
Banyak orang yang melihat mereka bersama, hampir setiap siswa-siswi yang mereka lewati melihar kalau terus seperti ini maka nanti bagaimana kedepan nya? apakah mereka akan mengetahui kalo mereka ini sudah menikah?
"Cell... lu berasa jadi artis kagak?" tanya Nanda.
"Gue mah udah biasa.. " sahut Marcell.
"Iyalah namanya juga anak Sultan siapa juga yang gak mau sama elu.. " sahut Nanda manyun bebek.
"Lu cemburu kalo gue nyari yang lain gitu?"
"Engga juga, silahkan saja kalo lu mau nyari yang lain, "
"Tenang ndak, gue cuma akrab sama lu doang kok, "
"Jangan boong lu... lu juga kan akrab sama Dinda, Rara, " sahut Nanda.
"Tuh mulut gak bisa peka dikit napa, " sahut Marcell kesal.
"Iya iya gue ngerti kok, jangan dibilang kalo gue ini gak pekaan orang nya... " sahut Nanda.
Mereka sampai di tempat parkir, yang di pikirkan Marcell saat turun dari motor Nanda akan segera berlari meninggalkan nya tapi kali ini berbeda.
"Lu gak lari?" tanya Marcell.
"Enggak, gue capek... " sahut Nanda menunggu Marcell melepas helmnnya.
Setelah itu mereka berdua segera pergi dari tempat parkir. Mata para siswa-siswi menatap mereka berdua dengan tatapan sinis.
Tetapi Marcell dan Nanda sudah kebal dengan tatapan itu, Nanda yang sering di mendapatkan tatapan itu menjadi sudah terbiasa dan bodoamat.
Dinda dan Angga sebenarnya mendapatkan nya juga tapi mereka juga bodoamat dan kabar tentang mereka pacaran sudah menyebar entah dari kapan.
Rara dan Agung sering disebut pasutri bar-bar hampir semua siswa-siswi yang melihat mereka adu bacot.
"Gue duluan yah... " sahut Nanda melambaikan tangannya.
Marcell hanya mengangguk dan membalas nya dengan melambaikan nya juga. Rara ikut bersama Nanda yang ada di depan nya, Angga menyusul Marcell.
"Nanda!! tungguin!!" teriak Dinda berlari.
"Lama lu... makanya jangan pacaran mulu... " sahut Nanda.
"Elu juga nanti sama kayak gue.. apalagi nanti lu kan bakal jadi pasutri, " bisik Dinda pengertian.
"Kapan pernikahan lu?" tanya Dinda.
"Gak tau... " jawab Nanda singkat.
"Kok gak tau? Kan adik-adik lu pulang sekarang, "
"Gue gak tau... gue kabur sama Marcell dari jam tiga, " sahut Nanda males.
"Kok bisa sih... kan adik lu kangen sama elu... "
"Mereka yang kangen ngeliat gue sengsara, " sahut Nanda.
Dinda menggeleng pelan. Tak lama mereka mendengar teriakkan para siswa-siswi yang sedang berkumpul seperti sedang melihat sesuatu.
"Kenapa tuh?!" tanya Nanda.
"Mau liat? Hayuu... " ajak Dinda.
Mereka berlari menghampiri para siswa-siswi, dan ternyata mereka sedang melihat adu panco antara Agung dan Rara.
"Eh buset...bikin gue malu aja... " gumam Nanda.
"Mereka budek apa gimana?" gumam Dinda.
Mereka tak peduli jika di teriaki oleh semua orang yang terpenting adalah mengalahkan musuh yang ada di depan mata dengan kekuatan tangan.
Mereka terus melihat sampai adu panco itu berakhir yang memang adalah Rara, Agung membayar 15k sesuai janji.
"Oke thankyou gung... " sahut Rara mengambil uang tersebut.
"Mm... " sahut Agung hanya bergumam.
"Besok kalo mau adu panco lagi, panggil gue aja... " teriak Rara.
"No....yang ada duit gue abis di ambil terus sama elu.. " sahut Agung berjalan pergi menuju kelasnya.
Para siswa-siswi puas melihat pasutri bar-bar itu bertanding, mereke segera bubar kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Begitupun Nanda dan Dinda yang ingin kembali kelas anggap saja tak melihat Rara.
Rara berbalik melihat mereka dan memanggilnya, "Wwoyy!! Kalian mau kemana?!" tanya Rara berlari menghampiri.
"Gak kemana-mana, " sahut Dinda.
"Kalian liat adu panco gue barusan gak?" tanya Rara.
"Gue liat, tapi gue bodoamat, " sahut Nanda.
"Yee... elu kebiasaan dah... " sahut Rara menyenggol tangan Nanda.
"Lu ngapain sih pake adu panco segala?" tanya Dinda.
