My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Gak mau pulang?



"Ini Nanda kayaknya masih marah deh.. " sahut Dinda.


"Cell langsung bawa aja ke dalem mobil, langsung pulang ke rumah biar marah-marah di rumah, jangan di sini malu banyak orang, " sahut Ihsan.


"Iya ini mau, " sahut Marcell membopong tubuh Nanda menuju mobil.


"Aaahh gue bisa jalan sendiri, " teriak Nanda. Marcell pun melepaskan Nanda.


Setelah terlepas dari pelukan Marcell yang sangat erat tadi, Nanda masuk ke dalam mobil dengan langkah kasarnya.


Setelah Nanda berhasil di bawa masuk ke dalam mobil. Kini giliran teman-temannya Nanda pulang.


"Cell jagain Nanda, awas aja lu kalo bikin Nanda ngamuk lagi, " sahut Putri.


"Yaa, " jawab Marcell.


"Eeyy kalian sahabat-sahabat gue jangan lupa nanti malem minggu kita balapan, " teriak Nanda.


"Okeh, " sahut Rara, Dinda, Putri barengan.


"Gue gak ijinin lu bawa Dinda, " sahut Angga.


"Oh yak udah gak masalah, " sahut Nanda.


"Minta di hajar lu sama gue?" tanya Dinda sudah mengepal tangan siap untuk menghajar Angga.


"Eehh maksud gue boleh silakan lu ajak Dinda juga.. Tapi jangan pulang malem-malem udah itu aja pesan gue ke Dinda sama yang lain juga, " sahut Angga takut dengan Dinda.


"Belum jadi suami udah takut aja sama pacar sendiri, " sahut Rara.


"Tau, nanti gimana kalo udah sah jadi suami, " sahut Agung.


"Yah pastinya suami takut istri lah, " sahut Rara.


Agung tersenyum, "bener juga apa kata lu, " sahut Agung.


"Iyalah, cewek selalu benar, " sahut Rara.


"Kali ini gue iya-in.. " sahut Agung.


Rara dan Agung saling memandang satu sama lain. "Ehem buat kedua makhluk yang di sana, jaga pandangan, " sahut Putri.


Mendengar ucapan Putri barusan Rara segera mengalihkan pandangan ke tempat lain, begitu juga dengan Agung.


"Udah gue duluan pulang sama Putri, ayo put, " sahut Ihsan.


"Iya, bye bye bye my friend kuh.. " sahut Putri naik ke motor Ihsan sambil melambaikan tangan setelah motor Ihsan jalan.


"Bye.. " sahut Dinda, Rara, Nanda barengan.


"Cell ayok.. Gue udah capek, " sahut Nanda.


"Iya iya, " sahut Marcell masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya keluar lingkungan rumah sakit.


"Kita juga duluan yah, bye Rara, Agung, " sahut Dinda sudah naik ke motor Angga.


"Iya hati-hati di jalan, " sahut Rara.


"Iya.. Lu juga, " sahut Dinda.


"Udah sekarang ayo naik, " sahut Agung.


"Mm.. Gue berasa aneh di bonceng sama mantan, " sahut Rara.


"Jadi lu gak mau pulang? Oh yak udah gak masalah, " sahut Agung siap untuk pergi.


"Wehh iya iya... Ini gue naek, " sahut Rara naik ke motor Agung. Dan motor Agung pun berlalu


.


.


.


.


.


Di mobil Marcell dan Nanda. Terlihat seorang gadis yang sedang menikmati udara segar di pagi hari dengan membuka jendela di sebelah nya.


"Jangan terlalu keluar kepala nya, nanti kejedot, " sahut Marcell.


"Cell kita ke toko bunga lagi yuk, " sahut Nanda.


"Enggak gue lagi pewe, ples capek dari kemarin gue gak bisa tidur, " sahut Marcell.


"Lho kenapa?" tanya Nanda.


"Iya gue mikirin elu ter--, " sahut Marcell belum menyelesaikan perkataan nya.


"Kok diem? Kan orang yang nanya hanya di jawab, apa jangan-jangan lu mikirin gue mulu yaahh.. " tebak Nanda benar sambil tersenyum.


