
"Di cari sama Marcell?" tanya Dinda.
"Engga, bunda sama Ayah yang nyari, kalo Marcell enggak nyari gue, " jawab Nanda.
"Kasian amat lu.. Gak di cariin sama suami, " sahut Rara.
"Bodoamat, ehh, gue duluan yak cuci muka... " sahut Nanda berjalan keluar kamar.
"Iya.. " sahut Rara, Dinda barengan.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson mobil seseorang dari depan rumah Rara.
Bang toriq yang sedang tidur terganggu karena suara klakson itu segera turun kebawah sambil membawa tongkat kasti di tangan nya.
"Berisik!!!" teriak bang toriq sambil melemparkan tongkat kasti itu ke luar gerbang.
Tuk...
"Woy kalem, ini mobil mahal... " teriak Marcell.
"Lu siapa?!" tanya bang toriq membuka pager.
Dan terlihat seorang lelaki yang membawa mobil sambil memakai pakaian rapih.
Bang toriq langsung curiga dan melihat ke sekeliling mobil itu dan melihat Marcell dari atas sampai bawah.
"Lu siapa? Lu mantannya Rara?!" tanya bang toriq.
"Rara? Saya kesini mau jemput istri, " sahut Marcell sopan.
"Istri istri, emang ini rumah nampung istri sampe nyari istri ke sini... " sahut bang toriq.
"Bukan bang, saya kesini jemput istri saya, " sahut Marcell sabar.
"Siapa nama istri lu?" tanya bang toriq.
"Namanya.. Nanda, " sahut Marcell.
"Alah... Jangan ngadi-ngadi kau, Nanda itu masih perawan masa iya udah punya suami, nggak mungkin, " sahut bang toriq tak percaya.
"Ini beneran bang, Nanda itu istri saya, saya suami sah nya... "
"Alah lu pasti mau nyulik Nanda kan? Udah itu lu mau nyulik Dinda, terus Rara... Gue gak akan diem aja kalo lu berani megang tangan Nanda atau siapa pun, "
"Astagfirullah... " gumam Marcell.
"Udah sana lu... Pergi gak... Pergi gak, " usir bang toriq.
"Saya gak akan pergi sebelum istri saya datang, " sahut Marcell nolak.
"Pergi gak lu... " sahut bang toriq mendorong tubuh Marcell pergi.
Sementara itu di kamar Rara.
Rara sedari tadi mendengar kegaduhan di lantai bawah, seperti ada seseorang yang mengajak abang nya ngebacot. Dan tak lama dia juga mendengar suara Marcell.
"Ndak kayaknya itu Marcell deh, " sahut Rara.
Nanda segera membereskan barang-barang nya dan segera turun kebawah diantar oleh Rara dan juga Dinda.
"Marcell... " panggil Nanda.
"Nah itu istri saya, " sahut Marcell.
Bang toriq melihat Nanda yang berlari mendekati Marcell. Dan menjadi bingung.
"Bang ngapain?" tanya Rara.
"Ini nih cowok sinting ini nyari istri nya di rumah kita, emang nya gue udah punya istri, kuliah S1 aja belum tamat, " sahut bang toriq.
"Adduuhh, bang ini suami sah nya Nanda, " sahut Dinda.
"Hah suami?!" tanya bang toriq kaget.
"Iya bang, ini suami Nanda, kenalin ini namanya Marcell, " sahut Nanda.
"Hallo bang, " sapa Marcell.
"Au ah, pusing gue, kalo nih cowok gak pergi sekarang juga gue bakal panggil semua warga, " sahut bang toriq.
"Aduhhhh punya abang, otak sama telinga nya disimpen dimana si?" gumam Rara.
"Ayok pulang, " sahut Nanda menarik tangan Marcell untuk masuk ke dalam mobil.
"Pergi lu... Pergi jauh jauh... Jangan balik lagi, " sahut bang toriq.
"Ra... Din... Bang... Gue pulang duluan yah... Jangan lupa kasih tau tuu bang toriq, biar ngerti, " sahut Nanda.
"Iya ndak... Kalo bang toriq nya niat mau mendengar kan, " sahut Dinda.
"Iya harus itu.. Biar gak salah paham lagi, " sahut Rara.
Mobil Marcell pun melaju meninggal kediaman Rara.
"Dasar cowok sinting... " teriak bang toriq setelah mobil Marcell menjauh.
"Udah bang, yuk masuk biar Rara jelasin, " sahut Rara.
"Gak perlu... Mulai hari ini abang anti bawa-bawa cowok ke rumah, mau Rara, Dinda atau Nanda... Pokonya gak boleh, " sahut bang toriq.
Mm... Mulai lagi ide gila yang muncul di pikiran abang gue - batin Rara.
"Pokonya kalo ada cowok yang mau datang harus di suntik sama test kepintaran, biar jelas, " lanjut bang toriq.
"Yak pokonya harus... " sahut Bang toriq berjalan masuk ke dalam.
