
"Transfer ke ATM gue lah, ribet, " sahut Fauzan.
"Oke oke.. tapi nanti yah,, gara-gara lu sama kelakuan dua orang itu, gue jadi ikutan jatuh, mana sakit lagi, " sahut Marcell.
"Alah lebay, gue aja jatuh biasa aja, " sahut Nanda.
"Lu jatuh ke lantai gak? hah? lu jatuh ke badan gue, " sahut Marcell.
"Masa sih.. " sahut Nanda cengengesan gak jelas.
"Iyaaa, " sahut Marcell kesal.
Setelah selesai mengobati luka di tangan Nanda dan di tangan kaki Marcell. Mereka sekeluarga sedang berkumpul di ruang keluarga rumah baru.
"Hey, kalian berdua, " panggil Nanda kepada Firza Betly.
"Apa?"
"Mm?"
"Kapan kalian pulang ke indo?" tanya Nanda.
"Tiga hari yang lalu, " jawab Betly fokus ke ponsel nya.
"Kalian di sini udah lama ya, kenapa gak bilang?" tanya Nanda.
"Biarin, lagian Firza sama Bunda yang minta gak bilang ke kakak, " jawab Betly.
"Biar apa?"
"Katanya kita bikin surprise buat kalian yang udah nikah dan rumah ini adalah hadiah dari Bunda sama Ayah.. " jelas Betly.
"Ooh, "
"Yaa, "
"Nah mumpung lagi pada diem-diem, gimana kalo kita house tour aja? kan Nanda sama Marcell belum hafal tatak letak rumah ini, " sahut Bunda semangat.
"Oke, " sahut Marcell.
"Iya, " sahut Nanda.
Ekspresi mereka berdua yang di kasih hadiah hanya biasa-biasa aja, gak ada yang spesial. Anak durhaka bukannya seneng malah b aja-_-
Nanda dan yang lain segera berdiri untuk house tour bersama Bunda dan Mama Patmi. "Hey kalian bapak-bapak mau ikut house tour gak?" tanya Bunda.
"Enggak, silahkan kalian aja, kita mau jalan-jalan keluar, " sahut Ayah Budi.
"Oh ya udah, " sahut Bunda.
Mereka semua kecuali Ayah Endi dan Ayah Budi mengelilingi seluruh ruangan, di mulai dari dapur.
"Taraa~~ bagus gak dapur nya? ini bunga sendiri lho yang rancang, " sahut Bunda.
"Bagus, " sahut Nanda kaget ketika melihat dapur yang sangat bagus itu. Di tambah semua bahan makanan dan perlengkapan dapur sudah ada.
"Nah jadi kalian nanti gak usah beli meja makan, karna langsung aja makan nya di sini, " sahut Bunda menepuk-nepuk tiga kursi di samping nya.
"Iya, " sahut Marcell.
"Kalo kakak gak mau ambil, buat kita berdua aja di tambah sama Fauzan jadi bertugas deh, " sahut Betly.
"Enak tau, tinggal di sini, " lanjut Betly.
"Pantesan banyak piring kotor di wastafel, " sahut Nanda.
"Ehehehe, itu jatah makan malam, siang, sore, pagi, udah dua hari gak ada yang nguci, " sahut Firza.
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Soalnya cewek di rumah ini, udah terlanjur pewe kata nya.. " sahut Firza.
"Oohh, niat nikah sama orang bule kagak jadi dong, cuci piring sendiri aja males, " sahut Nanda.
Betly hanya senyum-senyum gak jelas sambil mengalihkan pandangan ke yang lain. "Terus kalian makan gimana?" tanya Marcell.
"Mmm, jangan di tanya lagi, gue selama tiga hari tinggal di sini.. makan racun masih untung kagak mati, " sahut Betly.
"Siapa yang masak?" tanya Nanda.
"Tuh.. anak kurang ajar yang gak tau dari kapan belajar masak, " sahut Betly menunjuk ke arah Firza.
"Kan gue udah bilang, semenjak tinggal di Turki gue itu udah belajar kepada sang ahli, " sahut Firza.
"Siapa?" tanya Betly.
"Fauzan, " jawab Firza.
"Pantesan, " gumam Marcell.
Udah gak aneh lagi kalo Fauzan yang ngajarin masak ke Firza, karna masakan Fauzan itu terlalu asin, pedes, pait, gak gurih, masak nasi goreng gak di kasih bawang, gak di kasih telor, gak di kasih bumbu penyedap, entah dari mana awalnya anak itu belajar masak.. tau-tau udah bisa sendiri, tapi masakan nya sangat mengkhawatirkan.
"Udah udah, yuk lanjut, selamat kita ke ruangan selanjutnya, tempat bersantai nya para anak Sultan, " sahut Bunda.
"Di sana Mama Patmi lho yang sambil desain nya, " lanjut Bunda.
