
Pulang sekolah adalah hadiah terindah yang diberikan oleh guru.
Di jalan, Marcell terus bertanya siapa itu Bagas kepada Nanda.
"Gue tanya sekali lagi, siapa Bagas?" tanya Marcell.
"Udahlah cell, gue capek dengernya.. Gue kan udah bilang Bagas itu cuma temen, dia yang ngasih gue minum, " sahut Nanda.
"Dia kelas berapa?"
"Gak tau, gue gak nanya... " sahut Nanda .
"Cell berhenti dulu di apotek, gue mau beli sesuatu, " sahut Nanda.
Marcell pun berhenti di depan apotek.
"Lu mau beli apa?" tanya Marcell.
"Tespek, " sahut Nanda lancang.
Marcell hanya mengangguk saja dan tiba-tiba Marcell kaget dan menengok ke arah Nanda yang sudah masuk ke dalam.
"Tespek?!" gumam Marcell kaget.
Ngapain beli barang laknat itu? Gak mungkin kan kalo Nanda hamil? Hamil anak siapa lagi? - batin Marcell bertanya.
"Yuk jalan, " sahut Nanda yang sudah keluar dari apotek.
"Lu... Beli apa barusan?" tanya Marcell.
"Iih di bilangin gue beli tespek, " sahut Nanda.
"Ya-yakin lu? Buat siapa?" tanya Marcell.
"Yah buat gue lah, masa iya buat Bunda, " sahut Nanda naik ke motor.
"Hamil anak siapa lu?" tanya Marcell kaget.
"Anak elu... " sahut Nanda.
"Kapan kita tidur bareng, perasaan gak pernah... "
"Pala lu peang gak pernah tidur bareng, setiap malem lu meluk gue kayak guling itu bukan tidur bareng?"
Wajah Marcell tiba-tiba berkeringat dingin, jantung nya terus berdebar-debar memikirkan masa depannya nanti.
Masa iya gue jadi papa muda, amit-amit gue gak mau... - batin Marcell geleng-geleng kepala.
"Kenapa lu geleng-geleng kepala, minder lu?"
"Amit-amit, "
"Yak udah cepet jalan, ngapain juga diem di sini, " sahut Nanda.
Marcell melajukan motor nya, tapi pikirannya masih melayang-layang ke sana kemari.
"Marcell, awass mobil!!" teriak Nanda.
Marcell pun membelokkan motor nya untuk menghindari kecelakaan. Untungnya Nanda memegang erat kalo tidak mungkin dia sudah jatuh bersamaan dengan Marcell.
"Hati-hati napa sih... Hampir aja kita kena kecelakaan, " sahut Nanda kaget.
"Sorry, "
Sesampainya mereka di rumah Marcell. Nanda melihat Bunda dan Ayah yang sedang jalan-jalan sore di taman.
Nanda yang masih ingin jahil, segera turun dari motor dan menghampiri Bunda dan Ayah.
"Bunda... Ayah... " teriak Nanda.
"Ehh... Anak Bunda udah pulang, gimana sayang sekolah nya?" tanya Bunda.
"Bunda liat, Marcell tadi bawa motor nya gak fokus, " sahut Nanda.
"Gak fokus gimana?" tanya Ayah.
"Tadi kita hampir nabrak mobil lain di depan, untungnya Nanda teriak, kalo engga mungkin udah kecelakaan, " sahut Nanda.
"Haaa... Astagfirullah.... Tapi kamu gak papa kan?" tanya Bunda melihat tubuh Nanda.
"Gak papa kok Bunda, untungnya Marcell tadi langsung belok, " sahut Nanda.
"Marcell, " panggil Ayah.
Tapi Marcell tak mendengar dan terus berjalan sampai ke rumah.
"Marcell..., " panggil Bunda.
"Kok gak ngeliat ke sini yah?" tanya Bunda.
"Ayah juga gak tau, mungkin lagi pake headset, " sahut Ayah.
"Mm... Yak udah Nanda kamu sana masuk ke dalam, nanti kalo ada yang lecet atau luka, kasih tau Bunda atau Ayah yak, " sahut Bunda mengelus rambut Nanda.
"Iya Bunda... Kalo gitu aku masuk dulu, " sahut Nanda berjalan pergi.
"Eh... Nanda... Mana obat Bunda?" tanya Bunda.
"Oh iya... Ini Bunda... " sahut Nanda memberikan kantung plastik itu kepada Bunda.
"Makasih yah... "
Nanda pun berjalan masuk ke dalam rumah, dan segera menyusul Marcell di dalam kamar.
"Kambuh lagi bund?" tanya Ayah.
"Iya... Maag nya kambuh, sana darah juga mulai tinggi, harus ke dokter lagi, " sahut Bunda.
"Lain kali, kalo Bunda udah capek, kasih tau Ayah... Biar Bunda bisa ngerjain tugas kantor di rumah, " sahut Ayah.
"Iya... Siap.. Ayah... " sahut Bunda.
.
.
.
.
.
Sementara itu di kamar.
"Masuk, gak di kunci, " sahut Marcell di dalam kamar.
Cklekk...
Nanda pun masuk ke dalam dan segera menutup pintu.
"Lu.. Lagi apa?" tanya Nanda.
