My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Pindah rumah, Firza Betly?!



Pagi berikut nya, Nanda dan Marcell sudah di bangunkan pagi-pagi oleh Mama Patmi entah apa yang di inginkan oleh orang tua itu.


Di meja makan.


Mereka semua sedang menikmati sarapan pagi mereka. Mama Patmi seperti nya akan berbicara.


"Gimana malam pertama kalian?" tanya Mama Patmi.


"Ya gitu deh mah, kenapa emang?" tanya balik Nanda.


"Gak papa nanya doang, kalo Mama gak salah denger kalian di ganggu sama Fauzan yah, " sahut Mama.


"Iya mah, " sahut Marcell jujur.


"Gimana kalo kalian pindah ke rumah baru, " sahut Ayah Endi.


"Maksudnya?" tanya Marcell.


"Nah iya bener, lagian kalian udah lulus SMA jadi harus nya kalian udah pisah rumah, " sahut Ayah Endi.


Nanda dan Marcell saling memandang satu sama lain. "Jadi gimana? kalian mau pindah rumah?" tanya Ayah Budi.


"Mm, nanti kita pikir-pikir lagi, " sahut Marcell melanjutkan makan.


"Kalo menurut Nanda gimana?" tanya Bunda.


"Yah, aku sih setuju.. cuma gimana rumah nya? nyari sendiri atau.. "


"Udah di cariin kok sayang, jadi kalian tinggal pindah aja, " sahut Bunda.


"Bahkan perabotan nya udah lengkap semua, " sahut Ayah Budi.


"Oh, jadi gimana cell?" tanya Nanda kepada Marcell.


"Kalo lu mau yah silahkan aja, gue mah ngikut, " sahut Marcell.


"Oke, aku sama Marcell mau liat dulu rumah nya Bunda, Ayah, mah, yah, " sahut Nanda.


"Iya boleh, " sahut Ayah Budi.


"Kalo menurut kalian gak cocok perabotan nya atau apa, kasih tau yah, nanti sama Bunda di ubah lagu desain nya, " sahut Bunda.


"Iya bun, " sahut Nanda.


Setelah selesai sarapan, mereka semua sekeluarga pergi naik mobil untuk melihat rumah Nanda Marcell di salah satu perumahan terkenal bagus.


Di dalam perjalanan. Tepat nya di mobil Nanda Marcell. "Lu beneran mau pisah rumah dari Bunda ayah?" tanya Marcell.


"Kenapa? lagian elu punya usaha, " sahut Nanda.


"Iya gue tau, ini beneran mau langsung pindah aja?"


"Yah enggak gitu juga, kita liat-liat dulu lingkungan sama keadaan rumah nya, gue takut kita di prank, " sahut Nanda.


"hah? di prank? sama siapa?" tanya Marcell.


"Iya, lu tau kan kalo Mama sama Ayah itu suka bercanda kayak gimana, dulu aja gue di suruh bangun pagi terus di suruh ke sekolah jam enam pagi, padahal itu lagi libur karena kelas 9 ujian, " sahut Nanda.


Marcell hanya terkekeh pelan mendengar cerita Nanda dulu. "Emak gue udah gak ada akhlak, " sahut Nanda.


"Tapi kalo Bunda sama Ayah yang bilang, bisa jadi bukan prank, " sahut Marcell.


"Nah kalo Bunda sama Ayah sih gue percaya, " sahut Nanda.


Sesampainya mereka di perumahan Sukagalih Permai, perumahan yang cukup terkenal karena lingkungan yang sangat ramah dan rumah bagi para Sultan. (tapi tidak sombong).


Saat mobil mereka masuk ke dalam perumahan itu, Nanda dan Marcell hanya melongo. Apa benar mereka akan tinggal di perumahan ini? atau ini hanya prank?


"Yang bener aja? cell.. kita beneran tinggal di perumahan ini?" tanya Nanda.


"Gue juga gak tau, " jawab Marcell.


Nanda melihat ke sekeliling perumahan itu dibalik kaca mobil nya. Terlihat banyak sekali rumah yang besar di tambah pemandangan yang indah dan cantik, halaman rumah dari awal mereka masuk sampai mereka berbelok ke blok F halaman yang sangat luas. Di tambah dengan mobil mereka yang amat sangat banyak dan juga mahal. Tapi tenang aja, walau di sini tempat bagi para Sultan berkumpul, tak ada satu pun pencuri / maling yang berani masuk ke dalam. Karana apa? saya pun sebagai author gak tau😂


Sampai di salah satu blok F dan terlihat di sana ada rumah yang cukup besar bagi kaum Sultan. dengan halaman yang luas di tambah dengan tanaman-tanaman yang menghiasi nya. Di tambah di depan nya itu ada lapangan yang sangat luas.



Mobil Ayah Budi berhenti, mobil Marcell dan mobil Ayah Endi pun ikut berhenti di depan rumah itu.


Mereka keluar satu persatu sambil melihat ke sekeliling lingkungan itu. Banyak anak-anak yang sedang bermain sepeda dan anak muda yang sedang joging di jalanan sambil sesekali menyapa Nanda dan Marcell yang baru datang.


