
Nanda melihat ke arah Marcell yang terus melihat tubuh Putri yang telanjang hanya saja tertutupi handuk kimono.
"Tutup mata g*bl*k, " teriak Nanda menutupi mata Marcell.
"Apa sih? gue kan udah pernah liat lu kaya gitu... " sahut Marcell.
"Itu kan gue, istri lu sedang Putri itu orang lain, " sahut Nanda.
Dinda melihat Nanda yang marah-marah kepada Marcell karena tak menjaga mata, saat itu juga Dinda sadar kalo Angga melotot melihat paha Putri yang putih dan mulus terpampang nyata di depan mata.
"Anak b*ngs*t... jaga mata... " teriak Dinda menutupi mata Angga dengan bantal.
"Adduuh, "
Angga hanya bisa pasrah dengan keadaan. Sedangkan itu Putri masih marah-marah kepada Ihsan, yang lain hanya menyimak.
"Sadar beg0... lu pake handuk kimono, di sini banyak cowok, " sahut Rara menepuk bokong Putri.
"Aduh.. sakit benc0ng, " sahut Putri memegang bokong nya yang sakit.
"Sana mandi... " teriak Rara di telinga Putri.
"Apa sih?" tanya Putri kesal.
"Apa sih apa sih... sana pake baju dulu bambang, " teriak Dinda yang masih menutupi mata Angga.
Putri masih bengong, saat melihat wajah Ihsan yang semakin memerah, Putri sadar kalo dia sekarang telanjang hanya di tutupi handuk, dengan cepat Putri berlari ke dalam toilet.
"Aaaaa.. malu gue... " teriak Putri.
"Telat anj*g, " sahut Rara.
"Pahanya bagus, " gumam Ihsan.
Rara yang mendengar gumaman Ihsan memukul Ihsan dengan bantal sofa tepat di wajahnya.
Buuk
"Sadar... tuh anak emang gak tau malu, " sahut Rara.
"Gue udah sadar, cuma itu... masih terbayang-bayang, " sahut Ihsan tersenyum.
Nanda melepaskan tangannya, begitupun dengan Dinda berhenti menekan bantal di wajah Angga.
Agung dan Lukman membelakangi mereka sedari tadi, malah terus saja makan sambil menyimak obrolan dan teriakan mereka.
"Wah wah, enak banget yah kalian makan dari tadi, sedangkan yang kalian belakangi lagi ribut, " sahut Rara.
Agung dan Lukman menengok kebelakang dan hanya bisa tersenyum lebar sambil makan.
"Kalian mulu yang enak, kita juga mau dong, " sahut Dinda.
"Ayank jangan suka makan, nanti gendut, " sahut Angga.
"Ooh jadiii kalo gue gendut lu mah putusin guee gituu? eeuuh... " sahut Dinda.
"Ngg- nggak beb, maksudnya.... nanti kalo kamu gendut jadi makin gemes gitu... nanti aku makin sayang... " sahut Angga.
"Basi, " sahut Rara.
"Buaya darat mulai aktif yah bun, " sahut Rara.
"Apa sih kalian, " sahut Angga.
Cklekk..
"Mangga bagi yang mau mandi atau mau wudhu, " sahut Putri keluar dari toilet menggunakan baju seragam.
"Mau kemana lu? ini masih jam empat pagi, lu udah pake seragam aja, " sahut Angga.
"Gue udah siap, jadi nanti gue mampir dulu ke rumah Dinda atau engga Rara, " sahut Putri.
"Mau ngapain lu mampir ke rumah gue?" tanya Rara.
"Minta makan, " jawab Putri cengengesan.
"Sana ke rumah Ihsan, buanyak makanan, diyakinkan anda tidak akan pernah kelaperan, " sahut Lukman.
"Di rumah lu gue sengsara, gak ada makanan, " sahut Agung kepada Lukman.
"Iya makanya gue minta makanan yang tersedia di rumah sakit, " sahut Lukman.
"Mulung makanan lu, " sahut Dinda.
"Gak ada kerjaan, " sahut Putri.
"Ndak, ayo, gue bantu lu wudhu, " sahut Rara berjalan menghampiri Nanda.
"Iya, gue bisa berdiri sendiri, gue udah bisa jalan, " sahut Nanda kepada Marcell yang awalnya niat membantu Nanda berdiri.
"Oh yak udah, silakan, " sahut Rara membiarkan Nanda jalan sendiri.
"Yak udah, " sahut Marcell berjalan menuju sofa dan duduk di dekat Ihsan.
"Kalian jangan ngikutin yah, ada obrolan antara cewek nih, " sahut Rara masuk ke dalam toilet setelah Nanda duluan masuk.
"Mangga, gue udah muak dengan obrolan wanita, " sahut Lukman.
"Apalagi tadi, gue harusnya gak denger obrolan kalian para gadis, " sahut Agung.
"Beb, kamu lagi datang bulan?" tanya Angga.
"Nggak, udah Rara sama Nanda, giliran aku yang wudhu, " sahut Dinda.
"Oh, yak udah, kita para cogan cogan wudhu di mushola aja, " sahut Angga.
"Hoeekk cogan, " sahut Putri hampir muntah.
