
"Nanti lontong ajarin gue naek mobil dong, "
"Tolong bukan lontong sayur, "
"Lu mau jualan lontong sayur cell?" tanya Nanda bercanda.
Marcell hanya fokus pada jalanan, dan tak melirik ke arah Nanda sama sekali.
"Jangan kacang napa si, gue nanya malah dikacangin, "
"Kacang itu enak, tapi kalo di kacangin nggak enak, " sahut Marcell.
"Tuh tau makanya jangan suka kacang, " sahut Nanda.
Setelah sampai di sekolah, Nanda segera keluar dari mobil dan berlari.
"Kenapa lari?" tanya Marcell.
Tapi Nanda tak mendengar, dia terus berlari sampai ke kelas. Marcell keluar dari mobil dan sudah di sambut hangat oleh para siswi lain. Ada yang ngasih bunga, coklat, dan sebagainya, tapi mereka tidak tahu kalo yang mereka kasih itu di kasih kan kembali ke Nanda.
"Marcell kemarin coklat nya enak gak?" tanya salah satu siswi.
"Gak tau, masih di simpen di kulkas, " jawab Marcell berjalan pergi.
"Kak Marcell jangan lupa yah telpon aku... " sahut salah seorang siswa gatel pada Marcell
Marcell hanya melirik singkat dan pergi berjalan menuju kelas nya.
"Woy, bro lu lama amat dah, tuh udah ditunggu sama OSIS lain, " sahut angga yang baru datang.
"Gue tadi di halang sama siswi lain, makanya lama, " sahut Marcell.
"Cell, tukeran muka dong, gue juga mau kale kayak elu terkenal di kalangan cewek, " sahut Agung.
"Nih ambil nih muka, gue juga risih sama muka sendiri, " sahut Marcell.
"Yee, dasar.... Kalo bisa gue mau ambil muka lu sekarang, " sahut Angga.
"Muka elu udah bagus nj*r, " sahut Agung.
"Oh iya, gue juga terkenal di kalangan cewek yah... " sahut Angga cengengesan.
Marcell hanya menggeleng pelan atas perilaku kedua sahabat nya itu.
"Lu muka pas pasan tapi dapet mulu pacar, lah gue, muka gue ganteng tapi gak ada pacar, kan aneh, " sahut Angga.
"Gak tau, " sahut Agung.
"Lu gak berani ngungkapin, padahal banyak cewek yang nunggu lu nembak, " sahut Marcell.
"Makanya jangan ngasih harapan, " sahut Dinda yang baru datang bersama Rara.
Angga memalingkan wajahnya dan jalan duluan di depan.
"Napa tuh bocah?" tanya Rara.
"Dia suka sama Dinda monyet, " bisik Agung.
"Biasa aja, jangan manggil gue monyet juga, dasar jagung bakar, " sahut Rara.
"Nurutin kata-kata Nanda lu, " sahut Agung.
"Yak emang kenapa?" tanya Rara.
"Gak papa, Nanda aja yang pantas manggil gue Jagung bakar, kalo elu jangan, " sahut Agung.
"Berarti gue harus bilang elu anak baby, "sahut Rara langsung berlari.
"Eeehhh, enak aja lu... Jangan lari lu... " sahut Agung kesal mengejar Rara.
"Cell, mana Nanda?" tanya Dinda.
"Gak tau, " sahut Marcell singkat.
"Kan tadi berangkat nya bareng, " sahut Dinda.
"Dia langsung lari gak tau kemana, " sahut Marcell.
Dinda hanya diam, dan masuk ke kelasnya. Dia melihat Agung juga ada di kelasnya masih mengejar Rara.
"Udah berenti napa si kek anak kecil aje, " sahjg Mike.
"Dia nih manggil gue anak baby, dasar monyet, " sahut Agung.
"Anak baby, anak baby, " ejek Rara.
BRAKK..
Nanda memukul meja dengan sangat keras, "Woy!! Jangan berisik napa si, "
"Lu napa ngegas si?" tanya Agung
"Sekarang ada ujian IPS anj*r, " sahut Nanda kesal.
