Nanda cuek.


Gak peka banget dah nih anak, biasanya para cewek kalo gue samperin terus di sapa kayak gini langsung jatuh cinta, lah tapi ini... - batin Bagas.


"Eh udah pesen? kenapa gak makan di sini aja sama aku?" tanya Bagas.


"Gak makasih, gue harus pulang cepet, " sahut Nanda


"Eit jangan pergi dulu dong, kamu pulang sendiri kan, nanti sama aku di anterin, " sahut Bagas memegang tangan Nanda


"Lepasin gak lu!!" sahut Nanda.


Tiiit.... tiiit... tiiit....


Marcell membunyikan klakson karena kesal, Bagas segara melepaskan tangan Nanda, dan Nanda segera masuk ke dalam.


Nanda melihat Marcell masih menatap sinis Bagas barusan. Nanda tak berani bertanya atau berbicara melihat Marcell yang masih marah.


"Lu kenal sama dia?" tanya Marcell dingin.


"Gue gak kenal sama dia, tapi dia bilang pernah bertemu cuman gue gak inget, " sahut Nanda.


"Hooh, siapa namanya?" tanya Marcell.


"Kayanya Bagas, tapi gue gak tau dia kelas berapa, " sahut Nanda.


"Awas aja kalo lu selingkuh di belakang gue- gak akan tinggal diam!!" ancam Marcell.


"Belum juga sah, udah berani ngancem, " sahut Nanda.


"Bagus malah kalo gue gini, " sahut Marcell.


"Iya deh iya.. " sahut Nanda.


Sampai lah mereka di rumah Nanda. Marcell memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang, dan Nanda pun turun, melambaikan tangan nya ke arah Marcell.


Nanda masuk ke dalam dengan membawa kantung plastik berisi batagor. Baru sampai di pintu, Nanda sudah di sambut oleh adik-adiknya yang langsung menyambar kantung plastik.


"Batagor batagor batagor... "


"Asyiiikkk batagor... "


"Wah bener-bener gila adik-adik gue, " gumam Nanda.


"Mana Nanda.... Batagor nya?" tanya Mamah berlari kecil ke arah Nanda.


"Yawloh gak anak gak emak sama-sama gesrek, " gumam Nanda.


"Sabar dong... kakak juga belum ngambil batagor, " sahut Nanda mengambil satu batagor itu dan pergi ke kamar.


"Yeeeee licik!!" teriak Betly.


"Gue dua... " sahut Firza sudah ngambil duluan.


"Mamah semua dong, kan mamah yang pesen, " sahut Mamah tak mau kalah.


"Ayah empat dong, kalo bisa, " sahut Ayah ambil batagor itu empat.


"Yah tinggal tujuh batagor nya... " sahut Betly kesal.


"Jangan lupa, sisain buat kakak!!" teriak Nanda dadi kamar.


"Insyallah kalo niat nyisain, " sahut Firza.