My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Erosi



"Perasaan nih kacang biasa aja, " sahut Nanda.


"Kata elu biasa aja, kata gue sama Dinda mah enak, gurih, " sahut Putri.


"Serah lu dah, " sahut Nanda berdiri dan berusaha berjalan sendiri menuju kasur.


"Mau gue bantu gak?" tanya Rara menyimpan kembali ponselnya ke atas meja.


"Nggak, gak usah, gue mau coba sendiri, "sahut Nanda.


"Oh yak udah, hati-hati, " sahut Rara.


"Iya, " sahut Nanda.


Akhirnya setelah menahan sakit yang menggelegar di sekujur kakinya, Nanda berhasil mencapai kasur dan mengistirahatkan kakinya.


"Mau di pijitin gak?" tanya Rara.


"Boleh kalo lu mau, " sahut Nanda.


"Yah pasti mau lah, sini, " sahut Rara berdiri dan berjalan ke arah Nanda yang sedang tiduran.


Nanda meluruskan kakinya untuk di pijit okeh Rara. Sedangkan tangannya di pijit oleh Dinda yang baru kembali dari toilet.


"Gimana neng, bab nya enak?" tanya Rara.


"Uuuhh enak bangett.. " sahut Dinda.


"Lu makan kacang sampe abis setengah nya, " sahut Nanda.


"Hehe... terlanjur enak, " sahut Dinda berhenti dan berjalan menuju sofa.


"Jangan makan kacang lagi din, " sahut Rara.


"Nggak akan, gue mau chat ayank gue, " sahut Dinda.


"Ehh itu para cogan belum balik-balik dari tadi, " sahut Nanda.


"Hah? Cogan? dimana?" tanya Rara.


"Itu bangsa Marcell sama yang lain, " sahut Nanda.


"Hahaha.. bangsa iblis dan setan yang ada bukan bangsa cogan, " sahut Dinda.


"Lu sama pacar sendiri jahat amat, " sahut Putri.


"Bodoamat, " sahut Dinda tak peduli.


Cklekk...


"Woy, mau pada pulang gak nih? udah malem, " tanya Lukman.


"Nggak, " jawab Rara, Dinda, dan Putri barengan.


"Gue masih betah di sini, " sahut Putri.


"Gue mau temenin Nanda malem ini, " sahut Rara.


"Yank mau pulang sekarang?" tanya Angga.


"Nggak yank aku mau temenin Nanda sampe besok, besok aku izin, " jawab Dinda.


"Yyaahh... hiks.. hiks.. " sahut Angga dengan muka sedihnya.


"Sabarr... " sahut Lukman sambil menepuk pelan pundak Angga.


"Yak udah kalo gitu, gue sama Ihsan sama ya v pulang duluan, " sahut Angga berjalan keluar.


"Ndak, lu mau pulang sekarang?" tanya Marcell masuk kedalam kamar.


"Nggak, silahkan saja kalo anda mau pulang sekarang sama yang lain, gue ada yang temenin, " sahut Nanda.


"Oh yak udah kalo gitu, kalian mau disini sampe jam berapa?" tanya Marcell.


"Kita bertiga izin, " sahut Rara.


"Gak, kalian gak sakit, gak ada acara apa-apa, sekolah, " sahut Marcell.


"Apa sih.. orang kita niatnya baik temenin istri lu yang lagi sakit, " sahut Dinda.


"Elu kan sibuk sekolah, jadi kita aja yang temenin Nanda, kasian, " sahut Putri.


"Besok Nanda pulang jam empat pagi, " sahut Marcell.


"Kalo gitu kita juga bakal pulang jam empat, " sahut Rara.


"Simpel kan, jangan di bawa ribet dah, udah sama lu pulang, biar kita yang jaga Nanda, " sahut Putri.


"Ya udah, gue pulang dulu sama yang lain, oh iya, tolong beresin baju-baju Nanda ke dalam koper, " sahut Marcell.


"Okeh, " sahut Dinda.


"Lu tenang aja, " sahut Rara.


"Mm, gue pulang, " sahut Marcell.


