
"Kali-kali kek kasih gue pelukan jangan boneka mulu.. " sahut Marcell.
"Gue belum pernah meluk laki-laki selain Firza sama Ayah Endi seumur hidup, " sahut Nanda.
"Kalo sama Bagas?"
"Iyah sama.. Paling berpegang tangan doang, udah itu aja, gak lebih, " sahut Nanda.
"Oohh sukur lah, " sahut Marcell merasa tenang, tapi saat Marcell melihat boneka itu lagi, dia merasa kesal sendiri padahal Nanda sedang sibuk bermain ponsel.
Sampai di rumah, Marcell turun duluan dan membawa beberapa barang belanjaan. Sedangkan Nanda membawa boneka monyet itu ke dalam.
"Assalamu'alaikum, " teriak Nanda.
"Gak usah teriak-teriak, orang di sini telinga nya sensitif, " sahut Marcell membuka pintu.
"Oohh.. Okey.. " sahut Nanda masuk ke dalam.
Bruukk..
Nanda menghempaskan boneka monyet itu di sofa begitupun dengan tubuhnya sendiri.
"Haahh~~ akhirnya gue bisa rebahan.. " sahut Nanda menikmati posisi tiduran nya.
"Enak bangettt rebahan nya.. " sahut Marcell.
Marcell pun duduk di sofa bersebelahan dengan boneka monyet itu, supri. "Ini boneka kenapa ada di tengah siihh, ganggu aja, " sahut Marcell.
"Cemburu sama boneka.. Gak jelas, " sahut Nanda.
"Ndak bikin makanan sana, gue laper, " sahut Marcell.
"Mau makan apa?" tanya Nanda.
"Masak mie aja lah.. Mie rendang tapi nya yah.. " sahut Marcell.
"Iya tunggu bentar, " sahut Nanda berdiri dan berjalan menuju dapur. Kini Nanda sudah hafal semua tempat yang ada di rumah Marcell.
"Sama susu nya.. " sahut Marcell.
"Gak ada susu abis, " teriak Nanda.
"Kan ada susu lu.. " sahut Marcell keceplosan.
"Minta di hajar lu sama gue.. " teriak Nanda kesal.
"Iya iya sorry.. Keceplosan, " sahut Marcell.
Sambil menunggu Nanda masak mie untuk nya, Marcell kembali memainkan ponselnya dengan santai.
Takk..
"Nihh susu yang lu minta.. " sahut Nanda.
Marcell masih kaget dengan kedatangan Nanda, dan melihat ke sana ke sini.
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Lu datang lewat mana?" tanya Marcell.
"Lewat sini.. " sahut Nanda menunjukkan idung nya.
"Masa.. Idung pesek gitu emang muat?"
"Heeuuhh gue banjur lu pake susu lama-lama.. " sahut Nanda kesal.
"Iya iya, makasih.. Mana mie nya?"
"Masih di pasak, "
"Kenapa lama? Lu pake energi apaan?"
"Energi matahari biar hemat, " sahut Nanda kembali ke dapur.
"Hebat juga lu, " sahut Marcell.
Marcell yang bosan berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan TV. " Udah lama juga gue gak nonton TV.. Gimana kamar si Upin Ipin? Apakah sudah lulus sekolah tk? Sudah tumbuh rambut? Atau sudah menikah?" tanya nya dalam hati.
"Kayak orang gila lu ngomong sendiri, " sahut Nanda membawa nampan berisi mie untuk mereka berdua.
"Bisa gak lu kalo masuk pake suara langkah kek atau bilang salam, bikin orang jantungan aja, " sahut Marcell kaget.
"Kenapa? Lu sendiri yang salah, " sahut Nanda.
"Lho kok nyalahin gue? Gue salah apa?"
"Suruh siapa lu jadi orang kagetan, gak enak kan? Mampusss, " sahut Nanda memberikan mie rendang itu ke Marcell.
"Terimkasih atas mie nya.. Lu masak juga?"
"Iyalah, bukan cuma elu yang mau mie, gue juga mau, "
"Mm.. "
"Nonton apa sih elu sampe ngomong sendiri kayak tadi?" tanya Nanda sambil melihat ke arah televisi di depan.
