
Tak perlu lama-lama ke alfamart dan tak perlu basa basi kalo sama anak Sultan. Langsung saja beli semua nya mau sama toko-tokonya bisa, tinggal ngeluarin uang sekoper selesai sudah.
Maka dari itu Nanda dan Marcell hanya membutuhkan waktu sekiranya 10-12 menit untuk berbelanja.
Di rumah. Tiba-tiba Nanda meminta mangga yang ada di pohon di belakang halaman rumah nya itu. Marcell yang capek, menolak dengan lembut. Tapi Nanda malah mengancam.
"Cell, mau mangga, " ucap Nanda sambil memegang tangan Marcell.
"Aduh sayang, bukan nya gak mau, cuma kita baru pulang, capekk, " sahut Marcell.
"Mau mangga cell... masa kamu tega sama anak kamu, " sahut Nanda.
"Bukan gituu.. "
"Cell... mau mangga, "
"Beli?"
"Kamu naik ke atas pohon, terus petik buah nya, masa gitu aja susah, "
"Minta pak wawat aja yah, "
"Oh jadi sekarang anak aku ini anak pak wawat bukan anak dari Marcell Alfarizky iya?" tanya Nanda sambil tersenyum tipis.
"Astagfirullah, bukan gitu sayang... ya udah iya, bentar hantu baju dulu, " sahut Marcell pasrah.
Nanda kemudian tersenyum ke arah Marcell karena mau menurutinya. Nanda berjalan ke arah kebun sambil menunggu Marcell dia meminta seorang asisten rumah tangga untuk membawakan nya minum.
Tak lama Marcell datang dengan menggunakan kaos putih dan celana pendek nya untuk naik pohon. "Itu gak papa, kamu pake celana pendek? nanti luka lho, " sahut Nanda.
"Siapa yang luka?"
"Pohon nya, kan kasian... harusnya kamu pake celana panjang, "
"Bukannya ngekhwatirin suami, malah pohon, " gumam Marcell.
Tanpa memedulikan ucapan Nanda, Marcell naik dengan santai, bahkan dalam hitungan detik dia sudah berada di atas, saat akan mengambil mangga muda di dekat nya itu. Nanda malah minta yang aneh-aneh.
"Jangan yang itu cell, itu di sebelah kiri, " teriak Nanda dari bawah.
Marcell kemudian berpindah ke mangga yang ada di sebelah kiri nya. "Bukan yang itu, gue mau nya mangga muda bukan mangga yang udah mateng, " sahut Nanda.
"Gue yang ambil mangga, lu yang comen, "
"Yang pengen mangga bukan gue, tapi debay, " sahut Nanda.
"Bisa ae alasan nya, " gumam Marcell.
Marcell kemudian mengambil semua mangga yang ada di sekitar nya lalu kembali turun. Saat Marcell turun terjadi mala petaka. Dia terjatuh hingga membuat goresan di batang pohon itu, dan kaki Marcell sedikit berdarah.
Gubrakk..
Nanda yang sedang enak-enak minum jus, kaget melihat Marcell yang jatuh. Dengan cepat kilat Nanda menghampiri.... pohon yang tergores sedikit.
"Aduh pohon kamu gak papa kan?" tanya Nanda khawatir.
"Heh, emang bener-bener yah tuh anak, gak bersyukur sama sekali.. suami nya yang jatuh pohon yang di kasihani, " gumam Marcell kesal sambil menahan sakit.
Tak lama para asisten dan tukang kebun datang dan membantu Marcell berduri. "Non, ini Aden Marcell jatuh, " sahut salah satu asisten yang membantu Marcell duduk di kursi.
Nanda berbalik dan kaget melihat kaki suami nya itu berdarah. "Astagaa.. makanya kalo naik pohon itu hati-hati, suruh siapa lu naik-naik segala ke atas pohon, gak ada kerjaan emang, " sahut Nanda.
"Dia yang minta mangga, malah gue di marahin, emang bener-bener malaikat pencabut nyawa tuh orang, " gumam Marcell.
"Emang gitu den, biasa... bumil emang suka gitu, jadi maklum, " sahut salah satu asisten rumah tangga yang sudah memiliki cucu di kampung.
