
Sesampainya mereka semua di Kepulauan Karimunjawa kabupaten Jepara. Bagas dan yang lain berhasil menemukan hotel yang di tempati oleh Sofi dan Pak Herman.
Bagas dan yang lain turun dari mobil. "Ini dia.. " gumam Bagas melihat sekeliling hotel bintang lima itu.
Pak Endi dan Pak budi menghampiri Bagas, "Banyak orang, " bisik Apak Endi.
Bagas hanya mengangguk. "Dalam penangkapan ini kita harus hati-hati, " sahut Bagas.
"Kita masuk.. anggap kita semua ini adalah tamu hotel yang ingin menginap, " sahut Pak Budi.
"Oke, " sahut Shera dan ibu-ibu lainnya.
Mereka masuk ke dalam hotel satu persatu agar tak ada yang curiga dengan keberadaan mereka semua, apalagi hotel bintang lima itu sedang di jaga ketat oleh orang-orang Bagas dan juga beberapa polisi yang menyamar.
Setelah Bagas berhasil masuk tanpa ada yang curiga, mereka menghampiri meja resepsionis.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang yang berjaga di meja itu.
"Iya, saya mau pesan kamar di sini.. " jawab Bagas.
"Sudah pesan lewat handphone?"
"Engga, "
"Oke, tunggu sebentar, saya lihat dulu ada kamar kosong apa engga, "
Bagas hanya mengangguk dan menunggu. Pak Endi dan Bu Patmi datang menghampiri seperti pasangan dan memesan kamar sama seperti Bagas. Begitupun dengan Bu Shera yang masuk bersama suami nya Pak Budi, sedangkan Bu Sella dan Bu Ryan masuk sebagai saudara yang akan berlibur.
Tak lama pelayan itu memberikan beberapa kartu kamar kepada Bagas dan juga yang lain. Walau mereka beda kamar tapi mereka satu lantai, jadi tak masalah.
Mereka semua segera masuk ke dalam lift yang sudah di tunggu oleh pelayan di sana. Saat mereka masuk, Bu Sella melihat seorang wanita yang sedang berjalan ke arah lift sebelah.
Sofi?! jadi benar dia di sini... - batin Bu Sella.
.
.
.
.
.
Sesampainya mereka di lantai 8.
Para pelayan yang bertugas membawakan koper pun ikut sampai, dan menaruhnya di depan pintu kamar mereka masing-masing.
Bu Sella dan Bu Ryan langsung masuk dan mengunci pintu karena lelah selama perjalanan ke sini. Pak Endi dan Pak Budi akan keluar sebentar untuk mengobrol sesuatu.
Saat Bagas akan masuk ke kamar, dia melihat ke arah lift. Bagas awalnya tak peduli, tapi saat melihat sekilas ternyataa yang datang adalah Tante Sofi.
Tante Sofi menggesekkan kartu kamar nya tepat di samping kamar Bagas.
"Tante Sofi, " panggil Bagas.
Panggilan Bagas berhasil membuat Sofi mematung tak berdaya, dia pun melihat ke arah Bagas.
"Bagas?!!" sahut Sofi kaget.
Bagas sedikit menyenderkan dirinya ke dinding, "Kenapa kaget? Tante, bisa kita bicara sebentar?" tanya Bagas.
Sofi melihat ke sana ke mari seperti tak ingin ada yang melihat. "Baiklah, kita bicara di luar saja, " sahut Tante Sofi.
Bagas pun mengangguk, dia segera memasukkan koper milik nya dan berjalan berdampingan dengan Sofi untuk keluar hotel karena ada sesuatu yang harus dia bicara kan.
Mereka berjalan-jalan menyusuri tempat parkir yang ramai akan pengunjung itu. Langkah Bagas terhenti seketika, "Tante, kenapa tante membantu Pak Herman?" tanya Bagas.
Tante Sofi pun berhenti. "Itu bukan urusan kamu, harusnya Tante bertanya sama kamu, kenapa kamu mau mempertaruhkan semuanya demi Nanda?" tanya balik Tante Sofi.
