My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Labirin



2 minggu kemudian. Semua keluarga sedang berkumpul di rumah keluarga kediaman Alfarizky. Mereka semua sedang party Baberque di rumah Alfarizky.


Mereka sudah sering melakukan pesta dadakan seperti ini. Nanda yang sedang berjalan-jalan di halaman rumah. Saat Nanda sampai di ujung tembok, tak sengaja Nanda menemukan labirin.


Ini pertamanya kalinya Nanda menyadari ada sebuah labirin yang lumayan besar untuk mereka lewati. Nanda yang penasaran mencoba masuk tapi dia khawatir kalau nanti dia tak akan bisa keluar.


Saat Nanda berjalan masuk dua sampai tiga langkah, dia menemukan peta yang menunjukkan dimana jalan keluar nya. Karena takut tersesat, Nanda memutuskan untuk pergi saja dari sana.


Nanda kembali ke tempat semua orang yang sedang merayakan pesta. Nanda pun duduk di kursi sambil meminjam headset milik Marcell dan mendengarkan musik.


"Eh, bukan nya bantuin... malah enak-enak dengerin musik, " sahut Betly menyenggol tangan Nanda.


"Ih apa sih? lu aja sana bantuin, gue lagi males, gak tau kenapa, " sahut Nanda kesal.


"Yah biasa aja kale ngomong nya gak usah sambil di tekuk juga tuh muka, " sahut Betly membawa daging kepada Bunda yang sedang menyiapkan bumbu.


Setelah selesai makan semua Baberque itu. Bunda dan Ayah memberikan sebuah permainan untuk anak-anak mereka.


"Nah, kalo udah kenyang gimana kalo kita main permainan?" tanya Bunda.


"Wiihh, permainan apa bun?" tanya Firza semangat 45.


"Bunda sama Ayah baru aja bikin sebuah labirin.. gak terlalu besar, tapi cukup lah yah bikin kalian semua tersesat, " sahut Bunda tersenyum.


Firza dan Fauzan yang awal nya senang, bahagia, tiba-tiba menjadi takut. Nanda mengangkat tangan nya.


"Bun, itu labirin yang deket sama tembok yang di belakang yah?" tanya Nanda.


"Lho, kamu udah tau?" tanya Bunda.


"Iyah, tadi aku gak sengaja nemu labirin, "


"Bagus gak?"


"Lumayan, buat adik-adik ku yang paling ku sayang tersesat, dan gak pernah balik lagi, " sahut Nanda melihat ketiga adiknya itu.


"Bukan cumaa mereka yang ikut, kalian berdua juga ikut, " sahut Bunda.


"Apa?" tanya Nanda kaget.


"Hah?" tanya Marcell.


"Iyalah, kalian kan masih mudaaa.. belum punya anak ini, jadi kalian wajib ikutt, " sahut Bunda.


"Okeehh, " sahut Nanda terpaksa.


Marcell hanya mengangguk pelan. Mereka semua berjalan menuju labirin yang sudah disediakan. Firza dan Fauzan sama sekali gak mau bersama, mereka ingin berkerja sendiri. Betly pun sama, dia gak mau jadi orang ketiga bagi kedua pasutri itu.


"Okeh, kalo gitu, kalian sendiri-sendiri aja, kalau kalian kekeuh gak mau di bagi kelompok, " sahut Ayah Budi.


"Nanti kalo salah satu dari kalian ketemu kunti, teriak aja, " sahut Ayah Endi.


"Aayyaahhh, " teriak Fauzan, Firza dan Betly.


Kedua orang tua itu hanya tertawa melihat ekspresi anak-anak mereka yang ketakutan. Tapi tidak bagi Nanda dan Marcell mereka mah nyantui.


Mereka tidak di beri peta atau apa pun, hanya di suruh mengingat peta yang ada di papan sebelum mereka masuk lebih dalam dan tak akan pernah kembali.


*Dasar orang tua gak ada akhlak-_-


Saat masuk beberapa langkah ada empat jalan, Nanda dan Marcell memilih jalan ke arah kiri, Firza ke kanan, Betly memilih untuk lurus saja, dan Fauzan ke arah kiri.


Mulai dari situlah, mereka berpisah. Betly yang hanya fokus melihat melihat tak sadar kalo ada yang mengikuti nya dari belakang.


"Mmm... lumayan besar jugaa nih labirin, makin susah dong keluarnya, " gumam Betly.


Saat dia sedang bergumam seperti menyanyikan sebuah lagu, dia terhenti melihat ada dua jalan. Yang satu mengarah seperti jalan horor dan satunya lagi banyak bunga mawar.


"Lewat mana yah?" gumam Betly.


Betly tampak bingung harus lewat jalan mana. Setelah 10 detik berpikir, dia memutuskan lewat jalan horor.


"Bunga apa horor ya? Horor aja lah, gaskeun, siapa tau ketemu mbak kunti, " ucap Betly tersenyum lebar dan kembali berjalan menuju jalanan horor.


Betly berlari ke arah jalan yang sedikit agak horor.


Dan di sisi lain Firza.


"Mbak kuntiii... main yukkk, " ucap Firza mencari-cari mbak kunti di setiap sela-sela yang ada.


Firza berhenti melihat ada tiga jalan. "Etdah, si mbak kunti di mana sih? Mana ini jalan makin pusing pula, mbak kuntiii I Love Youuu, " teriak Firza.


Tanpa berpikir panjang, Firza mengambil jalan kanan dan teriak-teriak nama mbak kunti.


Dan di jalan lain, Nanda dan Marcell yang hanya berjalan tanpa tujuan, bahkan mereka tak peduli mereka mau tersesat atau apa pun.


