
Sekian lama nya mereka di butik Rara, akhirnya mereka semua bosan dan ingin segara pulang.
"Ra kita semua balik dulu yah, gue udah laper, " sahut Nanda.
"Iya, Hati-hati, nanti kalo ada waktu luang lagi, kalian mampir aja, oke, " sahut Rara.
"Oke... " sahut Dinda.
Mereka segera pamit ke bunda Rara dan mulai menaiki kendaraan masing-masing. Agung masih diam di butik karena bunda Rara suka padanya.
"Tante... kita mau pulang dulu yah... " pamit Nanda.
"Iya ndak, nanti kalo ada waktu luang ke sini lagi, " sahut Tante Ikne.
"Iya tante.. " sahut Nanda.
Tante Ikne keluar dari ruang pribadi nya dan melihat semua teman-teman Rara. Tante Ikne salfok dengan yang berdiri di samping Rara sedari tadi.
"Itu siapa Ra?" tanya Tante Ikne pada anak nya.
"Oh ini namanya Agung, dia teman baru Rara, " sahut Rara.
"Oh, kamu disini dulu yah sebentar, gak papa kan?" tanya Tante Ikne sambil meraih tangan Agung.
"Iya gak papa kok Tante, emangnya mau apa yah? tanya Agung.
"Nanti Tante bicarain yah, sekarang nunggu dulu mereka pulang baru kita bicara, " sahut Tante Ikne.
Agung yang mendengar iya semakin curiga dan yah apa boleh buat kalo sudah begini.
Nanda dkk segera pulang ke rumah masing-masing. Marcell segera melajukan mobilnya dengan perlahan dan menuju perumahan Sukamulya.
"Tadi Tante Ikne mau ngapain sama Agung?" tanya Marcell.
"Mana gue tau, " sahut Nanda bermain ponsel.
"Barang kali lu tau, " sahut Marcell kembali fokus ke jalanan.
Nanda tak menghiraukan perkataan Marcell barusan dan terus bermain ponsel.
"kayaknya Tante Ikne mau jodohin Agung sama Rara, " sahut Nanda.
"WHAT?!!" sahut Marcell kaget.
"Pake what what what, kayaknya.... " sahut Nanda.
"Iya kan gue kaget dengernya... emang nya lu gak kaget?" tanya Marcell
"Gak gue udah biasa, " sahut Marcell.
Sampainya mereka di rumah Nanda, mereka segera turun dari mobil dan melihat banyak kendaraan terparkir rapi di depan rumah Nanda.
"Ada apa ini?" gumam Nanda bingung.
Tanpa memedulikan siapa pun, Marcell menggandeng tangan Nanda masuk ke rumah. Di dalam terdapat banyak orang, hanya keluarga Nanda Marcell yang sudah siap entah untuk apa.
Blaa.... blaa... blaa...
"Eehh ada Nanda... gimana sayang kamu sehat?" tanya Tante Tina keluarga Nanda yang sekarang tinggal di Turki.
"Hallo tante, aku sehat, " sahut Nanda.
"Ini calon istri kamu cell?" tanya Tante Surwi keluarga Marcell yang sekarang tinggal di Jerman.
"Iya Tante, kenalin ini Nanda, " sahut Marcell.
"Oalahh cantik banget calon istri kamu ini... " sahut Tante Surwi.
Nanda dan Marcell masih mematung di depan pintu masih bingung. Tapi untung Mamah Nanda dan Bunga Marcell datang.
"Kok kalian malah diem aja di depan pintu, bukannya masuk?" tanya Bunda Marcell.
"Bunda ini sebenernya ada apa, kok banyak tamu?" tanya Marcell.
"Kan tanggal 13 kalian nikah, " sahut Mamah.
"Tapi kan maj masih ada 2 hari lagi, terus ini ada apa lagi, sampe Tante Tina, Om Surya, Bi Izah sama keluarga yang lain dateng?" tanya Nanda.
"Mau syukuran, " jawab Bunda berjalan masuk.
"Kakak, sini... " panggil Betly.
Nanda segara menghampiri Betly disusul dari belakang oleh Marcell.
"Kakak masuk ke kamar, kita coba kebaya dari Belanda, " sahut Betly menuntun Nanda naik tangga menuju kamar.
Marcell hanya melihat saja, dan tiba-tiba Fauzan membawa Marcell ke kamar Firza.
"Mau ngapain?" tanya Marcell.
"Kita coba, Toksedaw hitam sama biru yang cocok buat nanti, " sahut Fauzan terus menarik tangan Marcell.
Di kamar Nanda.
"Tadaaa.... ini rancangan penjahit dari Belanda, gimana bagus gak?" tanya Betly.
"Bagus sih... emang harus gue coba sekarang? kenpa gak nanti aja, " sahut Nanda.
"Nooo... kita harus tau, ukuran pinggang kakak besar atau kecil, " sahut Betly keluar kamar membiarkan kakaknya mencoba kebaya tersebut.
"Udah belum kak?" tanya Betly.
"Bentar ini nyangkut, " sahut Nanda
Betly masuk ke dalam melihat kakaknya sedang berusaha memasukan kancing.
"Kak lagi apa sih?" tanya Betly.
"Jangan tanya mending bantuin, kayaknya ini kekecilan, " sahut Nanda.
Betly berusaha sampai kancing itu masuk, tapi sayangnya mereka gagal, dan Nanda melepaskan kebaya tersebut dan memakai baju dan celana levis.
"Bentar aku panggilin dulu mamah sama Bunda, " sahut Betly turun kebawah dengan tergesa-gesa.
"Cuma acara pernikahan aja sampe ribet sana sini, " gumam Nanda.
"Kakak harus coba toksedaw yang ini!!"
"Gak, kekecilan!!"
