My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Zombi!!!



"Udah ra.. paling cuma khayalan lu doang, mending tidur biar zombi nya gak ke sini.. " sahut Putri.


"Udah dong put.. kasian Rara.. " sahut Dinda.


"Hehe.. iya deh iya... sini tidur... " sahut Putri.


Rara menghampiri Putri dan tidur di samping Putri dengan perasaan tidak enak.


Kayaknya tadi gue liat ada seseorang pake baju item, terus dia liat ke arah gue... iihh seremm mending tidur... - gumam Rara.


"Udah ra jangan dipikirin mulu.. tidur aja yang nyenyak siapa tau kejadian barusan lewat begitu aja, " sahut Putri.


"Iya put.. " sahut Rata segera menutup matanya dan tertidur.


Waktu terus berjalan, Rara terbangun di tengah malam dan melihat jam sudah menunjukkan pukul set satu. Tapi Rara masih belum bisa tertidur lelap sedari tadi.


"Aargghh gue gak bisa tidur... " gumam Rara kesal sendiri.


Rata berjalan untuk minum, saat itulah tiba-tiba hujan disertai gluduk membuat Rara terkejut.


"Haahhh hujan yah... serem banget sihh di rumah sakit ini... " gumam Rara melihat keluar jendela.


Saat Rara melihat ke bawah, dia kembali melihat ada tiga orang pria yang memakai jaket hitam dan memakai masker, salah satu dari mereka melihat Rara dan dia segera berjalan masuk ke dalam.


"Astaga... apa itu?" gumam Rara ketakutan.


Dia liat gue? gue harus gimanaaa? - batin Rara panik.


Tak lama setelah itu, saat Rara kembali untuk tidur, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Rara yang ingin membangunkan Putri tapi... pintu kamar terbuka lebar, dengan hati yang tak tenang Rara terpaksa pura-pura tidur.


Cklek...


"Heeuuhh... "


Suara itu terdengar jelas di telinga Rara saat ini. Dinda yang terbangun karena terdengar suara napas berat itu.


"Siapa?" tanya Dinda masih setengah sadar.


Hah? Dinda? Jangan bangun din... itu zombi atau hantu... - teriak batin Rara.


Lelaki itu mendekat ke arah Dinda yang baru setengah sadar. Rara yang semakin takut, memberanikan diri untuk memukul lelaki itu.


"Berhenti!! lu zombi!!" teriak Rara mengambil vas bunga yang melemparkan nya ke arah lelaki itu.


Duukk...


"Aarrgghh.. "


"Zombi!!! Dinda lari... " teriak Rara segara menarik tangan Dinda.


"Eeehh apaann ini?!" tanya Dinda kaget tiba-tiba tangannya di tarik.


"Ada zombi din... lari... " teriak Rara keluar kamar.


Saat Rara melihat ke belakang, "Haha... lu gak bisa ngejar kita berdua, dasar lu zombi... " teriak Rara.


Brukk...


Tanpa sengaja Rara menabrak seseorang di depannya, karena pandangan teralihkan ke belakang, jadi dia tidak sadar kalo ada orang.


Tubuh Rara terjatuh ke bawah, sedangkan Dinda masih bingung sendiri.


"Aduuhh sakit... "


"Lu gak papa kan?" tanya lelaki itu.


Rara menengok ke atas, "Cogan... " gumam Rara.


"Hah? cogan? Woy! ini gue Agung, " sahut Agung berjongkok di depan Rara.


"Hah?! Agung! si anak baby!!" teriak Rara.


"Heh, masih aja pake anak baby, dasar lu anak monyet, " sahut Agung kesal.


"Lu gak papa kan ra?" tanya Dinda.


"Iya gue gak papa, " sahut Rara.


Dinda membantu Rara bangun, Agung pun berdiri dan melihat mereka berdua yang baru bangun, rambut acak-acakan, pake celana pendek, mata bengkak.


"Kalian ngapain di sini? bukannya di kamar, " tanya Agung.


"Tau nih, si Rara gue baru bangun, main narik-narik tangan aja, " sahut Dinda.


"Agung... ada zombi di kamar... " sahut Rara memeluk Agung.


"Eehh.. apa-apaan nihh... lu kenapa sih?" tanya Agung sedikit bingung.