"Ini mana sih jalan keluar nya?" tanya Nanda.


Marcell hanya berjalan dengan tatapan kosong "Hei, lu punya ingatan gajah, mana ini jalan keluar nya?!" teriak Nanda kesal.


"Mana gue tau, tadi gue gak liat peta, " jawab Marcell.


Gue sengaja ngelakuin ini, sorry ndak, setelah pulang dari Bandung, kita gak pernah punya waktu buat berdua... walau malem sering, tapi lebih asyik siang, - batin Marcell.


Mereka mengambil jalan memutar untuk kembali ke tempat semula. Tapi sayang, karena sudah jauh berjalan mereka malah tambah tersesat.


Nanda yang lelah berputar-putar, akhirnya hanya mengikuti Marcell dari belakang tanpa banyak bicara.


"Mana cell? nanti gimana kalo ada mbak kunti? kan gak lucu, " sahut Nanda.


"Mana mbak kunti? mana? dari tadi kita jalan gak nemu-nemu tuh si mbak, " sahut Marcell.


"Gue gak bercanda cell, Firza sama Betly mah seneng ketemu sama kunti, lah kan gue takutt, " sahut Nanda.


"Mm.. kita liat aja nanti, " sahut Marcell.


"Marcell, " rengek Nanda.


"Apaa?" tanya Marcell hanya melihat sekilas.


"Mana jalan keluar nyaa?" tanya Nanda merengek.


"Astagaa, kamu bukan anak kecil lagi ndak, " sahut Marcell.


Tanpa sadar Marcell mengatakan kamu kepada Nanda. Tapi Nanda yang sadar, langsung menganga tak percaya, dan kaget.


Tak sengaja Nanda tersandung batu dan tak sengaja terjatuh. Untungnya tubuh Marcell yang ada di depan, jadi mereka jatuh bersamaan.


Brukk...


"Aduhh, lu punya masalah apa sih?" tanya Marcell berusaha berdiri.


Saat Marcell berbalik dia melihat Nanda yang kesakitan. "Aahhh... cell.. perut gue sakit bangett.. aaahh, " ucap Nanda sambil memegang perut nya yang sakit sambil menangis.


"Ndak, lu gak papa? kita kita keluar sekarang yukk, ayok, " sahut Marcell menggendong Nanda di belakang dan berlari menuju pintu keluar.


Dari belakang, Marcell bisa merasakan air mata Nanda yang terus mengalir membasahi baju nya. "Sakit bangett cell...hiks..hiks..." sahut Nanda.


"Sabar ndak, sebentar lagu keluar, " sahut Marcell.


Setelah berhasil keluar dengan waktu singkat, ternyata Marcell dan Nanda adalah pesertanya terakhir yang keluar, di sana sudah ada Betly, Firza dah Fauzan yang sudah duduk santai sambil menikmati makan hamburger di sana.


"Yaahh, lama sih ka--Kak Nanda!!" teriak Firza kaget melihat kakak perempuan nya seperti menahan sakit.


"Nanda?!"


"Nanda kenapa cell?!" tanya Bunda khawatir.


"Gak tau bun, tolongin Nanda bun, " sahut Marcell panik.


"Nandaa... zaa panggil ambulan cepett, " sahut Mama.


"Iya mah, " sahut Firza segera mengambil telpon nya dan menelpon rumah sakit.


"Cell, bawa Nanda ke dalem cell, " sahut Ayah Endi panik.


Marcell pun membawa Nanda ke dalam fan merebahkan nya di sofa. Bunda dan Mama mencari-cari kayu putih untuk menghangatkan perut Nanda.


"Sabar yah... sabar yah, " sahut Mama mengelap air mata Nanda dengan tisu.


"Sakit mahh... hiks hiks.. hiks.. " sahut Nanda menangis.


"Iyaa iyaa, " sahut Mama mengelus rambut putri nya itu dengan lembut.


"Yah, coba telpon pak Rendii.. " sahut Bunda.


"Pak Rendi lagi ada di luar negeri bun.. ada praktek katanya, " sahut Ayah Budi.


"Aduhhh... Nanda yang sabar yah sayang, sebentar lagi kita ke rumah sakit, " sahut Bunda.


"Mamahh... Bundaa.. " sahut Nanda memegang tangan Mama nya.


"Iya sayang iyaa, " sahut Mama.


"Kak, yang sabar kak, " sahut betly sambil menangis karena gak kuat melihat kakaknya menderita.


Sementara itu Ayah Endi dan Ayah Budi membawa Marcell menjauh sedikit untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Kenapa Nanda bisa kayak gitu cell?" tanya Ayah Endi.


"Gak tau juga yah, tadi itu Nanda ada di belakang terus dia tersandung saka batu, nah di mulai dari situ Nanda mulai sakit-sakitan... " sahut Marcell.


"Trus kamu ngapain aja sama Nanda? sampe Nanda bisa jatuh?" tanya Ayah Budi.


"Bukan cuma Nanda yang jatuh, Marcell juga ikut jatuh yahh, " sahut Marcell kesal karena terus di salahkan.


Tak lama Fauzan datang sambil berlari ke arah mereka semua yang ada di dalem. "Bundaaa.. ambulan nya udah datang!!" teriak Fauzan.


"Cell... Marcell.. jangan ngobrol ajaa.. cepet bawa istri kamu ke dalem ambulan, " teriak Bunda.


Dengan cepat Marcell membawa Nanda ke dalem ambulan yang ada di halaman rumah mereka. Sekarang mereka menuju ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Nanda.