"Gak kata siapa?" tanya Marcell.


"Hemm yang bener nih?"


"Iya bener, "


"Bener? Kok gue gak percaya sama omongan lu yah? Aneh, "


"Mana gue tau, " sahut Marcell.


"Biasanya kalo gue gak percaya sama omongan seseorang, orang itu berbohong, " sahut Nanda.


Iya gue mikirin elu terus sepanjang malem, gue gak bisa tidur kalo gak ada elu, gak ada guling hidup, - batin Marcell.


"Jujur aja yah, gue sama sekali gak bisa tidur kalo gak ada elu, " sahut Nanda. Ucapan Nanda barusan hampir membuat Marcell terkejut.


Deg.. Deg.. Deg..


Duh nih jantung kenapa lagi sih? - batin Marcell.


"Tapi waktu gue ke sana, lu tidur nyenyak banget, " sahut Marcell.


"Iyakan dikasih obat tidur, " sahut Nanda.


"Mm.. Gitu.. " sahut Marcell.


"Waktu ada elu bacain buku buat gue.. Berasa gue ini hidup kembali.. Gue juga gak tau kenapa, " sahut Nanda.


"Mungkin otak lu perlu asupan, " sahut Marcell bercanda.


"Ini serius cell, gue gak bercanda, " sahut Nanda.


Marcell pun terdiam, dan terus menyimak semua ucapan Nanda itu untuk masuk ke dalam otaknya.


"Kalo boleh jujur.. Gue sayang sama elu cell, " sahut Nanda.


Tiba-tiba mobil itu berhenti mendadak dan membuat tubuh mereka berdua terdorong ke depan.


"Apa-apaan sih elu? Bahaya tau!" sahut Nanda kaget.


Marcell melepaskan setir kemudi itu dan menatap Nanda dengan tatapan yang tak bisa di tebak oleh Nanda sendiri.


"Kenapa lu liatin gue kayak gitu?" tanya Nanda memegang wajahnya, takut ada sesuatu yang menempel.


Wajah Marcell pun maju perlahan, Nanda yang sadar akan hal itu segera menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Cup


Kecupan kecil itu mendarat dengan mulus di kening Nanda. Nanda membuka matanya perlahan, dan melihat Marcell yang sudah siap untuk kembali jalan.


Nanda memegang keningnya yang habis di cium lembut oleh Marcell itu dengan tangannya.


"Kita ke minimarket, " sahut Marcell.


Apa tadi? Gue gak salah kan? Tadi Marcell nyium gue? - batin Nanda bingung.


Gue gak mau berbuat lebih dari itu, gue takut trauma lu kambuh lagi - batin Marcell.


"Kita mau ngapain ke sana?" tanya Nanda tak sanggup melihat wajah Marcell.


"Beli makanan, " jawab Marcell.


"Oh, "


"Iya, "


Percakapan singkat di antara mereka berdua, Marcell tak masalah dengan jawaban dari Nanda, tapi Nanda merasakan aneh dengan percakapan itu.


"Oh iya, ini Ayah Endi chat gue, katanya dia mau pergi ke garut, " sahut Marcell.


Nanda berbalik, "Mau ngapain ke garut?" tanya Nanda.


"Katanya ada urusan di sana, sama Ayah Budi juga gak bisa pulang ke rumah untuk beberapa hari ke depan, " sahut Marcell.


"Emang mereka ada urusan apa sih? Terus mamah gimana?" tanya Nanda.


"Mamah nginep di rumah untuk beberapa hari, terus katanya kalo kita mau nginep di rumah mamah berdua aja katanya, " sahut Marcell.


"Buat apa juga kita nginep berdua di rumah sebesar itu, gue sih ogah, " sahut Nanda.


"Hemm.. Iya, " sahut Marcell singkat.


"Ehh, btw kita ke mikomall yuk, nonton, " sahut Nanda.


"Mana ada mikomall buka jam segini.. Nanti jam satuan satu jam berapa lah, " sahut Marcell.


"Iya, tapi lu janji dulu sama gue kita bakal pergi ke mikomall, " sahut Nanda.


"InsyaAllah, " sahut Marcell.


