My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Bantuin masak.



"Kelakuan adik lu lebih gila di banding adik gue.. haha.. " ucap Nanda tertawa.


"Gara-gara gaul sama orang gila, jadi kebawa gila juga, " sahut Marcell.


Nanda hanya terkekeh mendengar perkataan Marcell barusan, dan disaat bersamaan mereka berdua melihat Bunda yang sedang memetik sesuatu di kebun.


"Bunda... lagi apa?" teriak Nanda.


"Lagi metik cabe atau sayuran lain, mungkin, " sahut Marcell.


"Bantuin yuk, " ajak Nanda.


Marcell hanya menurut saja dan menghampiri Bunda bersama Nanda. Membantu Bunda mengambil sayuran di kebun.


"Bunda, kalo ini namanya sayur apa?" tanya Marcell menuju pada sayuran yang berbentuk bulat.


"Itu namanya kol, " sahut Nanda sedang memetik cabe.


"Masa kol kayak gini?perasaan kol yang gue makan gak bulat, " tanya Marcell.


"Itu kan kol yang udah di sobek-sobek, sedangkan yang ini bentuk aslinya... " jelas Nanda.


Marcell hanya mengangguk paham. Bunda hanya terkekeh kecil melihat mereka berdua. Saat bunda akan memetik jagung, dia melihat ada seorang anak lelaki yang juga memetik jagung.


"Siapa kamu?" tanya Bunda waspada.


Marcell dan Nanda yang mendengar suara bunda, langsung menghampiri dan melihat apa yang terjadi.


"Keluar atau saya pukul kamu!!" ucap Bunda sudah membawa skop.


"I-ini aku bunda!!"


Bunda yang mendengar nya seperti familiar dengan suara tersebut, Nanda memegang tangan lelaki tersebut, dan menggusur paksa untuk berhadapan langsung dengan mereka.


"FAUZAN!!" Teriak Nanda, Marcell, dan Bunda yang terkejut melihat Fauzan.


"Lu lagi apa disini? bikin keributan aja bisanya.. " sahut Marcell menjitak kepala Fauzan pelan.


"Aww... "


"Anak gila datang lagi, lu ngapain sih disini? perasaan dari siang lu bikin masalah mulu, " sahut Nanda.


"Ngapain sih Fauzan kamu di sini? mau bantuin bunda?" tanya Bunda.


"Engga bukan, aku kesini cuma mah ambil satu jagung bund, " jawab Fauzan.


"Hah?"


"Buat apa jagung?" tanya Marcell.


"Gue mau bikin masker dari jagung asli, " jawab Fauzan berusaha berdiri.


"Kelakuan lu aneh anj*rr... " sahut Marcell.


"Bwahahhahah..... adik lu gila cell... haha... " sahut Nanda memukul-mukul pundak Marcell sambil tertawa.


"Kayaknya lu harus gue masukin ke rumah sakit jiwa, " sahut Marcell.


"Gue masih sehat, "sahut Fauzan.


"Bunda ada cabe?" tanya Fauzan.


"Ada, di situ, ambil aja di keranjang, " tunjuk Bunda.


"Makasih bunda, " sahut Fauzan mengambil beberapa cabe tersebut.


Buat apa lagi sih itu cabe, tadi ambil jagung sekarang cabe lain kali ambil kotoran sapi atau kambing sana - batin Nanda geli.


"Mau di buat apa itu cabe?" tanya Bunda.


"Ada aja, " sahut Fauzan pergi.


Menurut Bunda, Fauzan mengambil beberapa tanaman untuk ujian praktek nya. Marcell yang terus berpikir, kalo cabe itu untuk masker -_


"Zan jangan di buat masker, nanti pedes lho... " teriak Nanda.


"Kalo menurut gue, dia gak akan di bikin masker, soalnya kan cabe itu pedes sama perih kalo kena muka, " sahut Marcell yakin.


"Masa iya, kalo menurut gue, itu cabe bakal dibikin masker, " sahut Nanda.


"Oh yak?"


"Iya, mau taruhan lu?" tanya Nanda.


"Boleh, siapa takut, "


"Kalo gue menang lu harus patuhi semua aturan yang gue buat, no komen no bacot-bacot, gimana?" tanya Nanda.


Marcell tersenyum, "Kalo gue menang lu harus paruh sama gue, karena gue ini suami lu, " sahut Marcell.


"Oke gue setuju, " sahut Nanda.


"Kalo Bunda menang, bunda pengen kalian tidur satu kamar ples satu ranjang, no komen, " sahut Bunda.


Seketika mata mereka melotot tak percaya.


"Eman nya menurut Bunda, itu cabe buat apa?" tanya Marcell.


"Kalo menurut bunda itu buat bikin masker, kerajinan, buat masak, atau untuk ujian kimia nya.. " sahut Bunda.


"Yah bunda gak adil, masa di ambil semua, " rengek Nanda.


"Biarin, gimana bunda dong, no komen, " sahut Bunda.


Nanda hanya menunjukkan manyun Bebek nya pada bunda dan Marcell. Bunda yang melihat wajah Nanda yang gemesh membuat nya ingin mencubit pipi gemoy Nanda.


