My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Dingin..



Setelah selesai menelpon Nanda tak bisa tidur, makanya mata dia seperti panda. Baru saja kemarin Nanda melihat Marcell yang tak dingin tapi hari ini dia dingin sekali seperti ada dinding yang menghalangi masuknya sinar sang mentari.


.


.


.


.


.


"Kyyaaa!!Aku kesiangan!!Jam berapa ini?!! Jam enam?!!"


Nanda melompat dari tempat tidur mamuju kamar mandi, memakai baju asal-asalan, memakai kaos kaki pendek, mengikat almamater di pinggang, dan langsung berlari keluar rumah, tak minta uang jajan tak pamit dan segala lupa.


Nanda mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tanpa memedulikan motor-motor di dapen nya, Tujuannya cuma satu, tidak boleh terlambat ke sekolah.


Sesampainya Nanda di sekolah dia melihat Marcell yang sedang mencatat murid-murid yang terlambat. Nanda hanya melewati Marcell tanpa menyapa.


Marcell melihat penampilan Nanda yang kusut, mata panda, dan almamater di pinggang. Marcell segera menuliskan nama Nanda di buku catatan OSIS.


Kenapa sih dia? kemarin masih biasa-biasa kenapa sekarang berubah banget? - batin Nanda.


Tanpa memedulikan nya Nanda berjalan menuju kelasnya dengan santai, kebetulan Witri lewat dan menghampiri Nanda.


"Woyy!!" teriak Witri.


Teriakkan yang cempreng berhasil membuat Nanda tersentak dari lamunannya.


"Apaan?!!" sahut Nanda.


"Biasa aja kale gak usah ngegas juga, " sahut Witri.


"Elu yang salah, ngapain lu teriak-teriak gak jelas, kayak orang gila, " sahut Nanda.


"Gue masih sehat, dari pada elu, kelas kita disana, ngapain lu ke jalan yang ini? lu mau pindah ke kelas IPA?" tanya Witri.


With benar, dari tadi Nanda melamun sampai dia tak menyadari kalo dia berjalan menuju kelas IPA, padahal dia kan kelas IPS.


"Nggak, gue cuma mau liat temen gue doang, " sahut Nanda.


"Masaaa.... perasaan lu gak punya temen anak IPA deh, " sahut Witri.


Nanda tak bisa bisa menjawab pertanyaan Witri barusan, "Wit, lu pernah gak, emm apa yak, gue jadi gak enak, "


"Apaa.... Tanya aja gak papa kok gue bisa jaga rahasia dari pada kayak Rara sama Dinda yang gak bisa jaga rahasia... " sahut Witri.


Iya bener, Witri memang sering di jadikan temen curhat oleh siswa-siswi IPS karena bisa menjaga rahasia.


"Jadi gini, gue kan suka sama seseorang, lu jangan kaget!!" sahut Nanda.


"Iya, gue mah selalu denger curhatan orang tentang suka sama seseorang, lah tapi gue lagi gak suka sama siapa pun, " sahut Witri dengan muka sedihnya.


"Udah jangan alay, lu pernah gak kalo suka sama seseorang, kemarin dia hangat terus tiba-tiba dia dingin.... Lu pernah kayak gitu gak?" tanya Nanda.


"Bentar dulu, lu lagi suka sama siapa dulu ini?" tanya Witri.


Nanda mendekat, "Marcell si ketua OSIS, " bisik Nanda.


Witri berjalan menjauh, "Maksud lu Marcell Alfarizky?!" tanya Witri kaget.


"Iya, emangnya kenapa?" tanya Nanda.


"Gak papa sih, gue cuma pura-pura kaget doang, " sahut Witri.


"Yeuu... gak ada akhlak lu, " sahut Nanda.


"Kalo soal Marcell memang sih dia suka berubah tiba-tiba, kadang hangat jadi orang, kadang juga dingin kayak balok es, kalo masalah ginian sih gue juga pernah, " sahut Witri.


"Cara mengatasi nya gimna?" tanya Nanda.


"Lu pikir ini pms sampe nanya, cara ngatasin nya gimana, " sahut Witri.


"Udah kale, jawab aja, "


"Lu harus tetap jadi diri sendiri, jangan kebawa emosi atau jangan sok deket gitu, lu bersikap seolah lu baik-baik aja, " jelas Witri.


Nanda mengangguk memahami perkataan Witri barusan, "Terus nanti dia bakal berubah lagi gitu?" tanya Nanda.


"Yak pokonya lu harus bersikap biasa-biasa aja, " sahut Witri.


"Okeh, gue ngerti, makasih yah Wit, nanti di kantin gue traktir, " sahut Nanda berjalan pergi menuju kelas.


