
"Ciee udah nganggap gue pacar, " sahut Marcell.
"Diem lu!!" sahut Nanda sambil menekan es batu itu ke luka lebam Marcell.
"Aduuhhh.. Sakitt, "
"Makanya jangan suka ngomong yang aneh-aneh lu!! Sini.. "
"Aduh ampun, " sahut Marcell.
"Mending sekarang kita pulang aja dulu deh, nanti sisanya kita obatit di rumah, " sahut Nanda.
"Oke, " sahut Marcell.
Marcell melajukan mobil nya dengan kecepatan rendah. "Eh, bukannya lu tadi mau fotocopy yah?" tanya Nanda.
"Oh iya, lu aja dah yang fotocopy, masa iya gue keluar mobil sama muka yang babak belur ini, gak aesthetic, " sahut Marcell.
"Aesthetic aesthetic.. " sahut Nanda.
Sampai di depan fotocopy-an. Marcell memberikan sebuah kertas tebal yang harus Nanda fotocopy. Dengan terpaksa Nanda turun dari mobil dan mulai mem fotocopy kertas-kertas yang barusan Marcell kasih.
Setelah menunggu selama 10 menit. Akhirnya kertas-kertas itu selesai di fotocopy, setelah membayar Nanda kembali ke mobil dan menaruh semua kertas-kertas yang buanyak itu ke belakang.
Terlihat di sana Marcell masih nengompres lebam nya dengan es yang hampir mencair.
"Udah?" tanya Marcell.
"Udah, yuk buruan kita pulang, " sahut Nanda.
"Mau beli makanan dulu?" tanya Marcell.
"Kagak usah, ada kan makanan di kulkas yang kemarin lu beli?"
"Iya masih ada di kulkas, "
"Ya udah, nanti biar gue yang masak makan siang, " sahut Nanda.
"Gak masalah mau siapa aja yang masak, tapi ini sesuai sama serela gue gak nih? Takut nya nantii, "
"Keasinan, kepedesan, pahit iya?"
"Heheh, tau aja lu, "
"Yah tualah, orang udah hampir setiap hari gue denger lu ngeluh kayak gitu, "
Sesampainya mereka di apartemen lantai 4 . Marcell tampak sangat malu jika tidak menutupi pipinya yang masih biru.
Nanda membuka pintu dan mereka masuk ke dalam. Marcell akhirnya bisa bersantai karena semua tugas yang harus dia potocopy selesai.
Kini tinggal Nanda yang harus mencari es batu, sapu tangan dan air dingin untuk kembali mengobati luka lebam.
"Mau sendiri mau sama gue?" tanya Nanda.
"Sendiri aja lah, lu masak aja, " sahut Marcell.
"Oh ya udah, nih ember nya, " sahut Nanda meletakkan ember kecil berisi es dan air di atas meja begitupun dengan sapu tangan.
Nanda berjalan ke arah dapur untuk memasak makan siang untuk mereka. Sedangkan Marcell mengompres luka lebam nya.
Di dapur.
Nanda memakai celemek, setelah siap. Nanda mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Seperti sayur bayam, kangkung, ayam yang siap goreng, telor dan yang lainnya.
"Masak apa yah? Banyak juga nih bahan nya, jadi bingung, " gumam Nanda.
Tanpa berpikir panjang lagi, Nanda langsung saja menggoreng ayam, memotong-motong bawang untuk masak kangkung dan sebagainya.
Saat Nanda sedang santai-santai nya masak, tiba-tiba ada yang berteriak dan itu membuat Nanda kaget.
"Aaahh, "
Mendengar ada yang berteriak dengan cepat Nanda berlari ke arah suara itu. Oh no!! Nanda lupa mematikan kompor-_-
"Kenapa cell?!!" teriak Nanda khawatir.
"Aarrgghh, "
"Kenapa kenapaa? Kenapa? Kenapa?" tanya Nanda panik.
"Ini sakit.. Kayaknya tadi gue terlalu keras neken es batu nya, " sahut Marcell.
Nanda kemudian berhenti bertanya dan hanya melihat Marcell dengan tatapan anehnya.
"Kenapa?" tanya Marcell.
"Kenapa kenapa, bikin orang panik aja, gue pikir lu kenapa.. Tau taunya cuma masalah sepele doang triak, " sahut Nanda kesal.
"Elu gak tau yah, hah? Betapa sakitnya di tonjok orang sampai lebam kayak gini, " sahut Marcell.
"Enggak, gue sama sekali gak tau.. Udah sini sama gue aja, lu diem biar cepet selesai, " sahut Nanda mengambil es batu dari tangan Marcell.
Nanda mulai mengompres lebam Marcell dengan sangat hati-hati sampai sakit jua hilang, lalu memberikan obat kepada lebam nya itu.
"Aiisshhh pelan-pelan, " sahut Marcell.
"Ini tuh udah paling pelan, lu aja yang lebay, " sahut Nanda.
"Auu, "
"Aaahhkk, "
"Nj*rr bisa diem gak sih? Jangan bikin orang jantungan!" sahut Nanda.
