
"Makanya kalo ulangan jangan suka nyontek ke goggle, orang mah nyontek bermusyawarah lah ini nyontek ke mbah goggle, " sahut Rara.
"Lain kali gue bakal ikut nyontek secara bermusyawarah, " sahut Mike kembali ke mejanya.
"Mm... Bagus itu baru namanya anak mami, " sahut Rara mengangguk.
"Gass kanti... " sahut Putri.
"Hayuu lah... " sahut Nanda bersemangat.
Belum istirahat pertama.
Sesuai dengan janji Mila dkk dan juga bersama Bagas menghampiri kelas Nanda untuk makan bareng di kanti.
"Nanda... " panggil Mila dari luar kelas.
"Siapa tuh ndak?"
"Kayak kenal suara nya, "
Itu Mila.... Mau ngapain dia kesini? - batin Putri
"Yah mana gue tau... Gue belum liat ke luar, mau gimana tau itu siapa, " sahut Nanda.
"Yak udah ayok, sekalian kita ke kantin, " sahut Dinda.
Nanda dkk pun keluar kelas untuk melihat siapa yang memanggilnya dan juga pergi ke kantin.
"Mila?!" ucap Nanda kaget.
"Hai, ndak, sesuai dengan janji gue kan, " sahut Mila tersenyum.
"Ngapain lu disini?" tanya Mila
"Gue? Gue ke sini buat makan bareng sama Nanda, emang kenapa? Gak boleh?" tanya Mila.
"Eh, sejak kapan lu mau makan di kantin?" tanya Rara.
"Sejak gue temenan sama Nanda, emang kenapa?" tanya Mila.
"Eh, sejak kapan Nanda punya temen kayak elu, amit-amit, " sahut Putri.
"Kan Putri udah tau, oh apa jangan-jangan lu belum ngasih tau mereka kalo gue ngajak Nanda makan bareng?" tanya Mila.
Rara dan Dinda melihat Putri yang terdiam, mereka tau kalo Putri tidak bermaksud tidak memberi tahu mereka.
Gue yakin, pasti ada maksud lain di balik ngajak Nanda makan bareng, sama ini lagi ngapain bawa-bawa anak kelas lain? - batin Rara.
Gue harus waspada sama anak cowok yang sama Mila ini, jangan-jangan satu komplotan lagi, - batin Dinda.
"Dari pada diem-dieman kayak gini, mending sekarang aja yuk ke kantinnya. Gue udah laper, " sahut Nanda.
Rara dkk menyusul Nanda di belakang begitupun dengan Mila dkk dan juga Bagas.
Mila tersenyum, "Liat aja, gue bakal bikin lu menderita, " gumam Mila.
"Yess... Akhirnya kita bisa makan di kantin, dah lama juga sih... Makan terus di restoran, " sahut Caca.
"Iya bener... Tumben banget Mila ngajak kita makan di kantin... Apa jangan-jangan ada yang lu sembunyiin yak dari kita?" tanya Melodi.
"Gak ada, " sahut Mila.
"Masa sih... " sahut Caca mencolek tangan Mila.
"Isshh, " dengus Mila kesal dengan kelakuan mereka.
Terkadang Mila merasa kesal dan tak suka dengan keberadaan Caca dan Melodi yang suka membuatnya merasa di permalukan.
Bagas hanya mengikuti dari belakang, sambil menundukkan kepala nya. Melihat Mila yang sedang berjalan di depannya, dia ingin segera mungkin membuat Mila sadar.
Saat Bagas melihat sahabat Mila 'katanya sahabat' Bagas tau kalo Mila hanya memanfaatkan mereka.
Sampai di kantin, Nanda dkk dan juga Mila dkk melihat Marcell dkk yang sedang makan.
Nanda yang sudah tidak sabar ingin pamer dan menceritakan semua kepada Marcell langsung saja menghampiri dan melupakan Rara, Putri dan Dinda dan juga Mila dkk. Tapi di sisi lain, Mila geram dengan kelakuan Nanda kepada Marcell.
Mila menyusul Nanda dari belakang. Dan duduk di samping Bagas.
"Marcell.... " teriak Nanda.
"Apa?" tanya Marcell dingin.