"Yah tapi kan bi.. kalo modelan yang beginian yang ada hancur nih badan di siksa terus, " sahut Marcell.
"Sabar den, bumil emang gitu sikapnya kadang-kadang baik kadang-kadang manja, kadang mau marah-marah ke sana ke sini.. "
"Yah tapi kan--"
"Iyah sih bi, kalo masalah itu saya udah terbiasa, tapi ini beda lagi sikapnya... sikap sama tindakan nya itu bedaa.. gak sesuai, " sahut Marcell.
"Maklumin aja den, "
"Dulunya juga bibi gitu.. menghadapi menantu bibi yang di kampung.. dia minta mangga muda terus minta di rujakin, terus nanti minta yang lain-lain, "
"Hah? rujak? masa sih? nanti kalo Nanda minta rujak, saya lagi yang harus bikin.. " sahut Marcell.
"Tenang aja den, semua asisten rumah tangga di sini udah berpengalaman ngurus bumil, " sahut asisten nya itu.
"Oh syukur lah kalo gitu, nanti bi kalo Nanda minta aneh-aneh tolong maklumin, "
"Iya den tenang aja, "
Setelah curhat dengan salah satu asisten rumah tangga nya itu. Marcell minta bantuan kepada pak wawat untuk memetik lagi beberapa mangga muda. Karna kata Nanda ini mangga nya masih kurang:v padahal Marcell tadi ngambil nya lumayan banyak lho.
Nanda duduk di kursi sambil melihat pak wawat memetik mangga di atas sana. Dan Marcell menahan sakit, kaki nya sedang di obati oleh bi Sri.
"Ini non buah nya, " sahut pak wawat memberikan beberapa buah mangga ke atas meja.
"Waahh iya makasih yah pak wawat... pak wawat baik deh.. duh jadii saya--"
"Ehem, " Marcell pura-pura batuk.
"Apa sih?"
"Gak papa, duduk, " sahut Marcell.
Nanda kembali duduk, dan beberapa asisten mengupas mangga itu.
Nah kalo gak salah, nanti kata nya dia bakal minta rujak, - batin Marcell menebak-nebak.
"Non ini mangga sebanyak ini mau di apain?"
"Di apain yang enak nya... mm... oh di rujak ajaa.. " sahut Nanda.
"Iya siap Non, "
Udah gue duga, - batin Marcell.
Beberapa menit kemudian. Rujak yang di tunggu tunggu oleh bumil datang bersamaan dengan mangga yang sudah siap di makan.
Nanda mengajar semua asisten untuk makan mangga bersama nya dan juga Marcell. Iyalah, masa engga, mangga sebanyak itu hampir 2 karung mau di apain coba? mana mangga nya masih muda semua lagi.
Setelah selesai makan rujak. Nanda meminta semua kembali ke pekerjaan masing-masing. Pak wawat masih berada di sana bersama dengan Bi Sri.
"Non, tadi saya pas ke atas nemu boneka monyet, tapi boneka nya udah rusak, banyak semut sama sarang laba-laba, mau diapain tuh non?" tanya pak wawat.
"Boneka? siapa yang nyimpen boneka di atas pohon? gak ada kerjaan banget, " ucap Nanda kesal.
Marcell masih duduk duduk santai sambil menikmati secangkir teh hijau yang ada di gelas nya itu.
"Ya udah deh pak, ambil aja, langsung buang kalo ada truk sampah yang lewat, " sahut Nada.
"Iya iya siap non, "
"Kira-kira itu boneka udah berapa lama pak?" tanya Bi Sri kepada pak wawat.
"Yah kalo menurut sama mah, kira-kira kurang lebih lima sampai enam tahunan lah, boneka monyet, " jawab Pak wawat.
Mendengar kata-kata itu Marcell tersedak saat meminum teh nya itu. "Ohok.. ohok.. ohok.. "
"Lah lu kenapa?" tanya Nanda kaget tiba-tiba Marcell batuk.
"Gak, gak papa, " sahut Marcell.
Boneka monyet? apa jangan-jangann... - batin Marcell.