
"Bentar... Lu lagi hamil?"
"Yah kali hamil, gue lagi halangan, " sahut Nanda.
"Gagal dong, "
"Mampusss... Eh, gagal apanya?" tanya Nanda tak paham.
"Gak jadi, " jawab Marcell.
Setelah perdebatan yang gak jelas, mereka berhenti dan menungu makanan yang sedari tadi belum sampe juga.
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Tiba-tiba ada suara bel yang berbunyi. Dengan cepat Marcell dan Nanda keluar dari dari dapur untuk menghampiri seseorang yang menekan-nekan belum rumah mereka.
"Punten... Gofood, "
"Ahsyiaapp, " sahut Marcell berjalan keluar.
"Permisi, apa benar ini dengan Marcell Alfarizky?" tanya kurir.
"Iya benar, " sahut Marcell membukakan pintu gerbang itu dengan sangat luas.
"Ini pesanan anda, pizza 1 meter dengan berbagai macam toping, total nya jadi 250.000 di tambah dengan ongkir 7.000 jadi 257.000 , " sahut kurir.
"Kenapa gak langsung aja bilang totalnya 270 ribu gitu.. Gak usah di jelasin pak saya juga udah tau, " sahut Marcell.
"Maaf mas, udah kebiasaan, " sahut kurir.
"Ya udah gak papa.. Ini uang nya, " sahut Marcell memberikan 3 lembaran uang kertas berwarna merah kepada kurir.
"Kembalian nya ambil aja pak, " sahut Marcell.
"Terimakasih mas, "
Marcell menutup gerbang dan mengunci nya dari atas sampai bawah. "Nih pizza pesenan lu, " sahut Marcell.
"Yuk masuk, " sahut Nanda.
Mereka berjalan ke arah dapur untuk memakan pizza itu berdua. Marcell membawakan piring untuk mereka berdua agar tak menetes.
Mereka berdua makan dengan lahap. Tiba-tiba ada lagi yang menekankan bel rumah mereka, kali ini bel itu terus menerus di tekan oleh seseorang.
"Siapa sih itu? Ganggu orang lagi makan aja, cell bukain sana, " sahut Nanda.
"Lah kok gue? Lu aja sana, " sahut Marcell.
"Gak mau ah, pewe, " sahut Nanda.
"Punten... Gofood, "
"Lu pesen lagi pizza?" tanya Nanda.
"Kagak, gue pesen satu, " sahut Marcell.
"Yee dua meter, " sahut Nanda angkat tangan.
"Kagak nj*m, "
"Ya udah sana bukain pintu nya, paling salah rumah, "
Dengan terpaksa Marcell beranjak dari tempat duduk nya menuju pintu. Karena sudah terlanjur kesal Marcell membuka gerbang dengan keras sampai terdengar suara.
Bgrang
"Ooohh~~~ Marcell ku yang ganteng~ aku ke sini mau minta makann.. " sahut orang gila. Eh maksud nya sahut Lukman nyanyi.
"Ngapain sih lu ke sini? Ganggu orang aja, " sahut Marcell.
"Yeehh mentang-mentang rumah baruu.. Sombong, " sahut Rara.
Dengan sopan Rara dkk masuk ke dalam rumah tampa permisi atau mengucap salam.
Sedangkan Marcell dkk masih ada di luar. "Masuk, " sahut Marcell.
Mereka semua masuk ke dalam dengan santainya Marcell dkk menuju dapur tempat Nanda berada. Siapa sangka di sana sudah ada Rara dkk yang ikut makan pizza bersama Nanda.
Etdah, tujuan gue pesen pizza buat di makan berdua, lah ini apa njirr, gagal sudah - batin Marcell kecewa besar.
"Yookk... Makan pizza, " teriak Lukman segera menghampiri Nanda dkk dan langsung mengambil pizza itu dengan tangan nya yang belum di cuci.
"Cuci tangan dulu yank, " sahut Dwi.
"Nanti ahh, kalo udah beres makan, " sahut Lukman.
"Iihh ayank jorok, " sahut Dwi.
"Apa kabar dwi?" tanya Nanda.
"Aku baik, gimana kabar kakak?"
"Gak usah panggil-panggil kakak gue paling anti di panggil kakak sama orang lain, panggil aja Nanda, " sahut Nanda.
"Oh iya Nanda, " sahut Dwi.
"Gue juga baik, sekarang lu sama Lukman udah pacaran, kapan nikah?" tanya Nanda.
"Gue mah selalu siap nikahin Dwi, cuma Lerry tuh yang belum siap ngelepas adik tersayang nya, " sahut Lukman.
"Ooh, " sahut Nanda.
"Bagi-bagi napa, enak kalian aja, gue juga mau kale, " sahut Angga menyambar pizza yang masih banyak itu.
"Gue juga mauu, " sahut Ihsan.
"Gue juga boss, " sahut Agung.
"Etdah sabar napa, mau gue pesenin lagi? Biar cukup, " sahut Marcell.
"Kenapa?" tanya Marcell.
"Ini bentar lagi juga abis, gue sebenarnya udah makan tadi, sebelum datang kemari tadi, " sahut Agung.