"Gak usah sok dingin, gue mau cerita sama lu, " sahut Nanda.
Marcell berbalik menghadap Nanda dan mulai dengan wajah serius.
"Mau cerita apa?" tanya Marcell.
"Gue dapet nilai kecil, gegara elu, " sahut Nanda.
"Loh kok gara-gara gue?" tanya Marcell.
"Iyalah, gegara elu... Gue dapet nilai kecil, " sahut Nanda kesal.
Masa sih? Perasaan semua soal yang gue kasih udah sesuai sama soal ulang nya hari ini, masa dapet nilai kecil? - batin Marcell bingung.
"Emang lu dapet berapa?" tanya Ihsan.
"Pokonya kecil, " sahut Nanda.
"Iya berapa? Kita kepo, " sahut Agung.
"Wahh Agung udah ketularan Rara, sekarang dia mulai kepo-kepo sama hidup orang, " sahut Angga.
"Buka hidup orang beb, tapi pengen tau aja nilai Nanda, " sahut Dinda.
"Oh iya, " sahut Angga cengengesan.
"Ada Dinda tuh anak berubah, " sahut Lukman.
"Biasalah... Namanya juga orang pacaran, " sahut Ihsan.
Nanda masih pura-pura kesal kepada Marcell karena mendapat nilai kecil.
"Lu dapet berapa nilai?" tanya Marcell.
Akhirnya pertanyaan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Dapet.... 98, " jawab Nanda.
Krik... Krik... Krik...
Seketika meja mereka menjadi sunyi dan menatap Nanda dengan ekspresi aneh.
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Woooo.... Segitu di bilang kecil... Ngajak ribut lu?!"
"Weeyyooo.... "
Brakk... Brakk... Brakk...
"Cell traktir.... "
Begitulah teriakan anak-anak saat mendengar Nanda mendapatkan nilai yang sangat sempurna.
Marcell hanya geleng-geleng kepala pelan dan sekaligus senang di dalam hati, karna istri nya ini tak pernah mengecewakan nya.
"Cell... Traktir.... " teriak Angga.
"Ogah, sama Nanda aja, " sahut Marcell.
"Lah kok gue? Suami gak tau diri lu... " sahut Nanda.
"Emang kenapa? Kan elu yang dapet nilai besar, kenapa gue yang harus neraktir mereka?" tanya Marcell.
"Ogah lu aja sana malem bikin pesta piama sama Rara Dinda Putri, " sahut Marcell.
"Okeh kalo gitu, lu tidur di kamar tamu, gue sama yang lain mau pesta, " sahut Nanda.
Mendengar kata 'tidur di kamar tamu' artinya Marcell tidur sendiri, sedangkan Nanda tidur bersama sahabat nya.
Seketika Marcell menjadi jinak. "Gue traktir kalian semua... " sahut Marcell.
"Weee... Mempan juga kata-kata lu... " sahut Rara tertawa.
"Selalu... " sahut Nanda ikut tertawa.
Caca dan Melodi juga ingin ikut tertawa bersama dan bercanda bersama, tapi karena Mila mereka jadi tidak bebas.
Mereka takut dikeluarkan dari sekolah, karena Ayah Mila adalah kepala sekolah. Bagas yang mulai kesal dengan kelakuan Mila kepada Caca dan Melodi memang sudah kelewatan.
Mila tak mengizinkan mereka untuk bercanda dengan siapa pun, bahkan bersama teman yang lain.
Mila beli mereka pake uang, terus ngancem mereka, kenapa mereka mau di gituin sama Mila? Gue harus selidikin - batin Bagas.
Nanda melirik Caca dan Melodi yang sedari tadi diam saja dan makan. Begitupun dengan Mila dan Bagas.
"Ca... Ikut gabung dong... Kenapa diem aja?" tanya Nanda.
"Mereka malu mungkin, " sahut Mila.
"Oh, gak usah malu, kan kalian temen gue juga, " sahut Nanda.
Nanda menarik tangan Caca dan Melodi untuk mendekat bersama yang lain, tapi Mila menarik tangan mereka untuk kembali duduk.
"Gak usah ndak... Mereka malu, " sahut Mila memaksa.
"Gak papa kok, awal aja malu tapi kalo udah lama-kelamaan akrab, " sahut Nanda.