"Tuh upin Ipin, gue kepo udah sampe mana perkembangan nya.. " sahut Marcell.
"Terus gimana?"
"Yah masih tetep botak.. Gak ada perkembangan.. Si opah gak mati-mati, kak ros masih jomblo, upin Ipin masih tk.. Jadi males gue nonton nya.. " sahut Marcell.
"Ya terus kenapa lu tonton.. Kalo udah bosen.. " sahut Nanda sedikit berteriak.
"Ya mau gimana lagi.. Gak ada acara lain, " sahut Marcell.
"Pala lu.. Sekarang giliran gue yang nonton.. " sahut Nanda merebut remot di samping Marcell.
"Mau nonton apa lu?" tanya Marcell.
"SpongeBob SquarePants, " jawab Nanda.
"Alaaahh gue udah bosen ama itu juga.. Yang lain, " sahut Marcell.
"Nggak mau.. " sahut Nanda.
"Gue capek nonton SpongeBob.. Nih yee gue udah nonton si SpongeBob dari jaman kurikulum sampe sekarang tapi masih belum tau apa isi resep rahasia Krebipeti.. " sahut Marcell.
"Iya juga yah.. Tapi apa boleh buat, gak ada film kartun yang seruu selain SpongeBob, " sahut Nanda.
"Serah lu dah, " sahut Marcell melanjutkan makan mie.
"Aaahh nj*rr pedes .. Minta susu.. " sahut Nanda.
"Tuh.. Nanti tambahin lagi, " sahut Marcell.
Nanda segera menyahut susu di meja dan segera meminumnya, "Thanks.. " sahut Nanda.
"Rasa apa mie lu sampe kepedesan kayak tadi?" tanya Marcell.
"Mie korea-korea gitu.. Pedesss.. " sahut Nanda.
Marcell tersenyum lebar, "Iyalah namanya juga mie asli dari Korea yah pasti pedess lah, " sahut Marcell.
"Hah, ini mie asli dari Korea?"
"Iya, bunda yang bawa.. " sahut Marcell.
"Mohon bersabar.. Eehh ini susu gue kurang, bikin lagi gih, " sahut Marcell menyerahkan gelas.
"Nanti aahh, gue masih pengen makan, "
"Katanya pedess.. "
"Iya gue mau naklukin ini mie dulu, " sahut Nanda.
"Udahlah biar gue aja yang bikin susu, lu mau minum apa biar gak kepedean kayak tadi?"
"Minum apa aja, yang penting jangan amer, "
"Astagfirullah... Pikiran nya kurang luas, " sahut Marcell berjalan keluar menuju dapur.
Sambil menunggu Marcell datang membawa minuman untuk mereka, Nanda masih berusaha menaklukkan mie Korea yang super pedas itu.
Keringat mulai bercucuran di leher, hidung, dan keningnya. "Haaahh... Gak ada minum!!" teriak Nanda.
Brakk..
Brakk..
"Cell.. Marcell.. " teriak Nanda.
"Apa? Berisi tau, " sahut Marcell baru datang sambil membawa minuman dingin.
"Minum minum, " sahut Nanda.
Marcell berjalan ke arah Nanda. Nanda segera menyahut salah satu minuman dari tangan Marcell dengan cepat.
"Aaaahhh... Gilaa nih mie.. Pedess bener.. " sahut Nanda kembali minum.
"Nih minum susu anget nya.. Biar gak terlalu pedes lidahnya, " sahut Marcell.
"Nanti, mau minum air dingin.. Masih pedess ini.. " sahut Nanda.
"Mau makan mie gue?" tanya Marcell.
"Mana mie nya? Ini cuma piring kosong.. Isinya mana?"
"Eehh udah abiss.. "
"Telat lu, "
"Lagian elu, kenapa gak ambil aja sendiri, " sahut Marcell.
"Eehh gimana gue dong.. Aduhhh kayaknya perut gue sakit.. " sahut Nanda memegang perut kirinya yang sakit.
"Nah kan, sakit lagi.. " sahut Marcell menyingkirkan piring dan gelas dari sofa.
"Aduhhh sakit cell, " sahut Nanda.