"Hai, " sapa salah satu pejoging yang lewat di depan mereka.


"Iya Hai juga, " sahut Nanda.


"Nah ini dia, rumah Nanda Marcell yang baru, yuk kita liat ke dalem ada apa aja, " sahut Bunda.


"Oke fiks, kita ambil rumah ini, besok kita pindah ke sini ndak, bawa semua baju-baju lu, " sahut Marcell sudah ambil keputusan.


"Siap siap, " sahut Nanda.


"Nanti lagi itu, sekarang kita liat dalem nya yuk masuk, " sahut Bunda.


Di depan pintu.


"Nah Nanda silahkan buka pintu nya, " sahut Bunda.


"Iya Bunda, " sahut Nanda.


Cklekk


Lah kok gak di kunci? nanti gimana kalo ada maling? - batin Nanda.


"WWOOOOOHHH!! SELAMAT ATAS PERNIKAHAN KALIAN!!!" teriak seorang lelaki yang memakai baju tidur warna pink degan gambar panda.


"Nj*rt telinga gue!!" teriak Nanda memegang telinga nya.


"Lah kok, Firza Betly? kok kalian di sini?!" tanya Marcell kaget.


"Nj*yy ada Firza sama Betly... ikutan dong, " sahut Fauzan menghampiri mereka berdua di dalam rumah.


"Oke Oke sini cepetan, kita ulangi lagi yah suprice nya, " sahut Firza.


"Surprise!" teriak Nanda.


"Iya itu maksudnya, " sahut Firza.


Blamm...


Pintu kembali tertutup oleh ketiga anak durjana itu. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, di tambah mereka berteriak semakin kencang sampai seisi komplek denger.


DORR.. DORR.. DORR..


"SURPRISE!!"


"WELCOME TO HOME!"


"WOOOO!!"


Para orang tua hanya tertawa di belakang Nanda Marcell. Sedangkan yang di kasih surprise biasa aja.


"Ini... kalian kapan pulang?" tanya Nanda.


"Dua juta tahun yang lalu, " sahut Firza.


"Yang bener.. gue serius, " sahut Nanda.


"Gue juga serius, " sahut Firza memanyunkan bibirnya.


"Kakak!! sayang!!" teriak Betly memeluk Nanda yang kaku itu.


"Aduuhh.. apa-apaan sih lu!! sesak napas gue!!" teriak Nanda dalam pelukan Betly.


"Iihh.. licik sendiri... ikutan!!" sahut Firza memeluk Nanda dengan kuat-kuat


"Nj*rrt... bisa gepeng kalo gini terusss!!"


"Ikutan dong.. kakak Nanda sayang.. " sahut Fauzan ikutan memeluk Nanda.


"Eh Fauzan diem lu, gue gak bisa seimbang kalo ikutan meluk gue, mana nih dua makhluk agak napak pula, " sahut Nanda.


Fauzan tak mendengar perkataan Nanda dah dengan cepat kilat sambil melompat ke arah Nanda yang sudah hampir kehilangan keseimbangan...


GUBRAKK...


Suara jatuh itu sampai membuat orang tua yang asik mengobrol atau terkekeh melihat kelakuan anak itu kaget.


Marcell yang awalnya mau membantu Nanda agar gak jatuh malah ikutan jatuh karena keberatan menahan Nanda di penuhi oleh tiga makhluk astral yang naik ke badannya.


.


.


.


.


.


Di dalam rumah. Nanda sedang di obati oleh Bunda karena jatuh teras dengan kuat dengan obat china.


"Au.. sakit Bunda, " sahut Nanda menahan sakit.


"Sabar yah, sedikit lagi, " sahut Bunda mengoleskan obat itu dengan kapas.


"Maaf yah Kak, soalnya kangen banget, udah lama gak berantem sama kakak, " sahut Firza.


"Iya gak papa, " sahut Nanda memaafkan mereka.


"Betly juga minta maaf yah Kak, gak sngaja, soalnya kangen, dah lama gak cari gara-gara sama kakak, jadi gini deh, " sahut Betly.


"Iyaa, " sahut Nanda.


"Fauzan juga minta maaf yah Kak.. "


"Nah kalo yang ini.. soal apa? lupa nyari gara-gara sama kakak? atau lupa gak ngasih uang?" tanya Nanda kepada Fauzan.


"Ehehehe.. tau aja, mana uang.. kata nya janji mau ngasih, kalo ketemu penyebab rusak nya pintu kamar, " sahut Fauzan.


"Minta sana ke Marcell, gue lagi gak megang uang, " sahut Nanda.


"Gue juga sama, gak megang uang cas, semuanya di ATM, " sahut Marcell.


"Transfer ke ATM gue lah, ribet, " sahut Fauzan.


"Oke oke.. tapi nanti yah,, gara-gara lu sama kelakuan dua orang itu, gue jadi ikutan jatuh, mana sakit lagi, " sahut Marcell.


"Alah lebay, gue aja jatuh biasa aja, " sahut Nanda.


"Lu jatuh ke lantai gak? hah? lu jatuh ke badan gue, " sahut Marcell.


"Masa sih.. " sahut Nanda cengengesan gak jelas.