
Dunia sedang enggan menampilkan penghias nya. Di belahan mana pun, tidak ada bintang. Bulan pun sama, bersembunyi dibalik kelabu malam. Langit gelap kemerahan, sesekali kilat menerangkan langit dengan sekelebat cahaya disusul suara guruh. Tinggal menunggu waktu langit menumpahkan bebannya.
Di waktu yang sama Nanda sedang bermain ponselnya di balkon kamar nya sendiri. Ponselnya berbunyi ada yang menelpon dari teman-temannya. Nanda segera mengangkat telpon itu dengan malas.
🗣️ : Apaaa...
Dinda : Ndak lu baik kan?
Rara : Gue khawatir sama elu ndak...
🗣️ : Gue baik... gak usah khawatir...
Dinda : Kenapa sih ndak, lu beda banget dari tadi pagi... gue khawatir banget sama elu, apa jangan-jangan...
Rara : Marcell ngelakuin apa sama elu sampe lu kayak gini?
Dinda : Dia bikin lu sakit hati?
Rara : Belum juga jadi suami istri udah dibikin sakit hati....
🗣️ : Marcell gak ngelakuin apa-apa, kalian berdua sana tidur gue lagi gak mood...
Dinda : Tapi nan...
Tut.... tut... tut...
Dengan cepat Nanda mematikan telpon itu dan memandang langit sekejap. Mereka tidak tau kalau sebentar lagi dia akan menikah.
Gue harus gimana?? - batin Nanda bingung.
"Mau ngebatalin, tapi udah terlanjur, " gumam Nanda.
Tak lama setelah itu ada yang mampir untuk menemui Nanda malam-malam.
Tok... tok... tok..
"Kak... ini mamah, ada yang mau ketemu sama kamu di depan... " ucap mamah.
Nanda tersentak dalam lamunannya dan kembali ke dalam kamar untuk membukakan pintu.
"Siapa?" tanya Nanda.
"Ada deh, kamu juga pasti bakal senang liatnya, " sahut mamah berjalan menuju tangga.
"Aku gak mau ketemu sama siapa-siapa hari ini... " ucap Nanda menutup pintu.
Mamah berbalik dan mengetuk pintu beberapa kali sampai Nanda mau menemui Marcell yang sudah menunggunya. Nanda dengan kesal membuka pintu dan menemui Marcell.
"Kenapa lu datang malam-malam kayak gini?" tahta Nanda kesal.
"Gue kesini juga dipaksa sama bunda, " jawab Marcell.
"Kalian jangan diem-dieman dong ngobrol... " sahut mamah membawa cemilan.
"Gak ada topik, " sahut Nanda singkat.
"Ndak... kok kamu jadi gini... kenapa sayang?" tanya Mamah.
Nanda hanya diam tak berkutik, mereka saling terdiam menciptakan keheningan dari tadi. Mamah yang melihat nya pun bingung sendiri.
"Kalian kalo mau ke luar, juga gak papa kok silakan saja, " sahut Mamah.
Nanda dan Marcell berdiri bersama dan berjalan ke luar untuk mengambil udara sejuk. Tak lama Marcell berhenti melangkah, Nanda tak sadar kalo Marcell berhenti di belakang nya.
"Ndak.... lu harus jujur, lu gak mau kan nikah sama gue?" tanya Marcell.
Nanda berhenti tanpa berbalik melihat wajah Marcell sedikit pun, "Gue bukannya gak mau, gue belum siap, " jawan Nanda.
"Kalo lu mau gue bisa ngebatalin pernikahan ini... " sahut Marcell.
"Heeh... gak usah lah cell, gue cuma gak mood aja, " sahut Nanda.
"Lu harus jujur Ndak sama gue... " sahut Marcell berjalan mendekati Nanda.
Nanda masih mematung di depannya tanpa bergerak sedikit pun, Marcell terus berjalan sampai dia ada di hadapan Nanda sendiri.
"Liat muka gue... " sahut Marcell.
