
Pagi-pagi Marcell sudah siap-siap, dan siap untuk pertandingan nya. Sedangkan Nanda masih tidur nyenyak di kamar, awalnya niat Marcell adalah membangunkan Nanda tapi takut kalo dia bakal telat.
"Nanti Bunda sama Nanda nyusul kamu kok, " sahut Bunda.
"Iya bun, aku berangkat dulu bun, do'ain aku yak, " pamit Marcell.
"Iya bunda pasti bakal do'ain kamu terus kok, " sahut Bunda.
Marcell segera berangkat bersama Ayahnya, dan Bunda segera membangunkan Nanda.
Tok... tok... tok...
"Nanda, Marcell udah pergi tuh, kamu mau nyemangatin Marcell apa mau tidur?" teriak Bunda.
"Iya bun, ini aku udah bangun... " teriak Nanda dari dalam kamar.
Cklekk...
"Nah kamu cantik, " sahut Bunda.
"Ayok bun, nanti ketahuan sama Marcell, " ajak Nanda.
"Iya... tenang aja, tenang aja, kamu mau nonton di bangku depan apa dimana?" tanya Bunda membawa kunci mobil nya.
"Di bangku depan aja bun, aku kan nyemangatin nya cuma sebentar, " sahut Nanda.
"Yak udah ayok, " sahut Bunda sudah naik ke mobil dan siap untuk jalan.
Didalam perjalanan Nanda merasa gugup sekali. Sedangkan bunda fokus mengendarai mobil.
"Kamu degdegan yak ndak?" tanya bunda.
"Iya bun, aku takut salah, " sahut Nanda.
"Tenang aja, kamu pasti bisaa... " sahut Bunda.
"Bunda mamah sama ayah gimana?" tanya Nanda.
"Nanti ayah kalo udah mengantar Marcell, ayah mau langsung ke bandara, " sahut Bunda.
Setelah beberapa menit mereka sampai di GOR tempat pertandingan basket antar sekolah.
Nanda turun dari mobil, dan dia sudah di sambut oleh grup nya.
"Nanda cepetan... bentar lagi kita bakal masuk, " teriak salah satu grup pemandu sorak.
"Iyaa bentar, bunda aku pergi dulu yah, " pamit Nanda.
Bunda hanya mengangguk dan berjalan pergi memesankan tempat duduk untuk mereka 5 orang.
"Ayah dimana sih?" gumam Bunda.
"Heyy, " sapa bu Patmi.
"Kapan datang?"
"Barusan, "
"Mau masuk sekarang? Kita bakal kasih kejutan spesial buat Marcell, " sahut Ayah Nanda.
Mereka semua masuk ke dalam dan duduk di bangku yang sudah di pesan.
Perwakilan sekolah dari sekolah Nanda dan Marcell masuk bersama pemandu sorak, Marcell masih belum menyadari keberadaan Nanda.
"Ra, itu ada Marcell, " bisik Rara dari barisan belakang.
"Ssyuutt... " sahut Nanda.
Para pemandu sorak berasa di pinggir lapangan dan mulai membentuk formasi.
Wasit sudah meniup priwit dan permainan pun dimulai. Saat sekolah mereka berhasil mendapat skor, para pemandu sorak mulai berteriak.
Marcell yang mendengar teriakan Nanda mulai melihat ke sana ke sini.
"Kayak familiar tuh suara, tapi dimana orangnya?" gumam Marcell.
"Wahh parah nih ndak, Marcell mulai curiga sama suara lu, " bisik Dinda.
"Udah biarin aja, gue sengaja, " sahut Nanda.
"Oh yak udah, " sahut Rara.
Nanda yang melihat Marcell merasa kagum dan di terus melihat Marcell yang sudah keringatan yang bercucuran di seluruh tubuhnya.
"Udah jangan di liatin mulu, " sahut Rara.
"Nanti matanya copot loh, liat cogan berkeringat kayak gitu..." sahut Dinda.
"Si-siapa juga sih yang ngeluarin cogan, " sahut Nanda.
Waktunya pergantian pemandu sorak, kini giliran Nanda sudah selesai, kini giliran grup lain untuk menyemangati tim basket sekolah mereka.
Nanda dan yang lain segera mengganti baju di rumah ganti.
"Lu tadi liat Angga gak? Buset otot-otot nya beh kaku semua... " sahut Dinda.
"Mmm, ada yang jatuh cinta niihh... " sahut Rara.
"Lu juga sama Ra..... lu dari tadi ngeliatin mulu Agung, " sahut Nanda.
"Nah kan, " sahut Dinda.
"Oke gue jujur, gue emang suka sama Agung, tapi kalian jangan ngasih tau siapa-siapa, " sahut Rara.
"Oke tenang aja, gue bakal jaga rahasia lu, " sahut Dinda.
"Mm kalo gue mah gak akan jaga rahasia elu ra, " sahut Nanda.
"Hehe... gue bercanda... Gue bakal jaga rahasia elu, tenang aja, " sahut Nanda.
"Oke siip, " sahut Rara mulai lega.
Nanda, Dinda dan Rara menghampiri Bunda dan Ayah Marcell. Nanda tau kalo yang di belakang itu adalah orang tuanya, tapi dia tidak ingin mengacaukan kejutan.