Terdengar suara seseorang dari balik pintu.
"Siapa sih teriak-teriak kayak anak setan aja, " gumam Nanda kesal.
Dia segara membuka pintu dan ternyata itu adalah Marcell, Fauzan, Firza yang sedang bertengkar di depan pintu.
"Kalian lagi apa?" tanya Nanda.
"Waduuhh gawat ini mah, " gumam Fauzan.
"Kenapa? apa yang gawat?" tanya Nanda.
"Itu kak, katanya Marcell mau nyobain toksedaw buat nanti, ehh malah kekecilan toksedaw nya... " sahut Firza.
"Sama, kebaya kakak juga kekecilan, " sahut Nanda.
"Yak udah kak, kita berdua mau protes ke Bunda sama Mamah, " sahut Fauzan menarik tangan Firza pergi.
Firza dan Fauzan secepat mungkin menurun tangga, sampai-sampai tangan Fauzan terlepas dan Firza tersungkur ke bawah dengan kaki menghadap ke atas.
"Hahah... lu lagi apa Firza... haha... " tanya Fauzan tertawa lepas.
Marcell dan juga Nanda yang melihat nya ikut tertawa, melihat posisi Firza seperti mau mencium kaki Fauzan.
"Hahah... adik kualat, " sahut Nanda dari atas.
Dengan cepat Firza kembali ke posisi duduk dan memijat kakinya yang sakit.
"Mau ke rumah sakit gak?" tanya Fauzan.
"Gak usah, cuma terkilir doang, " sahut Firza menolak.
"Perasaan yang duluan jatuh kepala deh, kenapa kaki yang sakit?" tanya Nanda bingung. Sedangkan Marcell masih menahan tawa.
"Mana gue tau, pokonya yang sakit sekarang ini kaki bukan kepala, " sahut Firza.
"iya deh iya, " sahut Nanda mengalah, karena kalo berdebat dengan Firza tidak akan ada ujung-ujungnya.
"Anak-anak turun kita sekarang mulai baca doa, " teriak Bunda memanggil semua anak-anak.
Mereka segera kembali ke ruang tamu yang sudah di penuhi oleh para anggota keluarga dari masing-masing keluarga Nanda dan Marcell.
...****************...
Sedangkan itu nasib Agung.
"Agung bisa bantu Tante, bawain kotak itu yang ada di dalam mobil?!" ucap Tante Ikne menyuruh.
"I-iya Tante, bentar aku mau naruh dulu ini di lantai, " sahut Agung membawa kotak besar yang berisi gaun-gaun.
Sedangkan Rara sibuk mendekor ulang lara gaun yang di bawa oleh bundanya.
"Yawloh kenapa nasib gue kayak gini sih, " gumam Agung kapok.
Rara yang melihat Agung kecapean tidak tega.
"Bun, istirahat dulu, kasian anak orang masa di suruh-suruh, " sahut Rara.
"Yah udah kalo gitu, Bunda mau balik ke ruang pribadi bunda yah, awas kamu kalo macem-macem sama dia, " sahut Tante Ikne.
"Mau ngapain juga sama anak baby engga deh bun, " sahut Rara.
Tante ikne sudah masuk ke dalam ruangan pribadi nya, dengan cepat Rara memberikan sebotol minuman dingin kepada Agung yang sedang duduk di lantai.
"Ini, minum, " sahut Rara memberikan minuman itu kepada Agung.
"Iya... " sahut Rara ikut duduk di lantai.
"Lu kalo di butik santai, gak barbar, gak teriak-teriak, gak ngomong kasar malah lembut ngomong sama gue, kok tumben?" tanya Agung.
"Bunda gue gak suka liat orang lain barbar kayak gue di sekolah, lu jangan bilang ini sama emak gue lu, awass!!" sahut Rara.
"Oh, gue kira setannya pada kabur kalo lu masuk ek butik, ternyata bukan, " sahut Agung.
"Btw, gimana urusannya sama Bagas bagas itu?" tanya Rara mengubah topik pembicaraan.
"Dia gak ada di rumah, gak tau kemana, " jawab Agung.
"Mm, tapi kalian masih mau kan bantuin Nanda, sama Marcell?" tanya Rara.
"Yah mau lah, masa gak mau, kan Marcell itu sahabat gue, " sahut Agung.
"Yah gue takut aja, kalo lu kabur mendadak pas denger Marcell lagi butuh bantuan, " cibir Rara.
"Tuh mulut bisa di jaga bentar napa sih susah amat, " sahut Agung mencubit bibir Rara.
"Aaaww... sakit beg0, " sahut Rara mengusap bibirnya.
"Katanya gak boleh bilang itu, tapi lu sendiri ngomong di butik kan, " sahut Agung.
"Kalo bahasa kayak gitu gak papa, kalo bahasa sunda gak boleh, " sahut Rara.
"Emang apa basa Sunda?" tanya Agung.
"Kayak Anj*ng, g*bl*k, k*pl*k dan sebagainya, Kata-kata kotor lah pokonya.. " jelas Rara.
Agung hanya mengangguk menanggapi perkataan Rara barusan dan kembali berkerja sampai beres dan setelah itu pamit pulang karena sudah mulai malam.
Agung mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Dan Rara melambaikan tangannya kepada Agung secara pribadi.
"Ciee.... udah dong, udah jauh tuh, " sahut Tante Ikne bersembunyi di balik kaca.
"Apa sih bunda gak nyambung, " sahut Rara kembali masuk ke dalam.
"Bilang aja, kalo kamu suka sama Agung, " sahut Bunda Rara.
"Engga, mau ngapain coba suka sama anak baby, " sahut Rara.
"Oh udah punya nama panggilan masing-masing yah, bagus lah kalo gitu, " sahut Bunda Rara membereskan sisa nya.