"Napa lu gak bilang!!" sahut Mike langsung membuka buku dan belajar.
"Kita anak IPS awas aja nilai kita kecil, " sahut Nanda.
"Tenang aja, ada abang Mike pasti juara 1, " sahut Mike.
Agung yang sedang berada di sana melihat Nanda yang fokus akan belajar, ujian dan semacamnya mirip sekali dengan Marcell yang tak mau di ganggu.
"Dia mirip banget sama Marcell, " bisik Rara.
"Iya pasti nya, Marcell gak mau nilai nya kurang dari 90 , " sahut Agung.
"Lah Nanda gak mau nilainya kurang dari 85," sahut Rara.
"Mereka memang cocok yah, nanti pasti anak nya kayak gitu, " sahut Rara.
"Kalo soal anak jangan di tanya, yang pasti bakal mirip sama mereka berdua yang rajin belajar, " sahut Agung.
Siswi lain mendengar nya merasa tak suka. Tapi mereka semua sadar, kalo Nanda memang cantik, rajin belajar, selalu mendapat juara 1 di sekolah, tapi aneh nya dia selalu bolos di pelajaran Fisika.
"Gung ngapain lu masih disini?" tanya Dinda.
Agung sadar kalo dia ada di kelas IPS 3 , "Gue permisi dulu yah, Assalamu'alaikum, " pamit Agung.
"Walaikumsalam, " sahut semua anak di kelas.
"Yah sepi dah, " sahut Rara.
"Napa lu, kesepian ditinggal sama abang Agung?" tanya Dinda.
"Bukan itu, sepi kalo Nanda fokus sama buku, " sahut Rara.
"Iya juga sih, enakkan kalo Nanda bobrok, " sahut Dinda.
"Lu gimana lagi suka sama anak geng motor mana?" tanya Rara.
"Gak ada, semuanya kek banci, " sahut Dinda.
"Lu gini-gini anak motor yah, gue salut sama lu, " sahut Rara.
Nanda menutup bukunya karena sudah cukup materi masuk ke otaknya. "Kenapa gak jadian saja sama Angga?" tanya Nanda.
Rara dan Dinda berbalik, "Lu udahan belajar nya?" tanya Dinda.
"Udah penuh gak bisa masuk lagi, " sahut Nanda.
"Angga mana?" tanya Dinda.
"Emang dia anak motor?"
"Iya, kata Marcell, " sahut Nanda.
"Omg, sikat aja lah Din.. " sahut Rara.
"Main sikat-sikat aja lu, " sahut Nanda.
"Tau nih, gue gak mau jadi playgirl kayak elu Ra.. " sahut Dinda.
"Gue nggak pernah maksa lu buat jadi playgirl, gue cuma saranin cepet jadian sama Angga, " sahut Rara.
"Iya kan lu sendiri juga sama Angga Din, " sahut Nanda
"Nah iya bener, " sahut Rara, dia juga tau kalo Angga suka pada Dinda.
Rara berpindah ke meja Nanda dan membisikkan sesuatu, "Nanda sini deh, " panggil Rara agar Nanda sedikit mendekat.
"Apaan?"
"Angga suka sama Dinda kata Agung, terus Dinda suka sama Angga, gimana menurut lu?" bisik Rara.
Nanda tersenyum, dan mengangguk pelan pada Rara memberi kode.
"Aduuuh gimana yah, kalo Ra lu aja deh yang jadian sama Angga, " sahut Nanda.
Mata Dinda melotot tapi tak bisa berkomentar karena dia takut kalo mereka tau.
"Emang nya gue sama Angga cocok Ndak?" tanya Rara.
"Jangan di tanya lagi, lu berdua memang cocok banget, " sahut Nanda.
"Yak udah gue mau jadiin Angga ke 5 aja deh, biar dia tau rasanya sakit hati, " sahut Rara yang semakin menjadi-jadi.