"Yee... Gue butuh elu sekarang, temenin gue kek ke ruang guru, " sahut Witri, tapi Nanda sudah duluan berjalan. Witri dengan terpaksa harus ke ruang guru sendirian.


"Gini nih, kalo nasib jomblo, kemana-mana gak ada yang nemenin, " gumam Witri kesal.


Nanda berlari menuju kelas dan dia sudah disambut oleh Rara.


"NANDAA!!ADA BERITA YANG MENGEJUTKAN!" Teriak Rara.


"Apaan?!" tanya Nanda kesal, karena ini kedua kalinya dia di bikin kaget.


"Ada berita yang telah menggetarkan sejagar raya!!" sahut Rara.


"Iya berita apaan?" tanya Nanda sambil berjalan menuju mejanya.


"Ini soal kelas kita, " sahut Mike.


"APA?!! KELAS KITA DAPET NILAI PALING KECIL?! ATAU YANG PALING TINGGI?!!" Teriak Nanda.


"Lu kalo soal nilai selalu aja bikin histeris orang, bilang itu... " sahut Rara.


"Kalo soal nilai belum di umumin, " sahut Mike.


"Hooh sukurlah, terus ada berita apaan?" tanya Nanda.


"Ini soal Dinda... " sahut Salsa.


"Dinda?Kenapa dia?" tanya Nanda


"Dia punya pacar... " sahut Rara.


Nanda yang awalnya santai di tempat duduknya berdiri dan memegang pundak Rara, "JANGAN BOONG LU.... GUE GAK PERCAYA KALO DINDA PUNYA CAPAR!! SIAPA PACAR NYAA?!!" Teriak Nanda membuat seisi kelas kaget.


"Nah kalo itu gue juga belum tau, " sahut Rara.


"Ahh.... payah lu...kenapa gak ikutin dia sih, " sahut Nanda.


"Sekarang Dinda nya mana?" tanya Nanda


"Dia lagi di kantin, kayaknya mau ketemuan, " sahut Rara.


"Kenapa lu gak ikutin?"


"Kan gue baru dateng oncom, " sahut Rara.


Nanda menarik tangan Rara menuju kantin.


"Kita mau kemana sih nda?! Sakit!!" sahut Rara.


"Diem lu jangan banyak oceh, "


Seketika Nanda berhenti, "Kenapa berenti?" tanya Rara.


Rara melihat Marcell yang sedang menghukum anak yang nakal, "Oh Marcell.... Mau disamperin? Yuk... " sahut Rara menarik tangan Nanda.


Tapi Nanda menarik tangan Rara balik, "Kenapa lu gak mau ketemu sama Marcell, kan biasanya kalian berdua nempel terus kayak lem sama kertas, " sahut Rara.


Nanda berjalan mendahului Rara, Marcell melihat Nanda tapi dia tak menyapa nya sama sekali, atau pun bertanya.


Kemudian disusul dari belakang oleh Rara, " Ndak tungguin... " sahut Rara sambil melirik singkat pada Marcell.


Nanda berjalan dengan langkah kasarnya, Rara yang ada di samping nya kini mulai bingung sendiri, "Lu sama Marcell ada masalah apaan si?" tanya Rara.


"Mana gue tau, dia nya aja yang sok dingin, " sahut Nanda.


"Gue biasa aja, dia tuh yang salah, " sahut Nanda.


Mereka sudah sampai di kantin, mereka mencari Dinda, dia duduk di sebelah mana.


"Eh ndak bukannya itu Agung, Ihsan sama Lukman yah?" tunjuk Rara.


"Mana?"


"Ituu... "


"Oh iya, samperin yuk siapa tau mereka liat Dinda, " sahut Nanda.


"Lu aja deh, gue lagi males ketemu sama Agung, " sahut Rara.


"Jangan banyak bacot, lu harus ikut bencong, " sahut Nanda menarik tangan Rara.


"Hey, kalian lagi ngapain?" sapa Nanda.


"Kita berdua lagi nyari Angga, " jawab Lukman.


"Lah emang dia kemana?" tanya Rara.


"Mana kita tau, makanya kita nyari, gak kayak elu anak monyet, " sahut Agung.


"Biasa aja kale ngomong nya anak baby, " balas Rara.


"Kalian sendiri lagi ngapain di kantin?" tanya Ihsan.


"Kita berdua lagi nyari Dinda, dia ngilang di kelas, gak tau kemana, " jawab Nanda.


"Lah sama, Angga juga ngilang kata Agung, " sahut Ihsan.


"Apa jangan-jangan mereka berdua jadian?!!" sahut Rara.


