My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Gak mau, mau onyet



"Keeee.. gak ada ide.. ke mall yuk, " ajak Nanda.


"Males, "


"Iihh kok maless, ayoo ke mall kita beli topi couple atau jaket atau baju atau sepatu gitu.. " sahut Nanda.


"Iya iya.. tapi jangan lama-lama, " sahut Marcell.


"Belum juga nyampe, udah ngomong sana sini.. "


"Mm, pegangan gue mau ngebut lagi biar cepet sampe, " sahut Marcell.


Mendengar ucapan Marcell barusan, Nanda segera memeluk pinggang Marcell lagi. Biasanya Marcell suka banyak bacot kalo Nanda memeluk pinggang nya kayak tadi, tapi kali ini Marcell pasrah dengan keadaan Nanda yang takut jatuh.


.


.


.


.


.


Sesampainya mereka di mall, Nanda loncat dari motor dan itu membuat Marcell kaget. "Yeee.. mall.. " teriak Nanda.


Marcell pun turun dari motor dan menyimpan helmnya, "Lu kayak gak pernah di ke mall aja, " sahut Marcell tersenyum.


"Baru kali ini gue ke mall bareng cowok, " sahut Nanda.


"Jadi gue ini cowok pertama yang lu bawa belanja?"


"Kurang lebih begitu.. "


"Yak udah ayo masuk, " sahut Marcell.


"Jumm.. " sahut Nanda loncat-loncat.


Marcell yang melihat nya hanya geleng-geleng kepala, "Ehh jangan loncat-loncat, nanti jatuh, lu belum pernah ngerasain gimana rasanya cium aspal yah.. " sahut Marcell.


"Weeess... kata siapa, gue pernah dulu, "


"Berapa kali? 2 kali?"


"Hemm.. dua kali.. tiga kali.. " sahut Nanda memegang bibirnya.


Marcell tertawa mendengar nya, kini Marcell tau kenapa Nanda setiap naik motor suka meluk pinggang.


"Sama siapa jatuh nya?" tanya Marcell tersenyum lebar.


"Sama siapa lagi kalo bukan adik-adik gue yang seneng banget liat kakaknya menderita, " sahut Nanda.


"Semoga hidup mu di permudah, " sahut Marcell menepuk pundak Nanda pelan.


"Amiinn.. " sahut Nanda.


Mereka masuk ke dalam mall, banyak anak-anak remaja yang melihat Marcell. Nanda yang sedari tadi memperhatikan kesal sendiri.


Ngapain sih mereka liatin Marcell mulu? emang suami gue ini seganteng apa sih? sampe gak fokus gitu belanja, - batin Nanda kesal.


Sedari tadi Marcell melihat Nanda yang kesal. "Kenapa lu?" tanya Marcell.


"Itu, dari tadi banyak yang liatin, tadi restoran gue sekarang di mall elu, mending lu hilang aja deh dari dunia, " sahut Nanda.


"Kenapa? lu cemburu?" tanya Marcell.


"Hah gue cemburu?"


"Iya, "


"Amit-amit.. gak level, " sahut Nanda.


"Ohh gitu.. awas nanti nyesell.. " sahut Marcell.


"Permisi kak, boleh minta nomor hapenya?" tanya seseorang dari belakang mereka.


Marcell dan Nanda pun segera berbalik, "Ee.. ke siapa yah?" tanya Nanda.


"Ini ke kakak yang ini.. " sahut gadis itu melihat Marcell.


Nanda pun kesal dan segera memalingkan wajahnya ke tempat lain. Marcell yang melihat ingin sekali menjahili Nanda sekali saja.


"Mm, boleh, " sahut Marcell.


Nanda melihat Marcell dengan tatapan sinis dan menginjak kaki Marcell dengan sengaja, sebagai peringatan jangan memberi nomor telepon.


"Makasih kak, " sahut gadis itu kegirangan.


Marcell segera mengetik sesuatu di ponsel gadis itu sambil menahan sakit di kakinya yang masih di injak oleh Nanda.