"Yak udah sana, dari tadi ngomong mulu gue pulang gue pulang, tinggal pulang... " sahut Rara kesal.


"Sabar sabar, " sahut Putri.


"Lama-lama gue erosi sama Marcell, " sahut Rara.


"Emosi.. " teriak Nanda, Dinda, Putri.


"Yak udah kalem napa gak usah ngegas, " sahut Rara.


"Kuy, mau ke luar sambil menghirup udara segar?" tanya Putri.


"Gue sih hayuu aja, kalo Nanda? mau gak?" tanya Dinda kepada Nanda.


"Hayu gue juga bosen, " sahut Nanda.


"Bentar gue ambil dulu kursi roda buat elu, " sahut Dinda.


"Gue bisa jalan sendiri, gak usah pake kursi roda segala, " sahut Nanda.


"Iihh biar kita di sini punya kerjaan, " sahut Putri setuju.


"Serah kalian lah, gue mah ngikut aja, " sahut Nanda pasrah.


"Oke, kalo gitu bentar yah, gue keluar dulu, " sahut Rara berjalan keluar untuk mengambil kursi roda.


"Gue gak yakin sama tuh anak, " sahut Putri.


"Nah iya bener, tau-tau ngilang, " sahut Nanda.


"Ehh, btw, ndak bener di sini gak ada perawat cowok?" tanya Dinda.


"Ada kok, malah banyak, " sahut Nanda.


"Terus kenapa lu bilang gak ada, " sahut Putri.


"Biar tuh anak gak nyasar ke sana ke sini, biar bareng gitu, " sahut Nanda.


"Ckckckck, parah lu.. " sahut Putri.


Sudah lebih dari 10 menit Rara pergi mengambil kursi roda tapi sampai sekarang masih belum kembali.


"Lama amat dah tuh anak, keburu jam sembilan, " sahut Putri kesal.


"Mogok dimana sih tuh anak?" tanya Dinda.


"Adduuhhh keburu gue di kasih obat tidur sama suster, " sahut Nanda.


"Put, cari sana biar gue yang jaga Nanda, " sahut Dinda.


"Lagi gak mood, nanti aja lah, paling di kantin, " sahut Putri malas.


"Ck, ke kanti ngajak kek, gue juga laper kali, " gumam Dinda.


BRAKK...


Tiba-tiba pintu terbanting sangat keras sehingga mereka semua kaget begitupun dengan orang-orang yang lewat.


"Astagfirullah... biasa aja kali neng, " teriak Putri kaget.


Dinda yang sudah tertidur lelap terbangun terkejut dengan suara pintu. "Woy berisik!!" teriak Dinda kesal.


"Cuy.. gue ketemu sama dokter cowok ganteng... " sahut Rara loncat-loncat.


"Apa sih?" tanya Dinda sambil mengumpulkan nyawa.


"Din... kuy kita ke kantor dokter cowok ganteng... " sahut Rara menggoyang-goyang kan tubuh Dinda.


"Aduhhh kenapa lu gak balik-balik, tau-taunya lu ketemu sama cogan, nggak ahh pwe, " sahut Dinda kembali tidur.


"Iisshh gak seru.. " sahut Rara manyun bebek, lalu melihat Putri yang sedang asik main ponsel.


"Putri ku sayang... " teriak Rara menghampiri Putri.


"Apa?" tanya Putri.


"Nyari cogan yuukk... " sahut Rara sambil tersenyum.


"Nggak ah, udah malem, " sahut Putri menolak.


"Iih elu... sama-sama gak seru juga... " sahut Rara kesal.


"Lagian elu kemana aja sih? tadinya Nanda belum tidur belum di kasih obat tidur, elu gak balik-balik, " sahut Putri sedikit kesal.


"Yak maaf, waktu gue ambil tuh kursi roda gue gak sengaja berpapasan sama dokter ganteng... " sahut Rara.


"Dahlan, besok lagi, sekarang kita tidur, " sahut Putri.


"Besok kita pulang ke rumah, mending sekarang aja yuk sekarang... " sahut Rara memaksa.


