My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Tangkap dia..



Keesokan harinya, tepat nya pada pukul 04.39. Sesuai dengan janjinya kepada Tante Sofi, Bagas tak memberitahu siapa-siapa kalau kemarin dia bertemu dengan Tante Sofi dan sempat mengobrol sebentar.


Di kamar Bagas.


Bagas bangun lebih awal untuk menyelesaikan kasus ini sendirian. Bagas sudah siap, menggunakan pakaian biasa, menggunakan topi hitam, membawa pistol yang dia sembunyikan di saku celananya.


Tok.. tok.. tok..


Mendengar ada yang mengetuk pintu, Bagas segera membereskan tempat nya dan berjalan ke arah pintu, saat membuka pintu dia dikejutkan oleh dua orang pria memakai pakaian hitam seperti mau ke makam.


Bagas tak mengenali mereka karena mereka menggunakan topi dan juga masker berwarna hitam.


"Siapa ya?" tanya Bagas waspada.


Salah satu pria di depan nya itu membuka masker dan juga topi nya, ternyata itu pak Endi. Kalau begitu yang satu nya lagi pasti Pak Budi.


"Kami datang untuk membantu kamu, " sahuy Pak Endi.


"Enggak Om, aku kawatir terjadi apa-apa sama kalian, " sahut Bagas.


"Kamu jangan membebankan ini semua Bagas, kita semua sekarang di sini.. kita semua yang harus menyelesaikan semua ini bersama-sama, " jelas Pak Budi.


Bagas tampak terdiam sejenak mendengar perkataan Pak Budi barusan. Bagas mengambil napas panjang dan berbalik menghadap mereka berdua.


"Baiklah, " sahut Bagas.


Mereka bertiga tampak tersenyum. Bagas pun memberitahu kamar Tante Sofi dan juga Pak Herman. Pak Endi dan Pak Budi tampak sangat kaget mendengar nya, mereka baru sadar kalau kamar di samping Bagas ini adalah kamar inap yang di tempati oleh Sofi dan juga Herman.


Bagas sudah menduganya mereka akan sangat terkejut. "Bagaimana mungkin, kita sudah semakin dekat, tapi kita sendiri gak sadar.. " sahut Pak Endi duduk di sofa untuk menenangkan pikirannya.


"Kalau begitu, apa rencana kamu Bagas?" tanya Pak Budi.


"Aku akan membawa Pak Herman ke tempat parkir, siap kan beberapa polisi untuk menyamar, dan Tante Parmi dan Tante yang lain, siap-siap untuk membawa Tante Sofi pergi sebelum Pak Herman sadar kalau dia sedang di jebak, " sahut Bagas.


"Baiklah, " sahut Pak Budi.


"Om Endi dan Om Budi tolong... lindungi saya, " sahut Bagas.


Mereka berdua tampak kaget dengan perkataan Bagas barusan, apa maksud Bagas dengan 'tolong lindungi saya' ada pesan tersembunyi di sana.


Pak Budi dan Pak Endi setuju tanpa berpikir panjang mereka segera keluar dari kamar Bagas dan memberitahu rencana nya ini kepada istri-istri mereka.


Tak lama setelah itu, Bu Ikne memberitahu anak buah nya untuk menyamar dan menunggu di parkiran. Sedangkan Bagas berganti profesi menjadi pegawai hotel.


Tante-tante atau ibu-ibu sedang menunggu di kamar, menunggu Pak Herman dan Bagas keluar dari hotel.


Author : Aduh tante-tanteπŸ˜…


Beberapa menit kemudian, Bagas berhasil membawa Pak Herman keluar dari kamar nya dan sedang berjalan menuju parkiran dengan alasan 'ada seseorang yang marah-marah tentang mobil di parkiran, dan mobil itu milik anda' tentu saja siapa pun pasti kesal kalau mobil yang gak ada dosa di marahin.


Author : Orang yang memarahi mobil Pak Herman pasti udah gila πŸ‘ΏπŸ‘ΏπŸ‘ŽπŸ‘ŽπŸ˜Ύ mobil kok di ajak berantem -_-


.


.


.


.


.


Di tempat parkir.


"Dimana? mana orang yang memaki-maki mobil saya?!" tanya Pak Herman berjalan ke arah mobil nya.


"Seperti dia takut dengan Pak Herman, " sahut Bagas berpura-pura sebagai pelayan.


"Kayaknya gitu.. ya sudahlah... " sahut Herman berbalik dan melihat pelayan itu.


"Iya Pak, " sahut Bagas.


Pak terdiam dan menatap Bagas dengan mata elang nya itu. "Bagas, " panggil Pak Herman.


Bagas terkejut, bagaimana bisa Pak Herman mengetahui kalo diri nya adalah Bagas.


"Kamu bagas kan? mau apa kamu?" tanya PK Herman.