"Abang lu semakin kesini semakin gila aja ra, " sahut Dinda.
"Jangan tanya, " sahut Rara tak aneh lagi.
"Btw, lu pulang naik apa?" tanya Rara.
"Gue di jemput sama Angga... " jawab Dinda.
"Jangan di bawa ke rumah gue... Nanti di suntik, " sahut Rara.
"Pasti... " sahut Dinda.
"Nahh... Ini adalah suntikan untuk para cowok yang berani datang ke rumah gue... " teriak bang toriq membawa obeng.
"Bang... Itu obeng buat benerin mobil atau motor, " sahut Rara.
"Pokonya ini suntikan untuk para cowok yang berani datang, " sahut bang toriq.
"Buset dah... Yang ada tangan mereka pada jebol semua..., " gumam Dinda.
Rara mengajak Dinda balik ke kamar sebelum mereka mendengar bacotan yang tidak jelas yang keluar dari mulut bang toriq.
Sedangkan bang toriq masih berjaga di luar sambil membawa tongkat kasti di tangan kiri dan obeng (sebagai suntikan) di tangan kanannya.
Bang toriq melihat ada motor yang berhenti di depan rumahnya dan mulai menghampiri.
"Lu siapa?" tanya bang toriq.
"Hallo bang... Pasti abang ini kakaknya Rara ya? Saya kesini mau jemput Dinda, kenalin saya pacar nya Dinda, " sapa Angga sopan sambil meminta salam.
Tapi bang toriq mengabaikan tangan Angga. "Lu pacar nya Dinda?" tanya Bang toriq.
"Iya bang? Kenapa?"tanya balik Angga.
"Kalo lu mau jemput cewek-cewek di rumah gue, lu harus di suntik, " sahut bang toriq.
"Apa aja bakal gue lakuin bang yang penting saya bisa ketemu sama ayank saya, " sahut Angga.
"Oohh lu berani yak sama suntikan gue... Okelah sini.. " sahut Bang toriq mempersilahkan Angga masuk dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Angga hanya nurut saja, Bang toriq membuka baju lengan pendek Angga dan mulai menyuntikkan obeng itu ke tangannya.
Awalnya Angga santai-santai saja tapi... "Aaaaahh... Sakit bang... " teriak Angga berdiri dan berlari kesana kemari menghindari bang toriq.
"Ehh lu mau kemana? Sini lu... " sahut Bang toriq mengejar Angga.
"Gak mau bang... Itu obeng... " teriak Angga sambil menunjuk ke tangan kanan bang toriq.
"Iya lalu? Katanya lu bakal lakuin apa aja demi bisa ketemu sama Dinda, yak udah sini... " sahut Bang toriq.
"Gak bang... Maksud saya... Dinda... " teriak Angga meminta tolong.
Dinda yang habis keluar dari kamar Rara mendengar suara teriakan dari luar. Dengan cepat Rara Dinda berlari menuju suara itu.
"Angga... " teriak Dinda menghampiri Angga..
"Din.... Ini abang Rara kenapa din?" tanya Angga ketakutan.
"Sini lu... Jangan main sembunyi di belakang cewek lu... " sahut bang toriq semakin mendekat.
"Yawloh abang gue gila, " gumam Rara sambil menahan bang toriq.
"Din... Lu sama Angga mending pergi sekarang deh... Kasian Angga.. " sahut Rara.
"Iya iya... Ayoo beb, " sahut Dinda menarik tangan Angga.
"Aaa.... " teriak Angga yang membuat Dinda terkejut.
"Kenapa?" tanya Dinda.
"Tangan gue yang ini udah di suntik pake obeng... " sahut Angga menahan sakit.
"Oh maaf yak beb, " sahut Dinda mengusap tangan Angga.
"Woy... Malah ngobrol... Cepetan... " teriak Rara.
"Oh iya.. Sorry, " sahut Dinda berlari keluar bersama Angga.
"Tutup gerbang nya.. Din... " teriak Rara.
Dinda langsung menutup pager rumah Rara dan berjalan menjauh bersama Angga dan juga motornya.
"Woy jangan lari... Gue belum selesai sama lu... " teriak bang toriq.
"Udah bang... Lu kayak orang gila tau gak, " sahut Rara melepaskan bang toriq.
Setelah beberapa lama menahan bang toriq akhirnya Rara pasrah untuk melepaskan tubuh bang toriq. Setelah lepas bang toriq berteriak dan naik pager untuk meneriaki Angga yang sudah tak ada.
Udah lepas bukannya insaf malah naik-naik pager... - batin Rara
"Eeuuhh... Sana lu... Gak pantas lu buat adek gue... " teriak bang toriq sambil melempar obeng.
"Apaan sih bang.. Itu pacar nya Dinda.. " sahut Rara berjalan masuk.
"Yak tetep aja... Gak pantas, dia lemah, " sahut bang toriq turun.
"Dasar.. " gumam Rara.