My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Pengumuman



Perhatian kepada seluruh ketua kelas segera berkumpul di lapangan, ada pengumuman penting... Sekian terimakasih


"Ndak, sana lu pergi ke lapangan, " sahut Dinda dari depan mencolek tangan Nanda.


"Apaan si? Nggak gue males, " sahut Nanda.


"Katanya ada pengumuman penting ndak, " sahut Dinda.


"Ish... Mike lu ke lapangan gantiin gue, " sahut Nanda.


Tapi Mike pura-pura tak mendengar Nanda bicara, dia terus menulis mengerjakan soal.


"Kenapa ketua kelas nya belum keluar juga?" tanya tegas bu Siti.


"Ini nii bu, gak mau katanya, " sahut Mike.


"Eh... elu yak gue nyuruh lu gantiin gue budek, bu Siti bicara lu langsung main nuahut aja, " sahut Nanda.


"Gue kan sengaja, " sahut Mike.


"Gak ada adab lu, " sahut Nanda.


Nanda pasrah dan dia segera berjalan pergi ke lapangan, "Ada pengumuman penting apa sih, sampe-sampe gue harus ke lapangan segala, kan gue lagi ngerjain soal, " gumam Nanda kesal.


Tak sengaja Marcell yang sedang menuju lapangan melihat Nanda, dan menghampiri nya, "Lu kenapa kesel kayak gitu?" tanya Marcell.


"Allahuakbar, lu jangan suka ngagetin orang bisa gak sih?" tanya Nanda semakin kesal.


"Gak bisa, gue selalu pengen ngagetin elu, " sahut Marcell.


"Ngejawab lagi, "


"Lu kenapa kesel kayak gini? Lagi pms lu?" tanya Marcell.


"Nggk, gue lagi kesel karna pengumuman tadi, sepenting apa sih sampe gue harus ke lapangan?"


"Gak tau, gue juga di suruh ke lapangan, " sahut Marcell.


"Lah gue kira elu yang bakal ngasih pengumuman nya, " sahut Nanda.


"Nggak, gue kan ketua kelas juga, bukan karena gue ini ketua OSIS gue juga yang harus ngasih pengumuman, " jelas Marcell.


"Buat apa sih elu bawa buku segala?" tanya Nanda.


"Kan pengumuman, yak harus di catet, " ucap Marcell.


Mereka berdua sudah sampai di lapangan, semua orang membawa buku dan pulpen untuk mencatat, tapi Nanda tak membawa apa pun.


"Assalamu'alaikum wr. wb, "


"Walaikumsalam, " sahut semua siswa.


"Bapak minta maaf kalo bapak mengganggu belajar kalian semua, "


"Bukan ngganggu lagi pak, nanti kalo saya gak dapet nilai bapak harus tanggungjawab, " gumam Nanda kesal.


"Bapak disini mau ngasih kalian pengumuman penting, bagi seluruh siswa-siswi, "


"Cepetan kek pak, panas, " gumam Nanda semakin kesal.


Marcell yang sedari tadi mendengar hanya menggeleng pelan.


Pengumuman terus di ucapkan oleh kepala sekolah, yang lain langsung mencatat apa yang diucapkan kepala sekolah, sedang kan Nanda diam saja.


"Lu gak nyatet kayak gini, emang masuk ke otak lu?" tanya Marcell.


"Udah diem, tuh kan jadi lupa lagi, mending lu catet aja, " sahut Nanda.


Marcell tak peduli yang dikatakan oleh orang-orang, yang pasti hati dan cinta Marcell hanya untuk Nanda seorang.


"Udah cukup itu doang, sekian terimakasih atas perhatian nya... Jangan lupa untuk mencuci tangan, pakai masker yah nanti mulai senin, "


"Yeee, dasar covid-19 gilaa, " gumam Nanda berjalan pergi menuju kelasnya.


"Udah napa sih, lu marah-marah gak jelas mulu, " sahut Marcell.


"Gue kesel, Bilang aja kek gak usah banyak basa basi sana sini, yang penting besok harus pake masker udah itu aja gak usah sana sini lah ngebacot gak jelas, " sahut Nanda semakin geram ke kepala sekolah.


"Lu sadar gak sih, lu lagi ngomongin kepala sekolah, " sahut Marcell.


"Gue sadar, jadi besok intinya kita semua harus pake masker udah itu aja, " sahut Nanda mempercepat langkahnya.


Marcell hanya melihat Nanda dari belakang, dan tersenyum manis, "Lu cantik ndak, lu kalo feminim gue suka sama lu, " gumam Marcell.


Nanda masuk ke kalanya dengan langkah kasarnya. Untung saja guru sudah keluar lebih dulu.


"Jadi gimana, apa pengumuman nya?" tanya salsa.


"Pengumuman nya adalah, kita besok harus pake masker, buat gak kenapa conoha, " sahut Nanda.


"Corona, ndak corona, " sahut Mike.


"Sama aja, yang penting sama-sama virus ini, " sahit Nanda.


"Jadi besok kalian mejanya gak berdua-berdua taoh sendiri-sendiri, udah itu aja, makasih, " sahut Nanda berjalan menuju mejanya.


"Gue tadi denger, pengumuman nya lama, tapi lu ngasih tau cuma sedikit, " sahut Rara.


"Dia mah kan suka ambil intinya aja, " sahut Dinda.


"Oh iya, " sahut Rara singkat.


Bel pulang sekolah telah berbunyi dan semua siswa-siswi keluar dari kelas mereka menuju gerbang kebebasan.