"UUUU..... lucunya..... " sahut Bunda mencubit pipi Nanda.


"Udah, mending kalian bantu masak, " sahut Bunda berjalan pergi.


"Mau masak apa bunda?" tanya Nanda mengikuti dari belakang.


"Mau tumis kangkung, sama buat capcay, " sahut Bunda.


"Oh, dapur nya jauh bunda, " sahut Nanda.


"Gak akan jauh kalo masuk lewat pintu belakang, " sahut Bunda mengelus rambut Nanda lembut.


"Emang bunda kalo mau ke dapur suka lewat mana?" tanya Nanda.


"Lewat belakang, kalo lewat depan susah, " jawab Bunda.


"Emang nya gak papa yah bun?"


"Gak papa dong, kamu juga kalo mau ke dapur lewat belakang aja, "


Mereka berdua tersenyum bersama yang membuat Marcell bahagia saat melihat senyuman itu kembali ke wajah sangat bunda tercinta nya.


"Marcell... kamu gak akan ikut?" tanya Bunda.


"Eh... gak bun aku mau keliling sebentar, " sahut Marcell.


"Oh yak udah kalo gitu, " sahur Bunda pergi bersama Nanda.


Mereka berdua pun berlalu di hadapan Marcell dengan cepat. Marcell yang terus menahan diri sudah tak kuat lagi. Marcell tersenyum mengingat wajah Nanda.


Dan terkadang Marcell menjadi ingin berkebun, sambil tersenyum. Di kepala nya kini masih terbayang-bayang wajah imut Nanda barusan.


Pak Wawat dan Bi Sri yang tak sengaja lewat, melihat Marcell yang sedang berkebun di sore hari dan senyum-senyum sendiri.


"Tumben aden Marcell mau berkebun di waktu sore?" sahut bu Sri.


"Mungkin lagi bahagia, " sahut Pak wawat.


"Iya kali yak... mungkin karena udah punya pendamping, " sahut Bi Sri.


"Bisa jadi, " sahut Pak wawat.


"Kalian lagi apa kok ngegosip?" tanya Ayah Marcell yang datang menghampiri mereka berdua.


"Eh.. Tuan iya nih, kita lagi liat Aden Marcell yang senyum-senyum sendiri sama tumben berkebun di jam segini, " jawab bi Sri.


Ayah pun menengok ke arah kebun, dan benar saja di sana ada Marcell yang sedang berkebun, entah menanam apa di sana.


"Ngapain tuh anak di sini? Bukannya siap-siap buat nanti malem, " gumam Ayah, pikiran nya mulai ternodai.


"Ntar malem emang ada apa?" tanya Pak wawat.


"Yah kali aja kalo mereka pengen, " sahut Ayah.


Pak wawat dan Bi Sri yang sudah paham, mulai tersenyum. Ayah berjalan menghampiri Marcell.


"Cell, ngapain kamu di sini?" tanya Ayah.


"Lagi berkebun yah... gara-gara liat wajah Nan-- " sahut Marcell belum menyelesaikan perkataan nya.


"Wajah siapa?" tanya Ayah.


"Bukan siapa-siapa, " sahut Marcell.


"Ngapain berkebun jam segini, mending nanti pagi sekalian ajak Nanda berkebun, " sahut Ayah.


"Iya yah, besok Marcell ajak, " sahut Marcell.


"Sekarang Nanda mana?" tanya Ayah.


"Lagi bantuin bunda masak di dapur, "


"Oh bagus lah, kamu bisa cobain masakan Nanda... "


...****************...


Di dapur.


"Bunda ini sayuran nya mau si potong-potong dulu atau mau langsung di cuci?" tanya Nanda.


"Dipotong dulu, baru di cuci, " sahut Bunda.


Nanda pun memotong sayuran dengan hati-hati karena takut terkena pisau. Dan mengupas kentang yang sudah di cuci untuk jadi cemilan mereka.


"Nanda, kalo udah ngupas kentang, bisa tungguin kompor sebentar, Bunda mau ambil merica di kulkas, " pinta Bunda.


"Emang kulkas nya di mana?" tanya Nanda menghampiri Bunda


"Ada di minimarket ruangan, di pintu ke 2, kamu mau ambilin?" tanya Bunda


"Gak usah Bunda, aku tungguin ini aja, " sahut Nanda menolak.


"Yak udah kalo gitu, " sahut Bunda berjalan pergi.


Nanda mengantikan Bunda masak capcay untuk mereka makan, dan terkadang Nanda juga menambahkan sedikit garam dan gula karena merasa kalo ini belum di bumbui.


Tak lama setelah itu Bunda datang membawa bahan-bahan yang sekiranya di butuhkan.


"Gimana? udah di cobain?" tanya Bunda.


"Udan kok, udan di tambahin garam sama gula juga, " sahut Nanda.


"Oh bagus lah, "


Setalah selesai masak, Nanda menyiapkan meja makan untuk mereka berlima, dan Bunda memasukan semua makanan ke piring dan menyerahkan nya ke Nanda agar di tata yang rapih.