Nanda yang sudah mulai kesal, merebut ponsel dari tangan Marcell dengan paksa.


"Maaf mbak, tapi ini pacar saya, tolong jaga sopan santun nya.. kami permisi.. " sahut Nanda terpaksa mengatakan 'pacar'.


"Oh maaf mbak, saya gak bermaksud, kalo gitu saya juga permisi, " sahut gadis itu malu.


"Iya gak papa, lain kali nanya dulu, " sahut Nanda.


"Cieeee.. cemburu, " sahut Marcell menggoda Nanda.


"Apaan siihh.. engga jugaa.. " sahut Nanda memukul tangan Marcell pelan.


"Mm.. masa.. " sahut Marcell mencolek tangan Nanda.


"Iyaa.. " teriak Nanda.


"Gak usah teriak, gue juga masih bisa denger, " sahut Marcell. Nanda memutar bola mata malasnya.


"Terus kenapa lu main ambil aja ponsel orang tadi?" tanya Marcell.


"Gue paling gak suka, kalo buang-buang waktu di mall cuma buat sebar-sebar nomor doang, nanti kalo kemaleman gimana, gue gak suka, " sahut Nanda.


"Oohh gitu... tadi kalo gak salah lu bilang kita ini pacar, " sahut Marcell.


Wajah Nanda seketika berubah menjadi merah tomat rebus, "I-itu.. gue sengaja bilang gitu.. biar cepet.. " sahut Nanda.


Marcell hanya mengangguk paham. "Aahh udah, ayo cepetan kita belanja topi couple, " sahut Nanda menarik tangan Marcell.


"Kalem, " sahut Marcell.


Sambil berjalan berdampingan Nanda dan Marcell sibuk dengan dunia mereka sendiri, Nanda sedang memainkan ponsel nya terus menerus sedangkan Marcell mendengar kan musik dari headset yang baru saja dia beli.


"Permisi mbak, " sahut seseorang dari belakang.


Nanda berbalik sedangkan Marcell terus berjalan tanpa mengetahui kalo Nanda ketinggalan.


"Iya?" tanya Nanda.


"Boleh minta nomor hapenya?"


"Oohh boleh, mana sini hape kamu, " sahut Nanda.


Marcell yang baru saja akan merangkul Nanda, merasa ada yang hilang. "Lah kemana nih anak?" tanya Marcell pada dirinya sendiri.


Saat Marcell berbalik, terlihat lah seorang wanita yang sedang memainkan ponsel seorang pria di depannya. Marcell menghampiri nya dan melihat ponsel itu.


"Lagi ngapain neng?" tanya Marcell.


"Ini, dia minta nomor hape gue.. yah gue kasih lah.. " sahut Nanda tanpa melihat Marcell sedikit pun.


Tukk...


Tubuh Nanda mundur beberapa langkah kebelakang, "Aduuhh apaan sih.. sakit tau kening gue di ketuk kayak tadi, " sahut Nanda kesal.


"Yah lagian elu, tadi ada cewek yang minta nomor gue lu larang, tapi elu sendiri.. ckckck.. durhaka lu sama suami sendiri, " sahut Marcell merebut ponsel itu dari tangan Nanda langsung.


"Maaf mas, dia pacar saya, " sahut Marcell mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.


"Oh, maaf saya nggak tau, saya permisi dulu mas, maaf sekali lagi, " sahut lelaki itu berjalan pergi.


"Eeehh bentar dulu firman gue baru nulis kosong delapan... seterusnya beluumm.. " teriak Nanda.


"Udah ayoo.. kayanya mau beli topi couple, " sahut Marcell menarik tangan Nanda.


"Nanti dulu.. itu cogan.. itu cogan... aaaa... " sahut Nanda sedikit berteriak.


"Gantengan gue apa laki-laki tadi?" tanya Marcell memandang wajah Nanda.


Nanda yang melihat jelas mata Marcell di depan nya berhenti memberontak. "Cowok tadii... " teriak Nanda.