"Cari sana cogan di luar selain kita, pasti gak akan ada, " sahut Ihsan.
"Siapa bilang, disini ada dokter ganteng, Iya kan Ra.. " sahut Putri.
Cklekk..
"Awww tentu saja... ada dokternya ganteng disini... " sahut Rara baru keluar dari toilet lalu di susul oleh Nanda dari belakang.
"Ini para cowok mau solat di mana?" tanya Rara.
"Kita di mushola, " sahut Marcell.
"Hayuu gas, " sahut Putri bersemangat.
Ihsan yang semakin geram karena Putri akan menemui dokter ganteng katanya, mulai kesal sendiri.
"Dadaahh kalian para cogan... " sahut Putri melambai tangan dan berjalan keluar bersama Rara.
"Kalo dapet nomor hape nya gue minta, " sahut Dinda.
"Heh, syuutt... " sahut Angga menyenggol tangan Dinda.
"Apa sih?" tanya Dinda.
"Jangan aneh-aneh, gak liat disini ada gue, " sahut Angga.
"Masa bodo, " sahut Dinda.
"Lpc gue.. kalo dapet no WA nya... " teriak Nanda.
"Berani nyari cowok lain di belakangnya gue, awas aja lu, " sahut Marcell.
"Aww.. sereumm.. " sahut Lukman.
"Apa sih? kali-kali jangan di bawa serius napa, " sahut Nanda.
"Bodoamat, pokonya awas aja lu kalo lu nyari cowok lain, " sahut Marcell.
"Emang lu mau apa? kalo gue nyari cowok lain di belakang lu?" tanya Nanda.
"Hamilin... hamilin... bom, bom.. " sahut Lukman dan Agung.
"Gue usir lu dari rumah, " sahut Marcell.
"Wwooo gak seruu... " teriak Lukman dan Angga.
"Berisik bambang, " sahut Ihsan.
"Ehh cuy di sini ada kopi atau teh gak?" tanya Lukman.
"Ada di kantin... sana pergi, " sahut Nanda.
"Emang buka?" tanya Ihsan.
"Dua puluh empat jam buka terus, " sahut Nanda.
"Wahh hampir kayak cafenya Marcell niihh... " sahut Lukman.
"Hayu lah gas, gue pengen kopi, sama gorengan, " sahut Agung semangat.
"Solat dulu... " sahut Marcell.
"Nanti aja, santai, " sahut Lukman.
Agung dan Lukman sudah siap untuk pergi ke kantin, sekarang mereka sedang menunggu Ihsan yang sedang memakai jaket.
"Kemon.. " sahut Ihsan.
"Hayu, "
"Yookk.. "
"Kalian kalo berani keluar dari kamar sebelum solat, semoga celaka di jalan, " sahut Marcell tegas.
Langkah mereka seketika berhenti dan berbalik ke belakang melihat Marcell.
"Gue gak jadi ahh... gue tunggu ciwi-ciwi cantik lewat di deket sini aja, " sahut Ihsan kembali duduk dan segera membuka jaketnya.
"Gue juga sama.. " sahut Agung berjalan menghampiri Angga.
"Lah lah lah... terus gue gimana?" tanya Lukman.
"Serah elu, mau ke kantin mau engga juga, terserah, " sahut Ihsan.
"Gue mau gorengan, enak tau gorengan di pagi hari, apalagi kalo ada kopi, beehh mantepp, " sahut Lukman.
"Lu aja lah, gue kagak jadi, mau solat dulu, " sahut Ihsan.
"Kalo elu gung?" tanya Lukman.
"Gue juga sama, gue paling bareng sama Marcell sama yang lain ke kantin nya, " sahut Agung.
"Yaaahh gak seru kalo gue sendirian... yak udah deh gue bareng sama kalian aja, " sahut Lukman kembali masuk ke dalam kamar.
"Anak pinter, " sahut Ihsan dan Agung barengan.
"Mending lu nurut sama bapak lu yah, kalo ngga mau celaka di jalan, " sahut Dinda.
"Iyah si bapak ngedoain anaknya yang aneh-aneh jadi atut, " sahut Lukman.
"Amit-amit gue punya anak kayak elu.. gak akan pernah terjadi, " sahut Nanda.
"Oohhh cell tuh minta anak, " tunjuk Ihsan.
"Kapan mau bikin?" tanya Lukman.
"Jangan lupa ceritain gimana cara masuknya... : sahut Agung.
"Waah pada setress... " sahut Dinda.
"Lama-lama gue gila gaul sama kalian, " sahut Nanda.
"Jangan gitu dong mak, jahat amat, " sahut Ihsan.
"Papih sama Mamih jangan marah-marah, " sahut Angga.
"Gak ada yang marah kok, cuma kita bertengkar... " sahut Nanda tersenyum.
"Kalo lu masih gak ngerti juga gelut, baku hantam, berantem... " sahut Dinda.
"Gue ngerti ege, gak usah di masih tau sana sini nya... " sahut Angga.
"Yah kali aja lu gak paham bahasa manusia, " sahut Dinda.
"Lu pikir gue ini apaan?" tanya Angga.
"Alien dari planet pluto, " sahut Dinda.