"Yah, Nanda udah gede yak, gak nyangka loh manah, " bisik mamah Nanda.
"Ayah juga sama, berarti nanti tinggal Betly sama Firza yang belum nikah, " bisik Ayah.
"Kalo Firza sama Betly jangan dulu nikah lah, " bisik mamah.
"Iya ema-- "
Wowooo.... ternyata yang membuat skor di detik-detik terakhir adalah Marcell Alfarizky dari sekolah Negri Mentari.....
"WOOOOOO SEKOLAH KITA MENANG LAGI!!"
Sorakan para penonton memenuhi ruangan. Nanda pun senang melihat Marcell yang bisa lebih sedikit lega dan tidak tegang.
Bunda mengajak semua nya untuk keluar dari GOR, Nanda menghampiri Marcell dan mengantarnya untuk mengganti baju, setelah itu mereke pergi ke luar.
"SUPRISE!!!" Semua orang berteriak sekaligus bahagia.
Nanda melihat ekspresi Marcell yang tak pernah ia lihat sebelum nya menangis bahagia karna bisa berkumpul bersama keluarga besar Alfarizky dan keluarga Nusyrandi.
"SELAMAT UNTUK ANAK AYAH YANG PALING GANTENG!!" Teriak ayah.
"Aduh ayah jangan teriak malu dong di liatin saja orang, " sahut bunda.
"Gak papa jeng, mumpung sepi, " sahut mamah Nanda.
Marcell menerima semua hadiah dari orang tuanya dan mertua nya, kecuali hadiah dari Nanda yang belum dia dapatkan.
Marcell melihat Nanda membawa paperback coklat di tangannya, dan Marcell menarik tangan Nanda untuk menjauh dari kerumunan.
"Mana hadiah yang lu janjikan?" tanya Marcell.
"Yawloh sabar kek, " sahut Nanda, dia memberikan paperback itu kepada Marcell.
Marcell menerima dan dia langsung membukanya. Seketika Marcell terdiam tak berkutik.
"Kenapa lu gak suka sama hadiahnya? Yak udah siniin, " sahut Nanda
"Nggak gue suka, lu kenapa bisa atau kalo gue dari dulu ngincer jaket ini?" tanya Marcell bahagia.
"Lah bener, padahal gue asal milih aja, " gumam Nanda.
Marcell langsung mengenakan jaket pemberian satu Nanda.
"Gimana menurut lu bagus gak?" tanya Marcell.
Behh ganteng bangettt>\< - batin Nanda.
"Kenapa muka lu merah? Lu lagi demam?" tanya Marcell khawatir.
"Bukan apa-apa, jangan suka kepo... " sahut Nanda berlari.
"Diih... "
...****************...
Angga segera menghampiri Dinda yang sudah menunggu nya, dan segara ke ruang ganti.
"Ada apa din?" tanya Angga.
"Gue cuma mau ngasih lu ini, " Dinda memberikan paperback berwarna biru nepi yang sudah diikat dengan pita warna merah marun dan ada sebuah kertas.
"Ini apaan din?" tangan Angga.
"Udah jangan banyak bacot, terima aja, terus buka terus baca, kalo udah di baca, gue tunggu lu di parkiran, " sahut Dinda berjalan pergi.
Angga mulai membukanya satu persatu. Dia membuka paperback terlebih dahulu, ada dua bungkusan, dia membuka keduanya.
Angga terkejut melihat sepatu basket dah sepatu sneker berwarna hitam. Angga mulai membaca surat yang tertempel pada paperback tersebut.
HAI Angga Putra
...Gue di surat ini mau jujur, awalnya gue pikir lu bakal pake sepatu yang gue beli khusus buat lu, waktu gue ke rumah lu katanya lu lagi gak ada di rumah, jadi gak udah gue baru ngasih sekarang sepatu nya, maaf kalo telat 🙏...
...Disini gue mau bilang sama lu semoga menang buat nanti pertandingan nya, SEMANGAT terus pokoknya, awas aja kalo sampe lu kalah!! ...
...Kalo lu udah baca surat ini, temuin gue di parkiran, gak mau tau pokoknya harus!!! ...
Tanpa basa basi lagi, Angga segera pergi ke parkiran dan memeluk Dinda dari belakang. Dinda yang sedang melamun menunggu Angga datang tiba-tiba dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba memeluk nya dari belakang.
"Gue sayang sama elu din... " bisik Angga di telinga Dinda lembut.
Dinda yang mendengar nya merasa terharu, akhirnya dia bisa mendengar suara Angga mengucapkan kata 'sayang' pada dirinya.
Angga melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Dinda ke depan badannya.
"Gue mah jujur sama lu, gue suka sama elu din... Gue sayang sama elu, " ucapan Angga.
Dinda masih mendengarkan perkataan Angga.
"Mau kan elu jadi pacar gue?!" tanya Angga tanpa ada rasa gugup sama sekali.
Dinda mengangguk pelan, "Iya gue mau, " jawab Dinda lembut.
Angga memeluk Dinda karena bahagia, Dinda membalas pelukan Angga. Akhirnya Dinda dan Angga sekarang resmi berpacaran.