"Aduuhhh telinga guee.. " sahut Marcell memegang telinganya.


"Makanya jangan suka maksa orang, " sahut Nanda kesal.


"Jadi gak nih belanjanya?" tanya Marcell masih dengan memegang telinga.


"Jadii.. eeh beli boneka yuk, " sahut Nanda melihat toko di depannya lalu menarik tangan Marcell.


"Yak udah ayoo.. " sahut Marcell.


Di toko boneka, dari awal mereka masuk sampai ujung tertata rapih boneka hewan dan boneka lainnya, dan di toko itu tersedia squishy berbagai bentuk dan warna.


"Mau boneka apa?" tanya Marcell melihat boneka kelinci.


Nanda berjalan menyusuri semua lemari boneka itu, dan sampai lah dia di belakang, Marcell hanya mengikuti dari belakang sambil liat-liat squishy dan boneka lainnya.


"Marcell.. mau onyet.. " teriak Nanda.


Marcell segera berjalan ke arah Nanda, "Apa?" tanya Marcell.


"Mau boneka onyet.. " tunjuk Nanda.


"Kenapa harus monyet? kan ada ini boneka kucing, lumba-lumba lucu.. jangan onyet.. " sahut Marcell.


"Aahh gak mau, mau onyet... " sahut Nanda mengambil boneka monyet dan memeluknya.


"Kan udah punya, " sahut Marcell.


"Itu warna pink, ini warna coklat sama ada pita nya.. " sahut Nanda.


"Ini aja nih, squishy baguss.. " sahut Marcell.


"Gak mau, mau onyet.. " sahut Nanda duduk di lantai.


"Kenapa harus monyet?"


"Onyet lucuu.. "


"Mata mu.. " gumam Marcell.


"Hmph.. mau onyet.. " rengek Nanda.


Marcell masih diam dan melihat sekitar mencari boneka yang bagus dan lucu.


"Yak udah kalo gak mau beliin, nanti malem tidur di luar.. " sahut Nanda dengan suara kecil.


"Iya iya iyaa.. " sahut Marcell pasrah, dari pada malu liatin orang mending iyain.


Nanda berdiri dan memeluk boneka itu dengan senang. "Yuk bayar.. " sahut Nanda berjalan.


"Awass nanti jatuh.. " sahut Marcell.


"Ini kebesaran, nanti gak muat di motor.. " sahut Marcell.


"Oh iya.. " sahut Nanda berhenti dan menaruh boneka itu di lantai.



"Mau gimana bawanya?" tanya Marcell.


"Gak tau, " sahut Nanda menggelengkan kepala.


"Terus gimana? mau ganti yang lain?"


"Gak mau, beliin, "


"Iya di beliin, tapi ini gimana bawa pulang nya?"


"Gak tau, pikir lah sendiri, "


"Lah kan kamu yang mau, "


"Mm.. telpon supir lu ke sini, terus dia bawa mobil, kita naik mobil dia naik motor.. gampang kan, "


Marcell menarik napas panjang, "Ya udah iya.. berapa ini mas?"


"125.000 , "


"Di bungkus yah mas, nanti saya ke sini lagi, bawa boneka monyet nya, " sahut Marcell.


"Iya siap mas, terimakasih, "


"Bawa yah bonekanya.. " sahut Nanda memeluk boneka itu.


"Mau di bawa kemana? nanti kalo mau pulang kita bawa, "


"Awas aja kalo gak di bawa, "


"Buat apa gue bayar mahal-mahal tapi gak di bawa pulang, rugi gue, " sahut Marcell.


"Udah ini mau kemana?" tanya Marcell.


"Kita beli topi, " sahut Nanda.


"Yuk, ke toko sebelah, "


"Dadah onyet.. " sahut Nanda melambaikan tangannya.


Marcell menggandeng tangan Nanda dan membawa nya pergi dari toko boneka menuju toko lain untuk membeli topi dan lain-lain.