
Setelah Bagas terbangun dari mimpi buruk nya itu, dia mengingat om Endi dan Nanda yang sedang perlu bantuan nya saat ini. Bagas segera meninggalkan Jakarta dan pergi secepat mungkin menuju Garut.
"Mommy.. Aku kangen.. " gumam Bagas sambil menyetir.
Seketika itu air matanya keluar segera perlahan tanpa sepengetahuan Bagas. Rasa rindu yang sangat dalam membuatnya tak bisa membendung air mata nya.
"Mommy.. Kapan daddy bisa mengerti sama keadaan aku mom?" tanya Bagas para dirinya sendiri.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Ada sebuah telepon dari seseorang yang tak di kenal. Awalnya Bagas tak ingin mengangkat telpon itu, tapi suara deringnya menganggu konsentrasi, terpaksa Bagas mengangkat telpon itu. Mobil nya menepi sebentar, dan mengangkat telpon itu dengan kasar.
: Hallo? Ini siapa?
🗣️ : Hallo, ini betul nomor Bagas?
Suara seorang wanita yang sudah lama ia tak dengar, air mata Bagas terus mengalir membasahi pipi nya.
: Mommy?
🗣️ : Bagas.. Alhamdulillah.. Mommy bisa menghubungi kamu nakk.. Gimana kabar kamu di sana? Hikss.. Hiks..
: Aku baik mommy, gimana keadaan Mommy sama Deddy?
🗣️ : Eeemm.. Bagas deddy rindu sama kamu nak, kamu bisa kan pulang ke Australia minggu sekarang?
: Maaf mommy aku gak bisa, ada yang harus aku urus sekarang, mungkin butuh waktu sebulan, setelah masalah ini selesai akan aku usaha pulang, untuk sekarang aku belum ada waktu.
🗣️ : Masalah apa? Kamu di bully sama orang-orang?
: Bukan mommy, aku harus tanggung jawab sama seorang gadis yang hampir aku hamili waktu itu...
🗣️ : Oohh.. Begitu yah.. Kalo kamu ada masalah apa-apa, jangan sungkan minta bantuan mommy atau bodyguard kamu yah.. Mommy udah ngirim lagi beberapa bodyguard buat kamu
: Gak usah banyak-banyak mommy, bodyguard di sini sajah aku sudah beruntung.. Makasih atas perhatian mommy selama aku di Indonesia..
🗣️ : Iyah sayang, kamu lagi ada di dalam mobil? Kedengaran suara mesinnya lho..
: Iyah mom, ini aku mau pergi ke Garut...
🗣️ : Garut? Jangan lupa sekalian mampir ke nenek kamu yah, kan di Garut tempat mommy lahir, sama mommy titip salam buat nenek...
: Hehehe.. Iya mom.. Siap.. Aku juga titip salam buat deddy di Australia, maaf kalo aku belum bisa pulang di waktu dekat, tapi insyaallah aku akan usahakan pulang bulan depan.
🗣️ : Iyah mommy ngerti kok, Hati-hati di jalan yah sayang...
: Iya mommy..
Tuutt... Tuutt.. Tuutt..
Panggilan internasional itu pun berakhir dengan cepat. Padahal banyak yang ingin Bagas kasih tau ke Mommy tapi sayang nya panggilan itu berakhir.
Aku pasti akan membuat mommy bahagia, dan Deddy akan tau kalo aku bukanlah anak yang sia-sia liat aja.. - batin Bagas percaya diri.
Sekarang Bagas sudah tenang dan siap untuk melanjutkan perjalanan nya menuju Garut.
.
.
.
.
.
Sementara itu di Garut, Pak Endi sudah sampai di villa Bu Sella, Bagas yang memberitahu di mana Villa yang di tinggali oleh Bu sella. Walau agak susah mencarinya, tapi kali ini Pak Endi telah berhasil menemukan nya.
Ding.. Dong.. Ding.. Dong...