"Sakittt, " sahut Marcell.
"Iya gue juga ngerti sakit, tapi gak usah teriak-teriak kayak tadi juga, bbikin jantung gue mau copot aja, " sahut Nanda.
"Eh, jangan copot nanti siapa yang mau masangin jantung eneng kalo tiba-tiba copot, " sahut Marcell ngegombal.
"Basii, " sahut Nanda.
"Gombal ***rr bukan gombel, "
"Iya itu maksudnya, "
"Hemm, "
"Btw, lu kayak yang khawatir banget yah sama gue, " sahut Marcell.
"Iyalah khawatir, lu itu sumber uang keuangan gue tau, "
"Hem, pantesan, "
"Ahaha, gak kok gue bercanda, gue cuma khawatir doang... Nanti gimana kalo Bunda tau? Yang pasti kita di suruh pulang ye kan?"
Marcell hanya mengangguk pelan. Dan Marcell tiba-tiba mencium bau gosong entah dari mana.
"Kayak ada.. Bau gosong, " ucap Marcell sambil mengendus-endus bau gosong itu.
Nanda hanya diam, "AAAGG.. OMG GUE LUPAAA!!!" teriak Nanda ingat dia meniggalkan kompor menyala dan di dalam nya ada ayam untuk mereka makan.
Nanda segera berlari ke dapur dan mematikan kompor dengan segera. "Aduhhh.. Ayam gue, " sahut Nanda.
"Kenapa ndak? Apa yang gosong?" tanya Marcell menghampiri Nanda.
"Ini ayam nya, gosong.. " sahut Nanda sambil menunjukkan ayam warna hitam ke Marcell.
Sebenarnya Marcell ingin tertawa, tapi gak jadi kasian Nanda. "Yah terus gimana dong cell? Masa cuma makan sayur doang?" tanya Nanda.
"Ayam doang yang gosong?"
"Hooh, "
"Ya udah masak aja yang ada, mau sayur apa aja juga boleh, "
"Ya udah, lu tunggu yah sebentar, "
"Iya, "
Marcell pun pergi dari dapur. Sedangkan Nanda mengangkat ayam yang sudah hangus itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Aaaiihhh, kenapa harus pake ada acara lupa matiin kompor segala sih? Bikin kesel aja, " gumam Nanda.
"Ck, udah mah di KFC ada yang ngajak berantem, suami pipinya lebam pula di tonjok sama orang gila, makan di rumah ayam gosong lagi... Aahhh, gini amat nasib gue, " gumam Nanda kesal sambil memasak sayuran untuk makan siang ini.
"Udah beres ngebacot nya?" tanya Marcell yang sedang bersandar di dinding tak jauh dari Nanda yang sedang masak.
"Astagfirullahalazim, sejak kapan lu di situ?" tanya Nanda kaget.
"Dari tadi, " jawab Marcell.
"Bikin orang jantung aja lu, sebelas duabelas sama Firza lu, " sahut Nanda.
"Masaaa, " sahut Marcell.
"Boddooo, " sahut Nanda.
"Amaatt, " sahut Marcell.
"Mau gue bantuin gak?" tanya Marcell.
"Nggak usah, "
"Bener?"
"Mm.. Tolong cuciin sayur kangkung nya dong, heheh, " sahut Nanda cengengesan gak jelas.
"Tadi katanya gak usah, "
"Dari pada lu nganggur gak ada kerjaan mending bantuin gue masak, kali-kali lu cuci sayuran, "
"Iya iya siap, "
Marcell pun membantu Nanda menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. Dengan berkerja sama, mereka dapat menyelesaikan tugas yang sangat berat itu dengan cepat.
Setelah selesai masak dan menunggu waktu yang sangat lama. Akhirnya mereka bisa makan hasil masak mereka sendiri dengan tenang dan kenyang.
Setelah itu, Nanda kembali masuk ke kamarnya untuk melanjutkan mengerjakan deskripsi. Kini Nanda tak sendiri, dia di temani oleh Marcell yang hanya rebahan di samping nya sambil bermain game.
Drrtt... Drrtt... Drrtt..
"Siapa itu cell?" tanya Nanda.
"Orang gila, " jawab Marcell.
"Iya siapa?"
"Agung, sama Lukman minta vc grup, "
"Oohh, sana keluar ganggu orang yang lagi fokus aja, "
"Gak ah males, mending liatin orang yang lagi belajar dari pada harus ngejawab telpon yang gak guna, "
"Hem, terserah lu aja dah, "
Marcell yang bosan memainkan ponsel kini beralih memainkan rambut Nanda yang panjang itu. Tanpa Marcell sadari dia menarik rambut Nanda dengan sangat kuat sampai Nanda tertarik kebelakang.
"Au, gak usah di tarik juga, "
"Sorry sorry gak sengaja, "
"Sakit tau, "
"Iya maaf, "
"Mau di bantuin gak?" tanya Marcell.
"Gak usah sebentar lagi juga beres, " jawab Nanda. Marcell hanya mengangguk pelan.