
"Gak mikir lu, nanti kalo Nanda berharap pulang gimana, berharap kalo dia pengen ketemu sama suaminya gimana, , " sahut Dinda.
"Gimana kalo Nanda sakitnya tambah parah, " sahut Rara.
"Iya gimana kalo.. " sahut Putri.
"Oke oke, jangan do'ain yang aneh-aneh napa, gue gak mau jadi duda muda, " potong Marcell.
"Nah gitu dong.. nanti pulang sekolah kita ikut mobil lu.. " sahut Putri.
"Iya, " sahut singkat Marcell.
"Okey kalo gitu.. kita balek ke kelas yek, " sahut Dinda.
Mereka bertiga segera kembali kelas, tapi sebelum Dinda berbalik untuk menyusul Rara dan Putri, Dinda menginjak kaki Angga, dan lelaki itu meringis kesakitan.
Dinda tersenyum, "Mampus.. " sahut Dinda berjalan pergi menyusul Rara dan Putri.
"Heuuh.. untung sayang, " gumam Angga.
"Kalo gak sayang, lu mau diapain tuh Dinda?" tanya Agung.
"Mau gue duain, " sahut Angga.
"Haha.. jangan gitulah, kasian dia, " sahut Agung.
"Bodoamat, " sahut Angga.
Marcell yang merasa tak penting mendengarkan, hanya membaca buku membangun dunianya sendiri.
"Woy, kali-kali gaul napa, jangan gaul mulu sama Nanda, " sahut Agung.
"Tau nih kalo aja gaulnya di kasur.. " sahut Angga menahan tawa.
"Sekalian di kamar mandi biar seru.. " sahut Agung tertawa, Angga pun ikut tertawa.
"Syaiton kalian semua, " sahut Marcell menutup bukunya.
"Nah gitu kek, cuy nyari ciwi yoo, " sahut Angga.
"Nggak, gue udah nitip ke Rara sama yang lain, kalo ada cewek mont*k lpc gue.. " sahut Agung.
"Licik sendiri lu... gue juga mau.. " sahut Angga.
"Udah punya Dinda, masih berani nyari cewek, " sahut Marcell.
"Lumayan stok dikit.. " sahut Angga.
"Tress... "
"Lama-lama bukan gue nih yang jadi playboy, tapi si Angga, " sahut Agung.
.
.
.
.
.
Pulang sekolah.
Rara dkk segera berlari ke parkiran, takutnya Marcell pulang bukannya ke rumah sakit, malah pulang.
Saat mereka sedang ada di lorong, mereka melihat ada Ihsan dan juga Lukman yang kebetulan sedang nongkrong.
"Woy, kalian mau kemana?" tanya Lukman.
"Yioi, kok kayak rusuh banget?" tanya Ihsan.
"Ke rumah sakit, " sahut Dinda.
"Mau ngapain ke rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Ihsan.
"Nanda, " sahut Rara.
"Hah? Nanda sakit apa? kok bisa sampe masuk rumah sakit?" tanya Lukman.
"Adduuh nanti lagi deh jelasin nya, gue sama yang lain takut ketinggalan mobil, " sahut Putri menarik tangan Rara dan Dinda.
"Kalem oy, " sahut Lukman.
"Susul cuy, " sahut Ihsan.
"Hokeh, " sahut Lukman.
Mereka berdua segera menyusul tiga gadis itu di depannya yang sedang menuju parkiran sekolah.
Sementara itu Marcell dkk sudah siap pergi dari lingkungan sekolah. Saat Marcell menyalakan mesin mobil tiba-tiba ada yang loncat dan bertengger di depan mobilnya, dan itu membuat Marcell terkejut.
"Marcell bentar!!" teriak gadis itu, masih bertengger di sana.
Marcell segera mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Melihat seorang wanita yang sedang duduk di sana.
"Astagfirullah... anak setreess.. " teriak Rara.
"Bahaya woy bahaya.. " teriak Putri.
"Pacar lu bikin bangga yah... " sahut Lukman tersenyum lebar.
"Iya, gue aja sebagai pacarnya bangga banget.. " sahut Angga menahan malu dan juga menahan tawa.
"Haha... apaan tuh.. haha ngapain... " tunjuk Ihsan sambil tertawa.
"Bahaya woy, " sahut Marcell.
"Elu sih main pergi aja, " sahut Dinda.
"Gue lupa, yak udah ayok, " sahut Marcell kembali masuk ke dalam mobil.
"Yok.. "
"Yok masuk yok.. "
"Ayookk.. "
"Eh eh eh, woy, gue masih ada di sini.. tungguin.. " sahut Dinda segera turun dari atas mobil dan masuk ke dalam.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Marcell melihat kebelakang, ada Angga dan Agung.
"Gue ikut cell, masa elu aja yang enak, " sahut Angga.
"Kalian bawa motor, sana.. biar Ihsan sama Lukman yang naek, " sahut Marcell.
"Okeh, awas lu apa-apain doi gue, " sahut Angga turun dari mobil.
"Apa-apain? Hemm... enaknya diapain yah.. " sahut Putri tersenyum.
"Di c*li yok, " sahut Rara.
"Heh!! Tapi hayo aja, " sahut Dinda.
"Anj*rr.. parah nih doi Angga, " sahut Ihsan.
"G*bl*k.. " sahut Lukman.
"Ehem.. di c*li sama cewek, mending sama gue aja nanti, " sahut Angga mengintip dari kaca mobil.
"Ciee.. jadi ini mah jadi... " sahut Ihsan.