"Males, udah malem, gue takut ada hantu, " sahut Putri.


"Kebiasaan lu takut sama hantu di rumah sakit, gak akan ada hantu, banyak orang ini, " sahut Rara.


"Gue takut ada zombi, " sahut Dinda terbangun.


"Zombi apaan sih anj*rr.. " sahut Rara.


"Gue baca di youtube, suka ada zombi yang berkeliaran di rumah sakit, sama ada hantu juga, " sahut Dinda.


"Mm.. jangan gitu dong, gue kan jadi agak takut... " sahut Rara.


"Makanya mending diem deh di sini.. dari pada keluyuran gak jelas, paling yuh dokter udah pulang, " sahut Putri.


"Dia jomblo anj*r... katanya dia itu lembur malam ini, " sahut Rara.


"Udah jangan berisik, nanti Nanda kebangun lagi, " sahut Dinda.


"Gue tidur di sofa deket Nanda, " sahut Dinda.


"Gue tidur disini sama Rara, " sahut Putri.


Rara berjalan untuk mengambil minum untuk dirinya sendiri, di dalam kamar Nanda memang sudah tersedia tempat minum bahkan galon pun sudah tersedia.


"Saking sayangnya sama Nanda, sampe ada yang bawa galon segala, " sahut Rara.


"Mm, kalo udah selesai minum tolong sekalian bawain bantal sama selimut di deket jendela itu, " sahut Putri.


"Iya, " sahut Rara.


Setelah selesai minum Rara berniat mengambil selimut dan banyak yang diminta oleh Putri barusan. Jendela kamar yang memperlihatkan pemandangan tidak ada gorden jadi tidak bisa di tutupi.


Saat Rara mengambil bantal, dia tak sengaja melihat ada beberapa orang yang sedang berjalan di sana, tapi jalan mereka seperti orang pincang. Dan itu membuat Rara ketakutan.


"Aaaaaa... " teriak Rara terjatuh ke lantai.


Suara teriakan itu membuat Dinda dan Putri terbangun dari sofa dan segera menghampiri Rara.


"Lu kenapa ra?" tanya Putri.


"I.. i... itu... ada zombi, " sahut Rara gagap.


"Zombi? mana ada zombi ra.. kita cuma bercanda kok, " sahut Dinda.


"Nggak din... ini beneran ada zombi... " sahut Rara.


Dinda dan Putri saling memandang tak percaya dengan ucapan Rara barusan.


"Kalo kalian gak percaya liat aja, " sahut Rara menutup matanya.


Dinda melihat keluar jendela hanya ada orang-orang yang sedang berjalan biasa di sana.


"Mana zombi mana? gak ada zombi juga, cuma ada orang, manusia, " sahut Dinda.


"Engga Din... mereka tadi jalannya pincang gitu.. " sahut Rara semakin ketakutan.


"Ahh udah lah, paling cuma khayalan lu doang, mana mungkin ada zombi di dunia nyata itu cuma film, " sahut Putri.


"Udah yuk tidur, besok kita pulang pagi-pagi, " sahut Dinda mengambil beberapa banyak dan juga dua selimut.


"Nih put, " sahut Dinda memberikan bantal dan selimut.


"Gue beneran, gue gak bercanda, " sahut Rara.


"Iya iya kita percaya... " sahut Dinda yang sudah lemas.


"Udah ra.. paling cuma khayalan lu doang, mending tidur biar zombi nya gak ke sini.. " sahut Putri.


"Udah dong put.. kasian Rara.. " sahut Dinda.


"Hehe.. iya deh iya... sini tidur... " sahut Putri.


Rara menghampiri Putri dan tidur di samping Putri dengan perasaan tidak enak.


Kayaknya tadi gue liat ada seseorang pake baju item, terus dia liat ke arah gue... iihh seremm mending tidur... - gumam Rara.


"Udah ra jangan dipikirin mulu.. tidur aja yang nyenyak siapa tau kejadian barusan lewat begitu aja, " sahut Putri.


"Iya put.. " sahut Rata segera menutup matanya dan tertidur.