"Oh, sama siapa?" tanya Marcell.
"Sama siapa lagi lah kalo bukan ayank gue Rara, " sahut Agung.
"Hemm, " sahut Marcell.
"Terus lu din? Katanya lu ada acara keluarga, kenapa sekarang ada di rumah gue? Mana sama Angga lagi, " sahut Nanda.
"Udah izin kok tadi, sebenarnya tadi bukan keluarga gue doang, tapi lagi ngebahas pernikahan gue sama Angga, " sahut Dinda.
"Oohh pantesan,.. Kalo Ihsan sama putri kapan nikah?" tanya Rara.
"Gue sama Putri nikah di Jerman, " sahut Ihsan.
"Nj*m jauh, " sahut Agung.
"Yee.. Emang pasangan Agung Rara doang yang bisa nikah di luar negeri, gue juga bisa kalee.. Ye kan San, " sahut Putri.
"Yoi, " sahut Ihsan.
"kapan pernikahan kalian?" tanya Lukman.
"Tanggal 8 September " jawab Ihsan.
"Nah.. Itu seminggu setelah pernikahan gue sama Rara, " sahut Agung.
"Mm.. Baguss.. Beda beberapa hari doang gak masalah, " sahut Lukman.
"Jadi yang nikah di indo cuma gue sama Dinda doang nih?" tanya Nanda.
"Iya, "
"Gak juga.. Gue berencana nikah di indo aja, gak usah jauh-jauh.. " sahut Lukman.
"Oh Lukman juga di indo... Syukur lah, " sahut Nanda.
"Kenapa gak di luar negeri?" tanya Angga.
"Keluarga Dwi gak mau, katanya mending konsep dalam negeri, bermacam-macam, " sahut Lukman.
"Oh, keluarga lu setuju?"
"Keluarga gue mah ngikut aja, apa yang di setujui sama keluarga mempelai wanita yah keluarga gue setuju, "
"Gue di Paris ikut konsep yang di indo aja, ada beberapa lah yang gue ambil dari konsep di Indonesia, gak papa kali pake beberapa, " sahut Agung.
"Yaa.. Mau gimana lagi, jujur aja yah Mama gue memilih konsep luar negeri tapi keluarga Dwi kagak setuju.. Jadi ya udah terpaksa menerimanya dari pada gak jadi nikah yee kan, " sahut Lukman.
"Hemm iya juga yah, " sahut Dinda.
Setelah pizza itu habis, mereka masih berkumpul di dapur dan meneruskan pembicaraan mereka sampai selesai.
"Eh, bukan nya keluarga Dwi tinggal Lerry sama Ayah nya dong yah?" tanya Putri.
"Iya, kak Lerry setuju-setuju aja konsep luar negeri, cuma.. Ayah yang gak setuju, " sahut Dwi.
"Mm, btw ayah lu sakit apaan sih?" tanya Nanda.
"Jantung nya lemah, jadi aku sebagai anak gak boleh membantah, takut kehilangan ayah, mana ayah pernah bilang dia pengen banget liat anak keduanya menikah sebelum dia tertidur untuk selama-lama nya, " jawab Dwi.
"Oh gitu, kalo cucu?" tanya Ihsan.
"Bodoamat, dia gak peduli cucu nya mau kayak gimana, yang penting anak-anaknya nikah sama orang yang kaya bisa memenuhi kebutuhan Dwi dan sebagai nya, " sahut Lukman.
"Perasaan Ayah gak pernah bilang gitu deh, " sahut Dwi.
"Yee.. Napa sih kasi micin dikit, " sahut Lukman.
"Ahahaha.. " semua orang tertawa.
"Semoga Ayah lu gak tiba-tiba sakit jantung aja yah pas pernikahan kalian, " sahut Rara.
"Aminnn, " sahut semua orang.
Setelah percakapan itu, Rara dan Putri masih ingin mengobrol banyak sebelum Rara dan Putri pergi ke Paris dan Jerman untuk menikah.
Sedangkan yang lain berkeliling rumah Nanda Marcell untuk pertama kalinya.
"Gede juga yah rumah kalian, " sahut Angga.
"Iyalah, lu gak liat orang tua mereka aja kaya, punya rumah gede masa iya anak nya engga, " sahut Ihsan.
"Iya juga yah, " sahut Angga.
"Kalem nanti gue bakal lebih besar dari rumah mereka, " sahut Agung.
"Aminn... Gue do'ain, " sahut Angga.
"Tapi pertama-tama lu harus nikahin dulu Rara, " sahut Ihsan.
"Ahh kalo itu mah udah pasti jadi atuh.. Gak usah di tanya lagi, " sahut Agung sudah yakin.
"Hebat juga yah lu cell, bisa dapet rumah di perumahan Sultan, " sahut Lukman geleng-geleng kepala.
"Bukan gue yang pilih rumah di sini, tapi ortu gue, " sahut Marcell.
"Ohh.. Pantesan, " sahut Angga.
"Tapi tetep aja hebat gitu mereka, bisa milih rumah yang bagus, mewah, sama konsep luar dalem nya sama seperti yang Nanda pengen, " sahut Agung.
"Begitulah, " sahut Marcell.