My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Reunian semasa SMA



Bunda Shera dan mama Patmi sekarang berada di dalam mobil untuk pergi ke garut menyelesaikan masalah pak Herman yang tertunda selama bertahun-tahun. Bunda Shera yang sedang menyetir mobil melihat sekilas ke arah mama Patmi.


"Kenapa jeng? masih takut ninggalin mereka berdua?" tanya Shera.


"Bukan itu.. aku takut mereka bikin rusuh di rumah, " sahut Patmi.


"Udah lah jeng.. biarin aja, maklum mereka kan nikah muda jadi udah biasa kalo sering berantem, " sahut Shera.


"Iya siihh.. tapi kenapa perasaan aku dari tadi gak enak gitu.. "


"Mungkin kamu belum makan, soalnya kita kan buru-buru.. "


"Engga kok jeng, aku udah makan sebelum Endi nelpon, "


"Yang sabar yah jeng, bentar lagi kita sampe kok, " sahut Shera menenangkan Patmi.


"Iya jeng, " sahut Patmi.


Setelah tiga jam di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah bu sella, di sana mereka sudah di sambut hangat oleh Sella, Ayah Endi, ayah Budi, dan juga Bagas.


Bunda Shera dan mama Patmi segera turun dari mobil dan memeluk suami mereka masing-masing.


"Sella.. " sahut bunda Shera.


Bu Sella hanya tersenyum bisa bertemu dengan teman lama nya. "Gimana kabar kalian!" tanya Sella.


"Alhamdulillah baik, kamu gimana di sini? gak ada yang mencurigakan kan?" tanya Shera.


"Aku juga baik, ada beberapa orang yang mencurigakan belakangan ini, tapi sesudah Bagas datang bersama Endi semua udah kembali normal, " sahut Sella.


"Oh alhamdulillah kalo begitu.. " sahut Patmi.


"Ayoo semua masuk, " sahut Sella.


"Iya, terimakasih Sella.. " sahut Shera dan Patmi.


Suami mereka segera menurunkan barang bawaan istri mereka masing-masing. Sedangkan Bagas ikut masuk ke dalam bersamaan dengan bunda Shera dan mama Patmi.


Di dalam rumah.


"Silahkan duduk.. " sahut Sella.


"Iya.. terimakasih, " sahut Patmi.


"Jadi kita akan mulai dari mana sidang ini?" tanya Shera.


"Semua nya saya serahkan pada Bagas, " sahut Sella.


Sontak mereka semua melihat Bagas yang berjalan ke arah mereka bertiga. Bagas pun duduk di sofa satu nya lagi.


"Jadi begini.. kalian semua akan menjadi saksi dan juga korban, terutama ibu Sella dan juga bu Shera.. kalian berdua akan sangat terlibat.. " sahut Bagas.


"Bagaimana dengan sofi?" tanya Sella.


"Sofi akan saya bantu sedikit tentang masalah pembunuhan ayah nya yang terjadi beberapa tahun yang lalu, sebenarnya saya tidak tau pasti bagaimana ceritanya.. yang pasti bu Sella harus membantu bu sofi, "


"Iya saya tau, saya akan berusaha sebaik mungkin, " sahut Sella.


"Terimakasih bu atas kerja sama nya.. oh iya tante shera sama tante Patmi Nanda dan Marcell gak tau kan tentang masalah ini?" tanya Bagas memastikan.


"Iya tenang saja, mereka akan tau setelah masalah ini selesai, " sahut Tante Patmi.


"Bagus, syukurlah.. "


Tiitt.. tiitt..


Mereka semua melihat ke luar karena mendengar suara klakson mobil seseorang. Bagas dan Sella segera bangun dan berjalan keluar. Karena Patmi dan Shera yang tak tau apa-apa mereka pun ikut keluar.


Saat mereka semua sudah berada di luar. Dan keluar lah dari dalam mobil dua orang wanita yang masing-masing nya menggunakan kecamatan hitam.


"Assalamu'alaikum.. " sahut salah satu wanita itu.


"Wa'alaikumussalam.. " jawab semua orang.


Salah satu wanita yang mengucapkan salah itu melepaskan kecamatan nya dan tersenyum ke arah mereka semua.


"Sofi.. " sahut Patmi segera berjalan ke arah nya dan memeluk nya.


"Apa kabar Patmi.. udah lama kita gak ketemu.. " sahut Sofi.


"Aku baik.. " jawab Patmi.


"Heyy... Shera.. " sahut Sofi melihat Shera berjalan ke arah nya.


"Hello my cuantiikk.. makin cantik aja... " sahut Shera memeluk Sofi.


"Biasa lah.. skincare mulu.. " sahut Sofi.


Sella berjalan ke arah Sofi dan yang lain yang sedang berkumpul itu. "Hau Sofi, bagaimana kamu siap untuk melihat kebenaran?" tanya Sella.


"Ya ampun Sella.. pake di tanya.. ya iyalah.. " sahut Sofi.


"Udahlah Ryan.. gak usah pake lo gue.. kita udah tua.. " sahut Sella.


"Tau nih nenek lampir yang satu ini.. jadi ke ingetkan masa lalu.. " sahut Patmi.