Bagas menengok ke atas melihat Pak Herman yang sudah waspada dengan dirinya. "Wah wah wah.. ternyata bapak tidak sebodoh yang saya kira, " sahut Bagas membenarkan rambut nya.


Pak Herman sudah mundur beberapa langkah ke belakang. "Bapak Herman kenapa mundur? eh maksud saya Om Herman, " sahut Bagas melangkah maju.


"Apa yang kamu mau?" tanya Pak Herman.


"Apa lagi, saya mau membawa Pak Herman menghadap keadilan, "


"Heh, kamu pikir kamu bisa menangkap saya hanya dengan seorang diri?"


"Ups, maka dari itu.. saya tidak sendirian, " sahut Bagas.


Datang lah segerombolan polisi yang menyamar dan juga Pak Endi, Pak Budi dan beberapa orang-orang Bagas telah mengepung Pak Herman dari segala arah.


"Apa-apaan ini?!" tanya Pak Herman melihat ke sekeliling.


"Om Herman, gak bisa lolos kali ini, " sahut Bagas.


"Pak Herman, kita bisa selesaikan ini baik-baik, beritahu sofi siapa. pembunuh nya dan sisanya kita selesaikan di pengadilan Pak, " sahut Pak Endi.


"Heh, kamu pikir aku mau memberitahu nya? gak akan, " sahut Pak Herman.


"Jangan memaksa saya melakukan ini Pak, " sahut Pak Budi mencondongkan senjata pistol ke arah Pak Herman.


"Apa Pak Budi berani melakukan itu? saya bisa mengembalikan semua uang yang saya ambil dengan tanda tangan saya, kalo saya mati, maka perusahaan Pak Budi akan hancur, " sahut Pak Herman.


Tangan Pak Budi gemetar. "Lepaskan senjata kalian, maka saya akan menyerahkan diri baik-baik, " sahut Pak Herman.


Tapi sayang nya semua orang yang sedang mengepung nya itu, tidak percaya, malah sekarang mereka semua sudah mencondongkan senjata ke arah nya.


Sial, mereka gak bisa di tipu, - batin Pak Herman bingung.


.


.


.


.


.


Sementara itu di dalam hotel, tepat nya di kamar Bu Sofi.


Tok.. tok.. tok..


"Siapa? masuk, " sahut Sofi dari dalam kamar.


"Sofi, kita bisa bicara sebentar?" tanya Sella masuk ke dalam.


Sofi tanpa kaget atas kedatangan Sella dan juga yang lain. "Ada perlu apa kalian datang ke sini?" tanya Sofi.


"Kita harus bicara, " sahut Ryan.


Bu Sella dan yang lain masuk ke dalam dan duduk di sofa yang sudah di sediakan. Sella mulai membicarakan tentang pembunuhan yang terjadi 13 tahun yang lalu. Yaitu kasus pembunuhan Ayah kandung Sofi.


"Kenapa kamu membicarakan ini lagi sella?" tanya Sofi tak terima jika terus menceritakan tentang kasus itu.


"Aku hanya memberitahu kamu, tolong tinggalkan Pak Herman dan cari lelaki lain sebagai ganti nya.. Pak Herman gak pantas buat kamu, " sahut Ryan.


"Ryan, aku tau kamu gak setuju kalau aku menikah dengan mantan suami kamu itu.. karna Pak Herman sekarang udah kaya raya dan juga tampan iya? kamu mau balikan lagi sama dia?"


"Bukan itu maksud aku Sofi.. kamu harus percaya sama sella, semua yang dia katakan itu benar, "


"Aku sama sekali gak percaya sama kalian semua, awal nya aku percaya sama Patmi dan juga Shera, tapi sekarang... tidak maaf, " sahut Sofi.


"Tapi Sofi.. "


"Keluar, " potong Sofi.


"Sofi tolong dengarkan kami dulu.. "


"Keluar!!" teriak Sofi.


Dorr.. dorr... dorr..


Terdengar suara tembakan dari arah parkiran. Sella dan yang lain hanya diam. Sedangkan Sofi kaget dan melihat keluar jendela.


"Suami ku.. " teriak Sofi. Sofi segera bergegas berlari keluar kamar.


"Sofi jangan!!" sahut Patmi memegang tangan Sofi mencegahnya untuk keluar dari hotel.


"Lepasin.. " teriak Sofi.


"Sofi kumohon jangan keluar!!" teriak Ryan.


Tapi Sofi tak mendengar perkataan mereka dan terus berlari ke arah lift. Tanpa berpikir panjang, mereka semua segera menyusul Sofi yang kehilangan kendali itu.


Sesampainya mereka semua di tempat parkir. Terlihat di sana Pak Herman yang berusaha menghindari tembakan dari Pak Budi.