Nanda mendongak ke atas dan untuk pertama kalinya bagi mereka berdua kontak mata mereka saling bertemu.
Masih dengan saling bertatapan dalam kesunyian yang mendalam, hanya angin yang mau mengisi kesunyian tersebut.
"Kalo emang lu gak mau nikah sama gue... bilang.. " ucap Marcell dengan masih bertatapan dengan mata Nanda.
Nanda hanya terdiam dalam kesunyian setelah ucapan Marcell barusan. Tak lama hujan deras pun turun bersamaan dengan angin yang berhembus sangat kencang di antara mereka.
Nanda mulai memejamkan mata nya dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Dengan cepat Marcell membuka jaketnya dan menutupi tubuh Nanda,dan membawanya kembali ke dalam rumah.
"Ya ampun kok sampe hujan-hujanan.... nanti kalo kalian sakit gimana... " ucap mamah khawatir membawakan mereka handuk untuk mengeringkan tubuh mereka masing-masing.
"Gak kok mah, tadi terlalu asik ngobrol sampe gak sadar kalo hujan.. " sahut Nanda.
Kenapa lu bohong ndak? - batin Marcell.
"Ya ampun, makanya jangan sering banyak ngobrol... sahut mamah.
"Marcell kamu di sini dulu yah, nanti kalo hujannya udah berenti kamu langsung pulang yah... " sahut mamah.
"Iya tante... " sahut Marcell.
Nanda mengajak Marcell untuk masuk ke kamarnya dan berdiam diri di kamar. Tak beda dengan apa yang di alami mereka berdua barusan di luar.
"Lu mau tau kenapa gue berbohong tadi?" tanya Nanda.
"Iya... " sahut Marcell menutup jendela kamar Nanda.
"Gue gak mau ngecewain mereka berdua... gue sampe denger kalo Betly sama Firza pun di jodohkan kayak gue gini... " sahut Nanda.
"Kenapa?" tanya Marcell menghampiri Nanda yang sedang duduk di atas kasur.
"Gue juga gak pasti.... " sahut Nanda lemas.
"Lo masih mau nikah sama gue?"
"Iya, " jawab Nanda singkat.
"Kapan Betly sama Firza pulang?" tanya Marcell.
"Besok... "
"Habis pulang sekolah, jangan ke langsung ke rumah, "
"Mau kemana dulu?"
"Lu temenin gue main basket di lapangan, " sahut Marcell.
"Enak aja... gue males kalo nunggu-nunggu kayak gitu... " sahut Nanda.
"Yak udah iya, tapi jangan lama-lama... "
"Gak akan paling cuma dua jam.. "
"Sama aja... setan... " sahut Nanda memukul Marcell dengan bantal.
"Aduuh... jangan main pukul-pukul... sakit... "
"Bodoamat... "
Nanda terus memukul Marcell dengan bantal fab terjadilah perang bantal di kamar Nanda. Mereka terus saja bermain sampai jam menunjukkan pukul 23.45 malam.
Marcell pamit pulang dan mood Nanda sudah kembali seperti biasa, sekarang dia sudah bersemangat dan ceria seperti biasa.
lu bener cell harusnya gue jujur aja sama lu... tapi apa boleh buat... lu nya udah terlanjur pergi... - batin Nanda tersenyum.
Mamah yang melihat nya semakin bingung.
nih anak kenapa sih sebenernya, tapi cemberut terus sekarang senyum-senyum sendiri?? Makin bingung sama tingkah Nanda sekarang - batin Mamah.
Nanda terus saja melihat kendaraan Marcell yang semakin menjauh jalanan mulai memanjang memisahkan mereka berdua dengan jarak yang cukup jauh.
"Jangan diliatin teruss... " ucap Mamah berhasil membuat Nanda terkejut dan berbalik.
"Ihss.. mamah ganggu aja... " dengus Nanda kesal.
"Masuk... besok mamah pagi-pagi harus jemput Betly sama Firza di bandara, "
"Sama bunda?"