"Ada zombi, " sahut Rara menyembunyikan wajahnya di pelukan Agung.


Agung yang bingung hanya bisa pasrah dan membalas pelukan Rara.


"Zombi dari mana? mana ada zombi di rumah sakit, " sahut Agung.


Mereka bertiga segera kembali ke kamar, Rara yang masih nempel di pelukan Agung terus berjalan.


"Aduuh nih anak, kita cuma bercanda ra... " sahut Dinda.


"Tapi itu beneran ada zombi di kamar, " sahut Rara.


"Udah, ayok ke kamar, " sahut Agung.


Sampai kamar Nanda. Terlihat ada Ihsan yang sedang di kompres oleh Putri dengan es batu. Sedangkan di dekat kasur ada Ihsan, Angga dan juga Marcell yang sedang melihat Nanda.


"Lho.. mana zombi nya?" tanya Rara melepas pelukan nya.


"Zombi pala lu peang, lu mukul gue pake vas bunga kena kepala gue... " sahut Ihsan.


"Oh... itu elu?!!" tanya Rara terkejut.


"Iyalah gue... masa orang lain, " sahut Ihsan kesal.


"Diem!" sahut Putri sedikit tegas.


Rara lari-lari kecil ke arah Ihsan, "Oohh maaf... gue gak tau... " sahut Rara mengelus kepala Ihsan.


"Aarrgghhh udah... sakit pala gue... " sahut Ihsan kesal.


"Gara-gara elu bikin orang hampir kena serangan jantung, gue jadi kebangun dari mimpi indah gue.. " sahut Putri.


"Gue minta maaf yah san... gue gak tau kalo itu elu, gue pikir itu zombi... " sahut Rara memeluk kepala Ihsan.


"Udah jangan meluk mulu, kapan sembuhnya nih kepala gue... " sahut Ihsan.


"Dari mana lu Din?" tanya Nanda.


"Nih... anak ini nih, bikin orang jantungan aja... " tunjuk Dinda ke Rara yang hanya cengengesan gak jelas.


"Zombi zombi mana ada zombi sayang... " sahut Dinda.


"Gue takut tau... lu gak ngerti sih apa yang gue rasain, " sahut Rara.


"Ini sebenarnya kenapa sih? kok gue bingung sendiri yah? terus Dinda sama Rara kenapa kalian lari keluar barusan?" tanya Lukman.


"Harusnya kita juga nanya sama kalian para cowok, " sahut Dinda.


"Nanya apa?" tanya Angga.


"Kalian ngapain kesini malem-malem?" tanya Nanda.


"Tuh suami lu katanya khawatir... " sahut Lukman.


Marcell menonjok perut Lukman pelan. "Diem lu, " sahut Marcell.


"Apa sih... emang bener kan kata elu tadi, " sahut Lukman.


"Nyari mati lu, " sahut Marcell.


"Oh tidak kok bos, saya gak mau mati sekarang, saya masih belum punya calon, " sahut Lukman.


"Aww.. sosweet... " sahut Dinda tersenyum.


"Eehh yank aku juga khawatir sama kamu, masa Marcell doang yang di bilang sosweet, " sahut Angga.


"Emang ayank khawatir sama aku kenapa?" tanya Dinda.


"Iya takutnya ayank nyari cogan di sini... terus mau putus sama aku gitu.. " sahut Angga jujur.


"Aww... ayank aku gak akan nyari cowok lain, cuma ayank yang hanya ada di hati... " sahut Dinda.


Dinda memeluk Angga dan Angga pun membalas pelukan Dinda.


"Hareudang... Hareudang... " sahut Lukman.


"Aduh anj*rr melihat ke-uwuan di jam segini, bikin mood gue pengen banget gigit leher orang, " sahut Putri kesal.


"Woi udah dong, yang jomblo jadi panas, " sahut Rara.


"Ini kamar panas bener dah, " sahut Agung.


"Mm? Kan ini kamar pake AC kok panas?" tanya Dinda melepaskan pelukan nya.


"Gegara ke-uwuan kalian ini kamar jadi panas, " sahut Putri.


"Lah elu sendiri itu kan lagi uwu sama Ihsan, " sahut Dinda.


"Gue cuma ngobatin luka Ihsan, lagian Ihsan itu cuma sebatas teman gak lebih, titik, " sahut Putri.