Mila mulai menyenggol tangan Bagas untuk segera mulai. Bagas yang kesal berdiri dan membantu Caca dan Melodi untuk ikut gabung bersama Nanda dan juga yang lain.
Mila yang keheranan, kenspa Bagas membantu Nanda bukannya membantu dirinya.
Nanda berhasil membawa mereka bergabung dengan yang lain dengan bantuan Bagas.
Mila menarik tangan Bagas menjauh dari kerumunan.
"Kenapa lu malah bantu Nanda... Bukannya lu harus bikin Marcell cemburu, " ucap Mila.
"Lu gak liat... Di sana ada temen-temennya, lu mau rencana lu ketahuan?" tunjuk Bagas.
Mila mulai terdiam, dan mulai mengerti. "Okeh kalo gitu... Makasih.... Lain kali bilang dulu sama gue.. " sahut Mila berjalan pergi.
Bagas tersenyum saat Mila pergi dari hadapan nya. "Percaya aja lu sama kata-kata gue... Memang bodoh banget lu... Katanya mau dapetin Marcell tapi kalo gini cara lu...." gumam Bagas sambil menarik napas panjang.
.
.
.
.
.
"Lu penasaran gak sama Nanda?" tanya Rara pada Agung.
"Gak sama sekali, emang kenapa sama Nanda?" tanya balik Agung.
"Lu gak liat, dia sama Mila akrab banget, terus pas Nanda mau bawa Caca sama Melodi ke sini, Mila malah biarin aja, " sahut Rara.
"Oh, " sahut Agung singkat.
"Kok cuma oh doang, "
"Terus gue harus apa? Bilang wao gitu?"
"Yak gak gitu juga, apa kek selain oh, singkat banget lu, "
"Kenapa gak suka? Yak udah gak usah di pikirin, "
Rara yang mulai kesal dengan tingkah Agung yang cuek dan tidak peka, pergi meninggalkan kantin sendirian. Dinda pergi menyusul Rara.
Angga dan Lukman mendekati Agung.
"Maksud sikap lu yang kayak gitu apa?" tanya Lukman.
"Gak, "
"Jangan Gung, " sahut Angga.
"Kalian berdua jangan urusin urusan orang, " sahut Agung berjalan pergi dari kantin.
"Lah malah ngamok, " sahut Lukman bingung.
"Aneh banget sikapnya, " gumam Angga.
"Lu gak mau cari pacar atau gimana gitu?" tanya Angga.
"Gak makasih... Gue hari gue masih buat Jesica, " sahut Lukman.
"Jesica mulu, kali-kali cari yang lain, kan dia udah gak ada, " sahut Angga.
"Iya sih... Tapi hati gue cuma buat dia, gue yakin pasti dia masih hidup, "
"Kok lu bisa seyakin itu?"
"Gak tau cuma perasaan aja, "
Lukman dan Angga pun terdiam dan termenung seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi ada suara tawa yang memecah keheningan mereka berdua.
"Gak ada adab bener dah mereka, " gumam Lukman
"Apa?" tanya Angga.
"Tuh... ihsan sama Putri, " sahut Lukman.
Angga melihat mereka yang sedang bermesraan di ujung meja sana sambil makan seblak bersama.
"Lu cemburu?"
"Iyalah masa engga, "
Angga hanay tertawa sambil menepuk puncak Lukman pelan.
Di sisi lain Rara dan Dinda.
Rara segara pergi dari kantin dan masuk ke toilet wanita. Dia membasuh mukanya dan bercermin sebentar.
"Ra... " panggil Dinda
Rara kaget dan segara menengok ke arah Dinda yang baru masuk.
"Lu bikin gue kaget aja, " sahut Rara.
"Lu gak papa kan?" tanya Dinda.
"Iya gue gak papa, kata lu gue kecepatan gak nerima Agung?" tanya Rara.
"Kalo menurut gue sih iya, " sahut Dinda.
"Lu cuma Pdkt sama Agung singkat banget, terus langsung main terima aja, " lanjut Dinda.
"Iya gue tau... Gue memang bodo banget kalo soal cinta, " sahut Rara.
"Lu mau putus sama Agung?" tanya Dinda.
"........ "