"Masalah itu, bukan lah urusan Tante, tapi Tante ini masalah serius, banyak orang yang sudah jadi korban atas penipuan Pak Herman, bahkan Tante pun sekarang telah di tipu oleh nya, apa Tante gak mau tau siapa yang telah membunuh Ayah Tante? itu Pak Herman Tante, Pak Herman, "
"Engga, itu sama sekali gak mungkin, mana mungkin suami ku sendiri membunuh mertuanya, kamu pikir Tante percaya begitu aja sama kamu? engga Bagas, Tante gak sebodoh yang kamu pikir, "
"Aku gak nganggap Tante bodoh, engga Tante, cuma aku mau Tante sadar, apa yang Tante lakukan itu salah, "
"Tante Ryan sebenarnya adalah istri pertama Pak Herman, Pak Herman nikahin dia karna harta, tapi setelah Tante Ryan bangkrut, Pak Herman menceraikan Tante Ryan dengan beralasan 'kamu gak bisa memberikan aku anak' padahal pernikahan mereka baru berjalan selama delapan bulan, padahal sebulan sebelum mereka bercerai Tante Ryan sedang mengandung, yaitu Mila, makanya aku bawa dia dalam kasus ini, " jelas Bagas.
Sofi tanpa berdiam diri dan melihat ke atas, melihat bintang dan bulan di atas sana.
Kamu gak tau apa-apa Bagas, aku udah nyerah sama keadaan, aku udah bikin sesuatu untuk kalian lihat setelah aku.... maafin aku Bu Sella, aku terpaksa melakukan ini, hidup aku udah gak berarti lagi tanpa kehadiran Ayah... - batin Tante Sofi.
"Ehem.. kalo udah gak ada lagi yang mau di bicarakan, saya permisi dulu.. oh iya, tolong jangan beri tahu siapa-siapa tentang keberadaan ku, dan juga pertemuan ini.. " sahut Tante Sofi.
Setelah Tante Sofi pergi Bagas masih diam di sana sendirian. Bagas tersenyum, "Tante Sofi, Tante Sofi.. aku memang gak tau rencana Tante Sofi untuk selanjutnya, tapi.. hari ini adalah hari terakhir Tante bersama suami tersayang mu itu.. " gumam Bagas.
Bagas mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya, "Senjata ini akan melakukan tugas nya besok.. pagi.. " gumam Bagas.
.
.
.
.
.
Selama liburan ini Nanda dan Marcell jarang belajar mereka sibuk... Marcell sibuk ngurusin restoran nya yang semakin ramai akan pengunjung, walau gak belajar, aneh nya selalu rangking 1 di kelas.
Sedangkan Nanda sibuk nonton drakor bersama Rara, Dinda, dan Putri. Biasalah anak jaman sekarang -_-
Ujian kelulusan mereka berdua akan dilaksanakan besok pagi, sesuai dengan yang Dinda dan Putri prediksi, Nanda dan Marcell sekelas walau beda meja.
"Aaahh... capek banget hari ini.. banyak pengunjung, besok ulangan sama harus nyari koki tambahan... haahhh.. " gumam Marcell merendahkan tubuhnya di sofa.
"AAAAAA!!! MARCELL!!!" teriak seseorang dari kamar dan berlari ke arah Marcell yang sedang rebahan itu.
Marcell gak kaget lagi karena udah hampir setiap hari dia mendengar suara teriak itu yang membuat nya semakin jengkel.
Bruk..
"Nj*rr.. bisa gak sih elu gak usah teriak-teriak.. sekomplek bisa denger tau gak teriakan lu itu.. " sahut Marcell.
"Ya maaf, " sahut Nanda.
"Sekarang apa?"
"Temenin gue nonton film hantu.. " sahut Nanda.
Marcell melirik hape yang di pegang Nanda, tanpa basa basi Marcell langsung saja merebut hape Nanda itu dan membanting nya ke lantai.
"....... "
"....... "
"Hape gue kenapa di banting?" tanya Nanda melihat Marcell tanpa ekspresi.
"....... "
"....... "
Langsung saja Marcell loncat dari sofa dan berlari ke arah tangga menjauhi amukan seorang istri saat hapenya di banting oleh suami.
"WOYY... JIN SETANN!!! INI GIMANA HAPE GUE?!!" teriak Nanda.
Nanda pun loncat dari sofa dan berlari mengejar Marcell yang sudah duluan masuk ke dalam kamar dan mengunci nya.
Mereka berdua tak sadar kalau banyak asisten rumah tangga yang melihat mereka.
"Berantem lagi.. "
"Jangan di tanya.. mereka setiap hari selalu berantem, "
"Semoga mereka gak sama seperti pasangan bar bar di novel sebelah.. "
"Pasangan di novel sebelah malah lebih parah, "
Begitulah ucapan para asisten rumah tangga yang melihat mereka berantem setiap jam, menit, detik, tapi.. tak kurang dari 5 jam mereka akan baikan.