"Berhenti!!" teriak Sofi berlari ke arah Pak Herman.


"Sofii!!" teriak Sella.


"Jangan ke sana sofi!!" teriak Shera.


Melihat kedatangan Sofi membuat para polisi dan Pak Budi, Pak Endi, Bagas tak berdaya.


"Suami kamu gak apa-apa kan?" tanya Sofi membantu suami nya bangun.


"I-Iya, " jawab Pak Herman.


"Kumohon berhenti, jangan tembak suami ku yang gak bersalah ini.. Bagas kamu harus tau, betapa sakitnya seorang istri melihat suami nya di bunuh oleh seseorang, " sahut Sofi kepada Bagas sambil menangis.


Setelah Pak Herman berhasil berdiri dengan kaki nya sendiri, dia mencekik Sofi dari arah belakang dengan tiba-tiba, di saat semua orang dengan lengah.


Pak Herman mengambil pistol di saku celana nya dan mencondongkan senjata itu ke arah leher Sofi.


"Turunkan senjata kalian!!" sahut Pak Herman.


Bagas tampak kebingungan harus bagaimana. "Kalau kalian tidak ingin, dia mati, " sahut Pak Herman.


"Turunkan senjata, " perintah Bagas.


Merek semua menurunkan senjata api mereka dan mengangkat tangan ke atas.


"Heh, bodoh.. oh iya istri tersayang ku.. kamu mau tau siapa yang udah ngebunuh ayah kamu itu?" tanya Pak Herman.


"Si.. sia.. pa?" tanya Sofi gagap.


Baru saja Sella akan melangkah maju, tapi sayang nya Pak Herman menembak jalanan memperingati jangan bergerak.


Dorr..


"Aaahh.. " teriak Ryan ketakutan.


Patmi menutup telinga nya, sedangkan Shera memegang tubuh Sella. Mereka semua ketakutan.


"Siapa yang udah ngebunuh mertua aku yah.. ? mm? apa kamu mau tau?"


Sofi hanya diam, "Itu aku Sofi.. aku... hahahaha... " teriak Pak Herman dan tertawa.


Sofi kaget, ternyata benar dengan yang di katakan Bagas dan juga Sella selama ini. Sofi selama ini bodoh tak mempercayai seseorang yang ingin melindungi nya.


Dorr...


"TIDAKK!!"


"SOFII!!"


"AAAHH!!"


Senjata api itu berhasil di lepaskan tepat di leher Sofi, "Hahahahaha.. kamu memang sangat bodoh Sofi.. " sahut Pak Herman tertawa.


Sella dan Ryan sudah jatuh karena melihat pemandangan seperti ini di depan mata mereka. Seseorang yang ingin mereka lindungi sudah tidak bisa mereka lindungi lagi saat ini.


Dorr..


Bagas menembak salah satu kaki Pak Herman dengan senjata yang dia sembunyikan di saku celana nya.


"Berisik, tangkap dia.. " perintah Bagas.


Polisi dan orang-orang Bagas mulai menangkap Pak Herman yang sudah terjatuh di sana tepat di samping Sofi.


Setelah Pak Herman berhasil di amankan. Mereka semua segera menghampiri Sofi yang tergeletak lemas di sana dan di penuhi oleh darah.


"Sofi.. sofii.. bertahan yahh.. sebentar lagi.. " sahut Sella mengangkat kepala Sofi ke pangkuan nya.


"Engga.. Sella engga... maafin aku.. selama ini gak percaya sama kalian... aku udah menyimpan surat wasiat.. untuk... Agung.. putra ku.. "


"Iya iya.. dia putra kamu Sofi.. kamu yang menjaga nya sampai sekarang.. " sahut Sella menangis.


"Sofi bertahan Sofi.. ambulan sebentar lagi datang.. " sahut Ryan menangis.


"Ryan.. maafin aku selama ini.. "


"Iya Sofi, sebelum kamu minta maaf pun aku udan maafin kamu.. kamu harus bahagia Sofi.. kamu masih punya masa depan, " sahut Ryan tak tahan melihat penderitaan Sofi selama ini.


Shera dan Patmi hanya menangis melihat peristiwa yang menyakitkan ini. Sofi pun kemudian tersenyum, "Tak masalah aku tiada hari ini.. lagi pula aku akan bahagia bersama ayah di sana.. " sahut Sofi melihat langit-langit.


"Engga Sofi.. engga.. kamu akan bahagia, kamu akan melihat Agung menikah dan mempunyai anak.. kita berdua akan menjadi nenek nanti nya.. " sahut Sella. Tangisan Sella terus turun, dia sudah tak bisa membendung air matanya.


Mata Sofi pun menutup di hiasi dengan senyuman manis yang terlukis di wajah nya. Semua orang di sana hanya bisa menangis dan pasrah dengan keadaan.