"Aaaaahh jangan insyaallah, kebanyakan kalo orang ngomong insyaallah sebagian besar gak akan, " sahut Nanda.


"Kata siapa?"


"Iya, pokonya gue udah pernah ngalamin, janji dulu, "


"Maksa bett... Iya iya gue janji, tapi lu harus jaga kesehatan lu dulu, minggu depan kita nonton bareng, " sahut Marcell.


"Nah gitu dong.. Okeh gue janji, " sahut Nanda setuju.


"Mm.. Siip, " sahut Marcell singkat.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di minimarket. Nanda segera turun bersama dengan Marcell. Banyak para petugas yang mengira kalo kami ini pengantin baru yang datang untuk belanja bulanan.


Bagaimana tidak, bukankah mereka ini memang sudah sah menjadi suami istri, apa salahnya kalo belanja bersama, walau hanya di minimarket.


"Lu mau beli apa sih? Dari tadi keliling-keliling mulu, " tanya Nanda.


"Gue juga bingung mau beli apa, " sahut Marcell.


"Lahh terus ngapain ke sini? Kalo gak ada barang yang lu mau, "


"Dari pada kita diem-dieman bae di mobil, mending ke sini.. Lu mau beli apa? Ambil aja, gue yang bayar, " sahut Marcell.


"Bener yah?"


"Iya, udah sana lu tinggal ambil aja, " sahut Marcell.


"Oke, " sahut Nanda berjalan mengambil keranjang dan mulai memasukkan beberapa barang seperti makanan ringan, ice cream, minuman, dan kebutuhan lainnya.


Sementara Nanda sedang berbelanja, Marcell diam-diam menelpon seseorang tanpa sepengetahuan Nanda.


Tuutt.. Tuutt.. Tuutt..


🗣️ : Ehem.. Halo?


: Halo ini gue, emang bener sekarang Ayah Endi mau ke garut?


🗣️ : Iya, kita gak punya banyak waktu lagi, ini harus segera diselesaikan, karena dua bulan lagi, gue harus balik ke Amerika.


: Di suruh sama bonyok lu?


🗣️ : Iya, tolong jaga Nanda selama gue gak ada, kemungkinan besar Mila gak akan tinggal diam.


: Lu tenang aja, Nanda aman sama gue, gimana keadaan Pak Herman?


🗣️ : Bokap lu udah memecat Pak Herman sesuai dengan yang gue rencanakan, sekarang dia pergi dari jakarta, gue masih menyelidiki kemana dia pergi.


: Sama tante Sofi?


🗣️ : Enggak, dia pergi sendiri, saat bokap lu datang ke rumah nya cuma ada tante sofi dan juga Agung.


: Agung? Kenapa Agung gak ngasih tau gue soal masalah ini?


🗣️ : Oh iya cell.. Kemungkinan gue sama yang lain bakal balek ke Jakarta sekitar sebulan, selama itu jaga Nanda baik-baik.


: Mm.. Oke, awas aja lu kalo macem-macem sama kedua bokap gue!!


🗣️ : Iya iya santuy.. Gue juga punya perasaan.


"Marcell... Gue udah belanjanya.. Lagi ngapain lu?" teriak Nanda.


"Iya.. Bentar.. Ini gue masih nyari yang gue perluin, " sahut Marcell.


: Gas udah dulu.. Istri gue manggil...


🗣️ : Ciee pengantin baru... Lagi belanja bulanan yah.. Xixixi..


: Diem lu!


Tuutt... Tuutt.. Tuutt..


"DORR.. "


"Mamahh.. " teriak Marcell kaget.


"Lu lagi ngapain sih? Gue dari tadi manggil elu tapi lu gak ngedenger atau lu budek?" tanya Nanda.


"Amit-amit.. Udah belanja nya?"


"Udah.. Ayooo pulang.. Gue pengen istirahat capek... " sahut Nanda.


"Yak udah.. " sahut Marcell membawa keranjang Nanda dan membayar semua belanjaan Nanda barusan.


Setelah itu mereka kembali ke mobil untuk segera kembali ke rumah Marcell. Nanda dengan santainya makan kripik sedari tadi, tanpa memedulikan sekitar. Dan terkadang Nanda menyuapi Marcell yang sedang fokus menyetir.