My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Pulang



Tak perlu butuh waktu lama di perjalanan, mereka berdua akhirnya sampai juga di rumah. Terlihat di sana ada mobil berwarna merah yang terparkir jelas di depan rumah mereka.


Pak Endi dan Bu Patmi tak perlu khawatir, mereka tahu siapa pemilik mobil merah itu. Setelah mobil masuk ke dalam garasi. Bu Patmi mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok..


Tapi tidak ada yang membukakan pintu untuk mereka, bahkan Pak Endi sudah menekan-nekan bel sedari tadi tapi tak ada yang membuka pintu.


Pak Endi oun menelpon Nanda. Tapi sayang nya hape milik putri nya itu sedang tidak aktif. Tak lama kemudian pintu terbuka. Terlihat jelas di sana seorang wanita sambil memegang sapu dan pengki seperti sedang membersihkan rumah.


"Siapa ya?" tanya Bu Patmi.


"Halo nyonya, saya adalah Sri, asisten rumah tangga dari keluarga Alfarizky dan saya di tugas kan oleh aden Marcell untuk membersihkan rumah nyonya sementara, " jelas Sri.


"Oohh.. oke, kami masuk dulu, " sahut Bu Patmi.


"Iya nyonya, " sahut Sri.


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah, dan ternyata benar saja, rumah yang jarang sekali di bersihkan itu sekarang sudah bersih, wangi, rapih, bahkan lantainya pun mengkilap bersih.


"Nyonya mau langsung tidur atau mau mandi suku nya? biar saja siap kan air hangat, " tanya Sri.


"Gak perlu Sri, makasih udah ngurus rumah ini, " sahut Pak Endi menolak dengan sopan.


"Waah boleh tuh, tolong masakin air hangat yah, saya mau mandi, " sahut Mama Patmi.


"Siap nyonya, tuan tak perlu sungkan memberi saya perintah, nyonya Alfarizky bahkan sering menyuruh saya, " sahut Sri berjalan ke arah dapur.


"I-iya, " gumam Pak Endi.


Mama Patmi segera masuk ke dalam kamar sambil membawa koper milik nya. Sedangkan Ayah Endi masih bingung kemana coba tuh anak dua? mobil nya ada, tapi orang nya gak ada.


Karna capek berpikir panjang Ayah Endi pun menyusul istrinya masuk ke kamar. Setelah Sri memberitahu kalau air hangat nya sudah jadi, Mama Patmi segera keluar kamar dan berjalan ke kamar mandi.


Tapi sebelum dia berjalan ke arah dapur, dia melihat ada dua sosok yang datang ke rumah nya sambil jalan kaki.


Cklekk..


"Assalamu'alaikum.. " teriak salah satu nya.


"Kayak kenal itu suara, apa jangan-jangan itu Nanda?" gumam Mama Patmi.


Mama Patmi pun berjalan ke arah pintu dan terlihat lah dua makhluk yang sedang duduk di kursi karena kecapean dan di meja ada dua plastik putih.


"Kalian habis dari mana?" tanya Mama Patmi menghampiri mereka berdua.


"Eh, mama.. " teriak Nanda loncat dan memeluk mama nya itu.


"Aduh aduh.. udah dong sayang, kasian tuh ada yang cemburu, " sahut Mama melihat ke arah Marcell.


"Apa sih mah? engga juga, " sahut Marcell.


"Udah udah, " sahut Mama Patmi duduk.


"Mama kapan pulang?" tanya Marcell.


"Baru aja nyampe, " jawabnya.


"Mm, jadi Bunda sama Ayah juga udah ada di rumah?" tanya Nanda.


"Enggak, mereka gak tau pergi ke mana, katanya ada urusan mendadak, " jawab Mama.


"Oh gitu, Kira-kira menurut lu mereka kemana?" tanya Nanda ke Marcell.


"Gak tau, " jawab Marcell.


"Heehh.. dasar.. " gumam Nanda.