"Dasar kau Patmi emang udah gak ada akhlak, udah tua masihhh aja panggil aku dengan sebutan nenek lampir.. huuhh.. " sahut bu Ryan ibu kandung Mila.


"Hahah.. maklumlah.. udah kebiasaan.. " sahut Patmi.


"Ada yang kayak gini.. ckckckck.. " sahut Ryan.


"Kalo kita kumpul kayak gini.. berasa reunian semasa SMA dulu yah.. " sahut Sofi.


"Iya bener.. " sahut Sella tertawa.


"Bedanya.. dulu kita masih muda, selamat kita udah tua.. udah punya anak masing-masing.. " sahut Ryan.


"Kebiasaan kamu ini Ryan, aku belum punya anak lah.. " sahut Sofi.


"Makanya bikin.. "


"Mata kau bikin, emang gampang bikin anak? yah engga lah.. " sahut Sofi.


"Udah udahh.. yuk masuk kita bicarain masalah ini di dalem aja malu diliatin orang, " sahut Sella.


"Iya jeng, " sahut Ryan.


Di dalam rumah, mereka semua duduk di sofa yang sudah di sediakan. Bagas mulai membicarakan hal yang serius. Pak Endi dan Pak Budi membantu Bagas menjelaskan semua nya.


"Jadi bagaimana? apa bu Sofi bisa menerima kenyataan ini?" tanya Bagas.


"Saya sebenarnya belum yakin kalau Pak Herman lah yang membunuh ayah saya, tapi kalau kalian bersi keras kayak gini.. apa boleh buat saya akan hadir di sidang itu dan melihat kebenaran nya, " sahut Sofi.


"Bagus, sekarang kita hanya perlu membawa Pak Herman pergi dari garut ke Jakarta, sebenarnya kami tidak ingin melibatkan kalian semua tapi hampir di setiap malam, Pak Herman melarikan diri, " sahut Bagas.


"Lalu?" tanya Ryan.


"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Patmi.


"Tante Sofi bisakah tante menyuntikkan obat bius ini ke tangan Pak Herman?" tanya Bagas mengeluarkan kotak suntikan dan obat bius itu.


"Apa? kenapa harus saya?" tanya Sofi.


"Karena Tante masih istri sah nya Pak Herman, sedangkan Tante Sella sudah bercerai begitu pun dengan Tante Ryan, " sahut Bagas.


"Baiklah, saya akan mencoba nya.. " sahut Sofi setuju dan mengambil beberapa kotak itu.


"Oh iya katanya Ikne juga datang?" tanya Shera.


"Iya, saya memintanya untuk menunggu di pengadilan, untuk berjaga-jaga lagi pula suami Tante Ikne dulunya adalah kenapa kepolisian, jadi akan banyak polisi di pengadilan kali ini, " sahut Bagas.


"Siapa yang akan menjadi hakim di sana?" tanya Sella.


"Orang tua Caca dan Melodi, " jawab Bagas.


Mereka semua seketika terdiam mendengar nya, "Kamu yakin? mereka mau membantu kita dalam masalah ini?" tanya Om Endi.


"Kamu gak salah denger kan Bagas? mereka gak mau membantu siapa pun kecuali tentang masalah keluarga mereka sendiri, " sahut Om Budi.


"Iya saya tau, maka dari itu saya membuat perjanjian dengan Caca dan Melodi untuk membujuk orang tua mereka supaya mereka mau membantu, " sahut Bagas.


"Baiklah kalo begitu, " sahut Tante Ryan.


"Oh iya, masalah Mila dan Caca sudah selesai?" tanya Bagas kepada Ryan ibu kandung Mila Jesika Ryan.


"Itu tentang masalah persahabatan, biar dia sendiri yang menyelesaikan nya, lagi pula Caca dan Melodi sudah tau, kalo Mila hanya memanfaatkan mereka saja, " sahut Tante Ryan.


Bagas hanya mengangguk pelan. "Ada pertanyaan?" tanya Bagas.


"Bagaimana kita bisa ke Jakarta dengan kondisi Pak Herman saat ini?" tanya Shera.


"Yang pasti ini akan sulit, " sahut Patmi.


"Kemungkinan besar, satu-satunya cara agar Pak Herman di bawa ke Jakarta adalah dengan obat bius itu dan juga Sofi, " sahut Sella.


"Iya itu benar.. satu-satunya peluang kita hanya tante Sofi yang bisa membuat Pak Herman tertidur selama perjalanan, " sahut Bagas.


"Patmi bagaimana keadaan jalanan?" tanya Om Budi.


"Jalan semua lancar gak ada macet sama sekali, bahkan tak ada polisi atau apa pun, : sahut Patmi.


"Begitu.. semoga saja besok kita bisa membawa Pak Herman pergi dari sini dengan lancar tak ada hambatan, " sahut Om Budi.


"Amiinn.. " sahut semua orang.


"Jadi saya harus bertemu dengan Pak Herman malam ini?" tanya Sofi.


"Jangan, nanti pagi agar obat bius itu bertahan cukup lama, " sahut Bagas.