"Iyalah siapa lagi, jadi nanti sebelum kamu berangkat sekolah adik-adik kamu udah sampai lebih dukungan di rumah... "
Aduuuhhh.... gimana ini... gue gak niat ketemu sama mereka sekarang... - batin Nanda.
Nanda berjalan menuju kamar nya, dia tak bisa tertidur pulas karena terus saja berpikir agar tidak bertemu dengan Betly atau pun Firza besok.
Jam sudah menunjukkan pukul 02.07 malam, tapi Nanda masih belum menutup matanya.
Ting...
Ponsel Nanda menyala ada sebuah notifikasi yang masuk di ponselnya, dia segera bangun dari kasurnya dan mengecek ponselnya.
Marcell
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Marcell
Udah tidur?
Melihat nya saja Nanda sudah kesal, "Ngapain coba dia ngechat gue malem-malem gini? Gak guna emang, " gumam Nanda.
^^^Nanda^^^
^^^Belum... kenapa lu kangen? ^^^
Marcell
Bukan kangen, pas ortu lu pergi lu juga ikut pergi..
^^^Nanda^^^
Mau ngapain, mau kemana gue ikutan pergi juga?
Marcell
Udah nurut aja, lu siap-siapin perlengkapan sekolah, lu mandi pake air anget, terus pake baju seragam, gue jemput lu di dalam rumah pas ortu lu udah pergi...
^^^Nanda^^^
Oh oke, gue ngerti... gue otwe manasin air sekarang,
Marcell
Siip...
Nanda menurut sama apa yang dikatakan Marcell barusan, dia segera memasak air untuk dia mandi, dengan terburu-buru Nanda lupa menyikat gigi.
Dengan langkah berjinjit-jinjit agar mamah dan ayah tak mendengar, dengan cepat kilat Nanda mengunci pintu dan segera mengganti baju menggunakan baju sekolah.
"Okeh gue udah siap, " gumam Nanda.
Saat Nanda akan pergi ke luar, orangtua Nanda sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke bandara. Untungnya Nanda masih memegang ganggang pintu, jadi dia melepaskannya secara perlahan dan masuk ke dalam selimut.
Cklekk..
Pintu terbuka, mamah melihat Nanda masih tertidur pulas.
"Gimana Nanda? masih tidur?" tanya ayah.
"Iya... kayaknya dingin sampe dia nyelimutin ke kepala-kepala... " jawab mamah.
"Yak udah ayoo berangkat, " ajak ayah.
Mamah mengambil napas panjang dan mencium bau parfum Nanda. "Kok bau parfum?"
Yahhh gue lupaa.... ini kan masih terlalu pagi... kenpa coba gue pake parfum segala.... - batin Nanda.
Bentar deh...
Nanda membuka mulutnya, "Hah... "
Iiihhh kok mulut gue bau??.. - batin Nanda.
Nanda ingat karena dia sampai terburu-buru dia lupa untuk menggosok gigi. Kok mamah belum keluar-keluar siihh.... - batin Nanda menahan napas.
"Mamah!!! cepatann!!" teriak ayah dari luar.
"I-iya... " sahut mamah.
Mamah segara keluar dan menghampiri suaminya yang sudah menunggu. Dengan cepat Nanda membuka selimut dan berlari ke kamar mandi untuk menggosok gigi.
Tiit.... tiit... tiit....
Marcell menunggu lama di luar, "Mana sih tuh anak janjian jam segini masih belum keluar juga... " gumam Marcell kesal.
Dengan terpaksa dia masuk ke kamar tanpa izin dan melihat tas dan sepatu sudah siap tapi orang nya tidak ada.
Nanda berlari menuju ruang tamu, "Maaf... ayok cepatann... " sahut Nanda terburu-buru.
Marcell menunggu di atas motor, dan Nanda dengan cepat naik ke motor dan berpegangan ke pinggang Marcell.
Marcell melakukan motornya dengan kecepatan tinggi dan segera meniggalkan perumahan Sukamulya dengan cepat. Mereka berdua menuju cafe 24 jam untuk sarapan bersama.