"Dia tuh yang mulai kalo perempuan itu lemah, gak ada tenaga... gue sebagai cewek sakit hati denger nya.. yak udah gue adu panco aja sama tuh anak, dan terbukti kalo perempuan itu gak selalu terlihat lemah, " jelas Rara.
"Pinter juga lu... " sahut Nanda menepuk puncak Rara pelan.
"Lu pikir gue ini bodo soal pelajaran MTK doang, yah kagak lah.. " sahut Rara.
"Yahhh... gue lupa gak ngerjain... gimana dong?"
"Tenang kan ada Dinda.. " tunjuk Rara.
"Gue aja baru ngisi empat soal... " sahut Dinda.
"Terus Gimana, apalagi pelajaran pertama lagi... " sahut Nanda bingung menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Tenang kan ada Mike... " sahut Rara santai.
Tak lama mereka bertiga mendengar ada yang memanggil mereka dari arah lapangan dan mereka berbalik ternyata itu adalah Mike.
"Kalian bertigaa!!! Jangan larii!!" teriak Mike menyusul.
"Kenapa lu?" tanya Rara.
"Kalian udah belum ngerjain soal-soal Fisika kemarin?" tanya Mike.
"Belum... " jawab mereka bertiga bersamaan.
"Yahh padahal gue mau liat isinya... " sahut Mike kecewa.
"Malahan kita mau liat isinya ke elu... " sahut Rara.
"Boro-boro, kemarin gue ada acara keluarga, jadi gak sempet gue ngerjain, " jelas Mike.
"Oh... "
"Bodoamat, "
"Gak nanya... "
"Kalian jahat amat dah... " sahut Mike.
"Elu ndak, udah ngerjain berapa soal?" tanya Mike.
"Boro-boro jawaban gue nulis soal. aja kagak, " sahut Nanda.
"Kalo elu Ra?" tanya Mike.
"Apalagi gue... nulis tanggal aja belum.. " sahut Rara.
"Emmm, harusnya gue gak nanya ke elu... kalo elu Din?" tanya Mike penuh harapan.
"Gue baru ngerjain empat soal, itu juga gue di lewat-lewat, " sahut Dinda.
"Nomber berapa aja yang lu udah?"
"Nomber dua,empat, tujuh sama sepuluh, " jawab Dinda.
Rara dan Nanda yang bosan mendengar percakapan mereka berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Dinda yang asik mengobrol dengan Mike soal pelajaran.
"Kalo elu ngerjain yang nomber delapan gima--"
"Lu ditinggal tuh... " sahut Mike.
Dinda berbalik dan benar saja kedua sahabat jalan duluan, "Iiih mereka mah emang gitu... Mike gue pergi duluan yah... " sahut Dinda berlari menyusul.
"Din... jangan lupa nanti di kelas gue liat, " teriak Mike.
"Kenapa gak sekarang aja sih... biar bareng sama kita?" tanya Nanda.
"Gue mah gampang cepet nulisnya gak kayak kalian, " sahut Mike.
"Awas lu... " tunjuk Nanda mengancam.
"A-ampun... jangan ngapa-ngapain gue... " sahut Mike meminta ampun.
Nanda tak menghiraukan Mike dia terus berjalan dan membuka pintu kelas dengan pelan-pelan tak heboh seperti biasa.
"Tumben lu buka pintu pelan-pelan biasnya kan henoj mengguncangkan dunia... " sahut Salsa.
"Diem lu ah... dari pada ngebacot mending gue liat isi Fisika, gue belum.. " sahut Nanda.
Salsa menurut saja dan memberikan bukunya pada Nanda, dengan cepat Nanda segara menyalin jawabnya itu ke buku miliknya. Diikuti oleh Dinda dan Rara.
BRAKK..
Ada yang membuka pintu kelas mereka dengan sangat kuat, siapa lagi kalo bukan Delisa pacar gesrek Mike.
"Nanda!!!" teriak Delisa memasuki kelas.
"Yawloh apalagi ini?!" gumam Nanda kesal.
"Ndakk... lu hari ini harus makan lontong sayur biaraj gue sama emak gue... " sahut Delisa.
"Elu aja deh yang makan, gue kenyang... " sahut Nanda melanjutkan menulis.
"Gak bisa... nanti jam istirahat pertama hue bakal masukin nih lontong sayur ke mulut lu, " sahut Delisa.
"Serah lu.. udah sana lu pergi, gue mau ngerjain PR, " sahut Nanda mengusir.
"Ini mah bukan PR tapi PS... " sahut Delisa mendorong meja, Nanda yang sedang menulis mejadi terganggu.
Nanda, Rara dan Dinda menatap Delisa dengan tatapan sinis dan membunuh. Delisa yang melihat langsung kabur dari kelas Nanda menuju kelasnya sendiri.