Marcell menarik kaki Nanda agar Nanda bisa tiduran. "Lurusin kaki lu, biarin gas nya keluar, " sahut Marcell.
"Gue sakit perut bukan mau keluarin gas.. Aneh lu.. " sahut Nanda.
"Iya gara-gara sakit perut sebelah kiri biasanya gas bertumpuk di dalam perut lu, jadi biarin aja mereka keluar, lagian gak akan bau ini.. Dari pada di tahan jadi penyakit, " sahut Marcell.
"Heuh dasar anak IPA, " sahut Nanda.
"Mau sembuh apa engga lu?" tanya Marcell.
"Iya mau, bentar sakit ini... " sahut Nanda berusaha menahan sakit dan mencoba meluruskan kaki.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Marcell menahan kaki Nanda.
"Belum, masih sakit.. " sahut Nanda.
"Sabar, nanti juga sembuh sendiri.. Gue bikinin air anget dulu, biar di kompres perut lu itu, " sahut Marcell.
"Tunggu, jangan pergi.. Diem di sini temenin gue, " sahut Nanda menahan Marcell untuk turun dari sofa.
"Kenapa?"
"Gak papa, cuma gue mau lu temenin gue sebentar sampe sakit nya ilang, " sahut Nanda.
Marcell hanya bisa pasrah dan ikut berbaring di sebelah Nanda. Nanda membalikkan badannya ke arah Marcell dan memeluk erat Marcell. Marcell pun membalas pelukan Nanda.
"Gue gak akan pergi, gue bakal ada di sisi lu selama nya.. Gue sayang sama elu ndak.. " bisik Marcell di telinga Nanda.
Cup.
Kecupan kecil mendarat di kening Nanda dengan lembut. Nanda mulai tertidur lelap setelah mendapat kecupan itu dari Marcell, begitupun dengan Marcell yang ikut tertidur di samping Nanda. Ini pertama kalinya Marcell memeluk Nanda sedekat ini, biasanya hanya memeluk perut nya saja, sedangkan sekarang dia bisa memeluk seluruh punggung nya.
Gue gak mau lu terlalu sayang sama gue, gue takut lu bakal ninggalin gue selamanya, dari dulu sampe sekarang gue masih gak percaya dengan omongan orang yang bakal tinggal selamanya di sisi gue.. Gue takut.. - batin Nanda.
.
.
.
.
.
Cklekk..
"Assalamu'alaikum.. Bunda pulang.. " ucap Bunda membuka pintu.
"Eehh kok gak ada orang? Padahal di garasi ada motor Marcell, " sahut mamah.
"Iyah, kemana anak-anak ini? Kok ilang?" tanya Bunda celingak-celinguk.
Mamah berjalan menuju sofa, dan melihat ada boneka monyet, "Eehh, ini boneka siapa?" tanya mamah memegang boneka monyet itu.
"Kayaknya punya Nanda, eh, pintu ruang keluarga kebuka, " sahut Bunda berjalan menuju ruang keluarga.
"Ini boneka besar bener.. " gumam mamah.
"Jeng, liat deh ini.. " sahut Bunda tersenyum.
"Kenapa jeng? Ada apa?" tanya mamah segera menghampiri Bunda.
Mamah kaget sekaligus senang, melihat Nanda yang sudah mulai membuka hati untuk Marcell.
"Yaaa ampuunn.. Anak-anak ini.. Udah makan mie langsung tidur bareng, " sahut Bunda.
"TV gak di matiin, ini mah TV nonton orang tidur, bukan orang nya yang nonton TV, " sahut mamah segera mematikan televisi itu.
"Di sini ada selimut gak jeng?" tanya Mamah.
"Ada kok, bentar aku ambilin dulu, " sahut Bunda.
Bunda mengambil selimut di lemari bawah buku-buku yang ada. Mamah Patmi membenarkan posisi mereka yang tidur miring.
Bunda datang dengan membawa selimut di tangannya dan menyelimuti mereka berdua.
"Ayo jeng kita ke kamar, jangan ganggu mereka, " sahut Bunda.
"Iyah jeng, " sahut mamah segera keluar. Dan di susul dari belakang oleh Bunda.
Bunda menutup pintu ruang keluarga dan berjalan ke lamar tamu di samping kamar utama.