"Assalamu'alaikum, " ucap Pak Endi sambil menekankan bel rumah.
Cklekk..
Pintu terbuka dan di sana ada seorang wanita yang berumur 40 tahunan dengan seorang asisten rumah tangga di belakang nya.
"Waalaikumsalam, iya? Siapa yah?" tanya wanita itu.
"Selamat siang bu sella, sella masih ingat saya? Saya adalah Jaksa Endi yang dulunya membantu bu sella tentang anak ibu Sulaiman yang hilang, " sahut Pak Endi memperkenalkan diri.
"Oohh Pak Endi.. Iya iya saya ingat, silakan masuk Pak, " sahut Bu sella ingat dan mempersilahkan masuk ke dalam.
"Wiwit, ambilin minum buat tamu kita, " sahut Bu Sella kepada asisten nya.
"Iya Bu, permisi, " sahut Wiwit asisten Bu sella.
"Iya, "
"Jadi ada apa sampai bapak menemui saya?" tanya Bu sella.
"Kita langsung saja ke intinya. Apa ibu sudah tau, kalo Agung itu.. "
"Agung anak kandung saya, Iya saya sudah tau, "
"Dari mana ibu tau soal ini?"
"Dulu saya adalah seorang dokter, saya sengaja mengambil sempel darah suami saya, "
"Mm.. Begitu rupanya.. Lalu bagaimana ibu mengambil sempel darah Agung tanpa sepengetahuan Pak Herman?"
"Saat saya sudah sah menjadi istri nya, saya membesarkan Agung sampai umur empat tahun kalo gak salah, lalu saya melihat ada benjolan kecil di kepala Agung, sama seperti Sulaiman, dia terluka karena jatuh dari tangga, saya berpikir itu sama sekali gak mungkin, tapi karena hati saya merasa gak tenang, saya akhirnya mengambil sempel darah Agung diam-diam saat Agung dan Herman sedang tidur.. "
"Tapi sayang nya sebelum saya memberitahu Agung yang sebenarnya... Tiba-tiba Herman menggugat cerai, lalu dia menikahi seorang wanita yang bernama Sofi.. Dan sekarang Sofi yang mengambil tugas saya sebagai seorang ibu sampai sekarang, " jelas Bu sella.
"Pak Herman menceraikan Bu sella karena dia tau, kalo Bu sella sedang meneliti sempel darah Pak Irfan dan Agung di rumah sakit, "
"Iya, saya juga berpikir demikian.. "
"Apa ibu tau siapa istri pertama pak Herman?"
"Iya saya tau, istri pertama nya adalah Ryan, dia menceraikan Ryan karena tidak bisa hamil, cuma itu yang saya tau, "
"Tidak, ibu salah.. Ryan sebenarnya memiliki seorang putri bernama Mila, Mila ini adalah anak kandung dari Pak Herman, sebenarnya Pak Herman tau kalo Mila adalah anak kandung nya sendiri, tapi dia pura-pura tidak tau, "
"Mila? Temannya Agung semenjak SMP? Mila Jesica Ryan?" tanya Bu sella.
"Iya benar, sekarang Mila sudah berumur 17 tahun sama seperti Nanda dan juga anak-anak yang lain, "
"Dari mana bapak tau semua ini?" tanya Bu sella.
"Bagas?"
"Ibu tidak perlu tau soal dia, Bagas bersedia membantu kita soal masalah Pak Herman ini.. Ibu sella harus tau, masalah ini melibatkan banyak orang, terutama Rara Farisya anak Bu Ikne, Ayah Marcell Pak Budi dan juga misteri meninggalnya Ayah Sofi, "
"Rara? Apa hubungan semua ini sama Rara?"
"Soal masalah Sofi aku sudah tau, Pak Herman membunuh ayahnya dengan sengaja agar dapat menguasai harta, karena Sofi termasuk ke dalam lima perusahaan terbesar di Jakarta, "
"Ternyata sudah tau, kalo begitu, apa hubungan Bu sella dengan bu Ikne?" tanya Pak Endi.