"Bisa jadi, " sahut Agung.


"Iya juga sih, bisa jadi mereka jadian, kalo bener iya, gue mau minta pj ahh ke Dinda, " sahut Nanda.


"Heumm gue juga mau kale, " sahut Rara.


"Anak monyet gak usah ikut campur masalah manusia, " sahut Agung.


"Gue masih untung di sebut anak monyet dari pada elu anak baby, " sahut Rara sambil meniru suara babi.


Agung tak mau kalah, dia juga meniru suara monyet dan menggaruk-garuk kepalanya. Nanda, Lukman dan Ihsan hanya numpang ngakak saja.


Mereka duduk di meja, dan memesan minuman. Mereka senang bercanda, sedangkan Nanda melamun.


"Ndak, lu kenapa?" tanya Lukman.


"Hah? Oh gak papa, gue cuma kepikiran sama Marcell, " jawab Nanda.


"Emang Marcell kenapa?" tanya Ihsan.


"Marcell beda banget sama yang dulu, " sahut Nanda.


"Elu juga ngerasa beda yak sama sikap Marcell yang sekarang, gue juga sama, " sahut Agung.


"Emang Marcell pernah kayak gini sebelum nya?" tanya Rara.


"Pernah sih, dia kayak gini biasanya ada masalah, " sahut Agung.


"Masalah apaan?" tanya Lukman.


"Mana gue tau, " sahut Agung.


"Gue kita lu tau, dasar anak baby gak pernah lengkap kalo ngasih info, " sahut Rara.


"Nak monyet... " sahut Agung


"Yeeuu... udah dong jangan ribut kalian berdua emang temen gak ada adab, temen lagi kesusahan malah di bercandain, " sahut Nanda.


"Ya maaf, dia nih yang mulai, " sahut Rara.


"Kok gue, kan elu yang mulai, " sahut Agung.


"Lu, "


"Lu, "


"Lu, "


"Lu, "


"Udah berhenti... " ucap Ihsan tegas.


"Oh iya maaf ketua paskibra, " sahut Agung.


"Mampus lu, " sahut Rara.


"Diem lu, " sahut Agung.


"Jadi gimana ini... Marcell kok dingin sama gue sih, " sahut Nanda.


"Tenang kalo kita ketemu Marcell kita bakal liat dia dingin sama elu aja atau sama kita juga, " sahut Lukman.


"Nah iya bener, kita liat dulu, nanti kita kabarin elu, " sahut Agung.


"Iya makasih yak buat kalian semua, " sahut Nanda.


Nanda dan Rara kembali ke kelas, tapi sebelum mereka sampai Nanda melihat Marcell yang berjalan ke arahnya.


"Ndak lu gak mau nanya apa gitu ke Marcell?" tanya Rara.


"Buat apa, biarin aja, " sahut Nanda berjalan.


Nanda dan Marcell berpapasan di lorong. Marcell bersikap dingin kepada Nanda, sedangkan Nanda yak mengerti apa yang terjadi pada nya.


Nanda berhenti di depan kelas XI, Rara menyusul,


"Kan gue bilang apa, lu lain kali tanya, " sahut Rara mengusap pundak Nanda.


"Tapi kata Witri gue harus bersikap biasa aja, " sahut Nanda.


"Witri dipercaya, " sahut Rara


"Lu tau kan dia gak pernah langgeng sama cowok mana punn, gegera dia nganggep semua pacar nya itu temen, sama aja, gak ada bedanya.. " sahut Rara.


"Mati rasa, " gumam Nanda.


"Apa? Tadi lu bilang sesuatu?" tanya Rara.


"Gak, " jawab Nanda.


"Lah elu mah aneh, katanya lu khawatir sama Marcell, tapi tau udah ketemu bukannya tanya gitu, kenapa kamu kayak gini, atau apalah, " sahut Rara.


Nanda hanya diam mendengar semua ocehan Rara.


Dia itu kenapa sih, biasanya kalo ketemu dia duluan yang ngajak ngobrol, tapi kenapa sekarang malah diem aja? Au ahh bete mikirin nya juga - batin Nanda.


Terkadang Nanda juga menendang kursi yang tak bersalah.


BRAKK...


"Astaga Nanda lu sehat?!" tanya Rara.


"Mm.... Alhamdulillah gue sehat kenapa?" jawab Nanda.


"kenapa lu nendang kursi yang gak ada dosa, lu kesambet apaan?" tanya Rara.


"Udah ah, bete, " sahut Nanda pergi meninggalkan Rara.


"Tuh anak lama-lama jadi mirip Marcell, apa gegara hari pernikahan nya bentar lagi?" gumam Rara bingung sendiri.