"Ahh, seneng banget gue hari ini, " gumam Nanda.


"Seneng kenapa lu?" tanya dinda.


"Gue ada yang jemput, " sahut Nanda


"Emang aja cowok yang mau nge jemput elu?" tanya Rara.


"Kan Marcell ada, " sahut Nanda.


"Makanya lu cepetan punya pacar kek, tumben banget lu gak nyari pacar, " sahut Mike.


"Enak banget tuh mulut ngomong, gimana tuh kabar Delisa, " sahut Rara.


"Udah kek, gue sama Delisa baik-baik aja, do'ain aja kalian, gue mah nembak dia nanti malem, " sahut Mike berjalan keluar.


"Amiin... " sahut Nanda dan Dinda.


"Gue duluan, Assalamu'alaikum, " pamit Mike.


"Iya, Waalaikumsalam, " jawab Nanda.


"Enak banget dia, lah gue... " sahut Rara menunjuk dirinya sendiri.


"Napa lu, tumben gak mau nyari doi, biasanya suka riweh, " sahut Dinda.


"Gue capek nyakitin hati cowok mulu, gue pengen insaf dari sebutan playgirl, " sahut Rara.


Mereka berbicara sampai ke parkiran, dan Marcell, Angga, Agung sudah menunggu.


"Kalian berdua mau di anterin pulang gak?" tanya Agung.


"Gue sama Angga aja, " sahut Dinda.


"Boleh, " sahut Angga, naik ke motornya disusul oleh Dinda.


"Kalo elu Ra, mau sama Agung aja, apa sama gue?" tanya Nanda.


"Gue gak mau jadi orang ke tiga, yak udah deh gue sama Agung aja, " sahut Rara.


Rara bersama Agung naik motor, begitu pun Dinda dan Angga yang naik motor, hanya Nanda dan Marcell yang naik mobil.


Kendaraan mereka melaju keluar dari lingkungan sekolah, menuju rumah masing-masing.


"Kalian jangan macem-macem di mobil yah, " teriak Rara.


"Enak aja, emangnya gue ini cowok apaan, " sahut Marcell.


"Gue takut kalo sahabat gue di apa-apain sama elu cell, " teriak Dinda.


"Eh, gue masih sadar diri napa si, " sahut Nanda.


"Tau nih, takut amat kalo Nanda sama gue bikin anak, " cibir Marcell.


Untung saja, Rara dan Dinda ada di depan, jadi mereka tak mendengar perkataan Marcell barusan.


"Jaga kalo ngomong, gue gak mau jadi mamah muda, " sahut Nanda.


"Gue juga gak mau kale, kalo jadi papa muda, " sahut Marcell.


"Makanya jaga kalo ngomong, " sahut Nanda.


Marcell hanya mengangguk menanggapi perkataan Nanda barusan. Motor Agung dan Angga belok ke arah kiri, dan mobil Marcell lurus ke perumahan.


"Cell, berhenti dulu di tukang nasi goreng dong, " minta Nanda.


"Kenapa lu, lapar?" tanya Marcell.


"Kalo gue minta berenti di tika nasi goreng yak pasti gue laper lah, " sahut Nanda.


Marcell berhenti di tempat nasi goreng dan keluar mobil untuk memesan kan 2 bungkus dibawa pulang.


"Lu mau apa lagi, mumpung masih ada di jalan?" tanya Marcell.


"Udah itu aja dulu, gue mau pulang udah itu makan, " sahut Nanda.


Setelah selesai, Marcell segera pulang ke rumah untuk makan nasi goreng.


"Cell berenti, "


"Mau apa lagi?"


"Mau ke minimarket dulu gue, " sahut Nanda.


"Biar gue aja, lu mau beli apa?" tanya Marcell.


"Nggak nggak, gue juga mau ikut turun, nanti kalo elu salah gimana, " sahut Nanda.


"Yak udah ayok, "


Marcell keluar lebih dalu, dan di susul oleh Nanda, mereka berdua berbelanja kebutuhan Nanda.


"Udah cuma segini?" tanya Marcell.


"Udah, emang lu mah gue beli semua di sini?" tanya Nanda.


"Terserah elu sih, lu mau beli sama tokonya pun gue bisa, " sahut Marcell.


"Mm, sombong, dasar anak Sultan seenak aja, " sahut Nanda.


Marcell segar bayar belanjaan tersebut dan kembali ke dalam mobil segera pulang ke rumah.


Sesampainya mereka berdua di dalam rumah, Nanda segera ganti baju, dan turun menuju meja makan, dan segera menyantap nasi goreng tersebut.


"Yawloh, lu kayak anak yang gak pernah makan aja, " ucap Marcell yang baru datang.


"Gue laper banget soalnya lu cuma ngasih roti, spageti doang, " sahut Nanda.


"Terus nanti gue harus ngasih apaan ke elu?" tanya Marcell ikut makan.


"Kasih baso kek, buat ganjel lapar gue, " sahut Nanda.


"Yak iya, nanti gue kasih baso, besok lu harus bareng gue yak, " sahut Marcell.


"Iyaa... Seneng banget gue kalo ada yanb traktir gue setiap hari, " sahut Nanda.


"Mm, enak banget yak, gue kasih uang 50k gak di pake jajan, " sahut Marcell.


"Buat di tabung, " sahut Nanda.


Marcell hanya senang mendengar nya dan tersenyum melanjutkan makan berdua bersama Nanda.