"Dulu saya dengan Ikne sudah berjanji akan menjodohkan anak kami, tapi tak di sangka keadaan tak mendukung perjodohan itu, suami saya tiba-tiba meninggal dunia tanpa alasan yang jelas, begitu pun dengan Agung yang hilang secara misterius, saya bilang kepada Ikne bawa Rara pergi jauh dari sini, saya takut Rara juga akan mejadi korban... "
"Lalu Ikne beserta keluarga nya segera pindah ke tempat yang jauh, bahkan sampai sekarang saya tidak tau dimana Ikne dan keluarga nya tinggal, "
"Mereka ada di Jakarta, mereka hidup bahagia di sana, walau beberapa tahun terakhir suami Ikne meninggal dunia karena kecelakaan, "
"Tapi mereka hidup tanpa ada beban kan?"
"Iya, sekarang Rara sudah besar dan menjadi anak yang cantik dan berbakat dalam bidang musik, "
Bu sella tersenyum tipis mendengar nya, "Saya bangga mendengar nya, "
"Apa bu sella tidak ada ingin pergi ke Jakarta?"
"Tidak, saya takut bodyguard Pak Herman akan menangkap saya nantinya, "
"Maksud ibu sella bagaimana?"
"Tiga hari sebelum Pak Endi datang ada beberapa orang asing yang datang ke rumah ini, mereka terus mengelilingi rumah dari depan sampai belakang, saya takut.. Tapi untungnya banyak tetangga yang bilang kalo rumah ini sudah lama di tinggal dan tidak ada pemiliknya.. "
"Saat saya masuk ke gerbang, ada banyak satpam yang bertugas di depan, di samping dan juga di belakang, " sahut Pak Endi.
"Iya, saya mendapatkan bodyguard seperti mereka dan juga asisten seperti wiwit dari surat warisan suami saya sebelum dia pergi, "
"Begitu yah, kalo Wiwit ini siapa?"
"Dia adalah asisten suami saya, dan sekarang dia bekerja di sini mengurus saya sampai sekarang begitu pun dengan bodyguard yang lain, "
"Baiklah kalo begitu, saya hanya minta satu dari bu sella, tolong datang ke pengadilan di Jakarta, hanya ibu satu-satunya saksi yang bisa membantu saya dalam kasus yang panjang ini, "
"Saya tidak bisa ke Jakarta, saya masih takut dengan Pak Herman, "
"Setelah Pak Herman di pecat dari perusahaan Pak Budi, keberadaan nya tidak di ketahui, bahkan bodyguard Bagas mencari nya sampai ke luar negri. Saya mohon bu.. Apa ibu tidak kasihan melihat Agung dan Rara menderita karena mereka tidak tau kebenarannya? Begitu pun dengan Sofi yang terus tersiksa soal ayahnya.. "
"Saya sudah memberitahu Sofi tentang Ayah nya, tapi Sofi tidak percaya sama sekali dengan ucapan saya, "
"Maka dari itu, tolong kerja sama lah dengan kami, saya tidak tega melihat anak saya Marcell menderita karena keadaan ayahnya seperti sekarang.. "
Bu sella menarik napas panjang, "Baiklah akan saya usahakan datang ke pengadilan tersebut, beritahu saja alamat, tanggal dan juga jamnya.. Saya akan segera datang, " sahut Bu sella siap membantu.
"Hah.. Baik terimakasih Bu sella, " sahut Pak Endi senang.
"Ngomong-ngomong siapa yang bersedia menjadi hakim di pengadilan itu?"