"Lagi mikirin masa depan, " sahut Marcell.
"Kok gitu, pikirin nya bareng-bareng dong.. " sahut Nanda menahan tawa.
"Lu udah tes kehamilan?" tanya Marcell.
".... Udah... " sahut Nanda.
"Hasilnya gimana?" tanya Marcell.
"Alhamdulillah, " sahut Nanda masih menahan tawa.
"Lu beneran hamil?" tanya Marcell.
Nanda hanya mengangguk. Semakin sudah tak tau harus bagaimana lagi, mereka masih muda, tapi mereka akan segera mempunyai bayi.
"Kalo gitu, gue mau mandi duluan, " sahut Nanda berjalan ke kamar mandi.
Tapi Marcell tak berkutik atau pun tak menengok ke arah Nanda. Nanda yang ada di kamar mandu tertawa sepuasnya, dia ingin melanjutkan menjahili Marcell.
"Mm... Emang enak gue kerjain, " gumam Nanda tertawa di dalam kamar mandi.
Cklekk...
Pintu kamar mandi terbuka, dan Nanda keluar dengan masih menggunakan handuk. Marcell yang melihat Nanda tak berkedip atau pun bertanya.
"Apa? Kok lu liatin gue kayak gitu?" tanya Nanda berbalik untuk mengambil bajunya.
Marcell masih terdiam melihat punggung Nanda yang putih.
"Lu yakin, gak mau ngegugurin anak itu?" tanya Marcell.
"Kenapa emang? Lu gak mau anak lu lahir?" tanya balik Nanda.
"Bukan gue gak mau, cuma belum waktunya kita punya anak, sesuai dengan perjanjian kita, kita bakal punya anak umur 23-25 tahunan, " sahut Marcell mengingat kan kembali Nanda.
"Iya gue tau, tapi kalo udah gini, lu tetep mau ngegugurin anak lu sendiri?" tanya Nanda.
Marcell masih terdiam memikirkan perkataan Nanda barusan. Marcell beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Mau kemana lu?" tanya Nanda.
"Mau mandi, mau nyegerin pikiran, " sahut Marcell.
"Oke.. " sahut Nanda.
Gue merasa kasian sama Marcell... Tapi gue suka liat ekspresi Marcell... Lanjut ah sampe malem, - batin Nanda.
Setelah selesai memakai baju, Nanda rebahan di kasur dan mengunakan selimut hanya sampai perutnya. Dan membaca buku yang sudah dia pinjam dari Marcell sejak tadi pagi.
Cklekk....
Pintu kamar mandi terbuka, dan melihat Marcell yang sudah memakai baju tidur. Dan duduk di sofa dekat kasur.
"Gimana seger gak mandi nya?" tanya Nanda.
"Iya seger, " sahut Marcell.
Nanda ingin sekali tertawa sekarang melihat Marcell kali ini. Masih dengan menahan tawa nya, dan terus mengerjai Marcell tanpa henti.
"Beb, aku pengen martabak beliin dong, " sahut Nanda.
"Besok aja, " sahut Marcell.
"Oh oke, " sahut Nanda.
Waktu makan malam akhirnya datang, mereka berdua segera turun ke bawah untuk makan malam bersama.
Nanda berpikir kalo Marcell akan menceritakan semuanya kepada Ayah dan Bunda malam ini, tapi ternyata tidak.
Selesai makan malam. Nanda dan Marcell pamit untuk pergi ke kamar.
Saat di kamar, hanya ada keheningan di antara mereka berdua, biasanya selalu ada keributan.
"Cell... Sini tidur bareng gue... " sahut Nanda menepuk-nepuk kasur.
Marcell hanya melirik dan pergi menghampiri Nanda hanya untuk mengambil bantal dan guling.
"Mau kemana lu?" tanya Nanda.
"Gue tidur di sofa, " sahut Marcell.
"Lah kok di sofa, gue kalo gak ada elu.. Sepii.. " rengek Nanda.
"Lu belajar tidur tanpa gue peluk, " sahut Marcell dingin.
"Iddiiee... Lu sendiri yang gak bisa tidur kalo gak peluk guling hidup, " sahut Nanda.
Marcell hanya terdiam dan siap-siap untuk tidur di sofa bersama guling.
"Aaahh.... Marcell... Gue cuma bercanda, gue ke apotek buat beli obat buat bunda... " Teriak Nanda.
Marcell seketika bangun dan membuat Nanda terkejut.
"Jadi lu gak hamil?" tanya Marcell.
"Yah kagak lah, gue gak mau jadi mamah muda, " sahut Nanda masih rebahan.
Marcell melompat ke kasur dan membuat Nanda bangun ke posisi duduk.
"Lu ngapa? Kesurupan?" tanya Nanda terkejut.
"Gak, " sahut Marcell singkat dan tidur di samping Nanda.
"Lah katanya lu mau tidur di sofa, udah sana... " sahut Nanda.
"Gak jadi gak enak kalo gak ada guling idup, " sahut Marcell.
"Huuuh, "
Nanda pun ikut tidur di samping Marcell. Marcell terbangun dan membuang guling yang berada di tengah di antara mereka ke lantai dan mulai memeluk Nanda. Begitu Marcell memeluk perutnya, Nanda mulai tertidur lelap.