"Nanti gue mau jadi lengser di pernikahan kalian, " sahut Lukman
"Gue jadi penghulu, " sahut Ihsan.
Semua tertawa di dalam mobil kecuali Marcell sendiri. Tak memedulikan yang lain, Marcell segera melajukan mobilnya menyusul Angga dan Agung yang sudah jalan duluan.
"Aahh gabut... ngobrol kek, jangan pada diem bae, " sahut Ihsan.
"Bukan masalah sih mau ngobrol apa, cuma gak ada topik, " sahut Putri sibuk main hape.
"Nah iya itu masalahnya.. " sahut Rara.
"Cell, emang jauh yah rumah sakit nya? koo sedari tadi gak nyampe-nyampe?" tanya Dinda.
"Lumayan jauh, " sahut Marcell
"Kalo menurut lu kira-kira berapa lama lagi?" tanya Lukman.
"Sekitar 30 menit lagi, " sahut Marcell. Semua terkejut dan memandang Marcell dengan ekspresi aneh.
"Apa?" tanya Marcell.
"Gue capek duduk mulu di mobil, " teriak Putri.
"Gue pengen pipis, berhenti dulu napa, " sahut Rara.
"Berhenti dulu cell.. kasi--" sahut Dinda.
"Nah udah nyampe, turun, " potong Marcell.
"Hah? kapan masuknya?" gumam Putri.
"Put, anter gue ke kamar mandi yok, gue udah gak tahan lagi, " sahut Rara.
"Yak udah ayo, " sahut Putri.
Rara dan Putri segera mencari di mana kamar mandi di rumah sakit, sedangkan yang lain segera menuju kamar Nanda.
Di kamar Nanda.
Nanda yang sedang termenung tiba-tiba dikagetkan dengan suara pintu.
Tok... tok... tok..
Cklekk..
"Assalamu'alaikum.. "
"Walaikumsalam, " jawab Nanda.
Masuknya seorang gadis yang masih memakai baju sekolah dan juga tasnya, rambut panjang yang tergerai begitu saja, dia sangat cantik.
"Nanda... " teriak Dinda berlari kearah Nanda dan memeluknya.
"Dinda.. " teriak Nanda membalas pelukan Dinda.
"Uuuuhh sayang... aku kangen... " sahut Dinda masih dengan pelukan hangatnya.
"Aku juga sayang.. " sahut Nanda.
"Ehemm.. main sayang sayangan di sana, kalo disini gak di kasih, " sahut Angga.
"Udah din.. ada yang panas tuh, " sahut Nanda.
Dinda melepas pelukannya dan menatap Angga dengan tatapan sinis nya.
"Apa sih beb? jangan diliatin mulu, " sahut Angga malu.
"Najis, " gumam Dinda.
"Ehh, mana Rara sama Putri?" tanya Nanda.
"Lagi di toilet, "sahut Ihsan.
"Ngapain mereka berdua di sana?" tanya Nanda.
"Yah pip--," sahut Dinda.
"Lagi c*li di toilet, " potong Lukman.
"Astagfirullah... ikut yuk, " sahut Nanda.
"Hayuu... " sahut Dinda semangat.
"Gue sama elu ndak, " sahut Dinda.
"Ehem, " sahut Marcell pura-pura batuk.
Dinda menengok ke arah Marcell, "Oh maaf, sorry ndak ada yang panas tuh, " sahut Dinda.
"Tau lu panas mulu.., " sahut Nanda.
"Maklum lah suami, " sahut Agung.
Cklekk..
"Assalamu'alaikum, " ucap Rara dan Putri.
"Waalaikumsalam, " jawab semua orang di dalam kamar.
"Nanda... " teriak Rara berlari menghampiri Nanda.
Ihsan yang jahil mengangkat kakinya dan tersandung oleh Rara. Rara yang hampir terjatuh ke lantai dan siap mencium lantai dengan rasa sakit yang menggelegar. Tapi, dengan sigap Agung segera menangkap tubuh Rara.
Bruukk..
"Adduuh mamae, " ucap Lukman
"Udah gak papa, " sahut Agung berdiri.
Rara membuka mata nya dah segera berdiri, "Ma-makasih, " sahut Rara.
"Iya sama-sama, " sahut Agung.
Rara segera berjalan menuju Nanda dan Dinda yang sedang senyum-senyum berdua.
"Apa sih, terus aja senyum-senyum, " sahut Rara.
"Nggak papa, " sahut Dinda.
"Enak gak ra, di tangkap tadi?" tanya Nanda.
"Diem lu, " sahut Rara.
"Hahah... pasti enak lah, " sahut Putri.
"Mau pulang sekarang?" tanya Marcell.
"Lu kesini gara-gara di paksa sama Rara, Dinda, Putri kan?" tebak Nanda.
Marcell tersenyum, "Itu lu tau, gak usah tanya yang aneh-aneh, " sahut Marcell.
"Gue mau pulang sekarang, " sahut Nanda.
"Oke, kalo ada tempat duduk, " sahut Marcell.
"Eh itu Ihsan, Lukman, Angga kalian lagi liatian apaan sih? serius amat, " tanya Putri.
"Ndak, gue minta parsel buah ini yak, " sahut Lukman.
"Kalo gue minta parsel coklat ini, " sahut Ihsan.
"Gue mah gak serakah, gue minta cemilan ringan aja, " sahut Angga.
"Yawloh, bukannya seserahan sama orang sakit, malah minta parsel, " sahut Dinda.
"Ambil aja ambil, " sahut Nanda.