Bunda membuka pintu kaca itu dengan lebar, terlihat di sana sudah ada meja, kursi bagus dan mewah, bahkan pemandangan di depan tak kalah bagusnya.
"Wahh.. gilaa.. ini rumah atau tempat pariwisata, " gumam Nanda.
"Nah jadi gimana kalian mau kan tinggal disini?" tanya Bunda kepada Nanda Marcell.
"Mau, " jawab Nanda cepat.
"Mau, " jawab Marcell santai sambil melihat-lihat.
"Ini piring siapa?" tanya Marcell melihat ke arah meja yang penuh dengan sampah dan piring di mana-mana.
"Oh hehehe.. kita lupa beresin ini, " sahut Firza malu.
Nanda hanya geleng-geleng kepala. "Tak ada kata lupa di setiap insiden, " gumam Nanda.
"Gimana Nanda suka gak?" tanya Mama.
"Suka kok mah, bagus, " sahut Nanda.
"Alhamdulillah, " sahut Bunda.
"Syukur lah kalo kamu suka, " sahut Mama.
"Trus udah ini kita ke mana?" tanya Nanda.
"Yah udah ini kalian keliling aja sendiri, di atas ada kamar 2 , tapi kamar yang satu nya lagi belum di kasih dekorasi gitu, kalian aja yang dekorasi mau di jadiin tempat GYM sementara atau jadi mushola sementara juga gak papa " sahut Mama.
"Kalo tempat GYM udah ada, paling di jadii mushola atau ruang kerja, atau tempat nyimpen makanan.. " sahut Bunda.
"Kayak indomaret gitu yah jeng, " sahut Mama
"Iya, " sahut Bunda.
Fauzan yang terus mengabadikan momen itu terus saja mengambil poto dan memposting nya di instagram.
ckrekk..
ckrekk...
"Udah oy oy,, abis memo, " sahut Nanda.
"Apaan sih kak, lagi seru ini, " sahut Fauzan.
"Terserah lah, " sahut Nanda.
"Mau lanjut?" tanya Marcell kepada Nanda yang tenaga duduk itu.
"Mm? boleh, kita ke atas, gue pengen liat kamar, " sahut Nanda.
"Ya udah ayok, " sahut Marcell.
Mereka berdua berdiri dan meninggal tempat barusan. Menaiki tanggal satu persatu dengan langkah yang santai.
Sesampainya mereka di atas, di sana ada tiga pintu yang berjajar rapih didepan mereka.
"Lah kata mama ada dua, tapi kok sekarang jadi ada tiga?" tanya Nanda.
"Lah iya, yang mana lagi kamar tidur?" tanya Marcell.
Marcell membuka satu persatu pintu itu, untungnya tak ada satu kamar pun yang di kunci.
Pintu pertama di pojok sebelah kanan, perpustakaan, tempat bagi orang-orang pintar, kutu buku yang ingin meneruskan hidup. Bahkan di situ sudah ada dua meja. Sudah seperti ruangan pribadi.
Pintu ke dua di samping tangga. kamar kosong, Nanda dan Marcell berniat merubahnya menjadi mushola sementara kalo mereka belum punya anak.
Pintu ke tiga di pojok sebelah kiri, kamar tidur Nanda dan Marcell, sudah tersedia semua fasilitas nya.
Kamar yang luas, modern, yah cukup nyaman untuk tidur berdua. Marcell masuk ke dalam dan melihat-lihat kamar tersebut. Nanda duduk di atas kasur itu dan merebahkan diri.
"Baru juga nyampe udah mau rebahan ae lu, " sahut Marcell.
"Biarinn, " sahut Nanda.
Marcell berjalan ke arah Nanda yang tengah asik rebahan itu. Sekarang Marcell berada di atas Nanda, kedua tangan nya menahan beban.
"Apa?" tanya Nanda yang kaget dengan tingkah Marcell itu.
"Gak papa, cuma mau liat kamu aja dari atas, " jawab Marcell sambil tersenyum.
Senyuman Marcell berhasil membuat Nanda salting dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Kakak kalo udah liat-liatnya di suruh turun ke ba--wa--h. " sahut Fauzan memberitahu Nanda dan Marcell, tapi, alih-alih memberitahu Fauzan malah melihat mereka yang sedang saling bertatap itu.
Nanda Marcell yang kaget akan kedatangan Fauzan yang tiba-tiba itu langsung membuat Marcell segera berjalan ke tempat lain, sedangkan Nanda dengan cepat mengambil ponsel nya.
"Oh ya udah gak papa, kalian lanjut aja lanjut, nanti gue bilang kalo kalian lagi sibuk, " sahut Fauzan segera pergi.
Fauzan menuruni tangga satu persatu dengan pikiran yang bercampur aduk. "Yawloh, kenapa gue mulu yang sih yang melihat adegan itu, kenapa enggak Firza atau Betly gitu? kenapa harus hamba mu yang setia ini? gue punya masalah apa saja dunia? perasaan gue ucan tobat, " sahut Fauzan.