"Udah udah, mama mau mandi dulu yah, sama mau pijit kaki, " sahut Mama berdiri.


"Iya mah, " sahut Nanda Marcell.


"Oh iya Nanda, tadi Ayah nelpon kamu, kok kamu gak jawab? hape kamu rusak?" tanya Mama.


"Eehh, tapi kan gue udah beliin lu hape 5G, itu mah tinggal elu aja yang belum masuk-masukin kartunya, " sahut Marcell.


"Hehe.. oh iya lupa, " sahut Nanda cengengesan.


"Nah kan, jadi ini bukan salah gue, gue udah beli hape 5G yang lu mau tiga hari yang lalu, bahkan gue beli sama toko-toko nya lho, " sahut Marcell.


"Iya iya maaf, jangan ngambek mulu napa kaya cewek yang lagi pms aja lu, " sahut Nanda.


Marcell hanya geleng-geleng kepala nya pelan.


"Udah udah, kalian jangan ribut bikin pusing aja, terserah kalian aja lah, mama mau mandi dulu, " sahut Mama Patmi pergi.


"Aduh dasar anak Sultan, satu hape rusak di beli sama toko-toko nya... aduuhh bikin kepala pening aja, " gumam Mama Patmi.


.


.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain Ayah Budi dan Bunda Shera sedang mencari rumah untuk Nanda dan Marcell.


"Bagaimana pak, ini sudah tujuhbelas rumah yang bapak lihat, "


"Iya, semuanya bagus, lingkungan nya juga ramah dan bersih... " sahut Pak Budi.


"Rumah nya besar-besar, tapi gak ada kolam renang nya, atau pun kolam ikan sebagai penghias rumah, " sahut Bu Shera.


"Itu tidak ada di depannya, tapi ada di belakang, mari ikut saya masuk ke dalam rumah, "


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, dan benar saja, kolam renang maupun kolam ikan ada di belakang rumah tersebut.


"Jadi bagaimana pak, mau ambil atau mau lihat-lihat rumah yang lain?"


"Gimana, suka gak sama rumah yang ini?" tanya Pak Budi pada istri nya.


"Bagus, dapur nya juga lumayan luas, untuk kamar utama juga lumayan, ruang keluarga, ruang tamu dan kamar tamu semuanya sempurna, kolam renang nya bagus, ada bebatuan lumayan buat hiasan, oke aku setuju, " sahut Bu Shera.


"Oke, kami ambil rumah ini, " sahut Pak Budi.


"Pilihan yang bagus pak Bu, rumah ini untuk ibu dan bapak atau.. "


"Untuk anak saya dan istri nya, ini sebagai hadiah dari kami berdua, " sahut Pak Budi.


"Oh begitu rupanya, mari ikut saya kita akan langsung membuat surat-surat nya, "


"Iya, "


Setelah selesai menandatangani surat dan juga menuliskan nama pemilik rumah itu menjadi milik Marcell Alfarizky. Ayah Budi dan Bunda Shera segera pergi mereka tak sabar melihat reaksi anak-anak mereka yang sudah di belikan rumah baru.


"Rumah yang di sebelah nya bagus, tapi dapur sama kamar utama nya sempit, " sahut Ayah Budi.


"Iya, bagusan yang tadi.. rumah yang kita liat, pemandangan di depan rumah nya bagus, ada lapangan banyak anak-anak yang main sepedah, pokoknya sempurna deh buat pengantin baru, " sahut Bunda Shera.


"Mereka berdua udah bukan pengantin baru lagi bun, mereka udah nikah selama empat bulan, " sahut Ayah Budi.


"Tetep aja, kalo nempatin rumah baru, pasti tetangga pada bilang itu pengantin baru, " sahut Bunda Shera.


"Heheh.. iya juga yah, " sahut Ayah Budi.


"Udah ini kita mau kemana?" tanya Ayah Budi.


"Kita langsung pulang aja, bunda udah capek, " sahut Bunda Shera.


"Oke, " sahut Ayah Budi.