"Nah iya bag--"
"Nanda ada yang nyariin elu di depan, " teriak Salsa.
"Siapa?" tanya Nanda.
"Dia orang nya ganteng, putih, tinggi, cool, " jawab salsa.
Nanda semakin penasaran dengan ciri-ciri orang yang disebutkan oleh Salsa. Tanpa berpikir panjang dia berdiri dan menghampiri orang tersebut.
"Elu... " gue pikir cogan yang cari gue, " sahut Nanda.
"Kan ini cogan ndak yak ampun, " sahut Salsa.
"Diem deh lu, sana lu belajar, awas aja kalo dapet nilai kecil, " sahut Nanda, mengusir Salsa.
"Anti banget lu sama nilai kecil, " sahut Salsa meninggalkan Nanda berdua dengan Marcell.
"Mau apa lu?" tanya Nanda.
Marcell mengeluarkan dompet nya dan memberikan uang selembar 50.000 kepada Nanda.
Alah mak itu uang biru+merah, banyak lagii... - batin Nanda.
"Nih, kurang gak?" tanya Marcell.
"Nggak kok udah cukup, terus nanti ini gimana uang dari ayah?"
"Disimpen aja, siapa tau nanti ada keperluan sekolah, " sahut Marcell berjalan pergi.
"Alaahhhhh.... "
"Cieee..... "
Nanda kaget dan berbalik, "Kalian berdua ngapain?" tanya Nanda.
"Dikasih uang biru..... Ciee... " sahut Rara.
"Traktir dong mak, " sahut Dinda.
"Lu lebih kaya dari gue, masih minta traktiran, " sahut Nanda.
"Kaya apaan gue?" tanya Dinda.
"Kayak anak monyet, "sahut Agung yang tak sengaja lewat di depan kelas IPS 3.
"Nyambung mulu lu... " sahut Rara kesal.
"Cieee.... Disebut anak monyet sama yayang Agung... " goda Dinda dan Nanda.
"Amit-amit... " gumam Rara.
"Amin-amin?" tanya Dinda.
"Amit-amit beg0, " sahut Rara kesal.
"Hahahahaha, gue merasa puas banget udah ngegoda Rara... " sahut Nanda tertawa.
"Iya bener, lain kale kita goda lagi yah, " sahut Dinda tertawa bersama.
"Dasar anak dajjal kalian berdua, " teriak Rara kesal.
Dinda dan Nanda semakin jadi mendengar nya dan terus tertawa.
"Udah kale ketawa nya nanti keselek gimana, " sahut Salsa.
"Ada lalat masuk, kalian berdua mati, " sahut Mike.
"Gue bahagia kalo kedua anak dajjal ini mati, " sahut Rara.
Tak lama benar saja, Nanda keselek ludah sendiri, "Lontong... Gue keselek... " sahut Nanda.
Dinda bergegas membawa minum dari dalam tasnya.
"Makasih, "
"Kualat kalian berdua, " sahut Rara.
"Lontong sayur, " sahut Delisa.
"Lu jualan Lisa?" tanya Nanda.
"InsyaAllah nanti gue jualan kalo kalian mah pada beli, " sahut Delisa.
"Gue insyaallah gak bakal beli, kalo lu jualan, " sahut Nanda.
"Terus buat apa lu nanyain lontong sayur ke gue?"
"Gue cuma nanya doang, tapi gak niat beli, " sahut Nanda berjalan pergi.
"Udah keselek ludah sendiri, masih aja gak kapok, " sahut Rara.
"Tapi gue lebih suka liat Nanda bobrok kayak gini, " sahut Dinda.
"Ndak, awas aja lu kalo lu gak beli lontong sayur gue, gue bakal jualan besok, " sahut Delisa.
"Gue bakal sembunyi, gak bakal gue beli lontong sayur lu itu, " sahut Nanda.
"Gue masukin lontong sayur gue ke mulut lu secara paksa, " sahut Delisa geram.
"Coba aja kalo lu bisa... " sahut Nanda.
"Liat aja besok, " sahut Delisa pergi.