"Aww kena mental, " sahut Nanda.


"Yang sabar bro, perjalanan lu masih panjang, " sahut Angga.


"Sebelum jalur kuning melengkung, gue pasti bakal tetep maju, " sahut Ihsan.


"Anj*yy kata-kata nya... " sahut Lukman tepuk tangan.


"Mm hebat hebat... " sahut Rara mengangguk.


"Gue tebak pasti lu belajar dari mantan pawang buaya kan?" tebak Angga benar.


"Itu udah tau, kenapa lu malah nanya, " sahut Ihsan.


"Cell, mingkem mulu lu dari tadi, ngobrol kek apa gimana, " sahut Agung.


"Apa sih?" tanya Marcell dingin.


"Liat kan, bagaimana gue gak hebat coba, dapet suami dingin banget kek kulkas tiga puluh pintu, " sahut Nanda.


"Good job... gue kagum sama lu, " sahut Rara.


"Hebat hebat... " sahut Putri.


"Btw kalian mau ngapain datang kesini?" tanya Rara.


"Awalnya gue ke sini mau jemput Nanda sama kalian bertiga, trus Angga nelpon gue, katanya di khawatir sama Dinda, jadi dia ikut deh, " sahut Marcell.


"Terus kenapa sekarang malah ada Ihsan, lukman sama Agung?" tanya Nanda.


"Ihsan sama Lukman ketemu di jalan, mereka lagi nongkrong, " jawab Marcell.


"Trus kalo Agung?" tanya Rara.


"Gue yang nelpon, makanya dia baru dateng waktu lu lari sama Dinda kayak orang gila, " sahut Lukman.


"Heh, ngomong pacar gue orang gila minta di hajar lu, " sahut Angga.


"Ups sorry sorry gue bercanda kok, " sahut Lukman.


"Di luar masih hujan, gimana kalo kita main truth or dare?" tanya Putri.


"Gak, mending tidur, " sahut Dinda kembali ke sofa dan tertidur lelap.


"Ra.. main yuk, " sahut Putri.


"Nggak gue capek, mau tidur cantik, " sahut Rara berjalan ke arah sofa dan mengusir Ihsan untuk pergi, tak berselang lama mata Rara tertutup rapat.


"Yyahh pada tidur, gak seru banget sih... au ahh otwe tidur juga, " sahut Putri ikutan tidur.


"Lu juga tidur sana, nanti pagi-pagi kita pulang ke rumah, " sahut Marcell.


"Gue udah gak bisa tidur lagi, " sahut Nanda..


"Terus lu mau apa sekarang?" tanya Marcell.


"Gak tau, lu sendiri mau ngapain?"


"Baca buku, "


"Buku apa?"


"Buku pedoman hidup, "


"Boleh boleh sekalian bacain dong, siapa tau gue ikut tidur, " sahut Nanda.


"Ya udah sini... " sahut Marcell mengeluarkan buku yang baru saja dia beli dan membacakan nya untuk Nanda.


"Ciwi-ciwinya pada tidur... " sahut Agung.


"Mm.. yang itu lagi uwu, gue punya pacar tapi gak uwu banget, " sahut Angga iri.


"Bacot, kata elu yah bukan kata kita-kita semua, " sahut Agung.


"Emang gue uwu banget kalo lagi sama Dinda?" tanya Angga.


"Buka uwu lagi, malah kalian berdua lebih dadi sekedar pacar, " sahut Ihsan.


"Mm, bagus dong... " sahut Angga senang.


"Jadi lu nikah sama Dinda?" tanya Ihsan.


"Yahh jadi lah, masa iya gue udah tunangan batal nikah, " sahut Angga.


"Kan bisa jadi, "


"Banyak yang kayak gitu... "


"Lu pikir pernikahan itu enak? tuh bukti udah ada di depan mata, "


"Jangan ngedoain yang jelek-jelek napa, " sahut Angga.


"haha, kita cuma bercanda kok, "


"Gue dukung lu Angga, "


"Jangan lupa ceritain gimana malam pertama, "


"Kenapa gak nanya aja sana yang udah nikah? malah nanya gue, gue kan belum nikah, " sahut Angga.


"Yang itu gak mau cerita, katanya ini urusan pribadi, " sahut Agung.


"Hooh, okeylah, "