"Itu.. Biar Bagas yang mencarinya, saya hanya datang untuk memberitahu ibu tentang itu, di pengadilan sana Pak Herman tidak akan bisa lolos, "
"Saya juga berharap demikian.. Karena saya tidak tega dengan Sofi dan Agung karena tersiksa, "
Pak Endi mengangguk pelan dan berdiri untuk pamit pulang. Bu sella sangat berterimakasih karena telah memberitahu nya tentang semua ini.
Setelah Pak Endi keluar dari gerbang rumah Bu sella, Bu sella masih terdiam sejenak di depan pintu. Wiwit sang asisten datang menghampiri.
"Ada bu?" tanya Wiwit.
"Aahh.. Bukan apa-apa.. "
"Apa ibu akan pergi ke Jakarta?"
"Iya, karna ini adalah tugas saya.. "
"Semoga masalah ini cepat berakhir dan mereka yang terlibat hidup bahagia selamanya.. Rara dan Agung akan menikah setelah ini... "
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sella... " panggil Sofi.
"Gimana keadaan kamu? Kamu baik-baik aja kan? Pak Herman gak tau kalo kamu pergi kan?" tanya Sella khawatir.
"Iya, tenang aja, dia gak tau, ngomong-ngomong ada apa yah sampai ibu Ikne ingin bertemu dengan saya diam-diam seperti ini?" tanya Sofi.
"Sofi tolong dengarkan baik-baik, aku berhasil menemukan seseorang yang telah membunuh ayah kamu itu.. "
"Yang benar? Siapa orang nya?"
"Orang nya adalah Pak Herman sendiri, dia membunuh ayah kamu karna dia ingin menguasai harta keluarga kamu.. "
"Itu sama sekali gak masuk akal, Pak Herman sendiri yang datang melamar ku, dan lamaran itu tanpa di hadiri ayah ku.. Bagaimana bisa kamu bilang kalo suami ku sendiri adalah pembunuh? Ini gak masuk akal bu sella.. " teriak Sofi tak percaya.
"Sofiii.. Tolong percaya sama akuu.. Ini beneran Sofi.. "
"Kalo begitu.. Aku perlu bukti kalo suami aku itu bersalah, "
Sella terdiam, dia sama sekali tidak punya bukti apa pun, hanya gosip yang tersebar menunjukkan kalo Pak Herman adalah pelakunya.
"Nah kan.. Kamu gak punya bukti.. Kamu gak bisa menuduh suami aku melakukan kejahatan, "
"Kamu pikir cuma kamu yang bisa beranggapan kayak gitu? Aku adalah ibu kandung Agung, Pak Herman telah membunuh suami aku demi harta, setelah harta suami ku habis, dia meninggalkan aku.. Dan memanfaatkan Agung untuk kepentingan nya sendiri.. "
"Maaf, aku gak bermaksud... Sudahlah, aku harus segera pergi, aku takut Pak Herman akan mengetahui kalo kita bertemu secara diam-diam seperti ini.. Dan aku akan menggantikan mu sebagai seorang ibu, sampai kamu mendapatkan bukti kalo Pak Herman benar telah membunuh ayah ku.. "
Sofi berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Sella yang masih berdiam diri di sana.
"Aku sama sekali gak peduli sampai kapan, yang penting kamu bisa mendapatkan bukti yang jelas.. Sampai itu aku akan bertanggungjawab mengurus Agung dan memberitahu kalo kamu lah ibu kandung nya.. "
"Kalo begitu.. Aku izinkan kamu mengurus Agung sampai masalah ini bisa di pecahkan... "
"Iya, lagi pula Agung masih berusia lima tahun, aku sama sekali gak tega kalo Agung di manfaat kan, " gumam Sofi.
Sofi udah berjalan jauh sampai masuk ke dalam mobil yang dia parkir di depan warung, karena mereka bertemu di depan gedung perusahaan suami bu sella, Pak Irfan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku berdoa semoga kamu gak kaget, mendengar semua ini langsung dari pengadilan... " gumam Bu sella.
Bu sella segera masuk ke dalam dan memikirkan ke depannya harus bagimana.